FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Eye on Aceh..
    EYE ON ACEH

ANTARA HIDUP DAN MATI: BERJUANG DALAM TSUNAMI DI ACEH

Juli 2005

Wawancara oleh Firman
Dikumpulkan dan diedit oleh Alex Jones
Sampul oleh Fahmi

Dicetak oleh Eye on Aceh
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: hubungi: info@eyeonaceh.org - www.acheh-eye.org

Jauh di kedalaman Samudra Hindia terletak suatu kekuatan di dalam kerak bumi dimana dua lempengan tektonik yang besar bertabrakan, tak terlihat dan keduanya saling menekan diam-diam. Pada tanggal 26 Desember 2004 setelah lebih dari 100 tahun mengumpulkan tekanannya akhirnya meledak dan dasar laut naik yang mengakibatkan kejadian geologi yang besar dan mendesak jutaan ton bahan dasar laut untuk menghasilkan ombak yang begitu besar dan menghancurkan semua yang tegak berdiri: bangunan, kapal, mobil dan juga manusia. Tsunami di Samudra Hindia memecah dan melanda beberapa negara yang jauh seperti Somalia, Maldives, Sri Lanka dan Indonesia, dan merenggut lebih dari 200 ribu nyawa, sebagian besarnya merupakan anak-anak. Berikut ini adalah kesaksian dari beberapa orang yang bertahan hidup di Aceh di sudut barat laut Indonesia, yang terletak di pusat gempa. Cerita-cerita ini berasal dari orang biasa yang secara tragis dapat bertahan dari kejadian yang dahsyat ini yang menyebabkan mereka berkata seperti Sahbandi, salah seorang selamat di Keuniree, Pidie, dan berumur 50 tahun…

Saya kira ini adalah hari kiamat, ketika awal terjadinya gempa, saya keluar rumah dan duduk di tanah dengan tetangga-tetangga saya. Kemudian kami mendengar suatu bunyi letusan, kami kira mungkin ada peperangan yang terjadi, tetapi ketika anak lelaki saya lari ke arah kami dan mengatakan sesuatu yang mengerikan telah terjadi, dia berada di tepi pantai dan air laut surut dan menampakkan dasar laut dan ada tanah yang retak dan air yang kehitaman keluar dari dalamnya, dan sekarang ombak yang besar datang. Saya ambil dua cucu saya, salah satunya baru beumur 3 bulan dan kemudian kami lari. Air datang, dan ombak yang besar menghanyutkan kami. Baju saya tertanggal dan saya memegang cucu saya erat-erat saat kami timbul tenggelam, dan juga susah bernafas, tetapi tiba-tiba mereka terlepas dari gendongan saya. Tiba-tiba saya sampai di daerah tambak dan disana saya melihat anak laki-laki saya. Kami berenang untuk mendekat dan kemudian berpelukan satu sama lain di dalam air. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak bahwa ombak yang lebih besar datang. Kami memanjat pohon dan menunggu sampai air surut. Saya kembali ke desa saya setelah 50 hari dan mendapatkan bahwa rumah saya sudah tak ada lagi. Tidak ada yang tertinggal, saya hanya menemukan baju cucu saya yang sudah meninggal di dalam sampah-sampah yang berserakan.

Irwansyah Putra Siregar, 33 tahun, buruh bangunan di Calang: Saya sedang bergotong royong untuk memperbaiki fondasi mesjid di desa kami ketika kejadian itu terjadi. Setelah terjadinya gempa, saya kembali ke rumah untuk melihat keluarga saya. Pada saat itu semuanya dalam keadaan sehat, cuma ada beberapa piring yang pecah. Kemudian abang ipar saya datang tergesa-gesa, dan dia berkata ”cepat keluar, air datang!” ketika kami keluar, air menenggelamkan kami, demikian juga dengan kantor pemerintahan yang juga runtuh, kemudian datang lagi ombak yang kedua dari depan kami. Saya pikir kami semua akan mati. Saya berlari dengan istri dan ketiga anak kami menuju pegunungan tetapi air begitu cepat sampai di dekat kami. Istri saya menggendong anak perempuan kami erat-erat dan saya berusaha memegang kedua anak lelaki, tetapi anak yang terkecil terlepas dari gendongan saya. Saya berusaha untuk meraihnya kembali, tetapi dia sudah hanyut, Tuhan telah memanggil dia dan tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Kemudian saya melihat ke arah istri saya dan mendapatkannya sedang menangis dan tangannya juga sudah kosong karena putri kami telah hanyut juga. Kemudian datang lagi ombak yang lebih besar dan menggulung kami. Ombak ini membuat kami timbul tenggelam, dan putra kedua saya juga dihanyutkannnya. Saya berusaha berpegangan pada kayu-kayu dan kemudian terbawa ke desa Kampung Blang-kira-kira 6 km dari desa saya- dimana saya pingsan. Ketika saya sadar, saya dapatkan tubuh saya dipenuhi dengan darah dan saya menyangka bahwa hanya saya seorang yang hidup di Calang ini. Di sekitarnya, saya tidak menemukan apa-apa kecuali banyak sekali mayat-mayat yang berdarah. Saya menyangka inilah hari kiamat.

Ihsan Fadli, 24 tahun, pengemudi, Meulaboh: Anak saya lahir pada hari Minggu dan ini merupakan putra pertama saya, jadi kami merayakannya dengan mengadakan kenduri. Saya sungguh merasa gembira. Kemudian terjadilah gempa dan saya menggendong bayi saya keluar untuk menyelamatkannya. Kemudian terdengar suara jeritan dan juga tembakan dari arah jalan, dan saya tidak dapat mempercayainya bahwa saya melihat ombak yang hitam setinggi rumah bergerak ke arah kami. Saya gendong bayi saya dan saya berlari bersama istri saya dan juga keluarga ke arah jalan, tetapi ombak sangat cepat menggulung kami dan bayi saya terlepas. Saya terbawa air sampai kemudian saya terdampar di atap seng sebuah rumah dan juga memutuskan jari saya, mengeluarkan darah dari tangan saya. Ketika air telah surut, saya turun. Rumah saya telah hilang, banyak orang-orang yang menangis. Tak berapa lama saya bertemu dengan kedua orang tua saya, tetapi saya kehilangan istri dan anak saya. Mereka dinyatakan hilang, tetapi saya tahu mereka telah meninggal dunia. Saya baru kawin satu tahun, saya sangat mencintai istri saya, saya masih menyayanginya. Setiap hari saya berteriak ke udara lepas “Saya mencintai kamu, saya sayang anak kita”.

