|
Jauh di
kedalaman Samudra Hindia terletak suatu
kekuatan di dalam kerak bumi dimana dua
lempengan tektonik yang besar bertabrakan, tak
terlihat dan keduanya saling menekan diam-diam.
Pada tanggal 26 Desember 2004 setelah lebih
dari 100 tahun mengumpulkan tekanannya
akhirnya meledak dan dasar laut naik yang
mengakibatkan kejadian geologi yang besar dan
mendesak jutaan ton bahan dasar laut untuk
menghasilkan ombak yang begitu besar dan
menghancurkan semua yang tegak berdiri:
bangunan, kapal, mobil dan juga manusia.
Tsunami di Samudra Hindia memecah dan melanda
beberapa negara yang jauh seperti Somalia,
Maldives, Sri Lanka dan Indonesia, dan
merenggut lebih dari 200 ribu nyawa, sebagian
besarnya merupakan anak-anak. Berikut ini
adalah kesaksian dari beberapa orang yang
bertahan hidup di Aceh di sudut barat laut
Indonesia, yang terletak di pusat gempa.
Cerita-cerita ini berasal dari orang biasa
yang secara tragis dapat bertahan dari
kejadian yang dahsyat ini yang menyebabkan
mereka berkata seperti Sahbandi, salah seorang
selamat di Keuniree, Pidie, dan berumur 50
tahun…
Saya kira ini adalah hari kiamat, ketika awal
terjadinya gempa, saya keluar rumah dan duduk
di tanah dengan tetangga-tetangga saya.
Kemudian kami mendengar suatu bunyi letusan,
kami kira mungkin ada peperangan yang terjadi,
tetapi ketika anak lelaki saya lari ke arah
kami dan mengatakan sesuatu yang mengerikan
telah terjadi, dia berada di tepi pantai dan
air laut surut dan menampakkan dasar laut dan
ada tanah yang retak dan air yang kehitaman
keluar dari dalamnya, dan sekarang ombak yang
besar datang. Saya ambil dua cucu saya, salah
satunya baru beumur 3 bulan dan kemudian kami
lari. Air datang, dan ombak yang besar
menghanyutkan kami. Baju saya tertanggal dan
saya memegang cucu saya erat-erat saat kami
timbul tenggelam, dan juga susah bernafas,
tetapi tiba-tiba mereka terlepas dari
gendongan saya. Tiba-tiba saya sampai di
daerah tambak dan disana saya melihat anak
laki-laki saya. Kami berenang untuk mendekat
dan kemudian berpelukan satu sama lain di
dalam air. Tiba-tiba ada seseorang yang
berteriak bahwa ombak yang lebih besar datang.
Kami memanjat pohon dan menunggu sampai air
surut. Saya kembali ke desa saya setelah 50
hari dan mendapatkan bahwa rumah saya sudah
tak ada lagi. Tidak ada yang tertinggal, saya
hanya menemukan baju cucu saya yang sudah
meninggal di dalam sampah-sampah yang
berserakan.
Irwansyah Putra Siregar, 33 tahun, buruh
bangunan di Calang: Saya sedang bergotong
royong untuk memperbaiki fondasi mesjid di
desa kami ketika kejadian itu terjadi. Setelah
terjadinya gempa, saya kembali ke rumah untuk
melihat keluarga saya. Pada saat itu semuanya
dalam keadaan sehat, cuma ada beberapa piring
yang pecah. Kemudian abang ipar saya datang
tergesa-gesa, dan dia berkata ”cepat keluar,
air datang!” ketika kami keluar, air
menenggelamkan kami, demikian juga dengan
kantor pemerintahan yang juga runtuh, kemudian
datang lagi ombak yang kedua dari depan kami.
Saya pikir kami semua akan mati. Saya berlari
dengan istri dan ketiga anak kami menuju
pegunungan tetapi air begitu cepat sampai di
dekat kami. Istri saya menggendong anak
perempuan kami erat-erat dan saya berusaha
memegang kedua anak lelaki, tetapi anak yang
terkecil terlepas dari gendongan saya. Saya
berusaha untuk meraihnya kembali, tetapi dia
sudah hanyut, Tuhan telah memanggil dia dan
tidak ada lagi yang dapat saya lakukan.
Kemudian saya melihat ke arah istri saya dan
mendapatkannya sedang menangis dan tangannya
juga sudah kosong karena putri kami telah
hanyut juga. Kemudian datang lagi ombak yang
lebih besar dan menggulung kami. Ombak ini
membuat kami timbul tenggelam, dan putra kedua
saya juga dihanyutkannnya. Saya berusaha
berpegangan pada kayu-kayu dan kemudian
terbawa ke desa Kampung Blang-kira-kira 6 km
dari desa saya- dimana saya pingsan. Ketika
saya sadar, saya dapatkan tubuh saya dipenuhi
dengan darah dan saya menyangka bahwa hanya
saya seorang yang hidup di Calang ini. Di
sekitarnya, saya tidak menemukan apa-apa
kecuali banyak sekali mayat-mayat yang
berdarah. Saya menyangka inilah hari kiamat.
Ihsan Fadli, 24 tahun, pengemudi, Meulaboh: Anak saya lahir pada hari Minggu dan ini
merupakan putra pertama saya, jadi kami
merayakannya dengan mengadakan kenduri. Saya
sungguh merasa gembira. Kemudian terjadilah
gempa dan saya menggendong bayi saya keluar
untuk menyelamatkannya. Kemudian terdengar
suara jeritan dan juga tembakan dari arah
jalan, dan saya tidak dapat mempercayainya
bahwa saya melihat ombak yang hitam setinggi
rumah bergerak ke arah kami. Saya gendong bayi
saya dan saya berlari bersama istri saya dan
juga keluarga ke arah jalan, tetapi ombak
sangat cepat menggulung kami dan bayi saya
terlepas. Saya terbawa air sampai kemudian
saya terdampar di atap seng sebuah rumah dan
juga memutuskan jari saya, mengeluarkan darah
dari tangan saya. Ketika air telah surut, saya
turun. Rumah saya telah hilang, banyak
orang-orang yang menangis. Tak berapa lama
saya bertemu dengan kedua orang tua saya,
tetapi saya kehilangan istri dan anak saya.
Mereka dinyatakan hilang, tetapi saya tahu
mereka telah meninggal dunia. Saya baru kawin
satu tahun, saya sangat mencintai istri saya,
saya masih menyayanginya. Setiap hari saya
berteriak ke udara lepas “Saya mencintai kamu,
saya sayang anak kita”.
Pardian Syahputra, 9 tahun, pelajar sekolah
dasar, Banda Aceh: Saya tidak ingat apa yang
terjadi secara jelas, tetapi tiba-tiba ada
boat penangkap ikan dari Lampulo di jalan
depan rumah kami. Dia bergerak ke arah rumah
kami dan menghancurkannya. Kemudian air
membawa saya entah kemana. Orang tua dan bibi
saya berteriak meminta tolong, dan juga
memangil-manggil saya, tetapi air telah
menghanyutkan saya. Air itu sangat kotor,
penuh dengan sampah-sampah dan juga
barang-barang yang menabrak orang-orang.
