|
Serambi Indonesia
Selasa,
29 April, 2004
Oleh: Sabiqul Khair Syarif
Derap laju sebuah perkembangan daerah menuju
kemajuan harus berada pada ranah (wilayah)
komunikatif, dialogis dan akomodatif dalam
bingkai membangun humanisme dan masyarakat Yang
berperadaban. Lalu, harus diartikulasikan
menjadi garda depan membangun insan-insan yang
tercerahkan. Idealisasi sebuah pendidikan adalah
membangun paradigma kritis, inovatif, kreatif
dan moralis sehinggga tercipta karakter peserta
didik yang bertanggung jawab dan memilki
integritas intelektual dan etik moral.
Menilik pendidikan di NAD memang masih menjadi
sebuah persoalan yang cukup rumit hal ini
terlihat dengan masih banyaknya infra struktur
dan supra struktur pendidikan yang masih lemah
dan cendrung menjadi prioritas yang kedua dan
ketiga bahkan tak jarang hanya sebagai alat
pelengkap dari program Program yang ada.
Minimnya perhatian ini terlihat dari tak
memadainya bangunan sekolah plus minimnya guru
berkualitas serta sarana akademik yang miskin,
seperti buku-buku. Padahal kemajuan sebuah
negara terletak di pundak pendidikan. Pendidikan
merupakan gerbong penarik perubahan bangsa dan
NAD menjadi bangsa bermartabat, maju dan
disegani oleh masyarakat luar. Itulah yang tak
terlihat di NAD.
Fenomena ini apakah ditengarai oleh kurangnya
komitmen dari pemerintah daerah NAD atau
masyarakat? Pertanyaan ini nampaknya urgen (penting)
untuk dikemukakan. Memprioritaskan pendidikan
sebagai program utama merupakan suatu keharusan
yang tidak dapat ditepis karena dengan
pendidikan kita akan mampu meneropong masa depan
bangsa Indonesia dan NAD untuk sepuluh tahun dan
dua puluh tahun yang akan datang bahkan
seterusnya. Di pundak pendidikan merupakan titik
sentral persoalan mendasar untuk dibenahi dan
diperbaiki karena sebaik apapun bangunan ekonomi,
budaya dan tatanan sosial yang lain kalau tidak
dibarengi dengan menciptakan manusia-manusia NAD
yang kritis, inovatif dan kreatif akan menjadi
sia-sia. Pendidikan tidak seharusnya menjadi
prioritas anak bawang tapi, sebaliknya. Upaya
investment human resource (Investasi sumber daya
manusia) marupakan suatu keharusan karena dengan
keberadaaan manusia NAD yang berkualitas dan
bertanggung jawab akan mampu menjawab masa depan
NAD dan mampu menghadapi tantangan global di
masa datang. Majunya sebuah peradaban
dikarenakan pendidikan, pendidikan mengusung
kesadaran kritis masyarakat untuk mampu membaca
realitas sosial secara objektif dan akurat.
Pendidikan di NAD seharusnya juga mampu membius
anak bangsa kita melek bahasa, informasi dan
teknologi. Sebab integritas nilai sebuah
pendidikan harus memiliki tiga aspek komponen
yaitu, Aspek Kognitif (pengetahuan), Afektif (kesadaraan),
Psikomotorik (gerak atau tingkah laku). Yang
terjadi justru cenderung berkutat pada aspek
kognitif yang sering diartikulasikan kepintaran
dan kemampuan bernalar mampuni. Semestinya
kesadaran dalam memberikan pencerahan terhadap
orang lain menjadi sesuatu yang langka dan
cendrung dimatikan. Begitu juga aspek
psikomotorik yang samasekali tak tersentuh dan
tergarap. Fenomen ini memang potret
Indonesia umumnya dan khusunya Aceh. Seperti
perilaku korupsi, pelecehan manusia seksual,
Narkoba dan masih banyak sikap-sikap sosial yang
cendrung menabrak rambu- rambu moralitas agama
dan sosial. Sikap munafik misalnya, yang sering
diartikulasikan lain dari kenyataan hidup yang
nyata. Manusia-manusia yang seperti ini akan
hidup di alam yang semu dan penuh dengan ketidak
pastian.
