|
Serambi Indonesia
Selasa, 5 Mei, 2009
BANDA ACEH: Delapan dari 11 partai politik yang
mendapat kursi di DPR Aceh pada Pemilu 2004
diperkirakan akan gagal mempertahankan atau kehilangan
kursi pada Pemilu legislatif 2009 di Provinsi Aceh.
Data yang diperoleh dari Komisi Independen Pemilihan
(KIP) Aceh di Banda Aceh, Senin (4/5), dari
rekapitulasi suara hasil pemilu di 23 kabupaten/kota
ada sembilan partai nasional yang mengalami penurunan
perolehan kursi, bahkan ada partai yang gagal sama
sekali pada pemilu kali ini.
Delapan parpol tersebut adalah Partai Golkar dan
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sebelumnya
sama-sama mendapat 12 kursi di DPRA pada pemilu lalu,
pada Pemilu 2009 hanya bisa mendapat delapan dan tiga
kursi. Selanjutnya, Partai Amanat Nasional (PAN) dan
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sebelumnya meraih
sembilan dan delapan kursi, kini turun menjadi lima
dan empat kursi.
Partai Bulan Bintang (PBB) yang pada pemilu lalu
mendapat delapan kursi kini turun menjadi satu kursi.
Bahkan Partai Bintang Reformasi (PBR) yang memiliki
fraksi di DPRA dengan delapan kursi, kini tidak
memiliki satu kursi pun. Sementara Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP) yang sebelumnya dua kini
tinggal satu kursi, sedangkan Partai Persatuan
Nadhlatul Ummah Indonesia (PKNUI) yang sebelumnya dua
kursi kini tidak ada sama sekali. Hanya satu-satunya
parpol yang mampu menambah kursinya pada Pemilu 2009
adalah Partai Demokrat yang sebelumnya enam kursi kini
menjadi 10 kursi.
Sedangkan dua parpol yang mempertahankan kursinya
adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai
Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang
masing-masing tetap mendapat satu kursi. Berkurangnya
kursi yang diperoleh sembilan aprpol tersebut, karena
munculnya enam partai lokal, satu diantaranya Partai
Aceh yang berhasil mendominasi kursi DPRA pada Pemilu
2009 dengan meraih 33 kursi. Pada Pemilu 2009 terdapat
12 parpol yang mendapat kursi, bertambah dua partai,
yakni Partai Daulat Aceh (PDA) dan Partai Patriot
masing-masing satu kursi.
Menurut pengamat politik dari Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah) Banda Aceh, M. Jafar, sejak munculnya partai
lokal, membuat partai nasional kalah sebelum
bertanding. Hal itu terlihat dari masa kampanye,
dimana hampir partai nasional peserta pemilu tidak
melakukan kampanye terbuka, sementara partai lokal,
seperti Partai Aceh hampir di seluruh daerah pemilihan
menggelar kampanye akbar. “Saya pikir wajar, kalau
Partai Aceh meraih suara terbanyak, karena mereka
memang konsisten dan serius untuk menggelar kampanye
terbuka yang mampu mengerahkan massa belasan ribu
orang,” katanya.(ant) |