|
Nasional
14 Mei, 2003
Jakarta, Kompas - Pemerintah Republik Indonesia,
Selasa (13/5), memberikan penghargaan kepada Ketua
Komite Keamanan Bersama (Joint Security Committee/JSC)
Mayjen Tanongsuk Tuvinun yang berasal dari Thailand
dan Wakil Ketua JSC Brigjen Lomodag Nagamura
(Filipina) di Kantor Menteri Koordinator Bidang
Politik dan Keamanan.
Penghargaan itu merupakan tanda terima kasih
pemerintah atas keterlibatan mereka sebagai tim
pemantau proses perdamaian di Aceh yang dimediasi
Henry Dunant Centre (HDC). Tim pemantau JSC dan HDC
meninggalkan Banda Aceh pada hari Senin, menyusul
situasi keamanan di Aceh yang kian memburuk.
Tim pemantau JSC yang terdiri atas unsur Indonesia,
GAM, dan beberapa anggota dari Thailand dan Filipina
tersebut mulai bertugas memantau proses perdamaian di
Aceh setelah Kesepakatan Penghentian Permusuhan (The
Cessation of Hostilities Agreement/COHA)
ditandatangani Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) di Geneva, Swiss, 9 Desember 2002.
Menurut Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, awalnya
semua pihak optimistis bahwa COHA akan dapat
menyelesaikan masalah Aceh. Namun, ternyata optimisme
tersebut mulai berkurang dari hari ke hari dan
mencapai titik terendahnya pada minggu lalu.
Ada beberapa poin dalam COHA yang tidak dipenuhi oleh
GAM, seperti GAM harus menerima Undang-Undang Otonomi
Khusus Nanggroe Aceh Darussalam (UU NAD), menghentikan
kekerasan, melaksanakan dialog, dan Pemilu 2004
mendatang.
"Kita tidak bisa mengerti pemikiran GAM bahwa COHA itu
adalah untuk menuju kemerdekaan. Jelas kita tidak
mungkin menandatangani COHA jika untuk merdeka. GAM
tidak pernah melakukan perjanjian damai, justru mereka
melakukan konsolidasi, merekrut anggota, dan
mengumpulkan senjata. Ini adalah suatu pemberontakan,"
kata Yudhoyono.
Belum berakhir
Sementara itu, Mayjen
Tanongsuk Tuvinun menyatakan, COHA belum sepenuhnya
berakhir. Masih ada usaha untuk melanjutkan proses
perdamaian. Tim monitoring JSC memutuskan kembali ke
negara masing-masing untuk sementara waktu, menyusul
permintaan Pemerintah Thailand dan Filipina supaya Tim
JSC keluar dari wilayah Aceh berkaitan dengan situasi
keamanan.
Proses perdamaian di Aceh yang dimediasi oleh HDC,
menurut Tanongsuk Tuvinun, cukup berhasil. "Kita bisa
menyelamatkan banyak nyawa yang tidak berdosa. Banyak
masalah di Aceh yang belum terselesaikan, masalah di
antara kedua belah pihak, Pemerintah RI dan GAM," kata
Tuvinun yang mengaku bangga menjadi bagian dari proses
perdamaian Aceh dan bisa ikut berkontribusi pada misi
perdamaian ini.
Meskipun misi perdamaian tersebut tidak sesuai dengan
jadwal yang tertera di dalam COHA, apalagi situasi
keamanan kian tidak kondusif di Aceh, Tuvinun percaya
dan yakin perdamaian akan datang pada waktu
dekat."Saya sangat bangga dan gembira menjadi bagian
dari proses damai ini. Saya tidak akan pernah
melupakannya. Saya berharap perdamaian akan tiba di
bumi yang indah, Aceh," kata Tanongsuk Tuvinun. (LOK). |