|
Jumat, 9 Januari, 2009
BANDA ACEH: Merrill Lynch International, salah satu bank di Inggris
berkomitmen membeli karbon hutan Ulu Masen Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD) senilai 10 juta dollar AS.
"Merrill Lynch akan membeli kredit karbon senilai 10 juta dolar AS
dengan ketentuan jika sudah memiliki sertifikat kredit karbon," kata
Tim Asistensi bidang sistem manajemen informasi Gubernur NAD,
Wibisono yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat (9/1).
Menurut Wibisono, keinginan Merrill Lynch tersebut baru sebatas
tahap komitmen dan mereka mengusulkan untuk direalisasikan dengan
kesepakatan. Mereka juga baru akan membayar jika kawasan hutan sudah
memiliki sertifikat kredit.
Wibisono menambahkan, perdagangan karbon memiliki beberapa model
antara lain mengikuti Protokol Kyoto yang mengatur pengurangan emisi
aktifitas industri.
Saat ini yang baru dilakukan berupa pasar sukarela dimana siapa saja
bisa membuat komitmen untuk membeli karbon hutan.
Sementara itu Comunication Officer Flora dan Fauna International (FFI)
Aceh, Dewa Gumay mengatakan, FFI yang sejak awal menginisiasi kredit
karbon hutan Aceh khususnya Ulu Masen memfasilitasi bantuan teknis
misalnya menyediakan konsultasi untuk Pemerintah Aceh. Perdagangan
karbon sendiri, menurut Dewa Gumay, hingga kini belum ada mekanisme
jelas yang mengaturnya seperti bagaimana penyaluran dana oleh
Merrill Lynch ke Aceh.
Dewa Gumay mengatakan, komitmen tersebut akan dimulai di wilayah Ulu
Masen yang menjadi pilot proyek. Dipastikan tidak keseluruhan luas
hutan Ulu Masen yang mencapai 740 ribu hektare menjadi kawasan
perdagangan karbon.
"Kita belum tahu wilayah mana yang layak untuk perdagangan karbon
karena assessment juga belum dilakukan," tambahnya.
Hutan Ulu Masen, sebagai kawasan ekosistem yang belum memiliki
status baik melalui Peraturan Menteri maupun peraturan lainnya
dipilih karena memiliki tantangan bagaimana melindungi wilayah hutan
yang tidak berstatus hukum.
Berdasarkan proyeksi citra lansat Badan Planologi menunjukkan, dalam
kurun waktu sembilan tahun, hutan Aceh mengalami pengurangan luas
sebesar 500 ribu hektare atau setara 13,84 persen dari total luas
3.611.953 hektare.
Pengurangan luas ini terjadi sejak tahun 1994 hingga 2003, sementara
Greenomics memperkirakan deforestasi dan degradasi di kawasan hutan
Aceh selama 2002-2004 mencapai 200 ribu Ha, 60 persen terjadi di
kawasan konservasi dan hutan lindung.
Penurunan luas kawasan hutan, sebagian besar disebabkan konversi
hutan untuk kebutuhan pemukiman, lahan pertanian, perkebunan, dan
industri. Penyebab lainnya adalah aktivitas illegal logging, dan
kebakaran hutan.
Karena kawasan hutan Aceh masih dinilai salah satu yang terbesar di
Indonesia maka diwacanakan perdagangan karbon terhadap hutan-hutan
tersebut untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Pada dasarnya, perdagangan karbon berupa kesepakatan negara pemilik
hutan dengan negara lain agar tetap menjaga hutannya sehingga
menjadi paru-paru dunia. |