|
Bismillahirrahmaanirrohiim
Saudara Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Saudara-saudara Menteri,
Yang Mulia tamu-tamu dari Negara sahabat, para Duta
Besar
Saudara Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Aceh-Nias
Saudara Plt. Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam,
Saudara-saudaraku di seluruh Indonesia,
Pertama-tama, marilah kita mengucapkan terima kasih
kepada anakanak Aceh yang telah menyanyikan lagu yang
indah tadi. Mereka telah menghangatkan suasana hati
kita.
Saudara-saudara,
Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono, dan saya berbicara
di sini atas nama rakyat dan bangsa Indonesia
menyampaikan selamat datang kepada saudara-saudara
semua di Banda Aceh, Indonesia. Saya hadir di sini,
bersama-sama Saudara-saudara untuk mengenang dan
memberikan penghormatan kepada para korban, kepada
keluarga yang ditinggalkan dan juga untuk menyampaikan
penghargaan.
Acara hari ini merupakan acara yang sangat khusus, di
mana kita semua, seluruh warga dunia, dengan beragam
suku, agama, dan kebudayaan dipersatukan oleh tragedi
dan rasa kemanusiaaan. Di bawah langit biru terbuka
dan dikelilingi oleh keindahan Pantai Ulee Lheue yang
tenang, kita mengikat kebersamaan sebagai umat Tuhan.
Persis setahun yang lalu, di bawah langit biru terbuka
seperti ini pula, si empunya bumi menunjukkan
kedigdayaannya dan menimbulkan kerusakan yang luar
biasa.
Dimulai dengan gempa bumi berskala massif yang terjadi
sekitar 250 km di laut lepas di sekitar Sumatera.
Tetapi, ternyata gempa bumi dahsyat itu hanyalah
sebuah pembukaan dari sebuah bencana yang mengerikan.
Karena 15 menit kemudian, muncul tiga gelombang
tsunami raksasa yang mematikan, dengan ketinggian 9
meter dan bergerak dengan kecepatan tinggi 250 km per
jam, menghempas pantai-pantai di Lautan Hindia dan
meluluhlantakkan apa saja hingga berkeping-keping.
Indonesia menderita akibat terburuk, di sini di Aceh
dan Nias dengan korban jiwa lebih dari 160.000 wafat
dan hilang.
Di Sri Lanka, 31.000 orang wafat, dan 4.000 lainnya
hilang. Pantai selatan India kehilangan 8.000 jiwa,
dan kepulauan Andaman dan Nicobar menelan korban lebih
dari 2.000 jiwa. Kematian di Thailand mencapai 5.300
orang, banyak di antara mereka turis yang sedang
berlibur. 2.800 jiwa lainnya hilang. Di samping itu
masih banyak lagi bangsa-bangsa yang harus kehilangan
kerabat yang dicintainya: Malaysia, Maladewa, Somalia,
Tanzania, Bangladesh, Myanmar dan Seychelles.
Dalam hitungan menit, lebih dari 280.000 manusia
kehilangan nyawa.
Dan lebih dari satu juga orang di sekitar Lautan
Hindia serta merta menjadi tunawisma.
Hari ini, setahun kemudian, kita bersama-sama hadir di
tempat ini untuk mengingat mereka yang menderita,
menghormati mereka, sekali lagi, untuk mereka
orang-orang baik, perempuan, laki-laki, anak-anak kita,
orang dewasa, yang hilang ditelan gelombang
tsunami.
Kita tundukkan kepala, memanjatkan doa khusuk, agar
arwah mereka yang kita cintai, baik yang ditemukan
maupun yang tidak kita temukan, yang dimakamkan di
bumi, maupun terkubur di laut, kesemuanya memperoleh
tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tetapi hari ini, besok, lusa dan hari-hari mendatang,
bukanlah lagi akan menjadi hari-hari yang penuh
penderitaan, karena kita juga berhimpun di sini untuk
menghormati mereka yang hidup, lolos dari bencana maut.
Anak-anak kita ini, saudara-saudara kita, para
orangtua kita, adik-kakak, - mereka semuanya ingin
membangun kembali kehidupannya.
