FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      PEMERINTAH INDONESIA
 
 

 Aceh-Eye Pemerintah Indonesia Pernyataan Pejabat Pemerintah..
    PERNYATAAN PEJABAT PEMERINTAH
PENGARAHAN
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DI DALAM PESAWAT DARI AMMAN MENUJU JAKARTA
KAMIS, 4 MEI 2006

Amman, Kamis, 4 Mei 2006

Pengarahan tentang Energi di Dalam Pesawat Amman-Jakarta

Assalamu alaikum Wr. Wb.
Selamat siang, saudara-saudara sekalian,

Untuk memanfaatkan waktu penerbangan kita yang memakan waktu kurang lebih sepuluh jam ini, saya akan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan bidang energi. Pertama menyangkut kerja sama energi. Indonesia dengan Timur Tengah, khususnya dengan lima negara yang baru saja kita kunjungi. Yang kedua langkah-langkah restrukturisasi dan pengembangan bisnis Pertamina. Sedangkan yang ketiga menyangkut perkembangan situasi minyak di dunia dan aksi global yang kita perlukan bersama.

Saya mulai dari yang pertama, sebagaimana yang telah saya sampaikan secara parsial sebelumnya, bahwa kerja sama yang kita tingkatkan di bidang energi antara Indonesia dan Timur Tengah, pada prinsipnya memiliki tiga bentuk. Bentuk pertama adalah perdagangan, kita mengimpor crude dari Saudi Arabia, kita mengimpor crude dan BBM dari Kuwait, kita mengimpor gas dari Qatar. Jadi yang pertama adalah menyangkut perdagangan.

Yang kedua adalah investasi, bisa berbentuk dan pilihan kita ke depan ini adalah investasi gabungan, joint investment, baik itu yang dilaksanakan di Indonesia maupun investasi gabungan yang dilaksanakan di luar Indonesia, khususnya di Timur Tengah.

Sedangkan bentuk kerja sama yang ketiga adalah pengiriman tenaga kerja ahli perminyakan, ahli pergasan ke Timur Tengah, sebagaimana peluang yang tersedia di Timur Tengah untuk tenaga-tenaga kerja ahli perminyakan dari negeri kita.

Dari tiga bentuk kerja sama itu, maka kesepakatan dan rencana yang kita susun, setelah kita melakukan pembahasan yang intensif, pada tingkat saya, pada tingkat Menteri maupun tingkat pimpinan Pertamina dan pihak Kadin, maka saya sampaikan kesepakatan dan rencana itu sebagai berikut: yang pertama, kerja sama antara Saudi Arabia itu berupa Pertamina dan Aramco akan membangun kerja sama untuk membangun kilang minyak di Indonesia. Daerah yang kita rencanakan adalah Jawa Timur, crude-nya dari Saudi Arabia, diolah di Indonesia, dipasarkan di Indonesia dan kemungkinan juga negara-negara lain di wilayah Asia.

Yang kedua kita berharap ada keberlanjutan, impor crude dari Saudi Arabia ini untuk menjamin yang disebut security of supply untuk negeri kita. Dalam konteks ini untuk membikin lebih fleksibel kerangka pembayaran kita, kita telah bersepakat dan kita telah melakukan pembicaraan serius dengan Islamic Development Bank akan ada trade financing, yang akan dibantu oleh IDB. Dengan demikian kerangka atau term pembayarannya menjadi lebih baik, lebih fleksibel dan tentu menguntungkan negara kita.

