|
Acehkita.com
16 Juli, 2004
Reporter : AK-9, 2004-07-16 18:16:30
Bireuen, Acehkita. Tak kurang dari 14.000 perempuan di
Aceh menjadi janda selama konflik berkepanjangan di
negeri Serambi Mekah itu. Demikian disampaikan Dra.
Lailisman Sofyati di Asrama Haji Banda Aceh, hari
Jumat (16/07). Lailisman menyampaikan hal itu dalam
laporannya selaku Ketua Panitia Pelatihan dan
Konseling Psikologis Perempuan Korban Konflik dan
Tindak Kekerasan Tahap II.
Pelatihan tersebut digelar untuk membantu ibu-ibu dan
kaum perempuan Aceh yang trauma akibat konflik di
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Pelatihan Tahap II ini digelar sampai tanggal 19 Juli
dan diikuti oleh 88 perempuan korban konflik. Peserta
yang hadir berasal dari Kabupaten Aceh Utara, Bireuen,
Aceh Tamiang dan Aceh Barat.
Sebelumnya, Pelatihan Tahap I digelar antara tanggal
10 hingga 13 Juli yang lalu, dan diikuti 72 kaum
perempuan korban konflik. Mereka berasal dari Banda
Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya dan Pidie.
Menurut Lailisman, Pelatihan Tahap III dan IV
direncanakan digelar pada akhir bulan Agustus yang
akan datang, dengan menghadirkan kaum perempuan korban
konflik dari kabupaten-kabupaten lain yang ada di NAD.
Kegiatan pelatihan dan konseling ini dikerjakan
bersama antara Pemda NAD dengan Pusat Pelayanan
Psikologi dan Konseling (PPPK) Universitas Syiah Kuala
yang bertindak sebagai pelatih. Pelatihan ini
diharapkan bisa membangkitkan motivasi dan semangat
para janda korban konflik, serta menghilangkan trauma
yang mereka rasakan selama ini.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur NAD yang diwakili
Kepala Badan Kesbang Linmas NAD, mengharapkan para
peserta bisa berpatisipasi dengan baik dalam kegiatan
itu.
Masih dalam sambutannya yang dibacakan, Wagub
mengingatkan, konflik tidak hanya menimpa perempuan,
tetapi juga anak-anak.[guh] |