|
GATRA Online
Jum'at, 1 Mei, 2009
Aura kemenangan makin terpancar dari markas Dewan
Pimpinan Partai Aceh. Kantornya yang megah di Jalan
Sultan Alaidin Mahmudsyah, Banda Aceh, terlihat hidup,
penuh kesibukan, dan bercahaya. Para petinggi, kader,
dan simpatisan partai lokal itu --termasuk siapa saja
yang hilir mudik di sana-- tampak sumringah. Penuh
optimisme.
Maklum, partai ini memenangkan Pemilu 2009 di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dengan mengantongi
suara lebih dari 50%, jauh di atas partai nasional dan
partai lokal lainnya. Memang perhitungan suara belum
final. Namun diperkirakan persentase perolehan suara
Partai Aceh tak akan bergeser jauh. "Kemenangan kami
karena partai ini milik masyarakat Aceh," kata Muzakir
Manaf, Ketua Umum Dewan Pimpinan Partai Aceh, yang
juga mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pada pemilu ini, khusus di Provinsi NAD, disertakan
pula enam partai lokal, termasuk Partai Aceh. Lima
partai lokal lainnya adalah Partai Suara Independen
Rakyat Aceh (SIRA), Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai
Bersatu Aceh (PBA), Partai Daulat Atjeh (PDA), dan
Partai Aceh Aman Seujahtera (PAAS). Kehadiran partai
lokal yang bertarung bersama 38 partai politik
nasional itu sesuai dengan amanat nota kepahaman (MoU)
Helsinki 15 Agustus 2005 dan Undang-Undang Nomor
11/2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Berdasarkan serapan informasi pengamat dan tokoh
masyarakat setempat, serta survei lembaga pemantau,
kekuatan partai lokal itu dibagi menjadi dua kategori.
Yakni partai dengan kekuatan penuh (Partai Aceh, SIRA,
dan PRA) serta partai dengan kekuatan menengah (PBA,
PDA, dan PAAS).
Mayoritas pengurus dan caleg tiga partai kategori
pertama tadi adalah anak muda. Mereka juga dinilai
memiliki sejarah menonjol dalam perjuangan "kemerdekaan
Aceh". Partai Aceh dengan mayoritas anggotanya mantan
kombatan GAM memang merupakan jelmaan GAM. Bahkan
partai ini sebelumnya ngotot memakai nama GAM.
Partai SIRA dikenal sebagai LSM yang menggalang
kampanye referendum untuk menentukan masa depan Aceh.
Sedangkan PRA merupakan kumpulan aktivis kampus dan
intelektual muda, yang juga berkecenderungan
menentukan masa depan Aceh seperti Partai Aceh dan
SIRA. Adapun tiga partai dengan kekuatan menengah
merupakan kumpulan kaum mapan dan senior dalam
percaturan politik. Tiga partai ini disokong politisi
berpengalaman dari lintas partai.
Melihat latar belakangnya, kehadiran enam partai lokal
itu tidak bisa dipandang remeh. Hal ini pun diakui
politisi partai nasional jauh sebelum pemilu
dilaksanakan. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP, Teuku
Taufiqulhadi, misalnya, memprediksi bahwa persaingan
partai nasional dengan enam partai lokal di Aceh akan
berlangsung ketat. Namun ia tak mengira bahwa Partai
Aceh akan begitu melesat.
Partai Aceh ternyata langsung memimpin perolehan suara.
Berdasarkan data sementara, posisi di bawahnya
berturut-turut adalah Partai Demokrat (6,84%), disusul
oleh PAN (5,29%), Partai Golkar (5,02%), dan PPP
(3,19%). Sedangkan lima partai lokal lainnya terpental
jauh ke posisi bawah. Keberhasilan Partai Aceh ini
diperkirakan lantaran sebagian besar masyarakat Aceh
ingin perubahan, dan mereka melihat Partai Aceh
sebagai tumpuan harapan.
