|
Harian Waspada
Jum'at, 17 April, 2009
BANDA ACEH: Pengamat politik dari Universitas Syiah
Kuala (Unsyiah) M. Jafar, MH berpendapat, kemenangan
Partai Aceh pada Pemilu legislatif 2009 karena
sebagian besar rakyat ingin perubahan di berbagai
sektor di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
"Saya kira hampir sebagian besar rakyat mendukung
Partai Aceh, karena mereka ingin perubahan yang
berarti untuk masyarakat," kata Jafar yang juga dosen
Fakultas Hukum Unsyiah di Banda Aceh, tadi malam.
Disebutkan, meskipun Komisi Independen Pemilihan (KIP)
NAD belum mengumumkan hasil perolehan suara, tapi dari
hasil sementara yang dikeluarkan KIP, partai lokal
tersebut terus berada diurutan pertama dengan meraih
40,47 persen, jauh meninggalkan partai lainnya. Bahkan
Partai Aceh juga telah mengklaim mereka berhasil
mengantongi 70 persen suara untuk DPRA dan DPRK.
Jafar menyatakan, sepertinya rakyat Aceh sudah apatis
dengan anggota dewan sebelumnya, karena selama mereka
duduk di lembaga legislatif, kehidupan ekonomi
masyarakat, khususnya di pedesaan tidak banyak berubah.
Oleh karena itu wajar apabila ada partai baru yang
menjanjikan akan membuat perubahan, maka langsung
mendapat dukungan dari rakyat yang ada di pedesaan,
ujarnya.
Namun di samping itu ada dua faktor lain yang tidak
kalah menentukan atas kemenangan Partai Aceh tersebut,
yakni pertama kinerja dan struktur organisasi partai
itu sampai ke desa-desa dan pengurusnya bekerja
maksimal.
"Mungkin Partai Aceh merupakan satu-satunya partai
yang melaksanakan kampanye terbuka hampir di seluruh
daerah pemilihan, baik tingkat kabupaten maupun
provinsi, sehingga wajar mereka dikenal oleh
masyarakat," katanya.
Selain itu, penempatan calon anggota legislatif baik
di DPRK maupun DPRA yang paling banyak. Kedua, faktor
ketokohan dan populeritas pengurus partai yang dikenal
rakyat yang paling bawah, sehingga dapat mempengaruhi
massa secara luas.
"Jadi, dua faktor itu juga yang bisa membuat Partai
Aceh untuk sementara memimpin perolehan suara. Saya
perkirakan mereka akan terus berada diatas sampai
penghitungan suara selesai," ujarnya.
Menanggapi sejumlah kalangan yang meragukan kinerja
anggota dewan mendatang, Jafar menyatakan, dari segi
pengalaman memang caleg Partai Aceh masih kurang, tapi
itu bukan persoalan yang besar dalam lembaga dewan.
Dari segi pendidikan, menurut dia, sangat relatif,
artinya itu juga ada pada caleg-caleg dari partai
politik lainnya. Tapi, yang terpenting untuk
menentukan kualitas anggota dewan adalah keseriusan
dalam menjalankan dan menekuni pekerjaan. "Kalau
mereka serius, tidak sekolahpun bisa menjadi anggota
dewan," ujarnya.
Pengalaman pada saat reformasi, hampir seluruh anggota
dewan belum berpengalaman dan mungkin hanya sedikit
yang sarjana, tapi lembaga legislatif bisa berjalan
sampai sekarang.
"Jadi, saya pikir kita tidak perlu bersangka buruk
dulu, biarkan mereka bekerja. Kalau memang tidak bisa,
partai yang akan mengambil tindakan," kata Jafar yang
juga mantan Ketua KIP NAD itu. |