Kemudian ombak yang ketiga datang dan membawa
saya lebih jauh lagi. Saya berusaha memanjat
ke atap dan kemudian saya berada disana
sendirian sampai sore hari, saya sangat takut
melihat mayat-mayat dimana-mana, juga ada yang
masih anak-anak. Ketika air sudah mulai surut,
ayah saya datang dan menurunkan saya. Dia
mengatakan bahwa bibi dan ibu saya telah
meninggal dunia.
Mulya, 29 tahun, penjual ikan, Lampulo: Saya
sedang berjualan di kedai saya ketika gempa
datang, kemudian saya pulang ke rumah untuk
melihat istri saya dan mendapatkannya selamat.
Semua keluarga saya ada disana dan kami
berdiri di luar dan bercerita dengan penduduk
kampung yang lain. Tiba-tiba, seseorang
berteriak bahwa ombak datang – dan kelihatan
sepertinya setinggi 30 meter. Kami berlari
bersama abang ipar saya, dan juga keluarganya.
Dia meminta saya untuk menyelamatkan bayinya,
yang berusia 14 bulan. Kemudian saya
mengambilnya dan kami semua lari ketika ombak
datang ke arah kami dan memisahkan kami. Istri
saya terlepas dari saya dan juga ombak
menggulung saya ke bawah. Saya memegang bayi
itu seerat mungkin, kemudian pada saat saya
timbul keatas air, istri saya telah hilang.
Saya tertabrak dengan kayu-kayu dan juga
sampah, saya kira ini adalah hari kiamat. Saya
pegang erat-erat bayi itu ketika saya
terhanyut lagi. Saya berkata pada diri sendiri
“Jika ini adalah hari kehancuran, biarlah saya
mati, tetapi jika bukan tolong selamatkan kami.”
Kemudian sebatang pohon menabrak kami dan
melepaskan bayi dalam pelukan saya. Saya lihat
dia dihanyutkan, saya berenang sekuat tenaga
melawan arus dan kemudian saya dapat meraihnya
kembali, tetapi lagi-lagi saya tertabrak
dengan kayu, mobil dan sampah-sampah. Saya
panjat pohon sampai ke puncaknya, tetapi air
masih lagi naik. Bayi itu menelan begitu
banyak air. Saya berdoa pada tuhan untuk
menolong kami dan dalam beberapa menit bayi
itu memuntahkan air laut dari dalam mulutnya.
Setelah satu jam air surut dan seseorang
datang menolong saya. Kemudian saya melihat
bapak dari bayi itu. Dia mengambilnya dengan
berlinangan air mata dan juga kami saling
berpelukan.
Sri Rahayu, 30 tahun, ibu rumah tangga,
Lamprit: Saya baru saja meninggalkan rumah
sakit dimana anak saya sedang dirawat,
jaraknya dekat dengan rumah saya. Kemudian
terjadilah gempa dan sangat luar biasa, kubah
mesjid Lamprit rubuh dan menaranya miring.
Ketika saya sampai di rumah, saya mendengar
suara yang saya kira suara badai. Saya berkata
pada adik saya “mari kita masuk ke rumah,
mungkin akan datang topan.” Tetapi kemudian
polisi datang memberitahu kepada semua orang
bahwa “air laut naik, lari untuk selamatkan
diri dan berdoa kepada Tuhan!” Ketika saya
melihat air, saya tidak percaya ini
benar-benar terjadi, ombaknya kira-kira 2
meter tingginya. Saya mengambil anak saya yang
berusia lima tahun dan menyeret dia ke arah
jalan. Kakinya tergores dan terluka karena
saya menyeretnya, tetapi saya tidak peduli,
saya hanya ingin menyelamatkannya. Kami lari
kembali ke rumah sakit dan dengan yang lainnya
naik ke tingkat tiga rumah sakit itu. Pintunya
tertutup sehingga kami berusaha untuk
mendobraknya bersama-sama. Dari situ kami bisa
melihat kehancuran yang terjadi di bawah, air
ada dimana-mana, atap-atap rumah hanyut,
mobil-mobil dan juga sejumlah anak-anak di
halte bus. Dan kemudian mereka hanyut, mereka
tertabrak dengan mobil, kayu, kulkas dan
televisi, semuanya bergerak sangat cepat dan
sangat mengerikan melihatnya.
Zainab, 25 tahun, ibu rumah tangga, Samudra: Saya sedang membersihkan rumah ketika gempa.
Saya duduk di jalan dengan saudara perempuan
dan keponakan saya, ayah saya yang lumpuh
tetap berada di dalam rumah. Tiba-tiba sepupu
saya lari ke arah kami sambil berkata “air
laut naik!” Saya raih keponakan saya yang
berumur 4 tahun dan menggendongnya dengan kain
batik panjang. Tidak ada seorangpun yang
menolong ayah saya, jadi saya juga berusaha
untuk menolongnya. Ketika kami sampai dekat
dengan lapangan, kami digulung oleh ombak.
Saya terhanyut dengan keponakan saya yang
berkata bahwa kami akan mati. Saya berusaha
untuk mencapai pohon kelapa, baju saya
terlepas dan kemudian saya sadar bahwa saya
sekarang hanya memakai celana dalam saja. Saya
merasa sangat ketakutan. Kemudian saya melihat
seorang laki-laki penderita lepra dari desa
saya. Dia menaikkan anak-anak dari air dan
menempatkannya pada sejumlah bambu. Air masih
saja naik dan kami perlu untuk memanjat lebih
tinggi lagi. Saya meminta pertolongannya, jadi
dia mengambil saya dan keponakan saya untuk
memanjat lebih tinggi dengannya. Tidak lama
kemudian ombak menghantam kami dan saya
menyerahkan keponakan saya. Rumah saya hilang,
tetapi semua keluarga saya selamat demikian
juga ayah saya.
Mawardi, 28 tahun, penarik becak, Banda Aceh: Saya sedang mengendarai becak melewati penjara
pada hari pertama setelah tsunami ketika saya
mendengar suara laki-laki yang berteriak untuk
meminta tolong. Bersama dengan yang lain kami
menemukannya, terperangkap di bawah lantai
permanen penjara itu dimana bangunan ini
runtuh ke atasnya. Kami berusaha untuk
menggerakkan reruntuhan dan batangan besi di
sekitarnya, tetapi rasanya tidak mungkin, kami
memerlukan mesin untuk melakukannya. Sehingga
kami harus meninggalkannya, menangis dalam
kesakitan. Saya kembali lagi pada keesokan
harinya, tetapi dia telah meninggal dunia
semalam, sendirian. Mayatnya tetap
terperangkap disana sampai tanggal 3 Januari,
dan di sekitarnya ada juga mayat yang lain
tersangkut pada batangan besi. Pada saat itu
kita tidak terlalu berpikir tentang yang sudah
mati. Kami terlalu sibuk untuk mencari yang
masih bertahan hidup dan keluarga kami yang
hilang.
