|
Harian Waspada
Kamis, 17 Desember, 2009
BANDA ACEH: Sektor nonmigas terutama agrobisnis di Aceh mulai dicari
pasar potensial baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga pasar
dinilai bukan menjadi masalah bagi para petani
"Sekarang ini kita lihat setiap hari pemberitaan di media massa,
pasar yang mencari seperti Swiss dan Perancis mencari kebutuhan
coklat dan nilam," kata wakil gubernur Aceh, Muhammad Nazar, di
Banda Aceh, siang ini.
Hal tersebut sangat menggembirakan bagi petani di Aceh, sebab tidak
membutuhkan waktu lama masyarakat bangkit setelah konflik dan
tsunami mengolah kembali lahannya dan pasar yang menampung hasil
perkebunan itu tersedia.
Potensi yang besar itu, menurutnya, harus terus dibina dan didukung
dengan investor yang membangun industri yang layak dan tidak
mematikan pengusaha kecil.
Peningkatan ekonomi dalam rangka memberikan nilai tambah dan
merangsang petani memajukan pertaniannya didukung dengan kemampuan
teknis sehingga hasil produksi bisa dijual dengan harga lebih tinggi.
Dukungan pemerintah salah satunya dengan membangun pelabuhan dan
mempermudah sistem transportasi terutama memurahkan biaya angkutan
barang. Pelayanan yang cepat dan berkualitas juga menjadi sesuatu
yang penting, tambahnya.
"Jika biaya transportasi lebih murah ini akan lebih hemat, dana yang
dikeluarkan bisa lebih murah sekitar 80 persen," ujarnya.
Dikatakan, untuk perkembangan sektor ekonomi tersebut masyarakat
perlu disiapkan mulai dari siap memproduksi, menyiapkan lahan,
memberi nilai tambah produksinya hingga kesiapan menerima orang luar
untuk persaingan.
Disebutkan, investasi dari APBA dan donor untuk infrastruktur
sebesar Rp30 triliun pada 2009 sedangkan untuk dunia usaha secara
konkrit belum diketahui namun diperkirakan tumbuh secara signifikan.
"Dunia usaha terus meningkat terutama di sektor nonmigas seperti
sawit dan coklat dan angka ekspor Aceh terus naik. Beberapa industri
kecil dan menengah sudah mulai masuk ke Aceh," katanya. (dat01/ann) |