Pardian Syahputra, 9 tahun, pelajar sekolah dasar, Banda Aceh: Saya tidak ingat apa yang terjadi secara jelas, tetapi tiba-tiba ada boat penangkap ikan dari Lampulo di jalan depan rumah kami. Dia bergerak ke arah rumah kami dan menghancurkannya. Kemudian air membawa saya entah kemana. Orang tua dan bibi saya berteriak meminta tolong, dan juga memangil-manggil saya, tetapi air telah menghanyutkan saya. Air itu sangat kotor, penuh dengan sampah-sampah dan juga barang-barang yang menabrak orang-orang. Kemudian ombak yang ketiga datang dan membawa saya lebih jauh lagi. Saya berusaha memanjat ke atap dan kemudian saya berada disana sendirian sampai sore hari, saya sangat takut melihat mayat-mayat dimana-mana, juga ada yang masih anak-anak. Ketika air sudah mulai surut, ayah saya datang dan menurunkan saya. Dia mengatakan bahwa bibi dan ibu saya telah meninggal dunia.

Mulya, 29 tahun, penjual ikan, Lampulo: Saya sedang berjualan di kedai saya ketika gempa datang, kemudian saya pulang ke rumah untuk melihat istri saya dan mendapatkannya selamat. Semua keluarga saya ada disana dan kami berdiri di luar dan bercerita dengan penduduk kampung yang lain. Tiba-tiba, seseorang berteriak bahwa ombak datang – dan kelihatan sepertinya setinggi 30 meter. Kami berlari bersama abang ipar saya, dan juga keluarganya. Dia meminta saya untuk menyelamatkan bayinya, yang berusia 14 bulan. Kemudian saya mengambilnya dan kami semua lari ketika ombak datang ke arah kami dan memisahkan kami. Istri saya terlepas dari saya dan juga ombak menggulung saya ke bawah. Saya memegang bayi itu seerat mungkin, kemudian pada saat saya timbul keatas air, istri saya telah hilang. Saya tertabrak dengan kayu-kayu dan juga sampah, saya kira ini adalah hari kiamat. Saya pegang erat-erat bayi itu ketika saya terhanyut lagi. Saya berkata pada diri sendiri “Jika ini adalah hari kehancuran, biarlah saya mati, tetapi jika bukan tolong selamatkan kami.” Kemudian sebatang pohon menabrak kami dan melepaskan bayi dalam pelukan saya. Saya lihat dia dihanyutkan, saya berenang sekuat tenaga melawan arus dan kemudian saya dapat meraihnya kembali, tetapi lagi-lagi saya tertabrak dengan kayu, mobil dan sampah-sampah. Saya panjat pohon sampai ke puncaknya, tetapi air masih lagi naik. Bayi itu menelan begitu banyak air. Saya berdoa pada tuhan untuk menolong kami dan dalam beberapa menit bayi itu memuntahkan air laut dari dalam mulutnya. Setelah satu jam air surut dan seseorang datang menolong saya. Kemudian saya melihat bapak dari bayi itu. Dia mengambilnya dengan berlinangan air mata dan juga kami saling berpelukan.

Sri Rahayu, 30 tahun, ibu rumah tangga, Lamprit: Saya baru saja meninggalkan rumah sakit dimana anak saya sedang dirawat, jaraknya dekat dengan rumah saya. Kemudian terjadilah gempa dan sangat luar biasa, kubah mesjid Lamprit rubuh dan menaranya miring. Ketika saya sampai di rumah, saya mendengar suara yang saya kira suara badai. Saya berkata pada adik saya “mari kita masuk ke rumah, mungkin akan datang topan.” Tetapi kemudian polisi datang memberitahu kepada semua orang bahwa “air laut naik, lari untuk selamatkan diri dan berdoa kepada Tuhan!” Ketika saya melihat air, saya tidak percaya ini benar-benar terjadi, ombaknya kira-kira 2 meter tingginya. Saya mengambil anak saya yang berusia lima tahun dan menyeret dia ke arah jalan. Kakinya tergores dan terluka karena saya menyeretnya, tetapi saya tidak peduli, saya hanya ingin menyelamatkannya. Kami lari kembali ke rumah sakit dan dengan yang lainnya naik ke tingkat tiga rumah sakit itu. Pintunya tertutup sehingga kami berusaha untuk mendobraknya bersama-sama. Dari situ kami bisa melihat kehancuran yang terjadi di bawah, air ada dimana-mana, atap-atap rumah hanyut, mobil-mobil dan juga sejumlah anak-anak di halte bus. Dan kemudian mereka hanyut, mereka tertabrak dengan mobil, kayu, kulkas dan televisi, semuanya bergerak sangat cepat dan sangat mengerikan melihatnya.

Zainab, 25 tahun, ibu rumah tangga, Samudra: Saya sedang membersihkan rumah ketika gempa. Saya duduk di jalan dengan saudara perempuan dan keponakan saya, ayah saya yang lumpuh tetap berada di dalam rumah. Tiba-tiba sepupu saya lari ke arah kami sambil berkata “air laut naik!” Saya raih keponakan saya yang berumur 4 tahun dan menggendongnya dengan kain batik panjang. Tidak ada seorangpun yang menolong ayah saya, jadi saya juga berusaha untuk menolongnya. Ketika kami sampai dekat dengan lapangan, kami digulung oleh ombak. Saya terhanyut dengan keponakan saya yang berkata bahwa kami akan mati. Saya berusaha untuk mencapai pohon kelapa, baju saya terlepas dan kemudian saya sadar bahwa saya sekarang hanya memakai celana dalam saja. Saya merasa sangat ketakutan. Kemudian saya melihat seorang laki-laki penderita lepra dari desa saya. Dia menaikkan anak-anak dari air dan menempatkannya pada sejumlah bambu. Air masih saja naik dan kami perlu untuk memanjat lebih tinggi lagi. Saya meminta pertolongannya, jadi dia mengambil saya dan keponakan saya untuk memanjat lebih tinggi dengannya. Tidak lama kemudian ombak menghantam kami dan saya menyerahkan keponakan saya. Rumah saya hilang, tetapi semua keluarga saya selamat demikian juga ayah saya.

Mawardi, 28 tahun, penarik becak, Banda Aceh: Saya sedang mengendarai becak melewati penjara pada hari pertama setelah tsunami ketika saya mendengar suara laki-laki yang berteriak untuk meminta tolong. Bersama dengan yang lain kami menemukannya, terperangkap di bawah lantai permanen penjara itu dimana bangunan ini runtuh ke atasnya. Kami berusaha untuk menggerakkan reruntuhan dan batangan besi di sekitarnya, tetapi rasanya tidak mungkin, kami memerlukan mesin untuk melakukannya. Sehingga kami harus meninggalkannya, menangis dalam kesakitan. Saya kembali lagi pada keesokan harinya, tetapi dia telah meninggal dunia semalam, sendirian. Mayatnya tetap terperangkap disana sampai tanggal 3 Januari, dan di sekitarnya ada juga mayat yang lain tersangkut pada batangan besi. Pada saat itu kita tidak terlalu berpikir tentang yang sudah mati. Kami terlalu sibuk untuk mencari yang masih bertahan hidup dan keluarga kami yang hilang.