Kemenangan Partai Aceh itu, dengan angka cukup telak
pula, sontak membuat banyak pihak terkejut. Ketua Bale
Pemenangan Pemilu Partai SIRA, Shadia Marhaban,
misalnya, terus terang menyatakan kekagetannya. Ia
mengatakan, kemenangan saingannya sesama partai lokal
itu sungguh di luar perkiraan banyak pihak.
Kemenangan ini sempat disambut aksi pembakaran 20 toko
di Kabupaten Bener Meriah, NAD, dua hari setelah
pemungutan suara. Di wilayah ini, Partai Aceh menang
telak dengan mengantongi suara di atas 70%. Gubernur
Aceh, Irwandi Yusuf, memperkirakan bahwa intimidasi
itu disebabkan adanya kekhawatiran pihak-pihak
tertentu, jika Partai Aceh menang, para caleg dan
pengurus partai akan berbuat macam-macam yang akan
mengganggu negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Irwandi menepis kekhawatiran itu. Begitu pula Bupati
Aceh Utara, Ilyas A. Hamid, yang mantan Panglima Muda
GAM Wilayah Passe. Ia menegaskan, kemenangan Partai
Aceh itu tidak akan membangkitkan kembali semangat
separatisme di sana dan tidak akan membuat mereka
memisahkan diri dari NKRI. "Aceh tetap dalam bingkai
Indonesia," Ilyas memastikan.
Selain intimidasi, kemenangan Partai Aceh juga
dibarengi komentar-komentar miring yang meragukan
kemampuan politisi partai itu kelak setelah duduk di
lembaga legislatif. Otto Syamsuddin Ishak, pengamat
politik dari Imparsial, misalnya, menilai kemenangan
partai politik lokal itu bisa menghambat pembangunan
Aceh karena persoalan sumber daya manusia.
Menurut pengamatannya, hampir semua politikus partai
lokal, termasuk Partai Aceh, masih kurang pengalaman
dan relatif rendah tingkat pendidikannya. Ia
mengingatkan, agar fungsi parlemen berjalan dengan
baik, para caleg dari partai lokal yang terpilih itu
mesti menjalani berbagai pendidikan dan pelatihan yang
relevan.
Menanggapi hal itu, Muzakir Manaf hanya tersenyum. Ia
menilai tudingan itu sangat berlebihan. "Inilah orang
kita, tidak mau percaya sama orang lain, melecehkan
orang lain. Menganggap orang lain bodoh semua, tidak
melihat kenyataan di lapangan," kata Muzakir, yang
bertekad tidak akan membawa Aceh ke mana-mana selain
ke arah yang lebih baik bagi semua warganya.
Senada dengan bosnya, caleg terpilih dari Partai Aceh,
Zulkifli bin Cut Ahmad alias Dolly, menjelaskan bahwa
sebagian caleg dari partainya bergelar S-1, S-2, dan
S-3. "Sebagian caleg Partai Aceh pernah mengikuti
berbagai studi di luar negeri. Beberapa di antara
mereka memiliki pengalaman diplomasi yang baik," tutur
Dolly. Ia optimistis, Partai Aceh akan mampu menggodok
para wakilnya itu menjadi legislator andal.
Di samping yang meragukan, tidak sedikit pula pihak
yang menyambut kemenangan Partai Aceh dengan lapang
dada dan mempercayai kemampuan politisi partai itu.
Misalnya Syafruddin Budiman, anggota DPR Aceh dari
Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.
Syafruddin menilai, tidak perlu mengkritisi apalagi
meragukan sumber daya manusia Partai Aceh, sebab yang
lebih penting adalah memberikan saran dan masukan.
Syafruddin pun menaruh harapan cukup besar pada wajah
baru legislator dari Partai Aceh, yang sebagian besar
jebolan pesantren terpadu. Setidaknya, "Tidak tertutup
kemungkinan mereka bisa lebih bersih dari (pengaruh)
KKN," katanya. Ya, lumayanlah.
Taufik Alwie, Bernadetta Febriana, dan Ibrahim Passe (Lhokseumawe)
[Nasional, Gatra Edisi Khusus Beredar 30 April 2009] |