|
Dikirim untuk
dipublikasikan oleh NGO Lokal Aceh
November, 2003
Dengan kondisi seperti ini, wajar saja bila
anak-anak seperti Admi tak berharap bisa
melanjutkan sekolah jika biaya yang harus
disediakan sangat tak terjangkau.
Menurut Admi, di kampungnya sekarang, yaitu di
Kecamatan Titeu Keumala, Kabupaten Pidie, tidak
ada lagi laki-laki dewasa. Saat ini hanya ada
perempuan dan anak-anak. Bahkan anak-anak yang
sudah remaja atau menginjak SMP, sudah tidak ada
lagi di kampung mereka.
Ketika ditanya apakah tidak khawatir
meninggalkan ibu dan adik-adik perempuannya yang
masih kecil di kampung, Admi hanya tersenyum
getir. “Terpaksa lah Kak, kalau ditinggal rumah
juga sayang. Takut dibakar dan dijarah. Lagipula
kalau ikut semua ke Banda gak mungkin, sebab gak
ada uang untuk biaya hidup dan tempat tinggal,”
paparnya.
“Bagaimana biaya makan ibu dan adik-adik
dikampung?”
“Mamak ada ke sawah. Sesekali ayah datang
ngantar uang buat mamak dan adik-adik. Ya makan
apa yang ada di kampung,” tuturnya seperti tak
mampu menjelaskannya.
“Adik di kampung, berapa orang yang sekolah?”
“Gak ada yang sekolah lagi. Habis, sekolahnya
sudah dibakar. Kalau pun ada sekolah, kami gak
ada uang,” suaranya pelan.
“Siapa yang bakar sekolah-sekolah di kampung?”
“Kita gak bisa asal bilang saja, nanti diambil
pula kita. Yang penting kita taulah,” jawabnya
diplomatis.
Saat ini lebih dari 600 unit bangunan sekolah
telah dibakar sejak diberlakukannya darurat
militer di Aceh. Dan setiap diminta kesaksiannya
oleh para wartawan, warga masyarakat setempat
selalu memberikan keterangan yang bernada
diplomatis. Tapi substansi jawabannya beraneka
ragam. Ada yang sesuai dengan berita-berita di
koran dan televisi, bahwa pelakunya adalah
kelompok bersenjata dengan pakaian ala ninja,
ada juga keterangan-keterangan lain yang masih
menimbulkan teka-teki dan menyisakan misteri
atau tanda tanya.
Seperti keterangan seorang siswa lain dari
Kabupaten Pidie yang ditemui di Banda Aceh.
”Mulanya ada aparat masuk kampung. Dan ada pos
di sana. Sebulan mungkin. Suatu hari ada orang
naik kereta (sepeda motor) berdua, lewat kampung
beberapa kali. Kira-kira satu minggu setelah itu,
ada kantor yang dibakar. Tapi gak tau kantor apa
itu.”
”Siapa yang naik kereta itu?”
“Kita taulah, kalau naik kereta (pelat nomor) BL
merah itu siapa,” lanjutnya.
“Terus…”
“Ya, terus pagi-pagi Senin waktu itu, saya pergi
ke sekolah. Saya lihat sekolah saya sudah
dibakar. Cuma tinggal puing dan abu,” tandasnya.
Sejak itu, siswa ini tidak sekolah lagi dan
mengungsi ke Banda Aceh seperti halnya Admi. Ia
cuma sempat duduk di bangku kelas tiga SMP dan
hampir menamatkan apa yang disebut sebagai
program wajib belajar 9 tahun. |