Maimunah, 90 tahun, Pulo Aceh: Saya bangun di awal pagi untuk melakukan shalat subuh dan mendapatkan bahwa langit begitu merah hari itu. Ini tidak seperti biasanya. Saya keluar dan mendapatkan tidak ada angin, ataupun angin sepoi-sepoi, dan kemudian awan hitam berkumpul di langit seolah-olah akan terjadi badai. Kemudian terjadilah gempa, saya masuk ke dalam dan membangunkan putra dan juga cucu saya dan menyuruh mereka untuk mendaki bukit di dekat rumah kami. Saya tahu bahwa Tuhan Semesta Alam ini akan menghukum orang-orang yang berdosa hari ini. Kami lari ke arah bukit bersama-sama dengan penduduk kampung yang lainnya, dan ada yang menyuruh mereka untuk berlari lebih cepat, saya dapat merasakan bahwa bencana ada di belakang kami. Dari tempat yang aman di atas bukit kami melihat ombak laut raksasa menghancurkan desa-desa, tidak ada kekuatan di muka bumi ini dapat menahannya. Kemudian sebuah boat penangkap ikan menyelamatkan kami. Saya melihat keagungan Tuhan pada hari itu.

Aidil Taha, 52 tahun, Nelayan, Alue Naga: Saya berada di pantai dan sedang memancing ketika terjadinya gempa. Laut bergelombang dan ombak saling bertabrakan dalam segala arah, sehingga saya bertiarap di atas pasir dan menunggu sampai gempa itu selesai. Kemudian, saya tidak mempercayai apa yang saya lihat. Saya belum pernah lagi melihat kejadian ini sebelumnya dalam hidup saya – laut telah jauh surut. Saya dapat melihat karang-karang di bawah laut, dan juga ikan bertebaran. Kemudian saya langsung pergi dan menangkap ikan-ikan yang besar kemudian saya melihat ombak. Sudah tentu saya langsung menjatuhkan ikan-ikan itu dan berlari menyelamatkan diri, tetapi ombak begitu besar dan tidak ada jalan untuk menghindarinya, saya dibawa ombak ke arah jembatan Krueng Cut dimana saya pikir saya telah selamat, tetapi tiba-tiba datang ombak yang kedua dan membuat saya pingsan. Ketika saya terbangun, entah bagaimana saya tersangkut pada sebatang pohon di Simpang Mesra-kira-kira 7 km dari desa asal saya, dan ketika ombak ketiga datang saya terbawa ke tingkat kedua sebuah toko. Saya mendapatkan jari saya patah dan juga saya menjadi telanjang, tetapi saya masih hidup. Tuhan telah menyelamatkan saya dan keluarga saya, kami semua selamat.

Sari Ekawati, 30 tahun, pegawai honorer di Koperasi PLN Wilayah, Banda Aceh: Saya sedang membantu ibu untuk memasak, dan abang saya sedang memanasi mobilnya di luar. Ketika gempa datang kami semua keluar rumah, kami menyangka rumah kami akan runtuh. Kemudian datang peringatan dari seseorang yang berteriak “air laut naik!” Saya berlari dengan yang lainnya, dan saya melihat abang saya mengendarai mobil bersama dengan orang tua saya, tetapi sebelum mereka sampai di ujung lorong rumah kami mereka tersapu oleh ombak. Kemudian ombak juga menyapu saya. Airnya sangat hitam, panas dan berlumpur dan saya tidak dapat meraih apa-apa untuk pegangan, air itu menghanyutkan saya, kemudian saya melihat tiga keponakan saya bertahan pada sampah-sampah kayu. Tetapi ketika ombak yang berikutnya datang saya tidak lagi melihat mereka. Setelah itu, saya melihat mayat-mayat dimana-mana. Saya kira bumi ini akan hancur, semua orang berteriak minta tolong. Abang saya selamat, tetapi saya kehilangan orang tua dan juga keponakan saya dan juga abang dan kakak saya yang lainnya. Mayat mereka tidak pernah diketemukan, mereka semua telah meninggal dunia. Apa yang dapat saya katakan lagi? Saya berharap Tuhan akan membimbing saya dalam sisa umur saya- hanya itu harapan saya.

Ir. T. Mufizar, 47 tahun, Kepala Dinas Kehutanan, Calang: Saya dan semua keluarga saya, selain anak tertua saya, berada di dataran tinggi ketika ombak datang, semua berteriak ketakutan di sekitar kami. Kubah mesjid kelihatan seperti piring yang terapung di dalam air. Orang-orang tidak mempunyai kesempatan – air kelihatan seperti magnet, menggulung dan menenggelamkan orang-orang ke bawahnya, airnya hitam seperti lumpur, penuh dengan kayu-kayu, logam, besi, kulkas, mobil, truk, dan sepeda motor - air menghanyutkan segalanya, tergulung, ke dalam dan ke bawahnya, diantaranya juga ada orang yang telah meninggal dan sekarat. Saya pikir ini adalah hari pembalasan tuhan telah menenggelamkan dunia ini. Kami tinggal di gunung selama tiga hari dengan sekitar 2.500 orang lainnya. Tidak ada tempat yang lain yang dapat kami tuju, semua benda telah tersapu ombak. Kami menemukan sekarung beras di dalam lumpur dan kemudian kami memakannya. Semua orang kelaparan waktu itu. Kemudian, kami berenam berusaha untuk pergi ke Banda Aceh dengan boat untuk mencari pertolongan. Kami pergi ke pendopo Gubernur, dia sedang shalat waktu itu dan saya melihat sisa-sisa makanan disana. Saya sangat lapar. Saya mengumpulkan sisa –sisa itu dalam satu mangkuk, dan karena saya merasa malu, saya memakannya di kamar mandi. Saya melaporkan bahwa kami memerlukan beras dan juga makanan yang lainnya dan juga bahan bakar minyak. Departemen Sosial memberi kami 200 kotak mie instan, tetapi mereka tidak memberikan beras, prosedur dari pemerintah Indonesia sangat rumit, bahkan Badan Urusan Logistik – BULOG, tidak bisa memberikan kami sedikit beras. Akhirnya kami mendapatkannya dari Palang Merah Indonesia. Ada beberapa rintangan dalam mendapatkan bantuan untuk orang-orang di daerah saya, dan kemudian saya teringat anak saya yang masih hilang. Saya berkata pada diri saya bahwa saya lebih beruntung daripada yang lainnya, saya masih lagi mempunyai tiga orang anak dan juga istri, ada orang yang kehilangan semuanya; tetapi dia tetaplah anak saya dan hati saya berkata bahwa dia selamat. Dan ternyata memang dia selamat dan saya menemukannya di Krueng Cala, tetapi kakinya terluka parah. Saya tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaan saya. Saya menangis walaupun sebelum ini saya tidak pernah menangis, dan saya berteriak keras ke semua orang-anak saya masih hidup! Dia merasa bersalah karena semua kawan-kawannya meninggal dunia dan dia juga menangis. Sebelum saya kembali ke tempat pengungsian, saya membawanya ke rumah sakit dimana kemudian kakinya diamputasi. Tetapi Tuhan masih menyelamatkan hidupnya.

