FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      KONFLIK ACEH
 
 

 Aceh-Eye Konflik Aceh Darurat Militer Benturan Oprasi Militer Pendidikan..
   KELEMAHAN SISTIM PENDIDIKAN
Sulitnya Sekolah di Buket Hagu

Kompas
Selasa, 25 Mei, 2004

SULIT membayangkan bagaimana perasaan seorang anak yang baru lulus sekolah dasar, namun orangtua tak mampu membiayainya melanjutkan sekolah. Kecewa, sedih, atau entah perasaan apa lainnya yang harus ditanggung.

YANG jelas, inilah yang kerap terjadi di kawasan Buket Hagu, Kecamatan Lhok Sukon, Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam. Sebuah realitas baru terkuak di kecamatan yang dari buminya negara menerima devisa triliunan rupiah dari gas alam.

Dari lima sekolah, yaitu SD Buket Hagu Gampong, SD Cot U Sibak, SD Babah Geudubak, SD Meunasah Nga, dan SD Cot Asan Lhok Sukon Teungoh, sekitar 10 lulusan tiap tahun di tiap SD itu dapat melanjutkan sekolah.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan setempat, Amri, pekan lalu mengakui, kondisi ini sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir. Bahkan, lebih tragis lagi, sebelum tahun 2000 hampir tak ada lulusan SD yang melanjutkan pendidikan ke SMP atau madrasah tsanawiyah.

Penyebabnya, kata Amri, karena ekonomi keluarga si anak yang kurang mampu. Di samping itu, juga sulitnya sarana transportasi dan jalan yang penuh lumpur bila musim hujan. SMP terdekat (sekitar 6 km) adalah SMP Lhok Sukon.

Namun, jarak 6 km itu bukan berarti bisa dicapai dalam tempo 15 menit. Kondisi jalan di sana sangat memprihatinkan, masih jalan tanah, belum diaspal. Bila musim hujan, mobil harus bernapas dalam lumpur.

Kondisi ini telah terjadi puluhan tahun. "Kami berharap jalan ini bisa segera diaspal sehingga memudahkan transportasi ke dan dari desa sekitar," kata Syahril Basyah, tokoh masyarakat setempat.

Sebelumnya, Amri menyebutkan, beberapa tokoh masyarakat bersama pemerintah setempat telah membentuk satu tim yang diberi nama Tim Peduli Pendidikan Anak Bangsa.

Mereka turun ke lapangan untuk memberikan dorongan kepada wali murid agar bisa melanjutkan pendidikan anaknya. Mereka juga mendorong percepatan tumbuhnya sarana dan prasarana pendidikan di kawasan itu, misalnya berupaya menyediakan tanah untuk membangun sekolah baru. Salah satunya, sekarang ini sedang dibangun SMP di Km 3, yang jaraknya sekitar 6 km dari Desa Meunasah Seun! eubok Dalam di Buket Hagu. Lokasi SMP tersebut diharapkan terjangkau oleh siswa dari beberapa desa sekitarnya.

Diakui, kondisi dunia pendidikan yang sangat memprihatinkan ini sudah berlangsung puluhan tahun lalu, apalagi kawasan Buket Hagu tergolong agak pedalaman sehingga luput dari perhatian pihak lain.

Membaiknya kondisi keamanan sekarang diharapkan bisa membantu tim bekerja sama dengan masyarakat setempat.

"Kami dalam tim ini akan membantu apa yang bisa kami bantu. Buku dan pakaian sekolah, misalnya. Pokoknya anak-anak harus sekolah," kata Syahril Basyah yang ikut dalam tim ini.

KONDISI dunia pendidikan anak di sana begitu buruk. Di satu sisi, wajib belajar sembilan tahun yang telah lama dicanangkan pemerintah sepertinya tidak bergema di sana. Suatu hal yang seharusnya tak perlu terjadi. Di sisi lain, Lhok Sukon adalah daerah yang dikenal luas! sebagai penyumbang devisa triliunan rupiah bagi negara dari gas alamnya yang melimpah.

Bagaimana memberi makna yang jujur terhadap dunia pendidikan anak di sekeliling ladang gas itu bila kondisi pendidikan mereka seperti tergambar dalam uraian data di atas.

Boleh jadi, inilah satu satu bentuk ketimpangan nyata yang terlihat dengan mata kepala telanjang. Betapa dunia pendidikan kita telah hadir dengan langkah pincang di tengah makin suburnya dana pendidikan yang mencapai Rp 700 miliar rupiah.

Buket Hagu mungkin hanya sebuah contoh. Betapa dunia pendidikan di Aceh belum mampu menyentuh lokasi-lokasi pedalaman, sementara di kawasan perkotaan telah tumbuh berbagai sekolah plus. Lihatlah misalnya bagaimana sekolah-sekolah percontohan dengan titik fokus yang jelas. Sementara di desa seperti Bukit Hagu, jangankan membicarakan sekolah plus, untuk melanjutkan pendidikan setamat SD pun masih sangat susah.