Maimunah, 90 tahun, Pulo Aceh: Saya bangun di
awal pagi untuk melakukan shalat subuh dan
mendapatkan bahwa langit begitu merah hari itu.
Ini tidak seperti biasanya. Saya keluar dan
mendapatkan tidak ada angin, ataupun angin
sepoi-sepoi, dan kemudian awan hitam berkumpul
di langit seolah-olah akan terjadi badai.
Kemudian terjadilah gempa, saya masuk ke dalam
dan membangunkan putra dan juga cucu saya dan
menyuruh mereka untuk mendaki bukit di dekat
rumah kami. Saya tahu bahwa Tuhan Semesta Alam
ini akan menghukum orang-orang yang berdosa
hari ini. Kami lari ke arah bukit bersama-sama
dengan penduduk kampung yang lainnya, dan ada
yang menyuruh mereka untuk berlari lebih cepat,
saya dapat merasakan bahwa bencana ada di
belakang kami. Dari tempat yang aman di atas
bukit kami melihat ombak laut raksasa
menghancurkan desa-desa, tidak ada kekuatan di
muka bumi ini dapat menahannya. Kemudian
sebuah boat penangkap ikan menyelamatkan kami.
Saya melihat keagungan Tuhan pada hari itu.
Aidil Taha, 52 tahun, Nelayan, Alue Naga: Saya
berada di pantai dan sedang memancing ketika
terjadinya gempa. Laut bergelombang dan ombak
saling bertabrakan dalam segala arah, sehingga
saya bertiarap di atas pasir dan menunggu
sampai gempa itu selesai. Kemudian, saya tidak
mempercayai apa yang saya lihat. Saya belum
pernah lagi melihat kejadian ini sebelumnya
dalam hidup saya – laut telah jauh surut. Saya
dapat melihat karang-karang di bawah laut, dan
juga ikan bertebaran. Kemudian saya langsung
pergi dan menangkap ikan-ikan yang besar
kemudian saya melihat ombak. Sudah tentu saya
langsung menjatuhkan ikan-ikan itu dan berlari
menyelamatkan diri, tetapi ombak begitu besar
dan tidak ada jalan untuk menghindarinya, saya
dibawa ombak ke arah jembatan Krueng Cut
dimana saya pikir saya telah selamat, tetapi
tiba-tiba datang ombak yang kedua dan membuat
saya pingsan. Ketika saya terbangun, entah
bagaimana saya tersangkut pada sebatang pohon
di Simpang Mesra-kira-kira 7 km dari desa asal
saya, dan ketika ombak ketiga datang saya
terbawa ke tingkat kedua sebuah toko. Saya
mendapatkan jari saya patah dan juga saya
menjadi telanjang, tetapi saya masih hidup.
Tuhan telah menyelamatkan saya dan keluarga
saya, kami semua selamat.
Sari Ekawati, 30 tahun, pegawai honorer di
Koperasi PLN Wilayah, Banda Aceh: Saya sedang
membantu ibu untuk memasak, dan abang saya
sedang memanasi mobilnya di luar. Ketika gempa
datang kami semua keluar rumah, kami menyangka
rumah kami akan runtuh. Kemudian datang
peringatan dari seseorang yang berteriak “air
laut naik!” Saya berlari dengan yang lainnya,
dan saya melihat abang saya mengendarai mobil
bersama dengan orang tua saya, tetapi sebelum
mereka sampai di ujung lorong rumah kami
mereka tersapu oleh ombak. Kemudian ombak juga
menyapu saya. Airnya sangat hitam, panas dan
berlumpur dan saya tidak dapat meraih apa-apa
untuk pegangan, air itu menghanyutkan saya,
kemudian saya melihat tiga keponakan saya
bertahan pada sampah-sampah kayu. Tetapi
ketika ombak yang berikutnya datang saya tidak
lagi melihat mereka. Setelah itu, saya melihat
mayat-mayat dimana-mana. Saya kira bumi ini
akan hancur, semua orang berteriak minta
tolong. Abang saya selamat, tetapi saya
kehilangan orang tua dan juga keponakan saya
dan juga abang dan kakak saya yang lainnya.
Mayat mereka tidak pernah diketemukan, mereka
semua telah meninggal dunia. Apa yang dapat
saya katakan lagi? Saya berharap Tuhan akan
membimbing saya dalam sisa umur saya- hanya
itu harapan saya.
Ir. T. Mufizar, 47 tahun, Kepala Dinas
Kehutanan, Calang: Saya dan semua keluarga
saya, selain anak tertua saya, berada di
dataran tinggi ketika ombak datang, semua
berteriak ketakutan di sekitar kami. Kubah
mesjid kelihatan seperti piring yang terapung
di dalam air. Orang-orang tidak mempunyai
kesempatan – air kelihatan seperti magnet,
menggulung dan menenggelamkan orang-orang ke
bawahnya, airnya hitam seperti lumpur, penuh
dengan kayu-kayu, logam, besi, kulkas, mobil,
truk, dan sepeda motor - air menghanyutkan
segalanya, tergulung, ke dalam dan ke bawahnya,
diantaranya juga ada orang yang telah
meninggal dan sekarat. Saya pikir ini adalah
hari pembalasan tuhan telah menenggelamkan
dunia ini. Kami tinggal di gunung selama tiga
hari dengan sekitar 2.500 orang lainnya. Tidak
ada tempat yang lain yang dapat kami tuju,
semua benda telah tersapu ombak. Kami
menemukan sekarung beras di dalam lumpur dan
kemudian kami memakannya. Semua orang
kelaparan waktu itu. Kemudian, kami berenam
berusaha untuk pergi ke Banda Aceh dengan boat
untuk mencari pertolongan. Kami pergi ke
pendopo Gubernur, dia sedang shalat waktu itu
dan saya melihat sisa-sisa makanan disana.
Saya sangat lapar. Saya mengumpulkan sisa –sisa
itu dalam satu mangkuk, dan karena saya merasa
malu, saya memakannya di kamar mandi. Saya
melaporkan bahwa kami memerlukan beras dan
juga makanan yang lainnya dan juga bahan bakar
minyak. Departemen Sosial memberi kami 200
kotak mie instan, tetapi mereka tidak
memberikan beras, prosedur dari pemerintah
Indonesia sangat rumit, bahkan Badan Urusan
Logistik – BULOG, tidak bisa memberikan kami
sedikit beras. Akhirnya kami mendapatkannya
dari Palang Merah Indonesia. Ada beberapa
rintangan dalam mendapatkan bantuan untuk
orang-orang di daerah saya, dan kemudian saya
teringat anak saya yang masih hilang. Saya
berkata pada diri saya bahwa saya lebih
beruntung daripada yang lainnya, saya masih
lagi mempunyai tiga orang anak dan juga istri,
ada orang yang kehilangan semuanya; tetapi dia
tetaplah anak saya dan hati saya berkata bahwa
dia selamat. Dan ternyata memang dia selamat
dan saya menemukannya di Krueng Cala, tetapi
kakinya terluka parah. Saya tidak dapat
menjelaskan bagaimana perasaan saya. Saya
menangis walaupun sebelum ini saya tidak
pernah menangis, dan saya berteriak keras ke
semua orang-anak saya masih hidup! Dia merasa
bersalah karena semua kawan-kawannya meninggal
dunia dan dia juga menangis. Sebelum saya
kembali ke tempat pengungsian, saya membawanya
ke rumah sakit dimana kemudian kakinya
diamputasi. Tetapi Tuhan masih menyelamatkan
hidupnya.