Pendidikan yang humanis
Pendidikan yang integral dan holistik seharusnya
berpegang pada prinsip membangun integritas
intelektual, spritual dan etik moral secara utuh.
Sehingga melahirkan manusia yang memiliki
karakter bertanggung 'awab dan memiliki
integritas moral yang humanis. Sebuah term
pendidikan memiliki filosofi "pendidikan
berorientasi memaknai hidup", artinya orang yang
cerdas, pintar dan memiliki nilai intelektual
yang lebih dominan idealisasinya adalah mampu
memberikan pencerahan terhadap lingkungannya.
Tapi, tidak jarang pula para intelektual
cendrung tidak perduli terhadap realitas sosial
misalnya, membiarkan kebodohan disekitarnya dan
tidak mencoba mengajak dan menyentuh kesadaran
manusia.
Peran-peran manusia yang peduli terhadap
realitas sosialnya ini yang dikatan sebagai
orang yang tercerahkan (tersadarkan) oleh
realitanya sendiri. Disisi lain konsep
pendidikan yang humanis seharusnya menekankan
ranah pendidikan yang kritis, inovatif, kreatif,
pluralis, demokratis dan manusiawi.
Integralisasi beberapa hal diatas akan mampu
melahirkan peserta didik yang memiliki
integritas dan tanggung jawab moral untuk
memberikan pencerahan terhadap umat.
Propinsi Nangroe Aceh Darussalam beberapa saat
lagi sudah memasuki umur yang ke 799 Tahun.
Hingga umur Aceh yang setua ini, Aceh tidak
beringsut sedikitpun dalam kaca mata pembangunan
manusia Aceh yang berilmu ilmiah dan beramal
ilmiah. Kalau kita andaikan Aceh adalah salah
satu kota tertua di Indonesia bila dibanding
dengan kota-kota lain kalau diband'mgkan dengan
kota-kota yang lain. Namun hampir 100 generasi,
ternyata kita belum melihat sebuah perubahan
yang sangat berarti. Apakah akan kita tambah
derita Aceh dengan kebodohan dan terbelakangan.
Wajah pendidikan Aceh yang selama ini sudah
buram dan hampir tak terlihat apakah kita ingin
membutakannya lagi? Pertanyaan ini perlu
dipertanyakan dan refleksikan kembali agar
komitmen pemerintah Aceh dan masyarakat menjadi
jelas, kokoh. Bagaimana Jepang atau Malaysia
yang komitmen memperjuangkan pendidikan sebagai
panglima.
Belajar dari kasus Jepang, pada tahun 1945 yang
luluh lantak akibat perang dunia ke-2. Potret
Jepang secara Sumber daya alam (SDA), Jepang
tidak memiliki apapun yang perlu di banggakan
dari SDA tapi, komitmen untuk membangun manusia
Jepang menjadi prioritas utama daripada
pembangunan ekonomi. Sekarang terbukti dengan
pengakuan masyarakat Eropa dan Amerika di Tahun
tujuh puluhan bahwa Jepang sejajar dengan mereka.
Dalam kurun waktu 25 Tahun Jepang menjadi negara
maju dan diperhitungkan di Asia bahkan di dunia.
Memang untuk bisa seperti Jepang tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Tapi minimal menjadi
cermin agar memiliki kemauan dan usaha untuk
membangun masyarakat NAD yang lebih berperadaban
dan berpengetahuan. Sebab masyarakat kita yang
cendrung malas harus terus digugah dan diberi
motivasi untuk dapat berlari kencang. Maka
pemerintah harus menjadi lebih dominan karena
pemermtah berfungsi sebagai public service (melayanimasyarakat).
Dibutuhkan kesadaran dari kekhilafannya selama
ini. Saatnya menjadikan prioritas bagi
kepentingan masyarakat daripada kepentingan
pribadi. Maka titik awal memulai dari
pembangunan pendidikan.
Penulis, Peneliti Sosial dan Agama Pusat Studi
Islam Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. |