|
Kompas
Selasa, 22 Juni, 2004
APA yang harus diucapkan manakala gedung- gedung
sekolah dibakar dan para guru dibunuh? Apa salah
lembaga pendidikan dan para guru sehingga harus
menjadi korban?
Itulah yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) sejak 12 tahun terakhir.
Angka-angka yang disodorkan oleh dinas
pendidikan setempat sangat mengejutkan.
Lihatlah, dalam kurun waktu 1992-1998 telah
dibakar sebanyak 547 sekolah. Tragisnya lagi,
ketika sekolah yang sudah jadi puing itu belum
dapat dibangun semuanya, pembakaran sekolah
kembali terjadi di berbagai daerah di NAD.
Antara periode tahun 2003 hingga Mei 2004 lalu,
tercatat sebanyak 611 sekolah lagi yang berubah
jadi abu dan puing. Maka, total gedung sekolah
yang dibakar di NAD sejak satu dasawarsa
terakhir tercatat 1.158 sekolah dari SD hingga
SMA.
Situasi dan kondisi dunia pendidikan di Tanah
Rencong ini tampaknya memang terus diliputi awan
kelabu. Memprihatinkan memang, karena sampai
saat ini baru sekitar separuh saja dari jumlah
gedung sekolah yang jadi puing di NAD selesai
dibangun dan didirikan kembali.
Persoalan yang mendera sektor pendidikan di bumi
yang juga dijuluki "Serambi Mekkah" ini
tampaknya memang tidak pernah putus. Tidak hanya
sekolah yang jadi korban. Para guru pun menjadi
orang-orang yang tidak berdaya. Mereka menjadi
sasaran kemarahan dan ikut menjadi korban
konflik berkepanjangan ini.
Apa yang dialami para guru di NAD mungkin tak
ubahnya seperti "makan buah simalakama". Apabila
harus bertahan mengajar di NAD, nasib di ujung
tanduk dan belum tentu umur panjang. Akan tetapi,
berhenti jadi guru pun tidak menjamin hidup aman
dan tenang.
Siapa pun orangnya, mungkin akan merasa dicekam
kengerian bila melihat nasib guru-guru di NAD.
Bayangkan saja, di tengah belitan ekonomi dengan
gaji yang belum tentu cukup sebulan, tercatat
lebih dari 100 guru tewas, menjadi korban dan
tumbal selama konflik meletus di provinsi ujung
utara Pulau Sumatera itu.
SULIT membayangkan bagaimana wajah dunia
pendidikan di sana ketika gedung sekolah dan
guru dijadikan korban. Ketika banyak orang
menyebutkan bahwa proses pembodohan tengah
berlangsung di NAD, serta-merta orang pun akan
setuju.
Siapa pun akan mengutuk mereka yang telah
melakukan pembakaran sekolah dan kekerasan
terhadap guru. Kecuali, mungkin mereka yang
tidak pernah sekolah.
"Ya, kecuali bagi mereka yang tak pernah sekolah,"
ujar Marwan, seorang warga yang anaknya harus
belajar di bangunan darurat pada Sekolah Dasar
Glumpang Baro, Kabupaten Pidie, pekan lalu. Dia
sangat geram, dan ucapannya di atas
mengekspresikan rasa sedihnya yang mendalam.
Di banyak sekolah terbakar yang dikunjungi
Kompas pekan lalu, aktivitas belajar- mengajar
anak masih berlangsung di bangunan-bangunan
darurat. Tenda yang selalu membuat anak-anak
kepanasan dan perabotan yang ala kadarnya adalah
pemandangan biasa yang terlihat setiap hari.
"Mau dibilang apa? Di sinilah tiap hari mereka
bersekolah," ungkap Anas M Adam, Kepala Dinas
Pendidikan NAD.
Mereka yang terpaksa berpanas-panas di lokal
belajar darurat itu kini jumlahnya masih cukup
banyak, mencapai puluhan ribu siswa.
Pemerintah, demikian Anas, terus membangun
gedung-gedung sekolah yang dibakar.
Pembangunannya dikelola langsung oleh komite
sekolah sehingga diharapkan prosesnya cepat
selesai karena ditangani langsung oleh para wali
murid yang duduk di komite tersebut.
AKSI pembakaran gedung sekolah dan banyaknya
guru yang jadi korban selama konflik Aceh telah
membuat kondisi dunia pendidikan di Aceh makin
terpuruk. Apalagi diketahui bahwa di seluruh
Provinsi NAD ternyata masih kekurangan 14.000
tenaga guru guna memenuhi kebutuhan pendidikan
di sana.
Jalan keluar yang bisa dilakukan pemerintah
setempat adalah dengan mengangkat guru-guru baru
dalam jumlah terbatas. Selain itu, juga memberi
kesempatan kepada lulusan perguruan tinggi yang
jumlahnya cukup banyak di Aceh guna menjadi guru
kontrak untuk jangka waktu tertentu.
Wakil Gubernur NAD Azwar Abu Bakar mengakui,
pengangkatan guru baru memerlukan proses yang
lama karena menyangkut ketersediaan dana dan
proses-proses lainnya. Meski demikian, dia
optimistis kekurangan guru itu akan terjawab
bila pengajuan tenaga guru disetujui pemerintah.
Kondisi dunia pendidikan di NAD memang jauh
tertinggal dibandingkan dengan daerah lain.
Bukan saja lantaran lama sekali didera konflik,
tetapi faktor kepedulian masyarakat terhadap
pendidikan itu sendiri harus terus dikembangkan.
Pemerintah memang menyediakan dana yang tak
sedikit untuk pengembangan dunia pendidikan di
Aceh yang telah amburadul itu. Jumlahnya
mencapai Rp 700 miliar. Namun, bagaimana
mengelolanya sehingga mencapai sasaran yang
diharapkan, agaknya akan sangat bergantung pada
tangan-tangan mereka yang memegang amanah.
Dunia pendidikan di Tanah Rencong ini akan
sangat menyedihkan lagi bila terus dibiarkan.
Lalu, sampai berapa generasi lagi pendidikan di
NAD akan dibiarkan terus amburadul?
Jawabannya amat bergantung pada niat baik
pihak-pihak yang tak menginginkan proses
pembodohan terhadap anak bangsa ini berlangsung
terus. Semoga. (NJ) |