|
Majalah Pantau
Senin, 1 Desember, 2003
Kebangsaan Indonesia dan kebangsaan Aceh dalam
peperangan di ujung Pulau Sumatra
ANDREAS HARSONO
PADA 1926, seorang wartawan yang tinggal di Batavia,
nama Jakarta di zaman kolonial Belanda, menulis
laporan perjalanannya dari Batavia ke Amsterdam nun
jauh di benua Eropah. Dia Adi Negoro. Dalam buku
Melawat ke Barat, ia bercerita tentang persinggahannya
di macam-macam kota, antara lain Singapura, Colombo,
Aden, Port Said, Marseille, Gibraltar, dan lain-lain.
Laporannya memikat karena Adi Negoro menggabungkan
cerita sehari-hari dengan acuan berbagai bacaan klasik,
dari antropologi hingga theologi, dari sejarah hingga
filsafat.
Salah satu tempat pemberhentiannya adalah pelabuhan
Sabang di Pulau Weh, di ujung Sumatra, ketika kapal
Tambora berhenti untuk mengisi bahan bakar batubara.
Adi Negoro berkeliling Sabang dan membandingkan Sabang
dengan Singapura milik Inggris yang baru saja
disinggahinya.
"Tapi kalau menilik kepada pelabuhan saja, Sabang
lebih bagus dari Singapura. Hanya perkara letaknya
saja kurang baik. Biarpun pemerintah Belanda
menjadikan Sabang satu pelabuhan bebas, tiadalah akan
seramai Singapura, sebab letaknya jauh dari pusat
perdagangan di Asia Timur."
Dia juga menulis sedikit sejarah Sabang. Menurut Adi
Negoro, Belanda menguasai Sabang sejak 1887. Sabang
Maatschappij, sebuah perusahaan swasta, diberi
wewenang untuk mengelola pelabuhan bebas tersebut,
sekaligus membangun dermaganya antara 1896 dan 1911.
Ia dilengkapi dengan dok perbaikan kapal seberat 2.600
ton. Ia juga punya empat derek raksasa untuk menaikkan
batubara ke kapal-kapal yang berhenti di Sabang, dari
Eropa, Cina, Jepang, Singapura, Batavia, dan
sebagainya. Pada 1924, perusahaan ini membangun dok
lagi, seberat 5.000 ton, untuk meningkatkan kapasitas
perbaikan kapal.
"Penduduk Sabang hidup terutama sekali karena
pelabuhan itu. Kampung Tionghoa dekat pelabuhan itu
penuh dengan toko-toko dan warung-warung makanan. Di
belakang tempat membongkar batubara adalah tangsi kuli.
Di tepi laut berdiri kantor-kantor maskapai kapal
Rotterdamsche Llyod dan Maatschappy Nederland,"
tulisnya.
Apa yang tak diungkap buku itu adalah Sabang sebagai
bagian dari Aceh –sebuah wilayah yang melawan
pendudukan Belanda antara 1876 dan 1904. Belanda
membangun Sabang bukan hanya karena minat dagang tapi
juga untuk menjinakkan orang Aceh. Entah mengapa Adi
Negoro tak menyentuhnya.
Juni lalu, saya naik speedboat selama satu jam dari
Banda Aceh menuju Sabang. Dermaga Sabang ternyata
cantik sekali dengan perahu-perahu nelayan. Di
pinggiran dermaga ada gudang-gudang beratapkan seng.
Depan pelabuhan ada masjid dengan kubah mengkilat,
menara warna putih hijau, juga rumah-rumah yang belum
sepenuhnya selesai dibangun. Saya ingin melihat apa
yang sekitar 80 tahun lalu jadi kekaguman Adi Negoro.
Di luar pelabuhan ada jalan kecil dan 300 meter lagi
ada kawasan "Kampung Tionghoa" di Jalan Perdagangan.
Di luar pelabuhan, seorang pengemudi becak mesin
mendekati saya dan menawarkan tumpangan.
"Ini pohon apa, Pak?" tanya saya.
"Pohon morai. Ada 300 tahun. Sudah tua," kata Liyan
Ramli, pengemudi becak itu. "Ada yang lebih besar lagi
di depan (kantor) walikota. Berderet tuh. Ada 300
tahun."
Sabang memang hijau. Nama Latin tumbuhan ini adalah
Pithecellobium dulce. Ia banyak ditemukan di Thailand,
Indonesia, Malaysia, Filipina, dan konon asalnya dari
Amerika Tengah. Dalam bahasa Inggris disebut
guayamochil atau Manila tamarind. Di Indonesia disebut
dengan beberapa nama: Asam Belanda, Asem Londo, asam
koranji.
