|
SSerambi Indonesia
Sabtu, 9 Agustus, 2008
JAKARTA: Sulfur yang terdapat di kawasan PT Arun
Lhokseumawe dan Aceh Utara ternyata memiliki nilai
ekonomi tinggi. Di pasaran internasional sulfur dijual
seharga 500-700 dolar AS per metrik ton namun sulfur
yang dipasarkan oleh ExxonMobil Oil itu sama sekali
tidak pernah dilaporkan kepada Pemerintah dan
masyarakat Aceh.
Informasi itu terungkap dalam Rapat Pembahasan Tindak
Lanjut Pemanfaatan Sulfur di Kota Lhokseumawe dan Aceh
Utara berlangsung di Kantor Penghubung Provinsi Aceh
di Jakarta, Jumat (8/8). Rapat dihadiri Wakil Bupati
Aceh Utara Syarifuddin SE, utusan khusus Gubernur Aceh
Mahdi Rusli, anggota DPR Aceh Asrul Abbas SE, pimpinan
DPRK Aceh Utara Ridwan Yunus, Edi Kunsundianto dan
Sail Marsul dari PT Arun, Rifan B Wurjantoro dari BP
Migas, wakil masyarakat Muzakir Paloh dan sejumlah
pejabat Aceh Utara. Pihak ExxonMobil yang ikut
diundang ternyata tidak hadir.
Mengutip hasil rapat, utusan khusus Gubernur Aceh,
Mahdi Rusli menjelaskan, pada 2000-2003, oleh
ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI), sulfur tersebut
dipasarkan ke perusahaan di luar negeri dan ke PT
Petro Kimia Gresik Jawa Timur untuk tahun 2004-2010.
Sulfur diproses menjadi butiran dan ditumpuk dalam
satu kawasan dekat PT Arun, merupakan produk sampingan
dari pengolahan gas menjadi LNG (lequid natural gas).
Tiap bulan Arun menghasilkan 9.000 hingga 14.000 ton
sulfur.
Edi Kunsundianto dari PT Arun mengakui pemasaran
sulfur dilakukan sendiri oleh Exxon. Tapi ia tidak
tahu berapa harga dan kepada siapa sulfur itu dijual.
“Pemerintah Aceh sama sekali tidak pernah mendapat
laporan apapun mengenai hal ini. Padahal sesusai UUPA
segala sesuatu menyangkut hasil alam Aceh harus
dikoordinasikan dengan Pemerintah Aceh,” ujar Mahdi
yang tampak kesal karena Exxon tak hadir dalam
pertemuan tersebut. Padahal Exxon sangat diharapkan
menjelasakan mengenai kontrak penjualan sulfur.
Menurut perhitungan Mahdi, hasil penjualan sulfur
diperkirakan mencapai miliaran rupiah per bulan.
Sepantasnya masyarakat dan Pemerintah Aceh memperoleh
sharing untuk pembangunan lingkungan dan kesejahteraan
masyarakat Aceh, khususnya yang berdomisili di sekitar
lingkungan PT Arun.
Menurut Mahdi, Gubernur Irwandi Yusuf yang dikenal
sangat menaruh perhatian terhadap nasib rakyat,
mengharapkan ada solusi bagi pengelolaan sulfur itu,
sehingga masyarakat ikut menikmati hasilnya.
Wakil Bupati Aceh Utara, Syarifuddin menginginkan
adanya kejelasan dan transparansi dalam pengelolaan
produk sampingan sulfur itu. “Rasanya sangat aneh
apabila kami yang memiliki tempat tidak dilapori
tentang penjualan sulfur itu. Padahal bisa menjadi
salah satu sumber pendapatan daerah,” kata Syarifuddin.
Anggota DPRA, Asrul Abbas mendesak pihak Exxon untuk
menjelaskan kontrak kerja dan berapa hasil yang sudah
diperoleh dari penjualan sulfur. “Rakyat Aceh harus
mendapat penjelasan soal ini,” ujar Asrul, politisi
dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Pimpinan DPRK Aceh Utara, Ridwan Yunus menginginkan
adanya kejelasan bagi hasil dari penjualan sulfur
tersebut sebagai kontribusi terhadap pendapatan asli
daerah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Muzzakir Paloh, selaku pemegang kuasa dari masyarakat
lingkungan sekitar PT Arun menegaskan, apabila
ExxonMobil tidak transparan terhadap tuntutan
masyarakat dan Pemerintah Aceh, sebaiknya hengkang
saja dari bumi Serambi Mekkah.
Rapat lanjutan
Menurut Mahdi Rusli, Gubernur Aceh akan menggelar
rapat lanjutan untuk membicarakan lebih detil dan
rinci mengenai pengelolaan sulfur milik ExxonMobil.
Rapat dijadwalakn di Banda Aceh sekitar minggu keempat
Agustus 2008. Pihak Exxon diminta hadir bersama-sama
dengan BP Migas, PT Arun, dan pihak terkait
lainnya.(fik) |