Juanda, 28 tahun, Pekerja Kemanusiaan, Simpang
Surabaya: Saya sedang bekerja mempersiapkan
sebuah pertemuan, saya merasakan bangunan
bergoyang dan kemudian keluar karena kami tahu
bahwa itu adalah gempa. Seorang kawan saya
yang mempunyai sepeda motor menyarankan agar
kami lari ke arah kota untuk melihat apakah
semuanya baik-baik saja. Ketika kami sampai
disana kami melihat banyak bangunan yang
runtuh, dan orang-orang berdiri di sekitarnya
dan terlihat ketakutan. Dari sana kami pergi
ke Blang Padang, tetapi ketika kami
mendekatinya, orang-orang lari ke arah kami
dan berteriak “air laut naik!” Ada juga
orang-orang di dalam mobil, tancap gas,
menabrak orang-orang, tanpa memperhatikan
orang lain, menabraknya dan melukainya,
sehingga orang-orang tersebut tak bisa lari
lagi. Kemudian kami mendengar suara yang besar
seperti suara mesin pesawat terbang, dan kami
melihat air. Hal ini sungguh luar biasa,
sangat tinggi, lebih tinggi dari bangunan di
sekitar kami. Ketika air itu berjarak sekitar
100 meter dari kami, kami berusaha memanjat
menara air. Tetapi ombak sangat kuat dan
menyapu saya jauh ke udara. Ketika saya
terapung saya melihat kabel listrik di atasnya,
saya berusaha meraihnya dan bergantung dengan
kuat sedang air di bawah saya mengamuk,
membawa semua orang dan benda. Saya sangat
beruntung, saya dapat bertahan dan juga
keluarga saya. Tetapi saya mengalami trauma
dengan semua kejadian itu, dan setiap malam
ketika saya tidur saya seperti melihat kembali
apa yang terjadi kembali: orang-orang yang
ditabrak mobil, mayat dan orang yang hidup
terbawa air di bawah saya ketika saya
bergantung di sana dalam keputus-asaan. Tidak
ada yang dapat saya lakukan untuk menolong,
ombak itu sangat marah waktu itu.
Albar, 45 tahun, Camat Pegasing, Aceh tengah: Sebelumnya saya adalah seorang kepala bagian
di Departemen Sosial Aceh Tengah dan saya
berada di rumah di kecamatan Bebesan ketika
tsunami terjadi. Saya tidak pernah merasakan
kekuatan gempa sebesar ini sebelumnya. Saya
merasakan itu seperti takdir Tuhan, saya
merasa itu seperti hikmah dalam Al Quran yang
ditunjukkan kepada kita; dan juga merupakan
ajang instropeksi diri yang menunjukkan
kebesaran Tuhan. Tetapi tidak ada bangunan
yang runtuh ketika itu, walaupun aliran
listrik sempat terganggu. Ketika kejadian itu
selesai, para pengungsi datang membanjiri ke
kecamatan kami. Pada awalnya ada kira-kira 600
orang, tetapi kemudian terus bertambah,
sehingga saya mulai mengatur masalah makanan
dan juga tempat tinggal buat mereka. Sebagian
besar mereka tinggal dengan penduduk setempat,
semua penduduk sungguh luar biasa dan semuanya
menolong bersama-sama. Ketika saya melihat
mereka bersedih, orang-orang yang kehilangan
berdatangan di Pegasing, saya sangat tersentuh
dan mengingatkan saya bahwa kita semua adalah
satu dan sama di mata Tuhan. Kami memberikan
mereka makanan, sayur mayur, pakaian bekas dan
uang, sehingga mereka dapat menemukan semua
akomodasi ketika mereka memerlukannya. Saya
juga membawa beberapa pengungsi untuk tinggal
di rumah saya sebanyak 10 orang. Sekarang
hanya tinggal satu orang yang telah kehilangan
semuanya, juga keluarganya. Saya telah
menganggapnya sebagai anak saya sekarang ini.
Rumah saya adalah rumahnya, dia adalah
keluarga saya.
Kopka Baharuddin, 48 tahun, Anggota Koramil
Blang Bintang: Saya berada di rumah pagi itu,
bersiap-siap mau bertugas, jadi saya sedang
mandi sewaktu gempa. Semua orang dalam keadaan
panik. Saya mengambil sepeda motor saya dan
mengendarainya ke arah kantor saya, tetapi
tanah masih bergoyang dan saya terjatuh
beberapa kali. Ketika saya sampai di kantor
saya, saya melihat ombak yang hitam mendekati
saya. Pada awalnya saya pikir itu hanyalah
banjir biasa, tetapi ketika saya lihat betapa
besarnya air itu dan menjatuhkan sepeda motor
saya, saya mulai berlari. Saya berusaha untuk
memanjat pohon asam dan melihat ke bawah air
mengalir penuh dengan sampah-sampah dan juga
mayat. Saya melihat rumah saya dari kejauhan,
dilanda ombak dan saya berdoa agar semua
keluarga saya selamat. Seorang laki-laki yang
hanyut di dekat saya meminta tolong, tetapi
saya tidak dapat melakukan apa-apa. Saya
melihat seorang wanita tergulung di bawah
ombak hitam itu, kemudian tidak muncul lagi,
dan saya melihat seorang anak hanyut sedang
duduk di atas spring bed, di atas kasur, dia
hanya duduk saja, nampak tenang melihat
orang-orang di sekitarnya meminta tolong.
Keluarga dan teman-teman saya selamat semua,
tetapi saya tidak tahu apa yang terjadi
terhadap orang-orang yang terbawa ombak dan
juga anak kecil itu. Saya tidak pernah tahu.
Abrip Sembiring, 50 tahun, anggota Polisi di
Polsek Pulo Aceh: Orang-orang dalam keadaan
panik setelah gempa, dan kemudian seseorang
berteriak bahwa air laut naik. Saya melihat ke
belakang kantor saya dan melihat air laut
surut dan ini sangat menakjubkan dan saya
dapat melihat dasar laut. Kemudian ombak yang
pertama datang, ombak itu sangat tinggi, saya
tidak pernah melihatnya sebelumnya. Saya
berlari dengan yang lainnya ke arah bukit.
