|
Jakarta, dephan.go.id
Jum'at, 5 September, 2003
Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa
pemerintah belum memiliki rencana untuk menurunkan
besarnya kekuatan TNI dan Polri di Aceh. Hal itu
dikemukakan usai sidang kabinet yang membahas kebijakan
ekonomi pasca-IMF di Gedung Utama Sekneg, Kamis. Menurut
Susilo, yang terpenting dilakukan pemerintah saat ini
adalah memelihara momentum pelaksanaan operasi pemulihan
keamanan di provinsi tersebut. Ditambahkannya,
pelaksanaan operasi akan dilakukan secara intensif untuk
mencapai hasil yang sebesar-besarnya.
"Setelah itu kita lihat nanti. Yang jelas dari
peninjauan kami di lapangan, juga usulan dari daerah,
belum ada rencana pemerintah untuk menurunkan besarnya
kekuatan di Aceh," tutur Susilo. Menko Polkam juga
mengingatkan, pemerintah tidak pernah menetapkan target
bahwa enam bulan operasi militer harus selesai,
melainkan menetapkan bahwa keadaan darurat berlaku
selama enam bulan dan dapat diperpanjang. "Tolong
dipahami betul isi keppres (tentang keadaan darurat
militer di Aceh) itu." Mengenai kemungkinan penambahan
dana operasi bagi TNI dan Polri di Aceh, Susilo
mengatakan, jika hal tersebut memang betul-betul
dibutuhkan dan mendesak maka pemerintah tentu saja akan
sangat mempertimbangkan. "Yang jelas Panglima TNI belum
mengusulkan itu," tandasnya lagi. Sejak diterapkannya
keadaan darurat militer di Aceh 18 Mei 2003, atau hingga
hari ke-109 darurat militer, pasukan TNI dan Polri telah
berhasil menewaskan 817 anggota GAM, menangkap 598
anggota GAM, dan 476 anggota GAM menyerahkan diri.
Pasukan TNI dan Polri juga berhasil menyita 345 pucuk
senjata berbagai jenis, baik rakitan maupun senapan
standar, seperti M-16, RPD, dan AK-47.(Sospol/Kel.V)
Sumber: Lin.go.id
Kutipan dari: http://www.dephan.go.id |