Saudara-saudara semua akan menyaksikan para korban
Tsunami yang lolos dari maut, di mana-mana di seluruh
Aceh, Nias, Pukhet, Phang Na, Jaffna, di Negara Kerala,
Tamil, Nadu, Andhra Pradesh; di Kepulauan Andaman dan
Nicobar, dan dimanapun di wilayah-wilayah yang
terhempas Tsunami.
Mereka menyambut Saudara-saudara dengan senyum,
semangat, dan harapan. Tetapi senyum mereka yang indah
menandakan kekuatan besar yang langsung diungkapkan.
Dan kita berhutang kepada mereka semua.
Di Aceh, kita punya seorang sahabat bernama Martunis,
seorang anak berusia tujuh tahun yang terapung di laut
lepas selama 21 hari, hanya berpegang pada sebuah
ranting pohon. Sebotol air yang kebetulan hanyut di
depan matanya-lah yang membuat dia bertahan hidup; dan
tentu saja karena tekadnya yang kuat untuk terus
bertahan hidup.
Ada pula Malawati, yang kehilangan suami dan hanyut ke
laut selama lima hari. Malawati tak bisa berenang,
karena itu dia hanya mampu berpegang pada batang pohon
yang hanyut ke sana ke mari.
Keajaiban alam menyelamatkannya , karena cintanya pada
bayi yang dikandungnya. Dengan rahmat Allah SWT, si
bayi bertahan hidup dan terlahir selamat.
Dan tentu saja, kita memiliki kekuatan yang luar biasa
dari anak-anak yang baru saja tampil menyanyikan lagu
cinta bagi kita semua.
Semua dari mereka telah menjadi yatim piatu akibat
tsunami, dan mereka dengan semangat terus berusaha
mencoba menjadi anakanak seperti lazimnya.
Kita hormati kekuatan dan keberanian mereka, para
korban yang bertahan hidup. Mereka semua mengingatkan
kita betapa indahnya kehidupan, dan betapa bermaknanya
perjuangan untuk mempertahankan hidup. Sekali lagi,
kita harus hormati perjuangan itu; sisa umur Anda
semua haruslah menjadi hari-hari yang penuh harapan.
Kita semua akan memerlukan begitu banyak harapan,
sebagaimana yang diberikan oleh Tsunami kepada
masyarakat kita. Di sini, di Aceh dan Nias;
jalan-jalan, jembatan, bangunan musnah dan hilang;
pemerintah daerah tidak mampu berfungsi dengan baik.
Ketika peristiwa itu terjadi, tak ada listrik,
sambungan telepon terputus, tidak ada mobil, dan bahan
bakar. Persoalan logistik ketika itu sepertinya
bertumpuk-tumpuk menjadi satu tanpa ada pemecahan yang
pasti — suatu ketika, hanya tinggal satu helikopter
yang tersedia di Aceh.
Kita semua menderita kelumpuhan total. Sekedar untuk
membersihkan puing-puing saja, kita memerlukan waktu
berbulanbulan.
Toh, kita harus terus bergerak maju hari demi hari.
Dalam ukuran yang sangat luar biasa, kita menyaksikan
kerusakan di mana-mana.
Tetapi, melalui hari-hari yang sudah lewat,
Saudara-saudara telah menyaksikan berbagai kemajuan.
Melewati jalan-jalan yang sedang mulai dibangun
kembali, termasuk jalan raya Banda Aceh-Meulaboh,
Saudara-saudara akan menyaksikan desa-desa yang mulai
berbenah. Saudara akan melihat pasar-pasar mulai
bangkit. Anak-anak mulai kembali ceria dan bersekolah,
banyak guru-guru baru sudah dilatih dan mengajar
kembali, berkilo-kilometer jalan sedang giat dibangun,
dan berkilo-kilo meter saluran dan pipa air sedang
dikerjakan.
Pelabuhan dan perahu nelayan sedang dibangun di
mana-mana, seperti juga klinik-klinik dan rumah sakit.
Para petani sudah mulai kembali bercocok tanam,
puluhan ribu pekerja sedang dilatih untuk memperoleh
keterampilan baru agar mereka segera kembali bekerja.