Tetapi ombak itu memecahkan sebagian bukit itu.
Ketika saya mendaki ke puncaknya, saya merasa
seperti saya berada di sebuah pulau yang
dikelilingi oleh laut, semua daratan kami
telah tenggelam. Saya teringat keluarga saya
dan saya begitu mencintai mereka dan saya
bedoa agar mereka semua selamat. Kami tinggal
di bukit itu untuk dua hari. Kami makan apa
yang kami dapat : umbi-umbian, daun singkong
dan kami minum air kelapa. Kami berdoa bersama
di sana, tetapi seorang ulama berkata bahwa
ini adalah hari pembalasan, dan adalah sangat
terlambat meminta pengampunan sekarang, kita
harus melakukannya sebelumnya, ketika kita
masih diberi kesempatan, tetapi itu semua
sudah berakhir. Saya merasa sangat aneh waktu
mendengarnya. Tetapi saya masih teringat
tentang keluarga saya dan memutuskan untuk
mencoba mencari mereka. Sejumlah nelayan
menjemput kami dan membawa kami ke Lampulo di
Banda Aceh dan berjarak sekitar 10 km dari
tempat asal saya. Pemandangan yang saya lihat
sangat luar biasa dalam perjalanan saya dari
Lampulo ke Blower, rasanya kaki saya tidak
menginjak tanah lagi. Saya berjalan di atas
sampah, pecahan kayu, reruntuhan bangunan dan
di sekitar saya juga banyak mayat, sebagian
dari mereka telanjang karena air laut telah
menanggalkan pakaian mereka. Dimana saja yang
bisa, saya menutupinya, tetapi sebagiannya
tidak dapat saya lakukan. Ketika saya tiba di
Blower, saya tidak menemukan seorang pun,
keadaan terasa sunyi seperti kota hantu.
Ketika saya sampai di Banda Aceh saya dengar
dari saudara saya kalau keluarga saya selamat
dan kemudian saya memulai menolong dengan
tenaga yang tersisa. Kami mendapatkan pakaian
dan juga air mineral, tetapi itu tidaklah
mencukupi untuk semua orang. Tetapi kami semua
merasa sebagai sebuah keluarga besar dan
saling tolong menolong apa yang bisa kami
lakukan.
Ayu Trie Utami, 18 tahun, Pelajar, Ulee Lhue: Setelah gempa saya keluar rumah dan duduk di
jalan bersama semua keluarga saya. Dan
kemudian langit menghitam dan dipenuhi dengan
awan-awan hitam. Pada awalnya saya tak dapat
mengira apa yang akan terjadi, tetapi yang
mengejutkan saya ternyata awan hitam itu
adalah ombak yang sangat besar. Sebelum saya
melakukan sesuatu, ombak itu menghantam saya
dan di sekeliling saya menjadi gelap. Saya
mengira saya telah mati. Ketika saya sadar,
saya dapati bahwa saya berada di depan
Universitas Iskandar Muda di Surien. Semuanya
kelihatan kabur ketika saya terhanyut timbul
tenggelam dalam ketidaksadaran saya. Saya
membuka mata kemudian, dan kemudian saya
pingsan lagi ketika melihat begitu banyak
mayat di sekitar saya. Setelah beberapa lama
saya sadar kembali dan menemukan bahwa saya
dalam sebuah mobil. Orang-orang di sekitar
saya sangat terkejut ketika saya membuka mata.
Mereka mengira saya telah mati, dan juga tidak
ada sedikitpun luka di badan saya. Saya tidak
tahu bagaimana saya bisa bertahan hidup, dan
kenapa saya harus hidup ketika semua keluarga
saya hilang dan saya tidak dapat menemukan
mereka lagi.
T. Alfian, 28 tahun, montir, Keudah: Ketika
gempa datang, saya adalah seorang narapidana
di pejara Banda Aceh dengan kesalahan menjual
narkoba. Kami sedang berbicara tentang gempa
yang baru saja terjadi, dan kemudian gempa
yang kedua datang,. Kami mendengar suara ribut
dan kemudian penjaga penjara membuka pintu
gerbang. Tetapi itu sudah sangat terlambat,
air laut telah masuk ke dalam penjara dan saya
berpikir jika saya keluar, air laut akan
menghanyutkan saya. Kemudian saya masuk
kembali dan memanjat ke atas sebuah dinding.
Tetapi air itu sangat kuat dan menjatuhkan
dinding itu, dan entah bagaimana saya berada
di atas atap seng, dan kemudian ombak
menghancurkannya lagi, dan saya beruntung
terbawa air yang mengalir deras itu. Pada
awalnya saya berusaha untuk meraih ranting
pohon, kemudian saya berpegangan pada sebuah
kulkas. Saya berusaha untuk mendekati pohon
pinus, tetapi ombak yang berikutnya datang dan
menghanyutkan saya lagi yang mengakibatkan
saya timbul tenggelam bersama air yang
mengalir. Saya timbul kembali di jembatan
Pante Pirak kira-kira 500 meter dari penjara,
tetapi air masih ada dan kemudian
menghanyutkan saya lagi. Tak lama kemudian air
menjadi lebih tenang dan saya terdampar di
pinggiran sungai di belakang rumah sakit
kesdam. Saya melihat banyak mayat dimana-mana
dan di antara semuanya ada seorang anak kecil
yang berjuang di tengah sungai, menjerit
meminta tolong. Tetapi arus masih lagi deras
dan saya sangat lemah dan keletihan, saya
tidak dapat melakukan apa-apa kecuali melihat
air menghanyutkan anak itu. Kemungkinan dia
telah mati sekarang ini. Saya merasa sangat
bersalah karenanya sampai saya mati nanti.
Saya berbaring disana dan bertahan sampai air
surut dan kemudian seorang lelaki tua datang
dan memberikan saya minum. Saya memuntahkan
air hitam yang tertelan dari aliran air tadi,
menarik nafas dan kemudian mencari istri dan
orang tua saya. Mereka menangis kesenangan
ketika mereka melihat saya dan kami berpelukan,
saya sangat bersyukur saya selamat.
Aries, 10 tahun, anak lelaki, Blower: Saya
sedang mandi di rumah ketika gempa datang.
Saya berlari keluar hanya dengan handuk. Kami
duduk bersama-sama di jalan, dan kemudian saya
masuk kembali dan menonton televisi. Kemudian
ibu saya terburu-buru masuk dan mengatakan
kami harus lari secepat mungkin ke mesjid
karena air laut naik. Jadi saya lari melalui
jalan-jalan dengan orang tua, kakak dan abang
saya. Dimana-mana semua orang berlarian, ada
sepeda motor yang bertabrakan dan sebagiannya
terjatuh, dan para pengendara tidak peduli
jika mereka melukai ataupun mencelakakan orang
karena mereka hanya ingin menyelamatkan diri
mereka saja. Tetapi air laut datang dan
membawa semuanya – mayat-mayat, sampah, dan
juga mobil dan sepeda motor. Ketika itu
berakhir, kami pergi ke Taman Budaya dimana
banyak orang yang terluka berkumpul disitu.