Yang kedua kerja sama Indonesia dengan Kuwait, kita juga sepakat. Pertamina dengan Kuwait Petroleum Company akan membangun kilang, dan kita rencanakan di kawasan Timur Indonesia, dengan kerangka yang sama, pembangunan kilang bersama Saudi Arabia–Indonesia tadi. Indonesia dengan Qatar, kita sepakat bahwa, kita akan mengimpor gas dari Qatar, yang tujuannya khusus untuk menyelamatkan dan menjamin keberlanjutan pupuk Iskandar Muda yang ada di Aceh. Saudara ketahui, bahwa produksi Arun menurun, mengancam pasokan gas ke Pabrik Pupuk Iskandar Muda. Untuk 2006 dan 2007, tahun ini dan tahun depan, kebijakan kita adalah mengalihkan, membawakan yang dari Kalimantan Timur menuju ke Aceh agar pabrik itu tetap beroperasi. Nah 2008-2009 harapan kita, kita membawa gas itu dari Qatar. Dengan demikian, PIM hidup, Aceh berkembang ekonominya, tetapi Kaltim juga tidak terlalu banyak disedot untuk dialihkan ke Aceh. Sedangkan 2010 harapan kita, Blok A yang ada di Aceh sudah dapat kita eksplorasi, kita produksikan. Dengan demikian, bisa memasok untuk kepentingan pabrik pupuk yang ada di Aceh itu. Ini kita bicarakan secara serius dengan pihak Qatar. Mudah-mudahan kalau semua dapat terwujud sesuai dengan rencana kita, aman sudah keberlanjutan PIM yang ada di Aceh. Ini membantu pemulihan ekonomi Aceh pasca tsunami dan pasca selesainya proses damai yang telah kita lakukan untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung begitu lama.

Yang keempat Indonesia dengan Persatuan Emirat Arab. Disepakati bahwa akan ada investasi di Indonesia oleh pihak Emirat Arab untuk meningkatkan kapasitas, meningkatkan produksi kilang-kilang yang sudah ada. Ingat, kita punya kilang: ada di Cilacap, ada di Cirebon, ada di Kalimantan Timur dan lain-lain, tentu perlu kita pastikan tetap bekerja, berfungsi dan beroperasi. Harapan kita makin efisien, ditambah kapasitasnya. Dengan demikian, mampu memenuhi kebutuhan BBM yang juga kian meningkat di tahun-tahun mendatang.

Sedangkan yang kelima, yang terakhir, kerja sama Indonesa dengan Yordania, disepakati untuk kemungkinan mengembangkan satu lapangan gas di Yordania dengan format joint investment antara Pertamina dengan company local. Kalau ini feasible dan bisa kita wujudkan, kita bahkan berpikir lagi untuk kiranya bisa membangun pabrik pupuk, joint investment. Mengapa? Pupuk menjadi kebutuhan yang akan besar nanti, volumenya di Indonesia. Dan kita punya keterbatasan di dalam memproduksi pupuk itu di dalam negeri. Kalau ini berhasil, berarti ada salah satu solusi. Di Yordania ada fosfat, ada gas. Nah kalau itu bisa kita bangun, tentunya menjadi tambahan untuk security of fertilizer bagi negara kita di waktu yang akan datang.

Itulah rencana dan kesepakatan kita, Indonesia dan lima negara itu dalam bidang energi. Tindak lanjut, karena kelak akan kedepan dari semuanya itu adalah dalam waktu dekat, dalam waktu tiga bulan ini akan dilakukan pembahasan secara intensif oleh joint commision ataupun tim gabungan Indonesia dengan negara-negara tersebut dan untuk segera dilaporkan kepada para Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dari negara-negara yang bersangkutan. Berarti termasuk laporan kepada saya untuk tindak lanjut berikutnya lagi.

Yang kedua setelah dipastikan didapat informasi yang pasti, pasar tenaga kerja, peluang tenaga kerja di negara-negara itu khususnya di bidang perminyakan dan gas, kita akan persiapkan di tanah air kita, tenaga terampil itu untuk bisa bekerja di negara-negara sahabat tersebut. Dengan demikian menciptakan lapangan kerja meskipun di luar negeri tetapi tetap menguntungkan ekonomi nasional kita.

Pemerintah memberikan ruang yang besar, peluang yang besar kepada Pertamina untuk menjadi bagian penting, partner utama dalam kerja sama ekonomi, kerja sama perminyakan Indonesia dengan negara-negara Timur tengah tersebut. Harapan kita peluang ini tidak disia-siakan oleh Pertamina. Sambut, tindak lanjuti, kembangkan bisnis kita.

