|
Harian Analisa
Kamis, 26 Februari, 2009
BANDA ACEH: Sedikitnya delapan anggota Parlemen Uni
Eropa akan bertandang ke Aceh akhir pekan ini. Mereka
akan memantau perkembangan rehabilitasi dan
rekonstruksi Aceh setelah empat tahun tsunami.
Politisi itu juga akan melihat pengaruh bantuan Uni
Eropa untuk pembangunan Aceh.
Informasi yang dikumpulkan Waspada menyebutkan,
delapan parlemen Uni Eropa itu Hartmut Nassauer,
mewakili Republik Federal Jerman, Frithjof Schmidt,
Barbara Weiler, dari Belanda Bert Doorn, Giovanna
Corda (Belgia), Csaba Ory (Hungaria), Csaba Sogor
(Rumania), dan dari Lituania diwakili oleh Gintaras
Didziokas.
Kepala Europe House Banda Aceh, John Penny dalam
undangan yang dikirimkan ke media di Banda Aceh, tadi
malam menjelaskan, delapan parlemen Uni Eropa tersebut
akan berada di Aceh selama sepekan mulai 27 Februari-1
Maret. "Kunjungan Parlemen Uni Eropa tersebut ke Aceh
dilaksanakan setelah mereka ke Kuala Lumpur dan
Jakarta," sebut dia.
Kata diplomat asal Inggris ini, Parlemen Eropa
tersebut, datang untuk melihat perkembangan
rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami dan
pengaruh bantuan Uni Eropa terhadap pembangunan Aceh.
Selain itu, Parlemen Uni Eropa juga akan membahas
tentang Pemilu 2009 beserta proses perdamaian yang
sedang terjadi di Aceh.
"Selama di Aceh, mereka melakukan pertemuan dengan
media untuk membicarakan proses rehabilitasi dan
rekonstruksi Aceh pasca tsunami dan konflik serta
membahas pengaruh bantuan Uni Eropa terhadap Aceh,"
ungkap Penny.
Sebelumnya, pada pertemuan dengan media pada medio 3
Februari lalu, Penny menyebutkan rombongan Parlemen
Eropa yang terdiri dari 20 orang, delapan di antaranya
adalah anggota parlemen. "Mereka akan datang ke
Indonesia, termasuk Aceh. Ini kunjungan tahunan, tak
ada kaitan dengan Pemilu," tukas dia.
Selain itu, mengutip Penny duta besar-duta besar Uni
Eropa yang ada di Jakarta juga akan datang ke Aceh
untuk melihat proses penyelenggaraan Pemilu nanti.
Namun, pihak Uni Eropa sendiri, kata John Penny tidak
membiayai lembaga swadaya untuk memantau Pemilu di
Aceh.
"Apalagi ini sudah sangat terlambat untuk pemantauan
pemilu seperti Pilkada 2006 lalu.. Tapi saya yakin,
pemilu itu akan berlangsung damai, dan yang penting
masyarakat bisa memilih partai dan orang yang
disenanginya," harapnya.
Pantau pemilu
Sementara peraih Nobel Perdamaian 2008, Martti
Ahtisaari dalam konferensi international yang bertema
"Konflik Sipil dan cara mengatasinya" yang digelar di
Gedung Auditorium Dayan Dawod, di Banda Aceh
menyebutkan, Aceh butuh pemantau asing.
Kata mediator perjanjian damai RI-GAM tersebut,
pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu), Calon Anggota
Dewan, DPR RI, DPRA dan DPRK di Aceh meman membutuhkan
kehadiran pemantau Asing. "Dalam MoU tersebut,
kehadiran akan pemantau asing pada Pemilu di Aceh ada
ditulis d idalamnya," kata dia.
Menurut mantan Presiden Finlandia ini, keterlibatan
pemantau asing dalam Pemilu di Provinsi Aceh,
merupakan salah satu butir yang telah disepakati dalam
Memorandum Of Understanding (MoU) yang telah
disepakati di Helsinki pada 2005.
Untuk itu, dia mendesak agar persoalan tersebut tidak
diperdebatkan lagi, apalagi sampai dianggap sebagai
sebuah persolan yang rumit. Martti mengaku yakin,
dalam pelaksanaan Pemilu di Aceh akan dipantau oleh
pemantau asing nantinya. "Di Aceh pasti akan ada
Pemantau Internasional," papar dia. |