Juanda, 28 tahun, Pekerja Kemanusiaan, Simpang Surabaya: Saya sedang bekerja mempersiapkan sebuah pertemuan, saya merasakan bangunan bergoyang dan kemudian keluar karena kami tahu bahwa itu adalah gempa. Seorang kawan saya yang mempunyai sepeda motor menyarankan agar kami lari ke arah kota untuk melihat apakah semuanya baik-baik saja. Ketika kami sampai disana kami melihat banyak bangunan yang runtuh, dan orang-orang berdiri di sekitarnya dan terlihat ketakutan. Dari sana kami pergi ke Blang Padang, tetapi ketika kami mendekatinya, orang-orang lari ke arah kami dan berteriak “air laut naik!” Ada juga orang-orang di dalam mobil, tancap gas, menabrak orang-orang, tanpa memperhatikan orang lain, menabraknya dan melukainya, sehingga orang-orang tersebut tak bisa lari lagi. Kemudian kami mendengar suara yang besar seperti suara mesin pesawat terbang, dan kami melihat air. Hal ini sungguh luar biasa, sangat tinggi, lebih tinggi dari bangunan di sekitar kami. Ketika air itu berjarak sekitar 100 meter dari kami, kami berusaha memanjat menara air. Tetapi ombak sangat kuat dan menyapu saya jauh ke udara. Ketika saya terapung saya melihat kabel listrik di atasnya, saya berusaha meraihnya dan bergantung dengan kuat sedang air di bawah saya mengamuk, membawa semua orang dan benda. Saya sangat beruntung, saya dapat bertahan dan juga keluarga saya. Tetapi saya mengalami trauma dengan semua kejadian itu, dan setiap malam ketika saya tidur saya seperti melihat kembali apa yang terjadi kembali: orang-orang yang ditabrak mobil, mayat dan orang yang hidup terbawa air di bawah saya ketika saya bergantung di sana dalam keputus-asaan. Tidak ada yang dapat saya lakukan untuk menolong, ombak itu sangat marah waktu itu.

Albar, 45 tahun, Camat Pegasing, Aceh tengah: Sebelumnya saya adalah seorang kepala bagian di Departemen Sosial Aceh Tengah dan saya berada di rumah di kecamatan Bebesan ketika tsunami terjadi. Saya tidak pernah merasakan kekuatan gempa sebesar ini sebelumnya. Saya merasakan itu seperti takdir Tuhan, saya merasa itu seperti hikmah dalam Al Quran yang ditunjukkan kepada kita; dan juga merupakan ajang instropeksi diri yang menunjukkan kebesaran Tuhan. Tetapi tidak ada bangunan yang runtuh ketika itu, walaupun aliran listrik sempat terganggu. Ketika kejadian itu selesai, para pengungsi datang membanjiri ke kecamatan kami. Pada awalnya ada kira-kira 600 orang, tetapi kemudian terus bertambah, sehingga saya mulai mengatur masalah makanan dan juga tempat tinggal buat mereka. Sebagian besar mereka tinggal dengan penduduk setempat, semua penduduk sungguh luar biasa dan semuanya menolong bersama-sama. Ketika saya melihat mereka bersedih, orang-orang yang kehilangan berdatangan di Pegasing, saya sangat tersentuh dan mengingatkan saya bahwa kita semua adalah satu dan sama di mata Tuhan. Kami memberikan mereka makanan, sayur mayur, pakaian bekas dan uang, sehingga mereka dapat menemukan semua akomodasi ketika mereka memerlukannya. Saya juga membawa beberapa pengungsi untuk tinggal di rumah saya sebanyak 10 orang. Sekarang hanya tinggal satu orang yang telah kehilangan semuanya, juga keluarganya. Saya telah menganggapnya sebagai anak saya sekarang ini. Rumah saya adalah rumahnya, dia adalah keluarga saya.

Kopka Baharuddin, 48 tahun, Anggota Koramil Blang Bintang: Saya berada di rumah pagi itu, bersiap-siap mau bertugas, jadi saya sedang mandi sewaktu gempa. Semua orang dalam keadaan panik. Saya mengambil sepeda motor saya dan mengendarainya ke arah kantor saya, tetapi tanah masih bergoyang dan saya terjatuh beberapa kali. Ketika saya sampai di kantor saya, saya melihat ombak yang hitam mendekati saya. Pada awalnya saya pikir itu hanyalah banjir biasa, tetapi ketika saya lihat betapa besarnya air itu dan menjatuhkan sepeda motor saya, saya mulai berlari. Saya berusaha untuk memanjat pohon asam dan melihat ke bawah air mengalir penuh dengan sampah-sampah dan juga mayat. Saya melihat rumah saya dari kejauhan, dilanda ombak dan saya berdoa agar semua keluarga saya selamat. Seorang laki-laki yang hanyut di dekat saya meminta tolong, tetapi saya tidak dapat melakukan apa-apa. Saya melihat seorang wanita tergulung di bawah ombak hitam itu, kemudian tidak muncul lagi, dan saya melihat seorang anak hanyut sedang duduk di atas spring bed, di atas kasur, dia hanya duduk saja, nampak tenang melihat orang-orang di sekitarnya meminta tolong. Keluarga dan teman-teman saya selamat semua, tetapi saya tidak tahu apa yang terjadi terhadap orang-orang yang terbawa ombak dan juga anak kecil itu. Saya tidak pernah tahu.

