|
www.mediaindo.co.id
29 Desember, 2003
BANDA ACEH (Media): Selama konflik berlangsung
di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD),
sudah sekitar 1.100 sekolah --dari SD hingga SMU--
dibakar, dan 52 guru tewas. Selama masa
penerapan status darurat militer juga tercatat
129 rumah yang terdiri 89 rumah dinas guru, 33
rumah dinas kepala sekolah, dan 6 rumah dinas
penjaga sekolah, hangus terbakar.
Data itu terungkap dari hasil penelusuran yang
dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam. Data itu juga
menyebutkan, guru meninggal dunia akibat tindak
kekerasan semasa dan pasca daerah operasi
militer (DOM) -- tidak termasuk masa penerapan
darurat militer-- sebanyak 52 guru. Selain itu
31 guru mengalami cacat berat, dan 22 guru
menderita cacat ringan.
Tercatat pula 124 unit rumah guru terbakar,
serta ratusan guru melakukan eksodus
meninggalkan Aceh. Guru-guru yang pergi
meninggalkan Aceh itu terutama guru yang bukan
merupakan penduduk asli.
Plh Kepala Dinas Pendidikan NAD Anas M Adam
menambahkan, selama penerapan status darurat
militer hingga saat ini, sudah sekitar 19 guru
di Aceh telah menjadi korban keganasan konflik,
11 diantaranya meninggal dunia.
"Jadi, selama darurat militer ini sekitar 19
guru-guru kita yang bertugas di daerah telah
menjadi korban kekerasan. Guru-guru yang menjadi
korban itu terutama guru-guru yang bertugas di
daerah pedesaan," paparnya.
Menurutnya, ke-19 guru yang jadi korban
kekerasan itu, 11 diantaranya telah meninggal
dunia, 3 diculik oleh kelompok bersenjata tak
dikenal, dan yang mengalami luka-luka sebanyak 5
orang. Dikatakan, data guru yang menjadi korban
tersebut hanya dicatat oleh Dinas Pendidikan NAD
selama masa darurat militer.
"Kita lihat data sebelumnya, guru-guru yang
meninggal dunia itu sampai 50 orang lebih. Jadi,
ini hanya selama darurat militer saja sekitar 11
orang yang tewas," jelas Anas.
Perlu Asuransi
Ketika ditanya mengenai asuransi untuk para guru
yang menjadi korban kekerasan tersebut, pihak
Dinas Pendidikan NAD, sebelumnya memang pernah
merencanakan untuk menyalurkan. Pada tahun lalu
bahkan sudah ada yang diberikan.
"Tapi, ternyata kalau kita ingin berikan kepada
semua guru-guru terlalu banyak dana yang
dibutuhkan, mencapai Rp3 milyar. Namun, pada
akhirnya kami hanya menyisihkan Rp500 juta untuk
mengasuransikan guru," jelas Anas.
Anas menjelaskan, kalau pihak Dinas Pendidikan
NAD mengasuransikan guru-guru tersebut dengan
premi Rp50.000/orang, para guru itu akan
mendapatkan uang sebanyak Rp8 juta. Tetapi
karena biaya yang terlalu tinggi, maka digunakan
mekanisme lain.
Anas kemudian menjelaskan mekanisme itu, guru
yang saat ini telah menjadi korban kekerasan
hingga meninggal dunia, maka langsung akan
diberikan bantuan Rp15 juta. "Jadi tidak kita
asuransikan lagi. Tapi, kita akan memberikan
santunan langsung kepada keluarga yang telah
ditinggalkan oleh guru-guru itu," kata Anas.
Ditegaskannya, sebagian dari dana asuransi
terhadap guru itu sudah diberikan. Tapi,
sebagian lainnya belum karena masih belum
terdata, disebabkan beberapa daerah yang belum
mengirimkan datanya. Menurut rencana, sisanya
akan diberikan dalam waktu dekat.
"Jadi, kami akan salurkan dalam tahun ini, juga
dari data-data guru yang kami ambil selama
darurat militer saja," ujarnya.
Ketika ditanyakan berapa dana asuransi yang akan
diberikan terhadap guru-guru yang meninggal
dunia, Anas menyebutkan, sebesar Rp15 juta.
Untuk guru korban kekerasan yang mengalami cacat,
akan diberikan santunan sesuai dengan
kecacatannya.
"Nanti mungkin guru itu mengalami cacat berupa
luka-luka sedikit, itu beda. Mungkin dia hanya
butuh biaya pengobatan saja. Tapi, kalau cacat
seumur hidup, itu biasanya kita berikan sama
dengan orang yang meninggal karena telah
menyebabkan dia tidak bisa lagi mencari nafkah
atau tidak bisa lagi berfungsi sebagai guru,"
jelas Anas. (HP/B-3) . |