|
Harian Kompas
Selasa, 7 April, 2009
Teuku Kemal Fasya
Wacana Pemilu 2009 di Aceh akhirnya diisi partai lokal
(parlok).
Hingga akhir kampanye, hanya ada tiga partai lokal
yang terlihat memanfaatkan kesempatan rapat umum dan
mobilisasi massa: Partai Aceh (PA), Partai SIRA, dan
Partai Rakyat Aceh (PRA).
Sayang, dua partai lokal terbesar (PA dan SIRA)
terlibat perseteruan negatif. PA dituduh
menghalang-halangi kampanye SIRA. Kejadian terakhir
adalah penghadangan massa SIRA oleh aktivis PA yang
akan menghadiri kampanye di Lhokseumawe. Wakil
Gubernur sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai
SIRA Muhammad Nazar menyatakan, ada kelompok yang
sedang mengkhianati perdamaian Aceh; statement yang
sebenarnya ditujukan kepada kelompok yang terus
mengintimidasi SIRA (Kompas, 29/3).
Dialektika negatif
Fenomena kekuatan parlok yang lebih mampu memanfaatkan
momentum kampanye dibandingkan dengan partai nasional
(parnas) adalah sebuah kejutan politik tersendiri.
Memang sejak awal kelahiran parlok dianggap menjadi
kompetitor serius bagi parnas. Tetapi dominasi kuat
momen pertama politiknya tidak diperkiraan, bahkan
oleh pengamat politik. Ini membuktikan, parlok akan
meraih hasil positif pada pemilu tahun ini.
Berkaca dari dua pemilu terakhir (1999 dan 2004), Aceh
sebenarnya memiliki basis pemilih kuat untuk PAN, PPP,
Golkar, dan PKS. Namun, pendulum politik bergeser
sejak Pilkada 2006. Kemenangan Irwandi-Nazar sebesar
38,2 persen, jauh dari jumlah total suara dua pasangan
di bawahnya yang ikut dimotori PPP dan Golkar. Ini
mengisyaratkan, ”kelompok luar” (outsider) sedang
mengambil alih politik.
Sejak saat itu wajah politik Aceh mengarah pada
penguatan basis lokal. Konstituen yang paling
berpengaruh berasal dari kekuatan dwitunggal GAM dan
SIRA. Kedua kelompok ini lalu membentuk partai lokal
PA dan Partai SIRA. Sisanya, tidak memiliki basis
konstituen ideologis cukup kuat. PRA hanya akan
menjadi fenomena politik anak muda perkotaan, simbol
antikemapanan, dan mungkin menggantikan politik urban
PKS. Dari enam parlok, secara nyata hanya akan ada dua
atau maksimal tiga partai yang berperan dalam
percaturan legislatif ke depan.
Namun, ketegangan sebenarnya berporos pada PA.
Publikasi International Crisis Group (ICG) di Brussel
23 Maret lalu menyebutkan ada ketidakpercayaan serius,
terutama dari kalangan militer, atas keberadaan PA.
Seperti diutarakan Sidney Jones, staf senior program
Asia ICG, sebagian kalangan TNI meyakini PA masih
komitmen pada wacana kemerdekaan. Kemenangan partai
ini akan menjadi ancaman serius wacana NKRI.
Sebaliknya, sebagian besar aktivis PA meyakini TNI
sampai hari ini tidak rela dengan keberadaan partai
ini. Beberapa teror dan pembunuhan yang menimpa
aktivis partai ini diyakini berhubungan dengan militer
(Indonesia: Deep Trust in Aceh as Election Approach,
23/3/2009).
Kematian empat aktivis PA dalam satu bulan terakhir
membuat Gubernur Irwandi berang dan meminta dunia
internasional memantau pemilu di Aceh.
Penyelesaian transisi
Kecurigaan pada kedua kelompok ini bisa jadi terlalu
berlebihan. Instabilitas politik menjelang pemilu
adalah buah jejaring transisi dari konflik ke
demokrasi. Hal itu diakibatkan belum terpahaminya
perubahan orde politik baru Aceh pasca-Kesepakatan
Helsinki.
Sejak enam parlok disahkan mengikuti Pemilu 2009 di
Aceh, wacana politik lama berhenti dan etika demokrasi
baru berjalan. Keberadaan parlok adalah dialektika
positif demokrasi Aceh yang harus diterima sebagai
salah satu solusi penguatan rekonstruksi dan
perdamaian.
Begitu pula keberadaan TNI sebagai aset bangsa tidak
terbantah. Yang perlu dilakukan adalah mengubah
paradigma lama militer saat melihat dinamika politik
baru bahwa ia bukan ancaman stabilitas nasional,
tetapi tantangan demokrasi.
Perseteruan antarparlok lokal juga ironi demokrasi.
Kesepakatan Helsinki dan UU Pemerintahan Aceh harus
menjadi berkah bagi semua elemen politik lokal. Tak
ada partai yang boleh mengklaim paling sah menjadi
jantung hati rakyat Aceh, kecuali pemilu yang adil,
damai, jujur, dan merdeka. Kemenangan partai mana pun
adalah kehendak rakyat yang patut dihormati.
Teuku Kemal FasyaDosen FISIP Universitas Malikussaleh,
Lhokseumawe. |