|
Bisnis Indonesia
Senin, 11 Oktober, 2010
Oleh: Zulkarnaini Muchtar
BANDA ACEH: Wakil Gubernur Aceh Muhamad Nazar mengemukakan pembukaan
lahan perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama terjadinya
banjir di Kabupaten Aceh Barat akhir-akhir ini.
“Dari laporan warga setempat, sebelum adanya pembukaan lahan
besar-besaran, banjir tidak seberapa. Namun, setelah adanya lahan,
banjir yang dialami semakin parah,” katanya kemarin.
Oleh karena itu, dia meminta pemeritah daerah segera mengevaluasi
analisis dampak lingkungan (Amdal) milik perusahaan sawit yang
diduga turut memicu terjadinya banjir bandang di Kabupaten Aceh
Barat.
Dia menyatakan pemerintah daerah harus lebih selektif dalam menerima
kehadiran perusahaan sawit dengan menerapkan peraturan yang berlaku,
sehingga kehadirannya tidak malah merugikan masyarakat pada kemudian
hari.
“Kami harap perusahaan sawit turut membantu pemerintah dengan
melakukan pembersihan kayu yang menyumbat aliran sungai, melakukan
reboisasi atau penanaman,” kata Nazar.
Kedatangannya di wilayah barat selatan Aceh, untuk memantau
sekaligus menyikapi secara langsung beberapa persoalan yang
membutuhkan penanganan segera dan permanen.
“Bersama tim tanggap bencana kita langsung membenahi penyebab
terjadinya banjir. Untuk kerusakan yang bersifat membutuhkan
penanganan permanen, kami mintakan untuk dianggarkan pada APBD.”
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh
mencatat sebanyak 185 kali banjir terjadi di Provinsi Aceh dalam
rentang waktu Januari hingga September 2010. “Jumlah ini meningkat
dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Walhi
Aceh TM Zulfikar di Banda Aceh.
Menurut dia, dalam rentang waktu 3 tahun terakhir terjadi
peningkatan bencana banjir dengan jumlah keseluruhan mencapai 568
kali. Di mana 2008 terjadi 170 kali, 2009 meningkat menjadi 213
kali.
Pembalakan liar
Terjadinya banjir maupun tanah longsor, lanjut Zulfikar, disebabkan
oleh masih maraknya pembalakan liar dan penataan kawasan yang
terkesan sembarangan.
Oleh karena itu, Walhi Aceh mendesak pemerintah daerah mengawasi
kawasan hutan secara ketat dan penegakan hukum harus dijalankan
dengan serius.
“Walhi mengimbau pemerintah daerah mengoptimalkan koordinasi
penanggulangan antara provinsi dan kabupaten/kota, sehingga korban
bencana bisa tertangani secepatnya,” kata Zulfikar.
Yayasan Pengembangan Kawasan (YPK), jaringan Walhi Aceh di Meulaboh,
Kabupaten Aceh Barat, lanjutnya, melaporkan sejumlah sungai di
daerah itu dikhawatirkan akan meluap karena hujan lebat terus
mengguyur.
“Sungai Manggeng di Gampong Pantee Breuh, Kecamatan Kaway XVI,
terancam meluap hingga ke permukiman, jika hujan tidak reda,” kata
Zulfikar mengutip laporan YPK.
Dia menambahkan selain ancaman meluapnya sungai, banjir masih
berlangsung di sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Barat. Namun,
bencana itu belum menimbulkan gelombang pengungsian.
Sementara itu, Sekda Aceh Husni Bahri Tob, yang juga sekaligus Dewan
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan hingga kini
jumlah korban bencana banjir yang melanda di sejumlah kabupaten/kota
di Provinsi Aceh sejak sepekan terakhir 6.154 kepala keluarga atau
23.770 jiwa.
Banjir, lanjutnya, telah melanda 12 Kabupaten/Kota di Aceh, di
antaranya Aceh Utara, Aceh Selatan, Aceh Barat, Aceh Timur, Nagan
Raya, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Singkil, Bener Meriah, Tapaktuan,
Subussalam, Abdya, dan Aceh Jaya.
Menurut Husni, korban banjir terbanyak berada di Kabupaten Aceh
Selatan yang mencapai 11.851 jiwa atau 3.073 KK, sedangkan jumlah
pengungsi di Kabupaten Aceh Barat sebanyak 1.741 jiwa. (k33) (redaksi
@bisnis.co.id) |