|
Harian Waspada
Selasa, 6 April, 2010
MEDAN: Para tokoh masyarakat menilai Undang-Undang
Pemerintahan Aceh (UUPA) belum berjalan sempurna.
Begitu pula dengan proses perdamaian, sangat
tergantung dari upaya pemerintah dalam mensejahterakan
masyarakat.
Hal itu diungkapkan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota
Langsa, Yahya Hanafiah, malam ini.
Yahya menilai proses penguatan perdamaian Aceh sangat
tergantung kepada bagaimana upaya pemerintah dalam
mensejahterakan masyarakat. “Damai akan hancur kalau
tak memperhatikan pengangguran dan lapangan kerja bagi
masyarakat,” ujarnya.
Dia menilai pendidikan juga harus diutamakan untuk
mendidik generasi yang lebih paham tentang perdamaian.
Artinya masih diperlukan sosialisasi melibatkan semua
pihak dalam memberi pemahaman damai kepada masyarakat
luas.
Sedangkan anggota tim Aceh Peace Advisorry Committe (APAC),
Mawardi Ismail, mengatakan, MoU Helsinki dan UU No. 11
tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) adalah
modal bagi perdamaian Aceh.
"Tapi modal itu belum bisa sepenuhnya dilaksanakan,
karena masih ada beberapa aturan pelaksanaan teknis
seperti Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan
Presiden (Perpres) yang belum rampung," ujar dia. |