Abrip Sembiring, 50 tahun, anggota Polisi di Polsek Pulo Aceh: Orang-orang dalam keadaan panik setelah gempa, dan kemudian seseorang berteriak bahwa air laut naik. Saya melihat ke belakang kantor saya dan melihat air laut surut dan ini sangat menakjubkan dan saya dapat melihat dasar laut. Kemudian ombak yang pertama datang, ombak itu sangat tinggi, saya tidak pernah melihatnya sebelumnya. Saya berlari dengan yang lainnya ke arah bukit. Tetapi ombak itu memecahkan sebagian bukit itu. Ketika saya mendaki ke puncaknya, saya merasa seperti saya berada di sebuah pulau yang dikelilingi oleh laut, semua daratan kami telah tenggelam. Saya teringat keluarga saya dan saya begitu mencintai mereka dan saya bedoa agar mereka semua selamat. Kami tinggal di bukit itu untuk dua hari. Kami makan apa yang kami dapat : umbi-umbian, daun singkong dan kami minum air kelapa. Kami berdoa bersama di sana, tetapi seorang ulama berkata bahwa ini adalah hari pembalasan, dan adalah sangat terlambat meminta pengampunan sekarang, kita harus melakukannya sebelumnya, ketika kita masih diberi kesempatan, tetapi itu semua sudah berakhir. Saya merasa sangat aneh waktu mendengarnya. Tetapi saya masih teringat tentang keluarga saya dan memutuskan untuk mencoba mencari mereka. Sejumlah nelayan menjemput kami dan membawa kami ke Lampulo di Banda Aceh dan berjarak sekitar 10 km dari tempat asal saya. Pemandangan yang saya lihat sangat luar biasa dalam perjalanan saya dari Lampulo ke Blower, rasanya kaki saya tidak menginjak tanah lagi. Saya berjalan di atas sampah, pecahan kayu, reruntuhan bangunan dan di sekitar saya juga banyak mayat, sebagian dari mereka telanjang karena air laut telah menanggalkan pakaian mereka. Dimana saja yang bisa, saya menutupinya, tetapi sebagiannya tidak dapat saya lakukan. Ketika saya tiba di Blower, saya tidak menemukan seorang pun, keadaan terasa sunyi seperti kota hantu. Ketika saya sampai di Banda Aceh saya dengar dari saudara saya kalau keluarga saya selamat dan kemudian saya memulai menolong dengan tenaga yang tersisa. Kami mendapatkan pakaian dan juga air mineral, tetapi itu tidaklah mencukupi untuk semua orang. Tetapi kami semua merasa sebagai sebuah keluarga besar dan saling tolong menolong apa yang bisa kami lakukan.

Ayu Trie Utami, 18 tahun, Pelajar, Ulee Lhue: Setelah gempa saya keluar rumah dan duduk di jalan bersama semua keluarga saya. Dan kemudian langit menghitam dan dipenuhi dengan awan-awan hitam. Pada awalnya saya tak dapat mengira apa yang akan terjadi, tetapi yang mengejutkan saya ternyata awan hitam itu adalah ombak yang sangat besar. Sebelum saya melakukan sesuatu, ombak itu menghantam saya dan di sekeliling saya menjadi gelap. Saya mengira saya telah mati. Ketika saya sadar, saya dapati bahwa saya berada di depan Universitas Iskandar Muda di Surien. Semuanya kelihatan kabur ketika saya terhanyut timbul tenggelam dalam ketidaksadaran saya. Saya membuka mata kemudian, dan kemudian saya pingsan lagi ketika melihat begitu banyak mayat di sekitar saya. Setelah beberapa lama saya sadar kembali dan menemukan bahwa saya dalam sebuah mobil. Orang-orang di sekitar saya sangat terkejut ketika saya membuka mata. Mereka mengira saya telah mati, dan juga tidak ada sedikitpun luka di badan saya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa bertahan hidup, dan kenapa saya harus hidup ketika semua keluarga saya hilang dan saya tidak dapat menemukan mereka lagi.

T. Alfian, 28 tahun, montir, Keudah: Ketika gempa datang, saya adalah seorang narapidana di pejara Banda Aceh dengan kesalahan menjual narkoba. Kami sedang berbicara tentang gempa yang baru saja terjadi, dan kemudian gempa yang kedua datang,. Kami mendengar suara ribut dan kemudian penjaga penjara membuka pintu gerbang. Tetapi itu sudah sangat terlambat, air laut telah masuk ke dalam penjara dan saya berpikir jika saya keluar, air laut akan menghanyutkan saya. Kemudian saya masuk kembali dan memanjat ke atas sebuah dinding. Tetapi air itu sangat kuat dan menjatuhkan dinding itu, dan entah bagaimana saya berada di atas atap seng, dan kemudian ombak menghancurkannya lagi, dan saya beruntung terbawa air yang mengalir deras itu. Pada awalnya saya berusaha untuk meraih ranting pohon, kemudian saya berpegangan pada sebuah kulkas. Saya berusaha untuk mendekati pohon pinus, tetapi ombak yang berikutnya datang dan menghanyutkan saya lagi yang mengakibatkan saya timbul tenggelam bersama air yang mengalir. Saya timbul kembali di jembatan Pante Pirak kira-kira 500 meter dari penjara, tetapi air masih ada dan kemudian menghanyutkan saya lagi. Tak lama kemudian air menjadi lebih tenang dan saya terdampar di pinggiran sungai di belakang rumah sakit kesdam. Saya melihat banyak mayat dimana-mana dan di antara semuanya ada seorang anak kecil yang berjuang di tengah sungai, menjerit meminta tolong. Tetapi arus masih lagi deras dan saya sangat lemah dan keletihan, saya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali melihat air menghanyutkan anak itu. Kemungkinan dia telah mati sekarang ini. Saya merasa sangat bersalah karenanya sampai saya mati nanti. Saya berbaring disana dan bertahan sampai air surut dan kemudian seorang lelaki tua datang dan memberikan saya minum. Saya memuntahkan air hitam yang tertelan dari aliran air tadi, menarik nafas dan kemudian mencari istri dan orang tua saya. Mereka menangis kesenangan ketika mereka melihat saya dan kami berpelukan, saya sangat bersyukur saya selamat.

