FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      KONFLIK ACEH
 
 

 Aceh-Eye Konflik Aceh Darurat Militer Benturan Oprasi Militer Pendidikan..
   KELEMAHAN SISTIM PENDIDIKAN
Kepala Dinas Pendidikan NAD: Lebih dari 10 Tahun Terjadi Pembodohan di NAD

Kompas
Selasa, 22 Juni, 2004

Banda Aceh, Kompas - Kepala Dinas Pendidikan Nanggroe Aceh Darussalam Anas M Adam mengemukakan, selama lebih dari 10 tahun ini telah terjadi pembodohan terhadap generasi muda di Aceh sebagai akibat gedung-gedung sekolah yang dibakar. Padahal, butuh waktu yang cukup lama untuk membangun kembali sekolah-sekolah tersebut lengkap dengan infrastruktur pendidikan yang memadai.

"Pada kurun waktu itulah kita telah kehilangan momentum untuk mencetak lulusan-lulusan yang baik karena anak-anak kita tak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah yang memadai," papar Anas M Adam, pekan lalu.

Anas menyampaikan itu seusai acara peletakan batu pertama pembangunan sebuah sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di Kabupaten Pidie yang musnah dibakar oleh kelompok tak bertanggung jawab setahun lalu. Ratusan siswa di sekolah itu harus belajar sore hari di gedung sekolah lain.

Anas menyebutkan, proses pembodohan yang dilakukan secara sistematis terhadap generasi muda di Aceh itu tampak nyata.

"Kalau sekolah dibakar, ini merupakan proses pembodohan yang sangat nyata," ujarnya. Ia menambahkan, butuh waktu lama untuk membangun dan mencetak kembali generasi yang unggul.

Proses pembodohan di Aceh itu, menurut Anas, dilakukan secara sistematis dan terarah. Dengan menjadikan sekolah sebagai sasaran, maka dengan sendirinya anak-anak tidak bisa belajar secara wajar. Kondisi ini menyebabkan anak-anak ketinggalan di bidang pendidikan dibandingkan dengan anak-anak di daerah lain.

Ini juga menyebabkan munculnya kecemburuan. Di samping itu, juga ada sikap apatis ketika anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi gagal saat testing masuk.

"Semuanya tidak lain karena fasilitas pendidikan di NAD sudah tak memadai lagi akibat konflik," paparnya.

Ini pula yang menyebabkan nantinya tidak ada lagi kader- kader warga lokal yang mampu memimpin atau memegang posisi-posisi penting di pemerintahan atau swasta.

"Akibatnya akan muncul kecemburuan dan ini bahaya," ujarnya.

Celah-celah yang memunculkan kondisi ini diciptakan melalui pemusnahan fasilitas pendidikan. Siapa pun yang melakukannya, menurut dia, pantas untuk dikecam oleh banyak pihak. "Ini proses pembodohan yang nyata, dan efeknya sangat luas," imbuh Anas.

Sekolah unggul

Anas mengungkapkan, pemerintah setempat tetap membangun sekolah-sekolah unggul di Aceh untuk mencetak generasi- generasi unggul yang bisa diandalkan. Kondisi dunia pendidikan yang telah jauh ambruk harus diimbangi dengan membuka sekolah-sekolah unggul.

Ia mengakui, ada pendapat pro dan kontra tentang sekolah unggul itu. Misalnya, kenapa sekolah unggul dibuka di kota- kota, sementara di desa dan kecamatan diabaikan.

Ia menyebutkan, perhatian terhadap sekolah unggul tidak mengurangi juga perhatian terhadap pembangunan sekolah- sekolah lainnya. "Kita perlu sekolah-sekolah unggul karena di sana dicetak generasi kita yang siap bersaing secara nasional," ujarnya.

Untuk masuk sekolah semacam SMU Harapan Bangsa di Banda Aceh, calon siswa harus memenuhi berbagai persyaratan ketat. Bila mereka lulus, program pendidikannya juga dirancang sedemikian rupa sehingga beda dengan sekolah biasa.

Anas mengemukakan, dunia pendidikan di Aceh kini harus bangkit dari keterpurukan. Caranya dengan membangun fasilitas-fasilitas pendidikan yang telah hancur serta menambah jumlah guru yang memang masih kurang hingga mencapai 14.000 orang. (NJ)

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org