Pemerintah juga memberikan ruang kepada perusahaan minyak swasta, perusahaan perminyakan non-Pertamina di Indonesia, untuk juga menjadi bagian dalam kerja sama ini. Kemudian kalau semuanya feasible, dari semua ragam kerjasama itu dan cocok, maka total investasi khusus pembangunan kilang atau penguatan kapasitas kilang antara Indonesia dengan negara-negara itu diperkirakan mencapai US$7 sampai US$8 miliar. Peluangnya baik, jangan kita sia-siakan, mari kita tindak lanjuti dan kita wujudkan secara nyata.

Itulah agenda pertama kita, yang ingin saya sampaikan hasil, kesepakatan dan rencana kerja sama di bidang energi antara Indonesia dengan lima negara yang baru saja kita kunjungi.

Saudara sekalian,

Yang kedua saya ingin menyampaikan restrukturisasi dan pengembangan bisnis Pertamina. Tadi pagi saya telah melakukan pengecekan langsung kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan kepada Direktur Utama Pertamina, tentang langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan, termasuk sejauh mana Instruksi Presiden yang saya berikan beberapa bulan yang lalu melalui Menneg BUMN telah dilaksanakan.

Dalam konteks ini, saya sampaikan bahwa saya telah memberikan instruksi kepada Pertamina melalui Menneg BUMN beberapa saat yang lalu, agar Pertamina terus melanjutkan restrukturisasi dan reformasinya. Kita berharap Pertamina melanjutkan restrukturisasi dan reformasinya menyangkut tiga aspek: aspek pertama kita ingin nilai atau values, mind set dan kultur Pertamina berubah, yang kedua kita ingin Pertamina benar-benar melakukan usahanya secara efisien produktif dan akhirnya berdaya saing, dan yang ketiga saya ingin korupsi dapat dicegah dan ditiadakan. Sangat jelas apa yang saya sampaikan waktu itu. Yang kedua saya minta Pertamina melakukan pengembangan bisnisnya, pertama di Indonesia ada sekitar 72 sumur ladang minyak yang harus segera diolah oleh Pertamina secara bertahap. Dengan hormat silakan, apakah sepenuhnya Pertamina, atau gabungan dengan maskapai minyak swasta di negeri sendiri, atau bahkan kalau perlu investasi bersama dengan negara sahabat.

Yang kedua mengembangkan bisnis di luar negeri, seperti yang saya terima laporan sudah ada rencana pengembangan bisnis di Libya, kita sudah pernah menjajaki dulu di Irak, di Kuba dan Western Desert. Saya memulai dulu sewaktu saya menjadi Menteri Pertambangan dan Energi, saya dengar masih dapat dilanjutkan setelah keadaan Irak aman nanti. Termasuk yang baru saja dibicarakan untuk kemungkinan meluaskan sayap berusaha di Yordania, dengan format yang saya sebutkan tadi. Dan pengembangan bisnis ini berlaku di hulu dan juga di hilir, up-stream down-stream. Kalau di Indonesia sudah ada Petronas, di downstream ada Shell, karena begitu Undang-Undang kita. Maka saya minta Pertamina justru sebagai tuan rumah harus lebih kompetitif. Jangan sebaliknya, malu kalau justru perusahaan-perusahaan itu yang lebih baik memberikan pelayanan-pelayanan kepada masyarakat, yang lebih efisien, yang lebih murah BBM yang dijualnya.

Dan yang penting, Pertamina, saya senang tadi karena telah mendapatkan penjelasan upaya gigih Pertamina ke depan ini benar-benar, tolong dirubah Pak Direktur Utama Pertamina, Pak Ari Soemarno, cara berpikir dan kultur Pertamina. Dari, barangkali operator, distributor, mengolah di hulu mendistribusikan di hilir, pom-pom bensin, ada depo, ada pipa, menjadi investor, marketer dan seller. Begitu yang saya harapkan, dengan demikian bisnis berkembang. Jangan hanya bergerak seolah-olah ini pekerjaan teknik perminyakan semata, tapi justru sebagai state owned company. Pertamina harus menjadi company yang berkelas dunia dan betul-betul memiliki cara berpikir dan budaya berbisnis, ya investor, ya pemasarannya maju, kemudian juga penjualannya yang terus berkembang. Yang kedua hentikan kolusi, jangan layani pesanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan Undang-Undang, tidak sesuai dengan praktek-praktek bisnis yang benar, hentikan praktek kolusi, ini era baru.

