|
Serambi Indonesia
Minggu, 17 Desember, 2009
* Pelaku Kerahkan Sejumlah Alat Berat
REDELONG: Meski Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf telah
berupaya melakukan pemberantasan penebangan liar di
seluruh kawasan hutan di Aceh, namun aksi pembalakan
liar itu masih terus terjadi. Di Kabupaten Bener
Meriah, ratusan hektare hutan di kawasan Pancar
Jelobok, Kecamatan Pintu Rime Gayo, dirambah, hingga
menyebabkan hutan gundul.
Pembalakan liar yang disinyalir dilakukan para
pengusaha dari kabupaten tetangga itu, telah merusak
ratusan hektare hutan perawan Bener Meriah. Tak
tanggung-tanggung, pelaku perusak hutan itu,
mengerahkan sejumlah alat berat, sehingga dalam waktu
beberapa bulan saja, ratusan hektare hutan di kawasan
itu dibabat habis.
Di lokasi itu juga, terlihat banyak tumpukan kayu yang
telah diolah oleh pelaku perambah hutan. Saat Serambi
melihat hutan Pancar Jelobok, Kamis (14/1) siang
menyaksikan kawasan hutan yang kondisinya sangat
memperihatinkan itu, masih terdengar suara mesin
chainsaw yang sedang beroperasi melakukan pengolahan
dan penebangan kayu yang bersatatus sebagai kawasan
hutan.
Keberangkatan sejumlah wartawan bersama Kepala Kampung
Pancar Jelobok, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Sumardi,
serta para tokoh masyarakat ke lokasi penebangan liar
itu untuk melihat aksi perambahan hutan daerah
perbatasan itu. Aparat Kampung Pancar Jelobok tidak
dapat berbuat banyak, mreka hanya melihat kondisi
kawasan hutan yang telah rata dengan tanah. Bila hal
ini terus dibiarkan, maka dipastikan semua hutan
daerah itu akan ludes.
Selain melakukan penebangan liar, pelaku peramabah itu
juga mencaplok ratusan hektare areal perkebunan
masyarakat Pancar Jelobok, Kecamatan Pintu Rime Gayo.
Lahan tersebut ditinggalkan masyarakat setempat,
karena konflik yang melanda daerah itu. Namun, setelah
kondisi keamanan di Aceh kondusif, lahan yang mereka
garap itu berpindah tangan ke pengusaha besar yang
diyakini milik para pejabat.
Bahkan, banyak pemilik yang menggarap lahan perkebunan
di daerah itu, terpaksa mencari kehidupan di Kota
Takengon, Aceh Tengah, karena lahan perkebunan telah
diambil pengusaha lain. Terlebih para pengusaha yang
kebal hukum dengan sesuka hatinya mencaplok harta
rakyat miskin yang sebelumnya telah ditanami berbagai
komoditas pertanian.
Keluhan masyarakat Pancar Jelobok, terkait dengan
banyaknya kawasan hutan di daerah itu yang telah
dicaplok dan dirambah pengusaha dari Kabupaten Bireuen,
seharusnya menjadi bahan pertimbangan kalangan
pemerintah, baik Pemkab maupun Pemerintah Aceh. Begitu
juga permintaan masyarakat kalangan bawah itu, sudah
sepantasnya dicari solusinya. “Ratusan hektare hutan
kawasan Bener Meriah telah habis ditebangi dan lahan
perkebunan masyarakat juga ikut dicaplok,” kata Kepala
Kampung, Pancar Jelobok, Sumardi kepada Serambi, Kamis
(14/1).
Hutan produksi
Bupati Bener Meriah, Ir Tagore Abubakar mengatakan,
hutan yang telah ditebangi itu merupakan kawasan hutan
produksi dan masuk wilayah Bener Meriah. Sedangkan,
terkait dengan penebangan liar itu, ia mengaku telah
beberapa kali melakukan operasi penertiban, namun
perambahan hutan masih terus terjadi.
Di sisi lain, Ir Tagore mengatakan, untuk menjaga
perdamaian di Aceh, maka sangat dibutuhkan keadilan
dan tidak berbau diskriminasi. Bila hal itu masih ada,
maka perdamaian belum abadi di ‘Serambi Mekkah’ ini.
“Untuk menjadi perdamaian agar tetap langgeng, maka
jangan ada tindakan diskriminasi,” harap Tagore.(c31/min). |