Banyak sekali orang yang terluka disana,
sebagian mereka tidak sadarkan diri,
sebagiannya kesakitan, banyak yang mengalami
pendarahan dan ada yang kehilangan kakinya.
Banyak yang menangis meminta pertolongan,
tetapi kelihatannya tidak ada orang yang
melakukan apapun untuk mereka.
Edy Syaputra, anggota Marinir, 24 tahun, Cadek: Saya sedang berada di warung menikmati sarapan
pagi dengan kawan-kawan saya ketika gempa bumi
terjadi. Tiba-tiba ada orang yng berlari ke
arah kami. Mereka mengatakan bahwa air laut
mengering dan saya melihat bahwa sungai di
dekat kami juga mengering. Saya memanjat ke
dinding beton sebuah jembatan dan melihat
ombak dari kejauhan seperti ular sendok yang
membesar, lebih tinggi daripada pohon kelapa.
Kawan saya menghidupkan sepeda motornya dan
kami memacunya ke arah Krueng Cut, tetapi itu
tidaklah bagus, karena setelah itu air
memerangkap kami. Kemudian datang ombak yang
kedua, yang menghanyutkan kami. Saya tidak
merasakan ombak yang ketiga, tetapi ketika
saya terapung saya melihat banyak orang yang
bergantung pada suatu pohon yang besar yang
tumbang. Saya juga melihat orang di tingkat
kedua sebuah rumah besar. Mereka pada awalnya
dapat bertahan pada saat ombak pertama datang,
tetapi ketika ombak yang selanjutnya datang
rumah itu hancur dan tergulung demikian juga
dengan orang yang ada di dalamnya. Pada saat
itu saya memutuskan untuk pasrah pada kehendak
Tuhan karena saya kira itu adalah hari
kehancuran. Saya berusaha untuk menggapai
sebatang pohon kelapa, dan memegangnya
erat-erat. Walaupun saya terluka, tetapi saya
tidak merasakan apa-apa, dan saya terus
bertahan disana, saat itulah saya melihat
mayat-mayat dan mobil dan juga ketika melihat
kapal terhanyutkan ke arah kota. Saya duduk di
atas pohon yang tinggi sampai pukul dua siang
dan kemudian ketika air, surut saya turun
perlahan-lahan karena saya mulai kesakitan
dengan luka di badan saya. Saya berjalan
melalui air yang berlumpur dan terpaksa
berjalan melalui mayat-mayat yang berada
dimana-mana, saya tidak punya pilihan lain.
Seorang anak kecil menjerit meminta tolong dan
saya membawanya ke jembatan Lamnyong. Abang
saya sangat terkejut ketika melihat saya, dia
menyangka bahwa saya sudah meninggal. Tetapi
bukan hanya saya yang beruntung, seluruh
keluarga saya juga semuanya selamat. Semua
pengalaman ini membuat saya lebih dekat dengan
Tuhan. Saya merasa saya ingin berbuat sesuatu
untuk berterima kasih kepada-Nya, karena saya
dapat bertahan dan heran untuk apa saya
diselamatkan, saya berharap Dia dapat
menunjukkan saya jalan. Tetapi saya berdoa
agar ini tidak terjadi lagi.
Juriah, 36 tahun, Ibu rumah tangga, kota Sigli: Hari itu adalah hari Minggu, jadi saya sedang
mencuci pakaian ketika seseorang datang dan
mengatakan agar saya untuk berlari karena air
laut sedang naik. Saya berkumpul dengan anak
saya yang berumur 2 tahun dan kemudian kami
lari, anak saya yang lainnya berlari di
samping saya. Tetapi saya sebenarnya tidak
tahu kemana saya harus lari untuk menghindar
dari air laut. Gelombang tsunami menghantam
kami dan kemudian kami terpisah satu sama
lainnya. Saya berpegangan dengan anak saya,
dan memeluknya erat, tetapi ombak menggulung
kami ke bawah dan memisahkannya dari saya.
Saya bergantung pada sebuah pohon mangga
ketika reruntuhan rumah yang hancur dan
mayat-mayat mengalir di dekat saya. Saya tetap
mencari seluruh keluarga saya, tetapi saya
tidak mendapatkannya. Setelah semuanya selesai,
ada tentara yang menolong saya turun dari
pohon, dan kemudian saya pergi ke rumah sakit.
Suami saya ada di sana dan juga mayat dari dua
anak saya yang telah meninggal. Tiga anak saya
masih hilang. Kemudian kami menemukan juga
jenazahnya, terhanyut ke belakang penjara.
Dengan kekuasaan dan kasih sayang Tuhan,
setidaknya saya masih dapat memeluknya sekali
lagi sebelum menguburkan mereka. Rumah semua
isinya tidak ada lagi. Tetapi saya tidak
terlalu sedih. Kita dapat mencari kekayaan
lagi tetapi anak-anak kami telah hilang untuk
selamanya.
Dr. Arjuna, 30 tahun, Dokter, Teunom: Kami
menyelamatkan diri dari air besar dan berusaha
untuk sampai di gunung. Ada banyak orang di
sana, tetapi kami tidak makan apa-apa pada
hari pertama, kami hanya minum air dari sungai.
Kami betul-betul terisolir di Teunom dan tidak
dapat ditempuh baik dari darat ataupun laut.
Pada akhirnya kami mendapatkan pertolongan
setelah minggu ketiga ketika makanan
dijatuhkan dari helikopter untuk kami. Tetapi
perkelahian menghancurkan makanan tersebut,
adalah sangat menyedihkan melihat kelakuan
orang-orang dalam keadaan menyedihkan satu
sama lain. Saya berada disana selama dua bulan
sebelum saya kembali ke rumah untuk bergabung
dan membantu orang-orang yang selamat. Tetapi
rumah saya telah hancur menjadi puing-puing.
Saya dan suami saya menggali lumpur dan
berusaha untuk mendapatkan obat-obatan, tetapi
kami hanya menemukan sanmol untuk diare. Hanya
obat itulah yang kami miliki saat itu. Tujuh
hari kemudian dokter tentara datang dan
memberikan kami empat kotak obat-batan, dan
saya membuka sebuah klinik di SD Pasie Teube.
Kami melakukan apa yang kami mampu, tetapi
adalah sangat sukar karena kami hanya
mempunyai satu bidan dan satu perawat untuk
menolong. Tetapi bantuan medis adalah tidak
cukup, kami sangat sedih karena keterbatasan
antibiotik dan multivitamin dah juga obat
untuk anak-anak. Saya tidak menerima apa-apa
dari dinas kesehatan pada saat itu, saya hanya
mendapatkannya dari angkatan laut. Saya merasa
sangat sedih karena tidak dapat menolong semua
orang, setiap hari saya berharap bantuan
obat-obatan akan datang.
