|
Harian Ekonomi
Neraca
Kamis, 13 Agustus, 2009
Jakarta: Akibat lenyapnya tutupan hutan di Aceh seluas 200.329
hektar yang terjadi selama rekonstruksi Aceh (2006-2008), telah
menyebabkan Indonesia rugi sebesar US$551,3 juta per tahun dari
potensi bisnis perdagangan karbon akibat terlepasnya cadangan karbon
hutan Aceh tak kurang dari 50,08 juta ton.
“Walaupun Pemprov Aceh telah mendeklarasikan kebijakan jeda balak
(moratorium logging) sejak pertengahan 2007 lalu, ternyata tak mampu
membendung kehilangan tutupan hutan alam Aceh,” jelas Direktur
Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi ketika
mempresentasikan hasil studi Greenomics Indonesia tentang hilangnya
tutupan hutan Aceh pada periode rekonstruksi Aceh di Jakarta, Rabu.
Padahal, sambung Elfian, salah satu motif utama di balik kebijakan
itu adalah mengambil manfaat ekonomis dari mekanisme perdagangan
karbon. “Tapi nyatanya, hutan Aceh ditebang secara ilegal,
keuntungan dari perdagangan karbon pun tidak didapat,” cetus Elfian.
Studi Greenomics Indonesia mengungkapkan, rekonstruksi Aceh sebagai
penyebab utama (main driver) hilangnya tutupan hutan alam Aceh
seluas 200.329 hektar selama tiga tahun intensitas rekonstruksi Aceh
(2006-2008).
Angka itu belum termasuk hilangnya tutupan hutan alam Aceh pada
periode masa tanggap darurat dan rehabilitasi (2005) seluas 52.424
hektar. Yang memprihatinkan lagi, mayoritas tegakan hutan alam Aceh
yang hilang tersebut dieksploitasi secara ilegal.
Menurut Greenomics, rekonstruksi Aceh bisa menciptakan tiga rekor
dunia baru sekaligus. “Pertama sebagai pemicu kehilangan tutupan
hutan alam tercepat di dunia dalam misi bantuan kemanusiaan pasca
bencana skala besar,” kata Elfian
Kedua, sambungnya, sebagai pengguna kayu ilegal terbesar di dunia
dalam proses rekonstruksi suatu wilayah pasca bencana skala
besar.”Dan ketiga sebagai penyumbang emisi karbon terbesar di dunia
yang bersumber dari kehilangan tutupan hutan alam akibat proses
rekonstruksi suatu wilayah pasca bencana skala besar,” imbuhnya.
Elfian meminta 700 organisasi dunia yang terlibat dalam rekonstruksi
Aceh dari lebih 40 negara aga tidak menutup mata atas kondisi
hilangnya tutupan hutan alam Aceh, karena proyek-proyek
organisasi-organisasi dunia tersebut ikut menggunakan kayu-kayu
ilegal dari hutan Aceh tersebut.
Untuk itu, Elfian menyatakan, hilangnya tutupan hutan alam Aceh
tersebut harus menjadi pelajaran bagi organisasi-organisasi dunia
yang bergerak di bidang bantuan kemanusiaan, pembangunan sosial, dan
lingkungan hidup, termasuk organisasi-organisasi di bawah
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), agar menjadikan pertimbangan
pemenuhan bahan baku kayu dalam merehabilitasi dan merekonstruksi
suatu wilayah pasca bencana skala besar. (kam) |