Sulit membayangkan bila seorang pemuda desa itu nantinya hanya mengantongi selembar ijazah SD. Bagaimana pola pikir, tindak tanduk, dan kiprah mereka ke depan manakala latar belakang pendidikan mereka hanya SD.

Membicarakan penderitaan mereka akan makin lengkap bila kemudian dikaitkan pula dengan kayanya kawasan itu. Triliunan rupiah devisa negara masuk ke Jakarta, hasil dari perut bumi kawasan Lhok Sukon itu. Gas alam adalah penyumbang devisa yang tak sedikit bagi negara.

Akan tetapi, di sana pula anak-anak desa tak dapat bersekolah dengan sempurna. Mereka tidak tahu berapa dana pendidikan yang sebenarnya mencapai Rp 700 miliar di Aceh. Yang mereka tahu dan jalani sehari-hari adalah bergelut dengan jalan berlumpur untuk mencapai sekolah yang ada. Pakaian seadanya dan sanitasi yang buruk. Belum lagi membicarakan bagaimana gizi mereka.

Sebuah ironi

PEKAN lalu Kompas berkunjung ke satu sekolah di kawasan Buket Hagu, yaitu SD No 14 Lhok Sukon, lokasinya di Seuneubok Dalam. Jarak dari ibu kota Lhok Sukon ke Buket Hagu Gampong sekitar 9 km.

Dari perjalanan itu hanya sekitar 3 km kondisi jalan baik beraspal. Sisanya adalah jalan kampung yang tak rata, tak ayal penumpang yang duduk di dalam mobil sesekali terhuyung- huyung.

Untungnya, kala itu tidak musim hujan sehingga beberapa sisi jalan yang berlubang tampak terlihat. Sebaliknya kalau musim hujan, lubang itu tak ubahnya bak kubangan.

Sekitar pukul 11.45 di SD tersebut. Dari luar tampak bangunan sekolah itu sangat memprihatinkan. Ruangan belajarnya tergolong buruk dan menyedihkan. Plafon atap banyak yang sudah bolong, begitu juga dinding ruangan belajar.

Hampir semua ruangan tidak memiliki jendela atau tembus pandang. Kecuali sebuah ruangan guru. Bahkan, dua rumah yang seharusnya dipakai untuk rumah guru dialihfungsikan jadi ruangan belajar kelas IV karena kekurangan ruangan.

Secara kasatmata, rasanya tidak nyaman belaj! ar dengan kondisi ruangan memprihatinkan begitu. Namun, begitulah adanya kondisi ruangan belajar yang buruk yang dirasakan oleh anak-anak di pedalaman itu.

Wakil Kepala SD 14 Lhok Sukon M Hasan mengatakan, sekolah itu sudah dibangun sejak tahun 1976 dengan kondisi seadanya. Yang ada sekarang ada enam ruangan belajar dan tidak mencukupi karena jumlah murid banyak sehingga dua rumah guru dibobok menjadi ruangan belajar anak-anak.

Hasan yang juga alumnus sekolah itu mengakui, dua tahun sebelumnya lulusan SD itu yang melanjutkan pendidikan sangat minim. Alasannya, faktor ekonomi yang memprihatinkan sehingga banyak tamatan SD yang tidak bersekolah lagi.

Tahun ini jumlah murid kelas VI mencapai 44, terdiri dari 19 laki-laki dan 25 perempuan. Total murid seluruhnya adalah 358. Yang bersekolah di sana berasal dari delapan desa, yaitu Blang Rubek, Mata ie, Mata u, Seunebok Dalam, Lhok Seuntang, Teupin Keube, Ulee Gunong, dan desa Arongan.

Akibat kondisi ekonomi yang buruk ini, juga ikut menjadi kendala proses belajar anak. "Bayangkan, dalam satu kelas hanya sekitar lima orang anak yang memiliki buku cetak penunjang sehingga guru terpaksa mencatat kembali di papan. Dari segi waktu, kami jadi tertinggal,"! ujar Hasan.

Selama 28 tahun lulusan SD itu baru "mencetak" empat pegawai negeri sipil (PNS), masing-masing M Hasan dan Nurhayati, keduanya menjadi guru di sekolah tersebut; Saifuddin, pegawai di kantor Gubernur NAD; dan Ainal Mardiah sebagai tenaga kesehatan.

Meski kabarnya dana pendidikan di sana melimpah, di sekolah itu hanya 41 murid yang mendapat beasiswa dari bantuan kesejahteraan murid (BKM) sebesar Rp 60.000 per anak setiap enam bulan sekali. Sementara bantuan lainnya belum ada yang sampai. Ya, begitulah. (nj)

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org