FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      KONFLIK ACEH
 
 

 Aceh-Eye Konflik Aceh Darurat Militer Benturan Oprasi Militer Pendidikan..
   KELEMAHAN SISTIM PENDIDIKAN
Aceh, Dulu Menyumbang Kini Disumbang

Suara Pembaruan
10 Oktober, 2003

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), provinsi di ujung Sumatera yang dulu dikenal memiliki keistimewaan di bidang pendidikan, adat-istiadat dan agama, kini terpuruk akibat didera konflik berkepanjangan.

Dampaknya, situasi Aceh tak lagi nyaman, kalau tak mau disebut semakin terpuruk di segala sektor. Sejumlah infrastruktur rusak dan kehancuran terparah menimpa dunia pendidikan. Banyak bangunan sekolah luluh-lantak dibakar, akibatnya ratusan ribu siswa terganggu proses belajarnya.

Gubernur Aceh Abdullah Puteh ketika berpidato dihadapan para Gubernur se-Indonesia beberapa waktu lalu di Gedung DPRD menyebutkan, sejak Aceh dilanda konflik tahun 1999 hingga kini tercatat lebih dari seribu gedung sekolah berbagai jenjang hangus dilalap api. Sejak diberlakukan darurat militer, sedikitnya 607 gedung sekolah musnah. Selain gedung sekolah juga ikut dibakar sebanyak 22 unit laboratorium dan 33 buah pustaka.

Mengatasi problem itu dan menghindari terganggunya proses belajar siswa, pihak pengelola pendidikan NAD telah memberlakukan pembagian waktu belajar dengan menempatkan siswa sekolahnya terbakar kesekolah yang tidak terbakar serta memindahkan tempat belajar ke mushaladan pesantren yang tersebar di Aceh.

Terhadap 607 gedung sekolah yang dibakar itu, sebanyak 549 gedung telah dibangun dengan cara darurat. Karena untuk membangun secara permanen, selain perlu dana miliaran rupiah juga dibutuhkan waktu panjang dan situasi harus benar-benar aman.

Keprihatinan dunia pendidikan di Aceh membuat sejumlah rakyat berpaling ke Aceh. Mulai dari pimpinan daerah seperti Gubernur se-Indonesia hingga organisasi sosial kemasyarakatan pun seperti yang dilakukan Palang Merah Indonesia Daerah Khusus Ibukota (PMI-DKI) Jakarta yang membungkus kegiatan HUT PMI dalam bentuk kegiatan bakti sosial terpadu yang dipusatkan di Aceh Besar. Tujuan kegiatan ini, semata-mata ingin berbagi rasa kepedihan serta meringankan beban penderitaan rakyat Aceh yang kini terus menderita akibat didera konflik.

Ketua PMI DKI Jakarta, Uga Wiranto, ketika melakukan tinjauan terhadap sekolah terbakar di Aceh Besar, Kamis (2/10) siang mengatakan, "Semua rakyat Indonesia peduli dan ingin meringankan beban rakyat Aceh dan kami dari PMI DKI telah memprogramkan kegiatan bakti terpadu guna memberikan sesuatu yang kami nilai bermanfaat."

PMI DKI menggelar kegiatan bakti sosial terpadu, dalam kegiatan itu juga menyumbangkan berbagai peralatan sekolah untuk sekolah dasar di Aceh Besar berupa paket yang terdiri dari pakaian seragam, buku dan peralatan. Selain itu juga diadakan bantuan pengobatan gratis bagi seribu masyarakat di Aceh Besar serta khitanan massal dengan dua dokter spesialis yang langsung didatangkan dari Jakarta. Sebelumnya Ketua Umum PMI Pusat Mar'ie Muhammad juga telah menyalurkan bantuan berupa sembilan buah tenda darurat untuk sekolah yang dibakar pada enam Kabupaten di Aceh. Di samping itu juga memberikan bantuan paket sekolah yang disumbangkan SCTVpeduli amal.

Pudar

Ketua PMI Aceh Drs Sanusi Maha mengatakan, "Kepedulian dari para pengurus PMI DKI untuk Aceh semata-mata dalam rangka keprihatinan mereka, di samping itu juga sebagai wujut kebersamaan dalam rangka mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, yang kini sedikit pudar di Aceh, namun sejak dilaksanakan darurat militer di Aceh kondisi kembali membaik."

Sementara itu, H Sabri Saiman MBA, Ketua PMI Cabang Jakarta Utara yang juga salah satu tokoh masyarakat Aceh di Jakarta yang kala itu ikut dalam rombongan PMI DKI kepada Pembaruan mengatakan,"Adanya perhatian dalam membantu sesama dari teman-teman pengurus PMI DKI untuk Aceh terutama dalam dunia pendidikan, tak lain dimaksudkan untuk membangun kebersamaan dan kembali mempererat rasa kebangsaan."

Kegiatan seperti ini, lanjut Sabri, juga dilaksanakan sebagai rangkaian program dalam rangka memperingati HUT PMI ke-58 dan kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Aceh, akan tetapi juga dilakukan di daerah lain.

Selain itu, Sabri pun berucap, "Masyarakat Jakarta unik. Jadi tumpuan dari orang-orang kaya saat ini ada di DKI, kami akan mencoba menghimbau kepada orang berada di sana dan juga masyarakat Aceh khususnya untuk membantu daerah agar keluar dari keterpurukan."

Selain itu, Sabri juga mengingatkan, Aceh sebagai daerah yang tak terpisahkan dari NKRI sebelumnya sering kita dengar isu yang angker, seram, mengerikan, namun ketika saya disini ternyata aman sejuk, wajah para warga yang hadir dalam kegiatan ini semuanya ceria, ini menunjukkan apa yang digembar-gembor Aceh sebagai daerah yang angker, kini berbalik jadi aman dan saya datang ke sini tidak merasa waswas.

"Saya selaku putra Aceh mengatakan jika rakyat disini telah percaya dengan seseorang, maka kepala pun akan diberikan, jadi jangan ada pihak yang merasa takut datang dan membantu Aceh tambahnya, jadi tidak benar jika orang mengatakan Aceh tidak aman," kata Sabri mencoba memberikan gambaran keseharian masyarakat Aceh.

Banyaknya bantuan yang mengalir ke Aceh karena disumbangkan orang saat ini, menurut Gubernur Aceh itu suatu yang ironis. Sebab, dulu Aceh dikenal sebagai punyumbang dalam membangun republik ini, namun kini terpaksa menjadi penerima bantuan. "Tetapi itulah yang harus terjadi, karena sekitar 360 ribu penduduk Aceh hidup sebagai penganggur, dan 40 persen penduduk dari total 4,2 juta hidup dalam kemiskinan," katanya.

Sebelumnya sejumlah Gubernur di Indonesia saat berkumpul di Aceh yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta Sitiyoso juga membatu pendidikan Aceh, saat ini sebesar 15 miliar lebih dana disumbangkan bagi perbaikan pendidikan di NAD.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org