|
Serambi Indonesia
Senin, 12 Juli, 2010
* 33 Km Jalan Lamno belum Teraspal
BANDA ACEH: Komisi D DPRA yang membidangi pembangunan
jalan dan jembatan, Jumat (10/7) lalu meninjau
pembangunan jalan Lamno-Calang section F yang
dikerjakan kontraktor Sangyong dari Korea Selatan.
Komisi D sangat kecewa terhadap kinerja kontraktor
tersebut yang dinilai lamban.
Kekecewaan komisi D muncul karena sudah dua tahun
lebih pembangunan ruas jalan Km 110-153 Calang-Lamno
dikerjakan Sangyong, tapi mereka baru mengaspal
sepanjang 10 kilometer (km). Ini artinya, 33 km lagi
badan jalan belum diaspal oleh kontraktor asal Korsel
ini dari 43 km yang ditargetkan untuk diaspal.
Ketua Komisi D DPRA, Ir Jufri Hasanuddin mengatakan,
pihaknya berkunjung ke lokasi proyek pembangunan
Calang-Lamno tersebut atas perintah Ketua DPRA, Drs
Hasbi Abdullah. Hal itu ia sampaikan langsung di
lokasi proyek Km 110 jalan Calang-Lamno saat bertemu
pihak Sangyong selaku kontraktor pelaksana serta
Parson, pihak konsultan pengawas proyek jalan Banda
Aceh-Calang.
Dalam kunjungan lapang itu, Jufri Hasanuddin
didampingi Sekretaris Komisi D DPRA, Adly Tjalok, dan
dua anggota, masing-masing Muslim Usman dan Ali
Murtala. Menurut Jufri, Pimpinan DPRA menugaskan
Komisi D untuk melihat ke lapangan perkembangan
pembangunan badan jalan dan pengaspalan jalan Banda
Aceh-Calang yang dikerjakan Sangyong. Soalnya, para
pengguna jalan menyatakan sangat kesulitan saat
melintas di Km 110-Km 143 yang pengaspalan badan
jalannya menjadi tanggung jawab Sangyong.
Berdasarkan amatan Serambi, badan jalan di lokasi
tersebut berlumpur saat hujan dan sulit dilintasi
kendaraan roda dua dan empat, baik milik pribadi
maupun mobil penumpang umum. Bahkan truk-truk barang
dan penumpang umum banyak terperangkap di badan jalan
yang berlumpur itu sampai berjam-jam.
Sebaliknya, pada musim kemarau, badan jalan berdebu,
sehingga sangat mengganggu penduduk di sekitar Km
110-143 Calang-Lamno. Kondisi badan jalan Km 110-143
itu, menurut Ali Murtala dan Muslim Usman, sangat
berbeda dengan kondisi jalan Km 60-100 yang
pembangunannya dikerjakan PT Hutama Karya selaku mitra
kerja Sangyong.
Kinerja PT Hutama Karya, menurut penilaian kedua
anggota dewan itu, lebih baik, karena badan jalan yang
belum diaspal hanya tinggal sekitar 3 km lagi dan
semuanya sudah ditutupi dengan pasir dan batu kerikil.
Sementara di Km 110-143 (sepanjang 33 km), badan
jalannya belum ditaburi pasir dan kerikil. Akibatnya,
pada waktu musim hujan banyak kendaraan umum dan
pribadi yang tersangkut, karena badan jalan masih
berlumpur.
Manajer Konstruksi Sangyong, Mr Wee, didampingi
pejabat Humasnya, Tarigan, dan pengawas dari Dinas
Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh, Samsul,
mengatakan saat ini pihaknya sedang mengaspal badan
jalan yang kondisinya sudah siap untuk diaspal.
Misalnya, untuk Km 153-143 arah Calang-Lamno.
Sering longsor
Wee menambahkan, setelah
pembangunan seluruh jembatan di lintasan Km 153-110
selesai bulan ini, maka pekerjaan difokuskan pada
pengerasan badan jalan yang dilanjutkan dengan
pekerjaan pengaspalan badan jalan. Begitupun,
menurutnya, kendala untuk pengaspalan badan jalan baru
yang telah dibuka dan dibuat, adalah seringnya terjadi
tanah longsor pada bukit yang telah dibelah.
Selain itu, masih ada lima titik lokasi lagi tanah
masyarakat yang perlu dibebaskan, karena faktor
terjadi longsor, perlu pengerukan tanah masyarakat
3-10 meter ke samping kiri dan kanan. Salah seorang
perwakilan dari Parson yang hadir di lokasi proyek
mengatakan, kendala yang dihadapi Sangyong untuk
meningkatkan kinerja lapangannya adalah karena
mobilisasi atau pengerahan alat kerjanya jauh di bawah
volume atau beban kerja di lapangan. Jumlah alat kerja
dan buruh yang dikerahkan di lapangan sedikit, berbeda
dengan PT Hutama Karya lebih banyak, sehingga mereka
kerja lebih cepat.
Berdasarkan kontrak kerjanya, Sangyong harus
menyelesaikan seluruh borongan pekerjaannya pada Juli
2010. Tapi karena tidak selesai atau masih ada 15
persen lagi yang belum dikerjakannya, ia minta tambah
waktu kerja. “Pihak USAID selaku pemilik proyek atau
pemberi hibah, menambah sampai Maret 2011 mendatang,”
ujar seorang konsultan pengawas dari Parson.
Menyikapi tambahan waktu kerja yang diberikan USAID
kepada Sangyong sampai Maret 2011, Ketua Komisi D DPRA,
Jufri Hasanuddin dan Sekretaris Komisi D, Adly Tjalok
mengingatkan, tambahan waktu yang diberikan USAID
kepada Sangyong itu hendaknya tidak dijadikan
perusahaan dari Korsel itu untuk kembali meperlambat
pengaspalan badan jalan Km 110-143 arah Lamno-Calang.
“Kita berharap sebelum Lebaran Idul Fitri tahun ini
atau 11-12 September 2010 mendatang, 33 km badan jalan
yang belum diaspal itu hendaknya bisa dituntaskan
Sangyong, supaya masyarakat Aceh yang ingin mudik atau
Lebaran di kampung halamannya di pantai barat dan
selatan Aceh, tidak tersangkut di lokasi badan jalan
pada Km 110- 143 yang masih berlumpur itu,” ujar Jufri
yang berasal dari Labuhan Haji. (her) |