|
PR: 27
Jakarta, 15 September 2005
Pada tanggal 15 September, Menteri Luar Negeri Inggris,
Jack Straw, yang berbicara atas nama Kepresidenan Uni
Eropa, menyambut dimulainya secara resmi pelaksanaan
kesepakatan damai di Aceh, dan menggaris-bawahi
dukungan yang diberikan Uni Eropa dan lima negara
pendukung dari ASEAN dalam Aceh Monitoring Mission (AMM).
Ia mengatakan,
Sebagai pemegang Kepresidenan Uni Eropa , saya
menyambut secara hangat dimulainya secara resmi
pelaksanaan Nota Kesepahaman (MoU) yang
ditanda-tangani Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) di Helsinki pada tanggal 15 Agustus.
Penyelesaian konflik internal di Aceh secara damai
sangat menguntungkan Indonesia dan masyarakat Aceh,
selain juga memberikan contoh yang positif secara
regional dan internasional. Penyelesaian damai ini
akan sangat membantu rekonstruksi dan rehabilitasi
Aceh pasca tsunami yang tragis bulan Desember lalu.
Uni Eropa siap untuk mendukung proses damai ini dan
akan melakukannya dengan menghormati integritas
teritorial Indonesia. Kami telah memberikan respon
yang positif atas undangan dari Pemerintah Indonesia
untuk turut serta dalam Aceh Monitoring Mission yang
secara resmi akan memulai pemantauannya hari ini dan
kami bersemangat untuk bekerja-sama secara erat dengan
ASEAN dan negara-negara mitra pendukung lainnya. Uni
Eropa juga siap mendukung proses damai ini secara
finansial dan melalui penyediaan bantuan teknis.
Diluncurkannya misi ini juga menandai arah baru dari
Kebijakan Keamanan dan Pertahanan Eropa. Ini merupakan
misi pertama di Asia, yang merupakan kerjasama
pertamanya dengan mitra-mitra dari ASEAN, dan
kesempatan pertama melakukan pemantauan semacam ini.
Dengan memiliki instrumen-instrumen keamanan yang
beragam, Uni Eropa mempunyai posisi yang unik untuk
memberikan sumbangan bagi resolusi konflik
internasional serta manajemen krisis.
Catatan untuk Redaksi:
1. Dalam Nota Kesepahaman tertanggal 15 Agustus
antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM),
tanggal 15 September menandai dimulainya pengumpulan
dan pemusnahan senjata GAM dan relokasi tentara dan
polisi non-organik.
2. Sebagai tanggapan atas undangan dari
Pemerintah Indonesia, maka Uni Eropa, lima negara
pendukung dari ASEAN - Brunei, Malaysia, Filipina,
Singapura dan Thailand - menyediakan pemantau untuk
proses perdamaian. Pemantau dari Norwegia dan Swiss
akan turut serta dalam AMM. Tujuan dari misi bersama
ini adalah untuk mendukung pelaksanaan perjanjian
damai.
3. AMM merupakan misi sipil yang terdiri dari
sekitar 240 petugas tak bersenjata. Tugas-tugas mereka
didefinisikan dalam Nota Kesepahaman. Tugas mereka
termasuk memantau demobilisasi dan pengumpulan dan
pemusnahan senjata GAM dan memantau relokasi tentara
dan polisi non-organik. |