|
Serambi Indonesia
Rabu, 21 Juli, 2010
SIGLI: Anggaran yang disediakan Pemkab Pidie untuk
program pemberdayaan perempuan dirasakan masih minim.
Malah dalam usulan 100 persen, cuma 10 persen yang
disetujui panitia anggaran APBK 2010. Akibatnya,
pelaksanaan program tidak bisa dilakukan secara
maksimal, sehingga kondisi kaum perempuan di daerah
itu belum mendapat perhatian serius.
Demikian antara lain terungkap dalam workshop stragic
planning kaukus perempuan di Op Room Setdakab Pidie,
Selasa (20/7). Kegiatan yang diikuti sekitar 25
peserta dari berbagai elemen juga difasilitasi salah
satu NGO perempuan asal Banda Aceh. “Kedudukan
perempuan di salah satu pengambil keputusan dalam
pemerintah sangat minim,” ujar Syarifah Rahmatillah,
seorang pemateri.
Ketua Badan Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan
Perempuan (BKSPP) Kabupaten Pidie, Ir Afneati
mengatakan, program pemberdayaan perempuan merupakan
program yang diluncurkan Kabupaten Pidie. Anggaran
untuk program itu diberikan untuk membantu pembiayaan
di setiap kabupaten dan kota dalam melakukan
pemberdayaan masyarakat, termasuk kaum perempuan
sangat minim.
“Dari 100 persen angka yang diusulkan, namun yang
disetujui DPRK hanya 10 persen. Cuma nol koma sekian
persen dari yang diinginkan. Padahal, pemberdayaan
perempuan cukup dibutuhkan saat ini, apalagi di Pidie
cukup banyak perempuan miskin yang terpaksa menjadi
tulang-punggung keluarganya,” katanya.
Diakuinya, berbagai masalah dihadapi kaum perempuan.
Selain masalah sosial dan ekonomi, masalah lainnya
adalah menyangkut kesehatan. Masalah-masalah tersebut
muncul dan belum bisa tertangani secara maksimal,
karena kebijakan publik yang dihasilkan belum berpihak
pada kaum perempuan.(aya) |