Yusrizal, 23 tahun, Lulusan universitas, Aceh
Jaya: Seluruh keluarga saya berkumpul di Banda
Aceh untuk kenduri syukuran karena ibu saya
berencana akan naik haji. Tentu saja gempa
bumi telah merusakkan semuanya dan kami
berlarian ke jalan. Ketika gempa selesai kami
masuk kembali ke rumah. Tidak lama setelah itu,
kami mendengar suara dari luar seperti suara
badai dari laut, kemudian terdengar tiga
ledakan seperti suara ban yang meletus. Saya
keluar untuk mencari tahu tentang apa yang
sedang terjadi dan saya mengira bahwa itu
suara angin yang kuat, tetapi sebenarnya itu
adalah suara dari ombak yang datang ke arah
kami, itu kira-kira tingginya 20 meter. Saya
memanggil seluruh keluarga saya dan kami
semuanya lari, sebagian menggunakan becak,
sepeda motor, tetapi sebagian besar kami
berlari. Kami terpisah ketika ombak menghantam
kami. Ombak yang pertama sangat gelap seperti
malam hari dan itu menghancurkan rumah-rumah
di sekitarnya, tetapi ombak yang kedua dengan
mudah menghancurkan semua, meninggalkan
daratan menjadi rata, seperti hari kiamat.
Saya pernah mendengar dari orang-orang tua
yang diambil dari Al qur an bahwa ini adalah
merupakan salah satu tanda-tanda kiamat. Saya
bertemu dengan keluarga saya di gunung, kami
tidak mendapatkan apa-apa untuk dimakan selama
tiga hari. Kami meminta tentara untuk menembak
lembu dan kerbau karena kami kelaparan. Jadi
kami sembelih ternak-ternak itu dan semua kami
memakannya, demikian juga dengan
tentara-tentara itu. Kemudian sebulan setelah
itu bantuan datang. Kami mendapatkan satu
kotak mie instan untuk setiap kepala keluarga,
hanya itu yang kami dapatkan. Hanya pondasi
saja yang tertinggal dari rumah kami. Kami
sekarang harus memulai dari awal, demikian
juga dengan orang-orang yang lain di sini.
Ali Hasymi. 40 tahun, Pegawai Negri Sipil,
Pulau Simeulu: Hari itu merupakan hari libur,
jadi saya berada di rumah ketika terjadinya
gempa. Kami sudah pernah mengalaminya pada
tahun 2002, yang telah dinyatakan sebagai
musibah nasional, tetapi saya tidak pernah
menyangka ini akan terjadi. Ada cerita yang
telah diturunkan dari orang tua dan nenek saya
tentang tsunami pada tahun 1907, ombak yang
besar terjadi berikutan setelah terjadinya
gempa, tetapi bagi generasi saya itu hanyalah
sebuah cerita. Jadi ketika terjadinya gempa
itu bukanlah suatu hal yang luar biasa karena
di Simeulu sering terjadinya gempa, Keluarga
saya semuanya keluar, tetapi saya tetap berada
di dalam. Kemudian saat saya mendengar mereka
menjerit, secepatnya saya menuju pintu, tetapi
pondasi telah bergerak dan juga menyebabkan
kunci macet. Saya berusaha untuk membukanya
dengan paksa dan melihat bahwa gempa ini
adalah merupakan gempa yang sangat besar.
Semua orang berlari ke arah gunung, karena
kami telah tahu bahaya tsunami. Inilah mengapa
hanya sedikit orang yang meninggal di pulau
ini, walaupun kami sangat dekat dengan pusat
gempa.
Zul Baili, 27 tahun, Supir truk, Simeulu: Keluarga saya tidak berada di Simeulu ketika
peristiwa itu terjadi. Merka tinggal di Aceh
Barat: nenek saya, istri dan anak saya tinggal
disaba. Saya menghidupkan televisi dan saya
ketakutan ketika melihat Banda Aceh dan
Meulaboh telah hancur. Saya berharap keluarga
saya selamat di Teunom Aceh Barat walaupun itu
terletak kira-kira 2,5 km dari laut. Keesokan
harinya saya berusaha untuk mencari mereka
dengan menggunakan boat pencari ikan kawan
saya. Ketika kita mendekati Ujong Karang, kami
menemukan mayat-mayat terapung di air di
sekitar kami. Kami mengambilnya sebanyak yang
kami mampu dan kemudian menguburkannya, tetapi
kami tidak mendapatkan ruang yang cukup di
dalam boat untuk mereka, mayat-mayat begitu
banyak di sekitar kami. Kemudian saya berjalan
kaki dari Meulaboh ke Lambalek, itu memakan
waktu dua hari. Orang-orang memberi makanan
kepada saya, memberikan nasi dan tempat untuk
berteduh dalam perjalanan ke sana. Sepanjang
jalan saya teringatkan bayi dan istri saya,
betapa gembiranya jika kami berkumpul dan
berharap mereka semua selamat. Setelah tiga
hari, saya sampai di Teunom. Orang-orang desa
mengatakan bahwa keluarga saya ada di Pasie
Teubee, tetapi dalam hati saya berkata tidak
demikian, saya tahu mereka telah tiada, Saya
merasa lemah dan gagal, tetapi saya menguatkan
diri dan melanjutkan perjalanan. Ketika saya
sampai disana, bapak mertua saya memberitahu
saya berita sedih: “istri dan anak kamu telah
tiada.” Saya tidak bisa menangis lagi. Saya
berkata pada diri sendiri bahwa ini adalah
kehendak Tuhan, dan saya harus menerima
kehendaknya mulai dari sekarang. Tetapi
kadang-kadang saya berharap saya juga mati,
bagaimana saya dapat hidup tanpa mereka?
Sayed, 18 tahun, Rumah Sakit Tentara – Kesdam,
Banda Aceh: Saya dihanyutkan ke sebuah
jembatan di kota. Dimana-mana terlihat mayat
dan orang yang sekarat. Saya berusaha menolong
mereka, tetapi tidak banyak yang dapat saya
perbuat. Kemudian saya pergi ke Merduati ke
tempat tinggal saya untuk melihat keluarga
saya. Rumah saya telah hilang, dan saya tidak
dapat menemukan ibu saya. Tetapi saya
menemukan bapak saya di rumah sakit kesdam.
Dokter mengatakan bahwa dia baik-baik saja,
walaupun dia tertelan lumpur hitam dari ombak
tadi. Dokter memberikan obat merah dan
memperbolehkannya pulang. Ada juga lelaki yang
lain yang tertelan lumpur itu. Saya berbicara
dengan dia, tetapi dia sanagat lemah. Keesokan
harinya di tmpat pengungsian dimana kami
sekarang tinggal, kesehatan bapak saya
memburuk lagi, sehingga saya membawanya lagi
ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Ketika saya sampai disana, lelaki yang saya
temui kemarin berada di luar di depan rumah
sakit, dia telah meninggal dunia. Bapak saya
juga meninggal pada hari itu juga. Sejak hari
itu saya seperti orang kebingungan berjalan
dari satu tempat ke tempat yang lain, saya
tidak lagi tinggal di tempat pengungsian.
