|
PR: 36
Jakarta, 30 Desember 2005
Pada tanggal 30 Desember 2005, Menteri Negara di
Kementrian Luar Negeri Inggris, Dr Kim Howells,
membuat pernyataan berikut tentang proses perdamaian
di Aceh:
"Sebagai pemegang Kepresidenan Uni Eropa (UE), saya
menyambut baik akhir yang sukses dalam proses
penghancuran senjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan
penarikan tentara dari Aceh serta pembubaran tentara
GAM.
Ketiganya merupakan langkah-langkah penting menuju
tujuan utama dari solusi yang damai, komprehensif dan
berkelanjutan terhadap konflik Aceh, dan juga
pembangunan kembali komunitas yang dihancurkan oleh
tsunami.
Apa yang terjadi di Aceh tahun ini menunjukkan kepada
dunia bahwa konflik yang telah berjalan lama dapat
diatasi bila kedua belah pihak memiliki semangat
keberanian dan kedermawanan untuk mencapai kompromi
dan komitmen untuk mewujudkannya. Saya ingin memberi
selamat kepada kedua belah pihak untuk upaya-upaya
yang telah mereka buat sejauh ini, dan saya
mengharapkan kesuksesan bagi mereka ketika fokus
mereka berpindah ke upaya rekonsiliasi dan
rekonstruksi.
Saya sangat senang bahwa UE terus memainkan peran
penting dalam mendukung perundingan damai ini melalui
Misi Pemantau Aceh (AMM).
Catatan untuk Redaksi:
1. Sebagai tanggapan terhadap undangan dari
Pemerintah Indonesia, UE dan lima negara ASEAN
-Brunei, Malaysia, Philippina, Singapura dan Thailand
- menyediakan pemantau-pemantau untuk proses
perdamaian - Misi Pemantau Aceh (AMM).
Pemantau-pemantau dari Norwegia dan Swiss juga
berpartisipasi. Tujuan misi bersama ini adalah untuk
membantu pelaksanaan perjanjian damai.
2. AMM adalah misi sipil yang terdiri dari
sekitar 240 personalia tak bersenjata. Tugas misi ini
diatur oleh perjanjian damai, termasuk memonitor
pembubaran tentara GAM dan penghancuran senjata, serta
memonitor penarikan tentara dan polisi non-Aceh.
3. Inggris menyediakan 11 personalia kepada AMM. |