FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      LINGKUNGAN HIDUP
 
 

 Aceh-Eye Lingkungan Hidup Perdagangan Karbon Media..
   PERDAGANGAN KARBON - MEDIA
Perdagangan Karbon Tak Jamin Menguntungkan

By Republika Newsroom
Rabu, 15 April, 2009

JAKARTA: Skema pengurangan emisi dari degradasi dan deforestasi (Reduction Emission from Degradation and Deforestation/REDD) yang digagas dalam mengatasi perubahan iklim, belum tentu akan menguntungkan Indonesia.

Karena itu, menurut Menhut MS Kaban, pemerintah perlu mencari skema alternatif penggalangan dana untuk perdagangan karbon diluar skema lewat REDD. Sebelumnya, pemerintah, kata menhut, sempat terkesima dengan skema REDD yang bagus, namun sayangnya implementasi atau eksekusinya sulit dan ternyata tidak membawa keuntungan signifikan.

“Jujur saja, kita terkesima dengan skema REDD yang bagus, tapi kita harus cari skema yang simple, murah, dan bisa selamatkan hutan. "

Karena itu, katanya lebih jauh, skema alternatif itu sudah harus disusun dari sekarang mengingat skema REDD belum tentu menguntungkan Indonesia. Selain itu, mencegah deforestasi, tapi masyarakat dapat manfaatnya, kata Kaban, usai membuka Seminar Nasional ''Menggalang Inisiatif Perdagangan Karbon Sukarela'', di Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu siang (15/4).

Hadir sebagai pembicara diantaranya Staf Ahli Menhut Bidang Lingkungan, Yetti Rusli, dan Pakar Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Teddy Rusolono.

Menhut Kaban menjelaskan, sebenarnya melalui skema REDD, Pemerintah RI berharap bisa mendapat suntikan dana asing sampai 3,75 miliar dolar AS (setara Rp33,75 triliun) per tahun. Meskipun demikian, dia tetap tidak bisa menjelaskan berapa nilai riil yang bisa didapat masyarakat RI yang sudah menjaga hutannya.

REDD, kata menhut, memang bisa jadi jalan pemerintah untuk mendapatkan dana asing dalam pengelolaan hutan. ''Istilahnya, hutan kita nyerap karbon, tapi kita ‘gak’ dapat upahnya karena skema yang rumit tadi,'' jabarnya.

Kaban melanjutkan, “Kita juga mendesak negara maju yang selama ini diuntungkan oleh keberadaan hutan Indonesia, yang menyerap emisi mereka, untuk memberikan insentif. Masalahnya kita tidak bisa menunggu. Karena itu, kita harus cari skema alternatif yang lebih simple dan murah,” ujarnya. (zak/ahi).

 
 
  Copyright © 2007. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: webmaster@aceh-eye.org