Dan, dengan segala ketakutan tentang wabah penyakit
yang diakibatkan oleh tsunami, kita bersyukur dapat
melaluinya dengan selamat. Tentu saja, bukan karena
keberuntungan semata, melainkan karena tekad yang kuat
dan kerja keras.
Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin menekankan bahwa pembentukan Badan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi akan membuat proses
membangun kembali Aceh dan Nias dapat dilaksanakan
dengan penuh harga diri, transparan, dan mampu
membangun komitmen dan keterlibatan masyarakat yang
kuat. Karena itu saya ingin mengajak Sauda-saudara
semua untuk memberi selamat dan semangat kepada Dr.
Kuntoro Mangkusubroto dan seluruh jajarannya di BRR
untuk semua dedikasi dan kerja kerasnya dalam
membangun kembali Aceh dan Nias.
Usaha kita untuk membangun kembali Aceh dan Nias masih
jauh dari selesai. Kita bersama-sama harus membangun
rumah bagi ratusan ribu pengungsi. Kita terus bergerak
secepat mungkin. Dalam bulanbulan mendatang, kita akan
membangun sekurang-kurangnya 5.000 rumah setiap bulan.
Tentu saja, masih sangat banyak yang harus kita
kerjakan. Kita harus mendorong agar ekonomi bergerak
cepat, agar kita dapat menciptakan sebanyak mungkin
lapangan kerja. Kita harus berupaya keras agar para
pengusaha kita kembali bergerak. Kita perlu dan harus
memenuhi kebutuhan mereka; tidak saja yang tinggal di
kota-kota, tetapi juga saudara-saudara kita yang
tinggal di
pelosok-pelosok desa.
Menghadapi semua tantangan tadi, catat kata-kata saya:
kita memiliki enerji, komitmen, dan kemauan keras
untuk menjawab tantangan dan tanggung jawab itu. Kita
songsong tahun 2006 dengan penuh keyakinan untuk
menyelesaikan banyak persoalan.
Kita akan bangun kembali Aceh dan Nias, bahkan kita
harus bangun Aceh dan Nias, lebih baik dari sebelumnya.
Saudara-saudaraku,
Saya percaya bahwa salah satu dari dampak yang paling
signifikan dari musibah tsunami adalah munculnya
kebersamaan dari warga dunia. Tidak pernah terjadi
sebelumnya suatu bencana alam menghadirkan semangat
berkorban, solidaritas, dan rasa cinta yang demikian
besar dari sesama warga dunia.
Di Indonesia, segenap bangsa menangis, dan setiap
orang, kaya dan miskin, bahu membahu mengirimkan
makanan dan bantuan bagi saudara-saudara mereka di
Aceh dan Nias. Ribuan relawan berbondong-bondong
datang ke lokasi bencana untuk membantu korban.
Hal yang sangat luar biasa, bantuan dari seluruh dunia
datang dengan berbagai cara dan dalam berbagai bentuk.
Empat puluh empat negara mengirimkan prajurit Angkatan
Bersenjatanya untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
Patut dicatat bahwa, inilah sebuah operasi militer non
perang terbesar yang pernah terjadi sesudah Perang
Dunia II.
NGO dan donor mencatat rekor bantuan dana, yang
seluruhnya mencapai lebih dari 7 milyar dollar telah
dijanjikan untuk membangun kembali Aceh dan Nias.
Warga Negara dari Dilli hingga Ankara, London hingga
Mexico, Los Angeles hingga Melbourne, Beijing hingga
Teheran, dan banyak lagi; kesemuanya tergerak untuk
bertindak karena kepedulian, merespon sebuah peristiwa
besar yang memerlukan perhatian segera.
Kepedulian dan kasih mereka melintasi batas-batas
agama, suku, ras, dan kebudayaan; kesemuanya bersatu
atas nama solidaritas global. Pagi hari ini di
tengah-tengah kita hadir wakil-wakil dari seluruh
penjuru dunia, dalam beragam agama, suku bangsa, dan
budaya; sebagai symbol dari solidaritas global itu.