Dan juga hentikan bisnis yang berbiaya tinggi bahkan merugi, kalau ada margin kecil untuk apa, tolong di-streamlining-kan, dikonsolidasikan, bisnis Pertamina entah trading, entah jasa, entah apapun. Itu marginnya harus pantas, jangan karena ada kerja sama di waktu yang lalu barangkali ada sedikit-sedikit kolusinya, kita menerima margin yang tidak ada artinya, besar tapi lumpuh. Jangan, mari kita ubah semuanya itu. Dan akhir Mei Insya Allah nanti saya dengan Menteri terkait akan berkunjung ke Pertamina. Laporkan semuanya apa yang telah saya instruksikan. Dan laporkan kepada saya apa yang dilaksanakan Pertamina sekarang ini, ke depan, baik dalam reformasi dan restrukturisasi, temasuk dalam pengembangan bisnis tadi.

Saudara sekalian,

Yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya saya ingin menyampaikan situasi atau perkembangan perminyakan di dunia sekarang ini. Dan nantinya saya ingin menyampaikan pandangan kita, pandangan Indonesia, bagaimana sebuah aksi global harus dilakukan, karena kalau tidak saya cemas krisis harga minyak di dunia sekarang ini akan memukul banyak ekonomi di dunia termasuk ekonomi di tanah air kita. Saudara ketahui, bahwa dengan harga minyak US$73 sampai US$74 per barel sekarang ini, banyak ekonomi terpukul, ekonomi negara-negara di dunia, kecuali barangkali produsen minyak, pengekspor minyak.

Tapi yang tidak, sudah mengalami kesulitan, saudara bayangkan dalam APBN kita, asumsi harga minyak adalah $57 per barel. Dengan 75 ada selisih $18 per barel. Akan mengganggu, berpengaruh terhadap APBN, alhamdullilah kurs kita baik, membaik. Sekarang ini, di CNBC saya lihat hari ini Rp.8.775 tadi, masih bisa dilakukan offset, tingginya harga minyak dengan keberuntungan karena nilai kurs seperti itu. Tetapi kalau harganya terus naik tetap memberikan persoalan, pada subsidi dan pada sendi-sendi APBN kita.

Yang kedua kalau harganya naik terus sampai $100 per barell dan ini yang kita cemaskan, kemarin saya dengan Raja Abdullah membahas secara mendalam seperti ini, karena Yordania memiliki persoalan yang sama. Tahun lalu bahkan Yordania menaikkan harga bahan bakar tiga kali, yang sangat tidak populer. Kita, Pemerintah yang saya pimpin, juga menaikkan harga bahan bakar dua kali dengan sangat berat, kalau harga sampai $100 sulit sekali ekonomi-ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan akan ada ekonomi negara tertentu yang collapse.

Oleh karena itu perlu ada upaya global, untuk mencegah krisis minyak dunia ini tidak terus memburuk dan lebih memukul ekonomi di banyak negara. Ingat, tanggung jawab masyarakat global, kita semua adalah membikin dunia kita aman dan damai. Dan itulah yang melatarbelakangi didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa for international peace and security. Tapi lebih dari itu, sekarang yang kita dambakan dunia yang juga adil, yang juga makmur, tapi makmur bersama bukan makmur sendiri-sendiri.

Terus terang kalau harga minyak menyentuh angka $100 dollar per barel, tidak akan tercipta keadilan dan barangkali tidak tercipta kemakmuran bersama. Itu dari segi tanggung jawab, moralitas masyarakat dunia. Oleh karena itu, pantas kalau ada aksi global bersama, dan saya menyeru kepada para pemimpin dunia, para kolega saya untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh, bagaimana kita melakukan langkah-langkah bersama. Harga minyak bisa saja mencapai $100 per barel, jika sebab-sebab yang menuju kesitu tidak bisa kita cegah dan kita atasi.