Aries, 10 tahun, anak lelaki, Blower: Saya sedang mandi di rumah ketika gempa datang. Saya berlari keluar hanya dengan handuk. Kami duduk bersama-sama di jalan, dan kemudian saya masuk kembali dan menonton televisi. Kemudian ibu saya terburu-buru masuk dan mengatakan kami harus lari secepat mungkin ke mesjid karena air laut naik. Jadi saya lari melalui jalan-jalan dengan orang tua, kakak dan abang saya. Dimana-mana semua orang berlarian, ada sepeda motor yang bertabrakan dan sebagiannya terjatuh, dan para pengendara tidak peduli jika mereka melukai ataupun mencelakakan orang karena mereka hanya ingin menyelamatkan diri mereka saja. Tetapi air laut datang dan membawa semuanya – mayat-mayat, sampah, dan juga mobil dan sepeda motor. Ketika itu berakhir, kami pergi ke Taman Budaya dimana banyak orang yang terluka berkumpul disitu. Banyak sekali orang yang terluka disana, sebagian mereka tidak sadarkan diri, sebagiannya kesakitan, banyak yang mengalami pendarahan dan ada yang kehilangan kakinya. Banyak yang menangis meminta pertolongan, tetapi kelihatannya tidak ada orang yang melakukan apapun untuk mereka.

Edy Syaputra, anggota Marinir, 24 tahun, Cadek: Saya sedang berada di warung menikmati sarapan pagi dengan kawan-kawan saya ketika gempa bumi terjadi. Tiba-tiba ada orang yng berlari ke arah kami. Mereka mengatakan bahwa air laut mengering dan saya melihat bahwa sungai di dekat kami juga mengering. Saya memanjat ke dinding beton sebuah jembatan dan melihat ombak dari kejauhan seperti ular sendok yang membesar, lebih tinggi daripada pohon kelapa. Kawan saya menghidupkan sepeda motornya dan kami memacunya ke arah Krueng Cut, tetapi itu tidaklah bagus, karena setelah itu air memerangkap kami. Kemudian datang ombak yang kedua, yang menghanyutkan kami. Saya tidak merasakan ombak yang ketiga, tetapi ketika saya terapung saya melihat banyak orang yang bergantung pada suatu pohon yang besar yang tumbang. Saya juga melihat orang di tingkat kedua sebuah rumah besar. Mereka pada awalnya dapat bertahan pada saat ombak pertama datang, tetapi ketika ombak yang selanjutnya datang rumah itu hancur dan tergulung demikian juga dengan orang yang ada di dalamnya. Pada saat itu saya memutuskan untuk pasrah pada kehendak Tuhan karena saya kira itu adalah hari kehancuran. Saya berusaha untuk menggapai sebatang pohon kelapa, dan memegangnya erat-erat. Walaupun saya terluka, tetapi saya tidak merasakan apa-apa, dan saya terus bertahan disana, saat itulah saya melihat mayat-mayat dan mobil dan juga ketika melihat kapal terhanyutkan ke arah kota. Saya duduk di atas pohon yang tinggi sampai pukul dua siang dan kemudian ketika air, surut saya turun perlahan-lahan karena saya mulai kesakitan dengan luka di badan saya. Saya berjalan melalui air yang berlumpur dan terpaksa berjalan melalui mayat-mayat yang berada dimana-mana, saya tidak punya pilihan lain. Seorang anak kecil menjerit meminta tolong dan saya membawanya ke jembatan Lamnyong. Abang saya sangat terkejut ketika melihat saya, dia menyangka bahwa saya sudah meninggal. Tetapi bukan hanya saya yang beruntung, seluruh keluarga saya juga semuanya selamat. Semua pengalaman ini membuat saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya merasa saya ingin berbuat sesuatu untuk berterima kasih kepada-Nya, karena saya dapat bertahan dan heran untuk apa saya diselamatkan, saya berharap Dia dapat menunjukkan saya jalan. Tetapi saya berdoa agar ini tidak terjadi lagi.

Juriah, 36 tahun, Ibu rumah tangga, kota Sigli: Hari itu adalah hari Minggu, jadi saya sedang mencuci pakaian ketika seseorang datang dan mengatakan agar saya untuk berlari karena air laut sedang naik. Saya berkumpul dengan anak saya yang berumur 2 tahun dan kemudian kami lari, anak saya yang lainnya berlari di samping saya. Tetapi saya sebenarnya tidak tahu kemana saya harus lari untuk menghindar dari air laut. Gelombang tsunami menghantam kami dan kemudian kami terpisah satu sama lainnya. Saya berpegangan dengan anak saya, dan memeluknya erat, tetapi ombak menggulung kami ke bawah dan memisahkannya dari saya. Saya bergantung pada sebuah pohon mangga ketika reruntuhan rumah yang hancur dan mayat-mayat mengalir di dekat saya. Saya tetap mencari seluruh keluarga saya, tetapi saya tidak mendapatkannya. Setelah semuanya selesai, ada tentara yang menolong saya turun dari pohon, dan kemudian saya pergi ke rumah sakit. Suami saya ada di sana dan juga mayat dari dua anak saya yang telah meninggal. Tiga anak saya masih hilang. Kemudian kami menemukan juga jenazahnya, terhanyut ke belakang penjara. Dengan kekuasaan dan kasih sayang Tuhan, setidaknya saya masih dapat memeluknya sekali lagi sebelum menguburkan mereka. Rumah semua isinya tidak ada lagi. Tetapi saya tidak terlalu sedih. Kita dapat mencari kekayaan lagi tetapi anak-anak kami telah hilang untuk selamanya.

Dr. Arjuna, 30 tahun, Dokter, Teunom: Kami menyelamatkan diri dari air besar dan berusaha untuk sampai di gunung. Ada banyak orang di sana, tetapi kami tidak makan apa-apa pada hari pertama, kami hanya minum air dari sungai. Kami betul-betul terisolir di Teunom dan tidak dapat ditempuh baik dari darat ataupun laut. Pada akhirnya kami mendapatkan pertolongan setelah minggu ketiga ketika makanan dijatuhkan dari helikopter untuk kami. Tetapi perkelahian menghancurkan makanan tersebut, adalah sangat menyedihkan melihat kelakuan orang-orang dalam keadaan menyedihkan satu sama lain. Saya berada disana selama dua bulan sebelum saya kembali ke rumah untuk bergabung dan membantu orang-orang yang selamat. Tetapi rumah saya telah hancur menjadi puing-puing. Saya dan suami saya menggali lumpur dan berusaha untuk mendapatkan obat-obatan, tetapi kami hanya menemukan sanmol untuk diare. Hanya obat itulah yang kami miliki saat itu. Tujuh hari kemudian dokter tentara datang dan memberikan kami empat kotak obat-batan, dan saya membuka sebuah klinik di SD Pasie Teube. Kami melakukan apa yang kami mampu, tetapi adalah sangat sukar karena kami hanya mempunyai satu bidan dan satu perawat untuk menolong. Tetapi bantuan medis adalah tidak cukup, kami sangat sedih karena keterbatasan antibiotik dan multivitamin dah juga obat untuk anak-anak. Saya tidak menerima apa-apa dari dinas kesehatan pada saat itu, saya hanya mendapatkannya dari angkatan laut. Saya merasa sangat sedih karena tidak dapat menolong semua orang, setiap hari saya berharap bantuan obat-obatan akan datang.

