|
Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak
kami untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan
tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah
pusaka peninggalan nenek moyang, dengan ini menyatakan
diri kami dan negeri kami bebas dan merdeka dari
penguasaan dan penjajahan regime asing Jawa di
Jakarta.
Tanah air kami Acheh, Sumatera, telah menjadi satu
negara yang bebas, merdeka dan berdaulat selama dunia
terkembang, Belanda adalah penjajah asing yang pertama
datang mencoba menjajah kami ketika ia menyatakan
perang kepada negara Acheh yang merdeka dan berdaulat,
pada 26 Mart 1873, dan melakukan serangan atas kami
pada hari itu juga, dengan dibantu oleh
serdadu-serdadu sewaan Jawa, apa kesudahannya serangan
Belanda ini sudah tertulis pada halaman muka
surat-surat kabar di seluruh dunia, surat kabar London
"Times" menulis pada 22 April, 1873:
"Suatu kejadian yang sangat menarik hati sudah
diberitakan terjadi di kepulauan Hindia Timur, satu
kekuatan besar dari tentara bangsa Eropah sudah
dikalahkan dan dipukul mundur oleh tentara anak negeri...
tentara negara Acheh, bangsa Acheh sudah mendapat
kemenangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja
sudah kalah, tetapi dipaksa melarikan diri".
Surat kabar Amerika, "The New York Times" pada 6 Mei
1873, menulis: "Peperangan yang berkubang darah sudah
terjadi di Acheh, kerajaan yang memerintah Sumatra
Utara, tentara Belanda sudah menyerang negara itu dan
kini kita sudah mengetahui kesudahannya, serangan
Belanda telah dibalas dengan penyembelihan
besar-besaran atas Belanda, jenderal Belanda sudah
dibunuh, dan tentaranya melarikan diri dengan kacau
balau. Menurut kelihatan, sungguh-sungguh tentara
Belanda sudah dihancur leburkan.
Kejadian ini telah menarik perhatian seluruh dunia
kepada kerajaan Acheh yang merdeka dan berdaulat lagi
kuat itu. Presiden Amerika Serikat, Ulysses S. Grant
sengaja mengeluarkan satu pernyataan yang luar biasa
menyatakan negaranya mengambil sikap neutral yang adil,
yang tidak memihak kepada Belanda atau Acheh, dan ia
meminta agar negara-negara lain bersikap sama sebab ia
takut perang ini bisa meluas.
Para hari 25 Desember (hari natal), 1873, Belanda
menyerang Acheh lagi, untuk kali yang kedua, dengan
tentara yang lebih banyak lagi, yang terdiri dari
Belanda dan Jawa, dan dengan ini mulailah apa yang
dinamakan oleh majalah Amerika "Harper's magazine"
sebagai "perang seratus tahun abad ini". Satu perang
penjajahan yang paling berlumur darah, dan paling lama
dalam sejarah manusia, dimana setengah dari bangsa
kami sudah memberikan korban jiwa untuk mempertahankan
kemerdekaan kami. Perang kemerdekaan ini sudah
diteruskan sampai pecah perang dunia ke-II, delapan
orang nenek dari yang menandatangani pernyataan ini
sudah gugur sebagai syuhada dalam mempertahankan
kemerdekaan kami ini. Semuanya sebagai Wali Negara dan
Panglima Tertinggi yang silih berganti dari negara
islam Acheh Sumatra.
Tetapi sesudah Perang Dunia ke-II, ketika Hindia
Belanda katanya sudah dihapuskan, tanah air kami Acheh
Sumatra, tidaklah dikembalikan kepada kami, sebenarnya
Hindia Belanda belum pernah dihapuskan. Sebab sesuatu
kerajaan tidaklah dihapuskan kalau kesatuan wilayahnya
masih tetap dipelihara -sebagai halnya dengan Hindia
Belanda, hanya namanya saja yang ditukar dari "Hindia
Belanda" menjadi "Indonesia" Jawa, sekarang bangsa
Belanda telah digantikan oleh bangsa Jawa sebagai
penjajah, bangsa Jawa itu adalah satu bangsa asing dan
bangsa seberang lautan kepada kami bangsa
Acheh-Sumatera. Kami tidak mempunyai hubungan sejarah,
politik, budaya, ekonomi dan
geografi (bumi) dengan mereka itu. Kalau hasil dari
penaklukan dan penjajahan Belanda tetap dipelihara
bulat, kemudian dihadiahkan kepada bangsa Jawa,
sebagaimana yang terjadi, maka tidak boleh tidak akan
berdiri satu kerajaan penjajahan Jawa diatas tempat
penjajahan Belanda. tetapi penjajahan itu, baik
dilakukan oleh orang Belanda, Eropah yang berkulit
putihm atau oleh orang Jawa, Asia yang berkulit sawo
matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa Acheh,
Sumatera.