Melalui Saudara-saudara semua, ijinkan kami,
menyampaikan penghargaan dan terima kasih kami atas
dukungan Saudara-saudara semua dari seluruh dunia.
Kami memahami dan tahu persis, dukungan
Saudara-saudara sungguh tulus dan datang dari sanubari,
dan karenanya kami sungguh-sungguh berterima kasih.
Permintaan saya kepada Anda semua adalah tetap menjaga
semangat mewujudkan kemauan baik ini. Jangan sampai
semangat ini redup. Jalinan persahabatan, membangun
rasa percaya diri dan semangat bekerjasama, saling
memahami – semua yang anda tunjukkan selama masa
tanggap darurat adalah aset yang tak ternilai besarnya
yang harus kita pupuk. Semangat solidaritas yang telah
Anda semua tunjukkan adalah bukti sejarah kemanusiaan
yang dapat dilakukan oleh kita semua dalam semangat
membantu sesama manusia.
Tsunami telah menghasilkan bibit-bibit persaudaraan
global yang tidak pernah diduga sebelumnya: saat ini,
persaudaraan ini telah membantu korban tsunami, namun
saya persaya kita dapat melanjutkan mengembangkan
semangat persaudaraan global dan kemauan baik yang
jarang terjadi ini untuk menjawab permasalahan global
dan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Saya
yakin Anda akan setuju betapa mulianya hal itu.
Sebagai penutup, di sini di Aceh, kita sudah
mendapatkan contoh bagaimana harapan baru perdamaian
dapat timbul dari reruntuhan. Pada tanggal 15 Agustus
tahun ini, pemerintah Indonesia menandatangani
perjanjian perdamaian yang bersejarah dengan para
pemimpin Gerakan Aceh Merdeka.
Perjanjian damai tersebut mengakhiri 3 dekade konflik
berdarah di Aceh. Perjanjian ini memberikan kesempatan
emas bagi warga Aceh untuk memulai kehidupan baru yang
bermartabat dan rekonsiliasi di bawah otonomi khusus,
dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Mulai saat
ini dan selanjutnya masa depan Aceh bukan lagi masa
depan penuh darah dan air mata melainkan masa depan
yang penuh kerja keras dan harapan.
Saudara-saudara sekalian,
Sebagaimana Saudara sekalian ketahui, tidak jauh dari
sini, kita merencanakan membangun monumen peringatan
tsunami yang dibangun di sekitar kapal yang terdampar
di Punge, sekitar 4 km dari sini.
Namun jika Saudara melihat lebih dalam lagi, ada
banyak monumen tsunami di sekitar Saudara. Saya
menyebutnya “monumen yang hidup” dan monumen-monumen
hidup ini lebih kuat dari baja atau dinding beton.
Kehadiran Saudara pada hari ini adalah salah satu
tonggak dari monumen ini yaitu monumen solidaritas.
Anak-anak yang mulai dapat bermain lagi di pantai
sambil tertawa dan tersenyum, juga menjadi monumen
yang hidup akan harapan dan ketabahan.
Para nelayan yang kembali melaut, adalah monumen
kegigihan. Masih ada banyak lagi monumen hidup yang
memberanikan para keluarga yang berkumpul kambali dan
diantara mereka yang tunawisma namun dapat kembali
menempati rumah baru. Ada pula monumen hidup yang
menghidupkan semangat spiritualitas di masjid-masjid
di Aceh dan gereja-gereja di Nias.
Dan ada monumen hidup perdamaian dalam keheningan dari
dentuman senjata di seluruh Aceh.
Maka sebagaimana dikatakan dalam peribahasa Indonesia,
“habis gelap, terbitlah terang”. Tsunami membawa
pukulan yang fatal di sepanjang pantai kita. Namun
tidak ada pertandingan yang lebih besar daripada yang
kita sebut sebagai semangat kemanusiaan, yaitu
semangat untuk hidup, untuk selamat dan untuk
mencintai yang terus ada.
Semangat itu akan tetap hidup dalam diri kita hari ini,
esok dan selanjutnya.
Insya Allah, Insya Allah!!
Terima kasih. |