Yusrizal, 23 tahun, Lulusan universitas, Aceh Jaya: Seluruh keluarga saya berkumpul di Banda Aceh untuk kenduri syukuran karena ibu saya berencana akan naik haji. Tentu saja gempa bumi telah merusakkan semuanya dan kami berlarian ke jalan. Ketika gempa selesai kami masuk kembali ke rumah. Tidak lama setelah itu, kami mendengar suara dari luar seperti suara badai dari laut, kemudian terdengar tiga ledakan seperti suara ban yang meletus. Saya keluar untuk mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi dan saya mengira bahwa itu suara angin yang kuat, tetapi sebenarnya itu adalah suara dari ombak yang datang ke arah kami, itu kira-kira tingginya 20 meter. Saya memanggil seluruh keluarga saya dan kami semuanya lari, sebagian menggunakan becak, sepeda motor, tetapi sebagian besar kami berlari. Kami terpisah ketika ombak menghantam kami. Ombak yang pertama sangat gelap seperti malam hari dan itu menghancurkan rumah-rumah di sekitarnya, tetapi ombak yang kedua dengan mudah menghancurkan semua, meninggalkan daratan menjadi rata, seperti hari kiamat. Saya pernah mendengar dari orang-orang tua yang diambil dari Al qur an bahwa ini adalah merupakan salah satu tanda-tanda kiamat. Saya bertemu dengan keluarga saya di gunung, kami tidak mendapatkan apa-apa untuk dimakan selama tiga hari. Kami meminta tentara untuk menembak lembu dan kerbau karena kami kelaparan. Jadi kami sembelih ternak-ternak itu dan semua kami memakannya, demikian juga dengan tentara-tentara itu. Kemudian sebulan setelah itu bantuan datang. Kami mendapatkan satu kotak mie instan untuk setiap kepala keluarga, hanya itu yang kami dapatkan. Hanya pondasi saja yang tertinggal dari rumah kami. Kami sekarang harus memulai dari awal, demikian juga dengan orang-orang yang lain di sini.

Ali Hasymi. 40 tahun, Pegawai Negri Sipil, Pulau Simeulu: Hari itu merupakan hari libur, jadi saya berada di rumah ketika terjadinya gempa. Kami sudah pernah mengalaminya pada tahun 2002, yang telah dinyatakan sebagai musibah nasional, tetapi saya tidak pernah menyangka ini akan terjadi. Ada cerita yang telah diturunkan dari orang tua dan nenek saya tentang tsunami pada tahun 1907, ombak yang besar terjadi berikutan setelah terjadinya gempa, tetapi bagi generasi saya itu hanyalah sebuah cerita. Jadi ketika terjadinya gempa itu bukanlah suatu hal yang luar biasa karena di Simeulu sering terjadinya gempa, Keluarga saya semuanya keluar, tetapi saya tetap berada di dalam. Kemudian saat saya mendengar mereka menjerit, secepatnya saya menuju pintu, tetapi pondasi telah bergerak dan juga menyebabkan kunci macet. Saya berusaha untuk membukanya dengan paksa dan melihat bahwa gempa ini adalah merupakan gempa yang sangat besar. Semua orang berlari ke arah gunung, karena kami telah tahu bahaya tsunami. Inilah mengapa hanya sedikit orang yang meninggal di pulau ini, walaupun kami sangat dekat dengan pusat gempa.

Zul Baili, 27 tahun, Supir truk, Simeulu: Keluarga saya tidak berada di Simeulu ketika peristiwa itu terjadi. Merka tinggal di Aceh Barat: nenek saya, istri dan anak saya tinggal disaba. Saya menghidupkan televisi dan saya ketakutan ketika melihat Banda Aceh dan Meulaboh telah hancur. Saya berharap keluarga saya selamat di Teunom Aceh Barat walaupun itu terletak kira-kira 2,5 km dari laut. Keesokan harinya saya berusaha untuk mencari mereka dengan menggunakan boat pencari ikan kawan saya. Ketika kita mendekati Ujong Karang, kami menemukan mayat-mayat terapung di air di sekitar kami. Kami mengambilnya sebanyak yang kami mampu dan kemudian menguburkannya, tetapi kami tidak mendapatkan ruang yang cukup di dalam boat untuk mereka, mayat-mayat begitu banyak di sekitar kami. Kemudian saya berjalan kaki dari Meulaboh ke Lambalek, itu memakan waktu dua hari. Orang-orang memberi makanan kepada saya, memberikan nasi dan tempat untuk berteduh dalam perjalanan ke sana. Sepanjang jalan saya teringatkan bayi dan istri saya, betapa gembiranya jika kami berkumpul dan berharap mereka semua selamat. Setelah tiga hari, saya sampai di Teunom. Orang-orang desa mengatakan bahwa keluarga saya ada di Pasie Teubee, tetapi dalam hati saya berkata tidak demikian, saya tahu mereka telah tiada, Saya merasa lemah dan gagal, tetapi saya menguatkan diri dan melanjutkan perjalanan. Ketika saya sampai disana, bapak mertua saya memberitahu saya berita sedih: “istri dan anak kamu telah tiada.” Saya tidak bisa menangis lagi. Saya berkata pada diri sendiri bahwa ini adalah kehendak Tuhan, dan saya harus menerima kehendaknya mulai dari sekarang. Tetapi kadang-kadang saya berharap saya juga mati, bagaimana saya dapat hidup tanpa mereka?

Sayed, 18 tahun, Rumah Sakit Tentara – Kesdam, Banda Aceh: Saya dihanyutkan ke sebuah jembatan di kota. Dimana-mana terlihat mayat dan orang yang sekarat. Saya berusaha menolong mereka, tetapi tidak banyak yang dapat saya perbuat. Kemudian saya pergi ke Merduati ke tempat tinggal saya untuk melihat keluarga saya. Rumah saya telah hilang, dan saya tidak dapat menemukan ibu saya. Tetapi saya menemukan bapak saya di rumah sakit kesdam. Dokter mengatakan bahwa dia baik-baik saja, walaupun dia tertelan lumpur hitam dari ombak tadi. Dokter memberikan obat merah dan memperbolehkannya pulang. Ada juga lelaki yang lain yang tertelan lumpur itu. Saya berbicara dengan dia, tetapi dia sanagat lemah. Keesokan harinya di tmpat pengungsian dimana kami sekarang tinggal, kesehatan bapak saya memburuk lagi, sehingga saya membawanya lagi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Ketika saya sampai disana, lelaki yang saya temui kemarin berada di luar di depan rumah sakit, dia telah meninggal dunia. Bapak saya juga meninggal pada hari itu juga. Sejak hari itu saya seperti orang kebingungan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, saya tidak lagi tinggal di tempat pengungsian. Kadang-kadang saya tinggal di tempat teman saya, terkadang saya tidur dimana saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya tidak tahu harus pergi kemana, tidak ada keluarga saya yang selamat: sepupu, makcik, bapak, ibu saya semuanya telah meninggal dunia. Saya sekarang ini sendirian di dunia ini. Saya tidak punya siapa-siapa lagi.