Kadang-kadang saya tinggal di tempat teman
saya, terkadang saya tidur dimana saja. Saya
tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya
tidak tahu harus pergi kemana, tidak ada
keluarga saya yang selamat: sepupu, makcik,
bapak, ibu saya semuanya telah meninggal dunia.
Saya sekarang ini sendirian di dunia ini. Saya
tidak punya siapa-siapa lagi.
Ismail M. Syah, Kepala kantor cabang koran
lokal Serambi Indonesia, Lhokseumawe: Saya
melihat gempa bumi di Lhokseumawe, lalu
gelombang datang. Saya tidak dapat mempercayai
apa yang saya lihat, lalu saya ambil beberapa
gambar – saya berfikir bahwa ini akan menjadi
berita hangat bagi Serambi. Tetapi ketika saya
menelpon kantor pusat Serambi di Banda Aceh
untuk mengatakan pada mereka bahwa saya punya
berita yang sangat bagus, ternyata jaringan
telepon terputus, jadi saya pikir berita yang
telah saya tulis ini sangatlah penting dan
akan menjadi berita utama, dan sangatlah
penting bagi Serambi untuk mencetaknya. Saya
memutuskan untuk mengantar sendiri ke Banda
Aceh. Saya pergi kesana dengan kawan saya,
tetapi ketika kami telah berada sekitar lima
jam dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, kami bisa
melihat kehancuran yang melanda dimana tidak
hanya ditempat kami itu terjadi, tetapi
dibanyak tempat lain di Aceh. Kami melihat
orang-orang yang hilir-mudik, rumah mereka
telah hancur dan tenggelam. Kami tiba di Banda
Aceh pada pukul 10 malam, saat itu sangatlah
gelap sehingga tidak bisa melihat apa-apa.
Saya sangat takut, ini seperti kota hantu.
Tidak ada cahaya lampu dimana-mana, semuanya
gelap gulita. Tetapi dari apa yang terjadi
saya tahu bahwa banyak yang telah berubah di
kota tersebut. Perjalanan ke Serambi sangatlah
mengerikan: manyat dan puing-puing serta
sampah ada dimana-mana, banyak orang yang
terluka yang berputar-putar atau duduk. Kami
bisa melihat bahwa kantor Serambi juga terkena
musibah, tetapi kurang jelas. Saya kembali
pada pagi harinya untuk melihat tingkat
kerusakan kantor. Saya sangat terkejut ketika
melihat bangunan yang berdiri didepan saya
mengalami kerusakan yang sangat parah, tetapi
saya lebih khawatir lagi teman-teman saya yang
bekerja disana. Perjalanan saya berakhir
disana. Saya masih membawa berita halaman
depan, tetapi tidak dicetak di Serambi
Indonesia. Hanya kesunyian yang menyambut saya
ketika memasuki kantor: kesunyian dan hantu
dari kawan-kawan saya yang telah ditelan oleh
tsunami ketempat yang belum diketahui.
Cerita-cerita di atas adalah merupakan
kesaksian dari orang-orang yang selamat dari
suatu bencana yang sangat berat untuk dipahami
kecuali anda mempunyai pengalaman yang sama
dengan itu. Kenyataan yang menyedihkan dari
suatu kekuatan yang besar dimana tidak ada
apapun yang bisa kita lakukan tetapi harapan
untuk hidup, mengingatkan kita betapa lemahnya
kita, betapa sangat lemahnya penguasaan kita
tentang kejadian alam di sekitar kita dimana
kita menerimanya sebagaimana adanya, dan
betapa eratnya persahabatan, kekeluargaan dan
kasih sayang adalah sangat perlu
diperhitungkan. Sebagai salah satu kontributor
di dalam buku ini dengan pedih menyatakan
“Rumah dan semua harta benda saya sudah tak
ada. Tetapi apa yang saya pedulikan? Kita bisa
mencari kekayaan kembali, tetapi anak-anak
kami semua telah pergi untuk selamanya”.
Di dalam dunia ini dimana materialisme yang
semakin meningkat dimana nilai seseorang
sering diukur dengan mobil apa yang mereka
kendarai, pakaian apa yang mereka pakai, atau
dimana mereka tinggal; pengaruh-pengaruh di
dalam buku ini menjelaskan apa sebenarnya yang
paling penting di dalam hidup kita, dan kenapa
suatu bencana kadang-kadang dapat menyatukan
seluruh dunia dalam suatu duka cita yang
dirasakan menyeluruh yang mengenalinya dengan
ikatan dalam penderitaan manusia. Rasa
kemanusiaan dan pemberian derma untuk dampak
buruk dari bencana Samudera Hindia ini membuat
kita sadar kita semuanya mempunyai lebih dari
yang kita pahami selama ini. Pada hari dimana
sebagian kita mempercayai seakan-akan bumi
akan runtuh, dan telah meninggalkan begitu
banyak anak yatim yang sedang mencari
permulaan yang baru, marilah kita dengar suara
mereka dan hal ini akan membantu kita untuk
memahami betapa pengasihnya kita semua,
bagaimana dengan tanpa memperhatikan ras kita,
kepercayaan, agama dan aliran politik, kita
semua dibangun oleh kondisi kemanusiaan yang
sama dan bagaimana setiap kehidupan individu
adalah unik dan berharga.
Berjuta-juta dollar ‘industri bantuan’ telah
mengalir ke Aceh sejak peristiwa yang
menyedihkan pada tanggal 26 Desember 2004,
yang meningkatkan perolehan keuangan dan
material bagi banyak orang. Aceh telah menjadi
tanah harapan: karena persaingan yang sengit
terhadap sejumlah kontrak yang menguntungkan
dari proyek rekonstruksi antara perusahaan,
LSM dan juga yang lainnya menjadi lebih jelas,
dan sebagai pekerja penolong asing datang ke
Aceh dengan menikmati gaji dan keuntungan yang
membumbung. Puluhan ribu orang masih masih
berada ditenda-tenda pengungsian, dan ratusan
ribu orang dengan hati yang terluka meratapi
saudara-saudara mereka yang telah hilang.
Tragedi kemanusiaan yang menyedihkan yang
terjadi beberapa bulan yang lalu sepertinya
telah terlupakan seiring dengan terbukanya
‘kesempatan’ dan menyalakan api kerakusan bagi
kekuasaan dan uang di Aceh. Tanah Aceh ini
adalah milik mereka yang telah kembali ke
tanah; kesaksian-kesaksian mereka adalah
cerita-cerita dari mereka yang selamat yang
menyaksikan menit-menit terakhir mereka ketika
disapu oleh kekuatan alam yang sangat dahsyat. |