Saudara-saudara,

Kenaikan harga sebuah komoditas, semisal harga minyak yang kita cemaskan mencapai $100 per barel itu, di tentukan oleh dua faktor. Pertama adalah faktor ekonomi, yang kedua faktor non-ekonomi. Faktor ekonomi gamblang sekali, karena berubahnya keseimbangan antara penawaran dan permintaan, supply dan demand. Kalau terjadi off balance, ketidakseimbangan, apalagi permintaan meningkat sangat tajam, penawarannya tetap, maka harga akan membumbung. Kita ketahui, permintaan dunia besar apalagi dewasa ini China dan India adalah konsumen minyak yang besar di samping tentunya adalah negara-negara seperti Amerika dan negara-negara lain, Indonesia pun termasuk besar mengkonsumsi. Maka tentunya kalau tidak ada sesuatu yang kita lakukan terjadi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Kalau demand lebih besar daripada supply harga pasti naik.

Yang non-ekonomi ada ketegangan di banyak negara, ada ketegangan politik dan keamanan. Seperti di Iran kita cemas, kalau terjadi krisis keamanan di Iran, tiba-tiba produksi stop dari negara itu. Maka total produksi global akan mengalami penyusutan. Nah kalau jumlahnya sampai 2 juta barel lebih per hari bisa mengubah jumlah penawaran yang kita miliki. Keadaan di Nigeria, gangguan-gangguan keamanan mengurangi jumlah produksi. Ini sebetulnya faktor lain dari politik, sosial dan keamanan, yang akhirnya masuk pula ke dalam faktor ekonomi.

Atas semuanya itu Indonesia berpendapat sekali lagi, perlulah dilakukan satu aksi global, aksi bersama dan solusi yang bisa ditempuh. Di antara solusi-solusi yang bisa kita tahu bersama adalah, pertama menjaga agar keseimbangan antara penawaran dan permintaan dalam keadaan baik, equilibrium-nya baik, supply dengan demand. Demand bisa diturunkan apabila negara-negara konsumen tinggi itu bisa melakukan efisiensi besar-besaran. Kita dengar policy Presiden Amerika Serikat untuk juga melakukan efisiensi, negara kita juga sesungguhnya melakukan hal itu.

Kalau efisiensi dilaksanakan secara serentak di banyak negara, maka harapan kita, permintaan atau demand dari minyak itu bisa berkurang. Dari satu sisi, supply-nya, penawarannya, harus bisa kita lakukan penambahan yang tepat. Dan ingat, bukan hanya OPEC yang bertanggung jawab untuk tidak mengurangi supply, mempertahankan supply yang pantas. OPEC hanya menyumbang 40% dari total production di dunia, yang 60% ada pada negara non-OPEC. Dengan demikian perlulah dipertimbangkan, supply yang tepat dikaitkan dengan demand yang ada. Jadi yang harus kita lakukan adalah solusi pertama seperti itu.

Yang kedua, ya kita berusaha mencegah berhentinya produksi, seperti di Iran, yang sekarang dalam keadaan tegang, secara politik karena faktor atau isu nuklir di Iran. Oleh karena itu kita mencegah, harus mencegah agar solusi yang kita pikirkan secara global untuk Iran tidak mengait kepada makin memburuknya harga minyak mentah di dunia, yang akibatnya sekali lagi memukul ekonomi di seluruh dunia.

Kemudian yang ketiga, pilar yang ketiga dari solusi ini, saya berpendapat bahwa kerja sama global untuk mengembangkan energi non-fosil harus kita intensifkan, kita tingkatkan secara sungguh-sungguh. Di samping menggunakan energi dari sumber-sumber yang terbarukan, kita juga harus mulai masuk ke dalam pengembangan bio-energi. Dan itu salah satu solusi bukan hanya jangka pendek, tetapi juga jangka menengah dan jangka panjang.