Ismail M. Syah, Kepala kantor cabang koran lokal Serambi Indonesia, Lhokseumawe: Saya melihat gempa bumi di Lhokseumawe, lalu gelombang datang. Saya tidak dapat mempercayai apa yang saya lihat, lalu saya ambil beberapa gambar – saya berfikir bahwa ini akan menjadi berita hangat bagi Serambi. Tetapi ketika saya menelpon kantor pusat Serambi di Banda Aceh untuk mengatakan pada mereka bahwa saya punya berita yang sangat bagus, ternyata jaringan telepon terputus, jadi saya pikir berita yang telah saya tulis ini sangatlah penting dan akan menjadi berita utama, dan sangatlah penting bagi Serambi untuk mencetaknya. Saya memutuskan untuk mengantar sendiri ke Banda Aceh. Saya pergi kesana dengan kawan saya, tetapi ketika kami telah berada sekitar lima jam dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, kami bisa melihat kehancuran yang melanda dimana tidak hanya ditempat kami itu terjadi, tetapi dibanyak tempat lain di Aceh. Kami melihat orang-orang yang hilir-mudik, rumah mereka telah hancur dan tenggelam. Kami tiba di Banda Aceh pada pukul 10 malam, saat itu sangatlah gelap sehingga tidak bisa melihat apa-apa. Saya sangat takut, ini seperti kota hantu. Tidak ada cahaya lampu dimana-mana, semuanya gelap gulita. Tetapi dari apa yang terjadi saya tahu bahwa banyak yang telah berubah di kota tersebut. Perjalanan ke Serambi sangatlah mengerikan: manyat dan puing-puing serta sampah ada dimana-mana, banyak orang yang terluka yang berputar-putar atau duduk. Kami bisa melihat bahwa kantor Serambi juga terkena musibah, tetapi kurang jelas. Saya kembali pada pagi harinya untuk melihat tingkat kerusakan kantor. Saya sangat terkejut ketika melihat bangunan yang berdiri didepan saya mengalami kerusakan yang sangat parah, tetapi saya lebih khawatir lagi teman-teman saya yang bekerja disana. Perjalanan saya berakhir disana. Saya masih membawa berita halaman depan, tetapi tidak dicetak di Serambi Indonesia. Hanya kesunyian yang menyambut saya ketika memasuki kantor: kesunyian dan hantu dari kawan-kawan saya yang telah ditelan oleh tsunami ketempat yang belum diketahui.

Cerita-cerita di atas adalah merupakan kesaksian dari orang-orang yang selamat dari suatu bencana yang sangat berat untuk dipahami kecuali anda mempunyai pengalaman yang sama dengan itu. Kenyataan yang menyedihkan dari suatu kekuatan yang besar dimana tidak ada apapun yang bisa kita lakukan tetapi harapan untuk hidup, mengingatkan kita betapa lemahnya kita, betapa sangat lemahnya penguasaan kita tentang kejadian alam di sekitar kita dimana kita menerimanya sebagaimana adanya, dan betapa eratnya persahabatan, kekeluargaan dan kasih sayang adalah sangat perlu diperhitungkan. Sebagai salah satu kontributor di dalam buku ini dengan pedih menyatakan “Rumah dan semua harta benda saya sudah tak ada. Tetapi apa yang saya pedulikan? Kita bisa mencari kekayaan kembali, tetapi anak-anak kami semua telah pergi untuk selamanya”.

Di dalam dunia ini dimana materialisme yang semakin meningkat dimana nilai seseorang sering diukur dengan mobil apa yang mereka kendarai, pakaian apa yang mereka pakai, atau dimana mereka tinggal; pengaruh-pengaruh di dalam buku ini menjelaskan apa sebenarnya yang paling penting di dalam hidup kita, dan kenapa suatu bencana kadang-kadang dapat menyatukan seluruh dunia dalam suatu duka cita yang dirasakan menyeluruh yang mengenalinya dengan ikatan dalam penderitaan manusia. Rasa kemanusiaan dan pemberian derma untuk dampak buruk dari bencana Samudera Hindia ini membuat kita sadar kita semuanya mempunyai lebih dari yang kita pahami selama ini. Pada hari dimana sebagian kita mempercayai seakan-akan bumi akan runtuh, dan telah meninggalkan begitu banyak anak yatim yang sedang mencari permulaan yang baru, marilah kita dengar suara mereka dan hal ini akan membantu kita untuk memahami betapa pengasihnya kita semua, bagaimana dengan tanpa memperhatikan ras kita, kepercayaan, agama dan aliran politik, kita semua dibangun oleh kondisi kemanusiaan yang sama dan bagaimana setiap kehidupan individu adalah unik dan berharga.

Berjuta-juta dollar ‘industri bantuan’ telah mengalir ke Aceh sejak peristiwa yang menyedihkan pada tanggal 26 Desember 2004, yang meningkatkan perolehan keuangan dan material bagi banyak orang. Aceh telah menjadi tanah harapan: karena persaingan yang sengit terhadap sejumlah kontrak yang menguntungkan dari proyek rekonstruksi antara perusahaan, LSM dan juga yang lainnya menjadi lebih jelas, dan sebagai pekerja penolong asing datang ke Aceh dengan menikmati gaji dan keuntungan yang membumbung. Puluhan ribu orang masih masih berada ditenda-tenda pengungsian, dan ratusan ribu orang dengan hati yang terluka meratapi saudara-saudara mereka yang telah hilang. Tragedi kemanusiaan yang menyedihkan yang terjadi beberapa bulan yang lalu sepertinya telah terlupakan seiring dengan terbukanya ‘kesempatan’ dan menyalakan api kerakusan bagi kekuasaan dan uang di Aceh. Tanah Aceh ini adalah milik mereka yang telah kembali ke tanah; kesaksian-kesaksian mereka adalah cerita-cerita dari mereka yang selamat yang menyaksikan menit-menit terakhir mereka ketika disapu oleh kekuatan alam yang sangat dahsyat.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org