"Penyerahan kedaulatan" yang tidak sah, illegal, yang
telah dilakukan oleh penjajah lama, Belanda, kepada
penjajah baru, Jawa, adalah satu penipuan dan
kejahatan politik yang paling menyolok mata yang
pernah dilakukan dalam abad ini: sipenjajah Belanda
kabarnya konon sudah menyerahkan kedaulatan atas tanah
air kita Acheh, Sumatera, kepada satu "bangsa baru"
yang bernama "Indonesia". Tetapi "Indonesia" adalah
kebohongan, penipuan, dan propaganda, topeng untuk
menutup kolonialisme bangsa Jawa. Sejak mulai dunia
terkembang, tidak pernah ada orang, apalagi bangsa,
yang bernama demikian, di bagian dunia kita ini. Tidak
ada bangsa yang bernama demikian di kepulauan Melayu
ini menurut istilah ilmu bangsa (ethnology), ilmu
bahasa (philology), ilmu asal budaya (cultural
antropology), ilmu masyarakat (sociology) atau paham
ilmiah yang lain, "Indonesia" hanya merek baru, dalam
bahasa yang paling asing, yang tidak ada hubungan
apa-apa dengan bahasa kita, sejarah kita, kebudayaan
kita, atau kepentingan kita, "Indonesia" hanya merek
baru, nama pura-pura baru, yang dianggap boleh oleh
Belanda untuk menggantikan nama "Hindia Belanda" dalam
usaha mempersatukan administrasi tanah-tanah
rampasannya di dunia Melayu yang amat luas ini,
sipenjajah Jawapun tahu dapat menggunakan nama ini
untuk membenarkan mereka menjajah negeri orang di
seberang lautan. Jika penjajahan Belanda adalah salah,
maka penjajahan Jawa yang mutlak didasarkan atas
penjajahan Jawa itu tidaklah menjadi benar. Dasar yang
paling pokok dari hukum internasional mengatakan: "Ex
Injuria Jus Non Oritur"- Hak tidak dapat berasal dari
yang bukan hak, kebenaran tidak dapat berasal dari
kesalahan, perbuatan legal tidak dapat berasal dari
illegal.
Meskipun demikian, bangsa Jawa tetap mencoba
menyambung penjajahan Belanda atas kita walaupun
Belanda sendiri dan penjajah penjajah barat lainnya
sudah mundur, sebab seluruh dunia mengecam penjajahan.
Dalam masa tiga-puluh tahun belakangan ini kami bangsa
Acheh, Sumatera, sudah mempersaksikan betapa negeri
dan tanah air kami telah diperas habis-habisan oleh
sipenjajah Jawa; mereka sudah mencuri harta kekayaan
kami; mereka sudah merusakkan pencaharian kami; mereka
sudah mengacau pendidikan anak kami; mereka sudah
mengasingkan pemimpin-pemimpin kami; mereka sudah
mengikat bangsa kami dengan rantai kezaliman,
kekejaman, kemiskinan, dan tidak peduli: masa hidup
bangsa kami pukul rata 34 tahun dan makin sehari makin
kurang. Bandingkan ini dengan ukuran dunia yang 70
tahun dan makin sehari makin bertambah, sedangkan
Acheh, Sumatera, mengeluarkan hasil setiap tahun bagi
sipenjajah Indonesia-Jawa lebih 15 milyar dollar
Amerika yang semuanya dipergunakan untuk kemakmuran
pulau Jawa dan bangsa Jawa.
Kami, bangsa Acheh, Sumatera, tidaklah mempunyai
perkara apa-apa dengan bangsa Jawa kalau mereka tetap
tinggal di negeri mereka sendiri dan tidak datang
menjajah kami, dan berlagak sebagai "Tuan" dalam rumah
kami, mulai saat ini, kami mau menjadi tuan di rumah
kami sendiri; hanya demikian hidup ini ada artinya,
kami mau membuat hukum dan undang-undang kami sendiri;
yang sebagai mana kami pandang baik; menjadi penjamin
kebebasan dan kemerdekaan kami sendiri; yang mana kami
lebih dari sanggup; menjadi sederajat dengan semua
bangsa-bangsa di dunia; sebagaimana nenek moyang kami
selalu demikian, dengan pendek: Menjadi berdaulat atas
persada tanah air kampung kami sendiri.
Perjuangan kemerdekaan kami penuh keadilan, kami tidak
menghendaki tanah bangsa lain- bukan sebagai bangsa
Jawa datang merampas tanah kami, tanah kami telah
dikaruniai Allah dengan kekayaan dan kemakmuran, kami
berniat memberi bantuan untuk kesejahteraan manusia
sedunia, kami mengharapkan pengakuan dari anggota
masyarakat bangsa-bangsa yang baik, kami mengulurkan
persahabatan kepada semua bangsa dan negara dari
ke-empat penjuru bumi.
ATAS NAMA BANGSA ACHEH, SUMATERA, YANG BERDAULAT.
Tengku Hasan Muhammad Di Tiro
Ketua, Angkatan Acheh, Sumatera Merdeka dan Wali
Negara.
Acheh, Sumatera, 4 Desember 1976 |