Tiga macam solusi inilah yang kita berpendapat layak untuk dilakukan secara bersama. Indonesia pada posisi, baik sebagai produsen maupun sebagai konsumen. Oleh karena itu tentunya pikiran-pikiran ini sudah mewadahi kedua sisi, baik sisi negara-negara produsen maupun sisi negara-negara konsumen. Dan mudah-mudahan tidak terlambat kita semua, masyarakat dunia, untuk bersama-sama mengatasi permasalahan ini agar ekonomi dunia kita tidak terguncang oleh karenanya.

Dan yang terakhir khusus Indonesia, saudara-saudara saya menggarisbawahi kembali kebijakan energi yang telah Pemerintah gariskan, yang telah saya sampaikan pada bulan Agustus setahun yang lalu kiranya dilanjutkan. Dan gerakan penghematan nasional yang saya canangkan beberapa saat yang lalu, yaitu hemat air, hemat listrik, hemat telepon, hemat BBM, marilah kita laksanakan dengan sungguh-sungguh sehingga Indonesia ikut menyumbang ke dalam gerakan efisiensi global dan kita ikut menyumbang berkurangnya demand minyak yang diperlukan oleh negara kita.

Saya kira itulah saudara-saudara yang dapat saya sampaikan. Barangkali ada satu, dua, tiga pertanyaan, yang berkaitan dengan energi ini, saya persilahkan.

Pertanyaan:

Pak, saya Imelda dari SCTV, Pak. Pak Presiden, di Jakarta beberapa waktu yang lalu juga sempat disebutkan, ada wacana tentang rencana pembatasan kendaraan untuk 2000 cc ke atas. Itu memang baru wacana. Apakah ada juga solusi-solusi lain yang ditawarkan oleh Pemerintah terkait dengan krisis energi yang sekarang sedang dihadapi oleh Indonesia termasuk dunia ini. Itulah yang mungkin ingin kita ketahui Pak. Terima kasih.

Presiden RI:

Baik, kebijakan energi itu harus terpadu, kebijakan energi harus pula mengait kepada kebijakan transportasi, kebijakan industri, kebijakan kelistrikan dan kebijakan-kebijakan lain. Negara-negara lain telah melakukan satu kebijakan dan peraturan agar pengguna kendaraan itu lebih hemat. Kalau ada pihak yang memiliki banyak kendaraan, itupun harus dipastikan agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi bahan bakar minyak itu, dengan sejumlah regulasi: ada yang pajak, ada yang harganya dikhususkan dan lain-lain.

Saya kira setiap pemikiran, yang tujuannya menuju ke efisiensi, penggunaan bahan bakar minyak yang berkaitan dengan transportasi tentu menjadi bagian dari kebijakan energi secara menyeluruh, termasuk lebih efisiennya penggunaan energi atau bahan bakar untuk motor, kendaraan roda dua, mobil kendaraan roda empat.

Setiap kali saya meninjau pabrik motor, kemarin Honda, Yamaha, dan lain-lain saya tanyakan berapa rasionya satu liter dengan jarak tempuh kilo meter? Alhamdullilah makin bagus, karena satu liter ada yang sampai seratus kilo meter lebih. Harus menuju kesitu. Demikian juga transportasi yang lain, seperti darat, laut dan udara.

Kita undang putera-putera terbaik bangsa, peneliti kita, industri kita, perguruan tinggi kita, untuk bisa menciptakan transportasi dengan penggunaan dengan bahan bakar dengan sangat-sangat hemat. Industri demikian juga, industri perlistrikan, kita ingin tidak konsumsi BBM terlalu banyak. Kita alirkan, kita alihkan ke batubara, dengan catatan lingkungan kita tata sekaligus, kita atur distribusinya dimana pembangkit listrik itu didirikan, batubaranya yang mendekat atau PLT-nya yang mendekat. Ini akan kita rumuskan se-efisien mungkin.

