|
Serambi Indonesia
Rabu, 14 April, 2010
BANDA ACEH: Wagub Aceh, Muhammad Nazar yang menjadi
moderator pada Musrenbang Aceh 2010 di Gedung Utama
DPRA, Selasa (13/4) mengingatkan tentang tujuh hal
penting yang perlu segera dilaksanakan secara baik dan
butuh komitmen pemerintah pusat. Di forum yang diikuti
lebih 350 peserta tersebut, yaitu para bupati/walikota,
donor internasional, akademisi dan elemen masyarakat
sipil, nara sumber dari Bappenas, Kemendagri, Bappeda
Aceh, Forbes DPD/DPR/MPR asal Aceh, Wagub Aceh
merincikan tujuh hal penting yang harus dilaksanakan
secara baik dan butuh komitmen pemerintah pusat untuk
pembangunan, kesejahteraan, dan kedamaian Aceh
berkelanjutan. Hal-hal penting itu dirangkum kembali
oleh Wagub Aceh dan dikirim secara tertulis kepada
Serambi, Selasa (13/4) malam.
Pertama, percepatan penyelesaian PP dan Perpres
terkait implementasi UUPA tentang pengelolaan migas,
pelabuhan Sabang, otonomi BPN, KKR, dan lain-lain.
“Pemerintah Aceh mengalami kesulitan dan seperti tidak
ada otonomi perekonomian kalau regulasi-regulasinya
lamban. Regulasi-regulasi itu juga dapat memperkuat
dan mengisi perdamaian. Daerah dan pusat harus
sinergis dalam membangun serta tidak melambatkan
pembuatan aturan-aturan yang dibutuhkan,” kata Nazar.
Berikutnya kebijakan pembangunan gampong melalui PNPM
atau skema lain yang berdampak peningkatan ekonomi
masyarakat. Di APBA sendiri telah dibuat skema alokasi
dana ke gampong-gampong seperti BKPG untuk peningkatan
partisipasi rakyat dalam pembangunan. Sedangkan
pemerintah daerah dan pusat membina secara menyeluruh.
“Gampong maju maka masyarakat dan peradabannya juga
akan maju sekaligus menghilangkan berbagai potensi
konflik. Peradaban dan kesejahteraan juga milik orang
kampung bukan hanya penduduk kota,” urai Nazar.
Wagub Aceh juga meminta pemerintah pusat untuk lebih
serius membantu kemajuan ekonomi Aceh sebagai target
penting pembangun ekonomi nasional. “Jangan hanya
menguras hasil seperti eksploitasi migas namun dapat
menggerakkan produksi ekonomi rakyat,” katanya.
Mengenai penanggulangan dan pengurangan risiko bencana,
menurut Wagub Aceh harus juga terwujud dan
terintegrasi dan menyeluruh. Kebijakan dan aturan
nasional dinilai oleh wagub sudah bagus tetap
penguatan teknis kelembagaan dan masyarakat masih
kurang. Crisis center, early warning system dan
lain-lain yang dapat mengendalikan operasi
penanggulangan bencana serta mengurangi risikonya
perlu dibangun lagi. Paling tidak satu lagi di pantai
barat, satu di pantai selatan, satu di tengah dan
tenggara, dan satu di utara-timur. “Ini perlu
perhatian APBN karena Aceh sangat rawan bencana,” kata
Muhammad Nazar.
Hal lainnya yang diingatkan Wagub Aceh adalah
pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Ini tak
boleh diabaikan karena di Aceh sangat banyak perempuan
dan anak yang pernah menanggung derita konflik
berkepanjangan. Selama ini, kata Nazar,
program-program nasional untuk mereka tidak ada.
“Kalau pun ada masih kurang terarah. Ke depan harus
lebih serius,” ujarnya.
Wagub Aceh juga meminta agar dana reintegrasi dari
APBN jangan dikurangi. Sebab masih banyak masyarakat,
baik eks GAM maupun bukan yang perlu diperhatikan.
Program-program yang ada di berbagai SKPA juga banyak
berdampak langsung untuk kepentingan reintegrasi damai.
“Jangan dilihat di BRA saja. Itu memang komitmen kami
Pemerintah Aceh. Kami minta Bappenas, Kemenkeu, dan
kementerian terkait lainnya tidak mengurangi apa yang
kami usulkan. Reintegrasi adalah gerbang menuju
rekonsiliasi menyeluruh, tidak boleh diabaikan,”
tandas Wagub Muhammad Nazar.
Wagub Aceh juga meminta pusat agar tidak perlu lagi
membuat balai-balai di berbagai provinsi, termasuk
Aceh. Balai-balai pusat itu, terutama balai-balai
ke-PU-an telah menghilangkan substansi otonomi luas di
Aceh. Apalagi kalau kepala balainya arogan dan
miskoordinasi. Akhirnya gubernur sebagai wakil
pemerintah pusat di daerah menjadi tidak jalan dan
sekadar tulisan di undang-undang. “Jadi tidak perlu
lagilah balai-balaian itu. Kalau masih ada balai, itu
namanya sentralisme berbaju desentralisasi,” ujar
Wagub Aceh disambut aplusan peserta Musrenbang IV.(nas) |