|
Serambi Indonesia
Selasa, 23 Februari, 2010
KUTACANE: Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Alas
Transpransi (Altar) dan Satyapila Aceh Tenggara
menilai Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)
mengabaikan hak rakyat. DPRA dinilai mulai mengingkari
amanah rakyat dan terbukti karena sampai saat ini
untuk posisi wakil ketua DPRA ketiga belum diusulkan
ke Mendagri. “Bukankah siapapun yang menang dalam
kompetisi pemilu legislatif yang lalu adalah
perwakilan dari konstituennya,” ujar Direktur LSM
Satyapila Agara, Anil Huda dan Koordinator Altar Edi
Antoni kepada Serambi Senin (22/2).
Anil Huda menyayangkan kalau masih ada pimpinan dan
anggota DPRA berpikiran sempit dan mengingkari amanah
rakyat Aceh. Tidak semestinya apalagi hampir lima
bulan jabatan wakil ketua DPRA dibiarkan lowong
padahal sudah ada wakil rakyat yang berhak untuk
posisi itu. “Kami tidak mempermasalahkan siapa dia
yang penting bisa menjadi representasi wilayah kami
tengah tenggara dan pedalaman Aceh,” sebutnya.
Menurut Anil, masyarakat mengkhawatirkan jika ini
terus berlanjut akan berdampak pada konsekuensi hukum
dalam setiap kebijakan dan mekanisme pengambilan
keputusan di DPRA akan bermasalah nantinya yang pada
akhirnya rakyat juga yang rugi. Satyapila dan Altar
berharap pimpinan DPRA dewasa menyikapi perbedaan yang
ada.” Kalau hanya karena kepentingan sesaat kita
berani korbankan kepentingan rakyat maka mau dibawa
kemana Aceh ini nantinya,” ujar Anil.
Keduanya berharap agar polemik ini tidak
berlarut-larut sehingga membawa mudarat yang lebih
besar. Misalnya ada demo dukung dan menolak dari warga
yang pro-dan kontra hanya karena posisi wakil ketua
DPRA. Keduanya menyesalkan jika nantinya terjadi hanya
karena ego segelintir penguasa terjadi benturan
horizontal di tengah-tengah masyarakat. Sudah saatnya
aturan ditegakkan secara benar termasuk tentang
penentuan posisi wakil ketua DPRA. Kalau hal ini
sajapun sulit dilakukan maka masyarakat Aceh tidak
bisa berharap banyak untuk kebijakan yang lain yang
lebih besar tentunya,” ujar Edi Antoni.(as) |