Jadi berkaitan pula dengan bagaimana sumber listrik dipilih, ditentukan oleh kita semua. Demikian juga dengan bidang-bidang yang lain, industri yang lain. Pendek kata, efisiensi sangat perlu dengan tetap meningkatkan produktivitas yang diperlukan. Jadi jawabanya ya, jawabannya benar, bahwa kebijakan energi harus dikaitkan dengan kebijakan yang lain, seperti transportasi dengan tujuan yang sama terjadi penghematan yang optimal di negeri kita.

Pertanyaan:

Terima kasih. Saya Wisnu dari Kompas, Pak. Salah satu yang dibahas DPR adalah usaha Pemerintah atau ada upaya Pemerintah untuk melakukan diversifikasi energi untuk PLN, sehingga untuk pembangkit listriknya juga bisa lebih berhemat dalam penggunaan BBM. Terima kasih, Pak.

Presiden RI:

Betul bahwa kita ingin membikin industri kelistrikan kita lebih efisien. Dengan demikian, kita tidak harus terus menerus menaikkan tarif dasar listrik. Kita ingin harga jualnya pantas, serendah mungkin, kompetitif dibandingkan dengan negara-negara lain. Sehingga industri pengguna listrik itu akan bisa memproduksi barang dan jasa yang lebih murah. Sehingga rakyat, konsumen akan diuntungkan dari policy itu. Sekarang listrik kita terus terang menggunakan sumber BBM yang besar, policy kita akan kita alihkan ke batubara dan gas. Mengapa? Dari segi gas, cadangan kita masih lebih besar dibandingkan minyak. Kita kurang lebih masih punya 60 tahun lagi cadangan gas kalau tidak ditemukan deposit yang baru. Kebijakan gas nasional kita nanti, sebagian akan kita lebih gunakan di dalam negeri, sebagian kecil, sejumlah porsi akan tetap kita alirkan keluar, karena ternyata lebih ekonomis, dibandingkan dibawa ke dalam negeri. Tetapi policy yang baru ini gas akan kita gunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan dalam negeri. Dengan demikian gas itu juga bisa mengganti BBM. Nah harapan kita justru batubara, ini yang jelas harganya jauh lebih murah kita masih punya deposit masih 150 tahun lagi. Dengan demikian kalau kita bisa mensubstitusi penggunaan BBM, maka akan lebih murah lagi harga jual kita.

Bagaimana tahapannya, lain-lainnya, investasinya, komposisinya, tentu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menneg BUMN dengan tentunya Direktur Utama PLN atau Pertamina, bisa memberikan angka-angkanya kepada saudara. Saya kira carikan forum yang tepat untuk menjelaskan itu, tetapi ingat ini semua masih dalam proses pembuatan atau menuju kesitu. Sehingga belum bisa dijelaskan secara definitif, angka-angka pasti pada tingkat sekarang ini.

Dan perlu saudara ketahui, kita bertekad, Pemerintah untuk tidak lagi menaikkan komoditi-komoditi yang itu menjadi input bagi kegiatan yang produktif, TDL misalnya. BBM pun, meskipun keadaan seperti ini, kita menyadari bahwa daya beli masyarakat masih belum tinggi, kalau inflasi besar lagi, maka sulit bagi rakyat kita untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Oleh karena itu, dengan tekad kita, harapan kita, untuk tidak menaikkan BBM, itu gerakan penghematan, gerakan efisiensi, peningkatan produksi yang ada, pembangunan kilang minyak itu memang menjadi prioritas dan agenda kita. Karena, sekali lagi, kita ingin ada kehidupan atau tentunya sektor energi minyak dan gas yang baik, tanpa harus membikin masyarakat kita membeli harga yang mahal, akibat kita terus menerus menaikkan harga BBM. Jadi kita ingin, tidak terus menaikkan BBM dan TDL, dan kita ganti dengan policy yang lain yang telah saya sampaikan tadi dan kiranya saya minta dukungan semua pihak, minta pelibatan semua pihak, agar semua itu dapat kita capai dengan baik.

Demikianlah penjelasan saya kepada saudara-saudara dan mari kita masuki era baru di negeri kita ini dengan kebijakan baru di bidang energi untuk keberlanjutan pembangunan kita.

Terima kasih.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan,

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org