|
Suara Pembaruan
16 Juni, 2004
PIDIE - Sebanyak 611 sekolah yang disebut
dibakar Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak
diberlakukannya darurat militer atau periode
2003 lalu di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD),
segera dibangun kembali.
Pembangunan kembali sekolah-sekolah tersebut
akan menggunakan dana dari APBN, APBD dan
bantuan gubernur se-Indonesia.
Demikian hal itu diungkapkan Kepala Dinas
Pendidikan NAD, Drs Anas M Adam MPd dalam
sambutannya pada acara peletakan batu pertama
pembangunan Gedung SMU Negeri 2 Bandar Baru,
Kabupaten Pidie, Sebtu (12/6) petang. Lebih
lanjut Anas mengatakan, banyak gedung sekolah
terbakar di Aceh yang kini telah mencapai lebih
1.000 unit gedung dari berbagai jenjang
pendidikan di Aceh sepertinya sengaja dilakukan
oleh orang yang menginginkan anak-anak bodoh dan
generasi Aceh hilang, fakta ini tidak bisa
dibantah karena dalam periode 2003 saja sudah
611 unit gedung sekolah dibakar di Aceh.
Pembakaran sekolah tidak hanya terjadi pada masa
darurat militer 2003 akan tetapi berdasarkan
cacatan Dinas Pendidikan NAD, aksi pembakaran
sekolah di Aceh telah terjadi sejak tahun
1992-2002
sebanyak 547 sekolah. Selama darurat militer
2003 sebanyak 610 ditambah tahun 2004 kemarin di
Aceh Tengah satu unit, berarti sejak tahun 1992
sampai dengan 2004 sebanyak 1.158 sekolah di
Aceh telah dibakar. Aksi pembakaran itu
dilakukan sudah sistematis dan bukan sebagai
kebetulan, ini dilakukan dalam rangka pembodohan
di Aceh.
Akibat pembakaran 1998 sampai sekarang telah
membuahkan hasil yang orang yang menginginkan
anak Aceh bodoh, dibuktikan pada hasil UAN siswa
pada tahun lalu, semua siswa di Aceh pada tahun
lalu hasil ujiannya turus secara drastis di NAD.
Pada tahun lalu penurunan nilai rata-rata 0,5
dan pada tahun ini turun menjadi 0,6 nilai
rata-rata siswa, kelulusan juga turun semua ini
terjadi akibat dari pembakaran sekolah dan teror
terhadap guru, gangguan terhadap pendidikan di
Aceh yang telah berlangsung lama ini harus
segera diperhatikan oleh semua pihak. (147) |