FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      PEMERINTAH INDONESIA
 
 

 Aceh-Eye Pemerintah Indonesia Pernyataan Pejabat Pemerintah..
    PERNYATAAN PEJABAT PEMERINTAH

Aceh, Setelah Setahun Kegelapan Berlalu

Senin, 14 Agustus 2006

Hamid Awaludin

Tanggal 15 Agustus, setahun lalu. Untuk kali awal, rakyat Aceh, anggota Gerakan Aceh Merdeka yang bertahun-tahun bergerilya, prajurit Tentara Nasional Indonesia yang tidak henti berpatroli, Pemerintah Indonesia dan dunia muncul dalam kegembiraan yang sama.

Hari itu, rakyat Aceh menuai harapan yang senantiasa mereka lafazkan dalam doa di masjid dan surau-surau.

Anggota GAM turun gunung, berjalan di permukiman sebagai orang biasa, anggota TNI berharap pulang ke barak dan istirahat dari siaga perang.

Hari itu, 15 Agustus 2005, di Helsinki, Finlandia, delegasi Indonesia dan pemimpin GAM duduk semeja, Aceh damai. Bagi banyak warga Aceh, kejadian itu masih seperti mimpi.

Sejarah Aceh adalah sejarah perang dari palagan ke palagan, di setiap pergantian masa. Sejarah Aceh juga riwayat panjang kekecewaan. Kecewa terhadap Belanda dan kecewa terhadap Pemerintah Indonesia.

Perang di sana telah berlangsung lebih dari 130 tahun. Perang ibarat mainan, hanya berganti lawan, dari Belanda, Jepang, hingga Pemerintah Indonesia.

Periode perang terakhir adalah rentang waktu 29 tahun sejak GAM dideklarasikan 4 Desember 1976. Sejak itu, Aceh kembali berkubang darah.

Yang berubah

Apa yang berubah setelah setahun damai? Selama 29 tahun konflik, ada 15.000 korban jiwa. Dalam hitungan statistik, setiap hari, 4,6 orang meregang nyawa di Aceh karena perang. Kala itu, rakyat Aceh tak pernah punya waktu untuk menata masa depan di luar ikhtiar menyelamatkan nyawa sendiri. Sejak 15 Agustus 2005 hingga kini, mati dengan kekerasan telah menjadi milik masa silam Aceh. Jika angka statistik itu dipakai, kita telah menyelamatkan seribu jiwa lebih sejak perdamaian dicapai.

Ukuran lain, saat konflik berlangsung, toko dan warung buka sekadarnya sampai pukul 16.00. Mobilitas benar-benar terbatas dan mencekam. Sejak berdamai, toko, warung, dan kedai kopi bisa buka hingga tengah malam. Artinya, kita telah menciptakan delapan jam kerja baru. Jumlah jam kerja baru ini memutar roda ekonomi dan kegiatan lain yang produktif bagi Aceh.

Sebelum damai, jalur kendaraan Banda Aceh-Medan adalah perjalanan menembus belantara tak bertuan. Setiap saat menjadi perjalanan maut bila salah menjawab pertanyaan penghadang. Kini, jalur itu adalah jalur kepastian dan damai. Selama 24 jam, tiap orang bisa lewat tanpa merasa waswas.

Anak-anak Aceh yang berusaha merajut masa depan lewat pendidikan juga tak memiliki kepastian saat ribuan sekolah terbakar. Selama itu, Aceh benar-benar dalam gulita ketika tempat-tempat lain di muka bumi terang benderang oleh olah peradaban manusia. Selama damai, tak ada lagi sekolah dan madrasah jadi arang. Anak-anak Aceh pun kembali menyiapkan masa depan yang lebih elok dan terang lewat jalur pendidikan.

Interaksi sosial pascadamai kini kian dinamis. Beberapa hari setelah Lebaran tahun silam, saya berkunjung ke sebuah kedai kopi di Banda Aceh. Seorang ibu mendekati saya dengan isak tangis. Ia terharu kita damai dengan GAM. Sang Ibu telah bersua dengan adik kandungnya yang tak dilihatnya selama 29 tahun, yang tinggal di desa, kawasan yang dipatok GAM sebagai teritorial kekuasaannya. Kakak adik ini ada dalam kegelapan tentang keberadaan masing-masing. Kini, semua mimpi buruk itu telah berlalu. Aceh adalah pusaran interaksi sosial yang amat dinamis.

Pascapenandatanganan perdamaian, statistik anak-anak Aceh yang ditinggal pergi ayahnya sudah terkubur. Pria Aceh tak perlu dipaksa memanggul senjata, mempertaruhkan nyawanya. Bersamaan dengan itu, wanita Aceh juga tak perlu menjadi janda karena kepergian suami yang tak terelakkan. Singkatnya, kini Aceh telah berubah wajah, tak lagi sangar dan berbau mesiu.

Perdamaian

Di setiap periode pemerintahan, selalu ada ikhtiar menegakkan perdamaian di Aceh. Berbagai siasat, taktik, dan pendekatan dilakukan. Semua hadir dengan harapan. Tiap ikhtiar dilakukan, jutaan rakyat Aceh di banyak tempat akan bersujud di masjid-masjid. Meski kemudian, harapan itu satu per satu sirna seiring sepatu perang berderap dan senjata kian keras menyalak.

Di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK), pemerintah tak ingin memperpanjang konflik, lalu diretas jalan damai. Seperti diungkapkan Malik Mahmud dalam perundingan, GAM ingin serius memasuki perundingan dan mencapai damai, karena GAM meyakini komitmen SBY-JK, kedamaian demi keadilan dan kepentingan bersama.

Dan kita tahu, GAM telah berubah sikap. Mereka bersedia berdamai dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada 15 Agustus 2005, sejarah itu ditulis dalam tinta dan bingkai emas perjalanan Republik ini. Sejak itu, Serambi Mekkah tak lagi berkubang darah.

KTP Merah Putih yang pernah menjadi demarkasi antarpenduduk telah menjadi KTP Nanggroe Aceh Darussalam. Tak ada lagi garis pemisah, kami dan mereka. Yang ada hanya kita, bangsa Indonesia. Damai telah menemukan bentuk nyata di Aceh.

Hari-hari ini, kita semua, hanya punya satu harapan: semoga tonggak damai yang telah dipancangkan di setiap nurani orang Indonesia tetap tegak terawat. Cukuplah 29 tahun masa gulita yang menyelimuti Aceh. Biarkan Aceh terang benderang oleh sinar damai. Anak-anak yang lahir dari rahim peperangan biarkan tumbuh normal tanpa kekerasan. Perahu layar yang kita tumpangi bersama kian melaju cepat.

HAMID AWALUDIN Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia; Ketua Tim Perunding Indonesia.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org