Pada zaman Adi Negoro, Singapura lebih besar dari
Sabang, tapi perbedaannya kontras sekali hari ini.
Singapura kini salah satu pelabuhan laut tersibuk dan
termodern di dunia sedang Sabang, ironisnya, jadi
mengecil, bahkan makin kurang pelayanannya dibanding
1926. Singapura sekarang berpenduduk empat juta orang
sedang Sabang hanya 22.000.
Walikota Sabang Sofyan Haroen mengatakan pada saya
bahwa pada zaman Belanda, Sabang memiliki dermaga
dengan panjang total 2.700 meter. Sekarang hanya 572
meter. "Artinya kita mundur 100 tahun," kata Sofyan.
Ketua DPRD Sabang Husaini berujar, "Djubir Sahi, ketua
Badan Pengelola Kawasan Sabang, sering menunjukkan
foto Sabang zaman Belanda di mana pada Teluk Sabang
ini bisa menampung hingga 60 kapal. Sekarang berapa?
Pemerintah kurang memberi perhatian pada Sabang. Dulu
derek peti kemas yang pertama ada di Sabang –sebelum
ada di Singapura, Jakarta atau Surabaya."
Keluhan ini makin menjadi-jadi terutama karena
Presiden Soeharto membubarkan status pelabuhan bebas
Sabang pada 1985 dengan alasan banyak "penyelundupan"
--walau tuduhan ini dibantah warga Sabang termasuk
Sofyan Haroen dan Husaini. Presiden Abdurrahman Wahid
mengembalikan status bebas ini tiga tahun lalu.
Saya mengunjungi Sabang bukan hanya karena kecantikan
atau kekalahannya dari Singapura. Sabang memainkan
peran penting dalam pemikiran politik warga Indonesia.
Sabang terletak di ujung paling barat Republik
Indonesia dan nama "Sabang" sendiri disebut dalam lagu
nasional "Dari Sabang Sampai Merauke." Liriknya
mengatakan Indonesia terdiri dari pulau-pulau, dari
Sabang sampai Merauke, tapi merupakan satu kesatuan.
Semua anak sekolah tahu menyanyikan lagu ini.
Frase "Sabang-Merauke" ini juga sering disebut tiap
kali Jakarta menghadapi pemberontakan daerah, termasuk
Aceh dan Papua, yang benihnya bersemai puluhan tahun
lalu tapi memanas lagi sesudah jatuhnya Soeharto pada
Mei 1998. Pemberontakan Aceh jadi terlihat paling
serius sesudah Indonesia kehilangan Timor Timur dalam
referendum Perserikatan Bangsa-bangsa pada September
1999. Timor Timur sudah merdeka. Masakan Aceh
dibiarkan merdeka? Presiden Megawati Soekarnoputri,
yang menggantikan Wahid, akhirnya menyatakan darurat
militer untuk Aceh sejak 19 Mei lalu. Keputusan ini
tampaknya cukup populer mengingat meningkatnya rasa
kebangsaan di Indonesia.
Hari kedua di Sabang, saya menyewa sepeda motor dari
Losmen Sabang Merauke untuk mengunjungi sebuah monumen
di Ujong Batu, sekitar 30 km dari Sabang, yang disebut
Monumen Republik Indonesia Kilometer Nol. Monumen ini
simbol dari kesatuan wilayah Indonesia.
Ketika tahu tujuan saya, si pemilik motor kuatir dan
minta seorang kawannya menemani. Bagaimana pun Sabang
adalah wilayah konflik Aceh. Setiap hari ada berita
warga Aceh meninggal tertembak. "Apa ada GAM?" tanya
saya. Dia bilang tak ada tapi kita harus hati-hati.
Saya dengan sopan menolak tawarannya. Saya ingin punya
privacy. Saya ingin menikmati kesendirian saya.
GAM singkatan "Gerakan Aceh Merdeka" –sebuah jaringan
gerilyawan yang mengupayakan pemisahan Aceh dari
Jakarta. Kehadiran mereka sebenarnya tak begitu terasa
di Pulau Weh walau polisi bilang di pulau ini ada "20
GAM benaran" dengan empat pucuk senjata api.
Tapi ada rasa kuatir begitu saya keluar dari Sabang.
Saya melihat instalasi listrik dijaga polisi. Saya
juga berpapasan dengan satu truk tentara, bersenjata
lengkap, berseragam rimba, dan berjaket anti peluru.
Seram. Mukanya dicoreng-coreng. Makin jauh dari Sabang,
makin saya memasuki daerah pedesaan.
"Kilometer Nol mana Bu ya?" tanya saya pada dua orang
perempuan desa.
"Masih jauh. Ikuti saja jalan ini sampai ujung."
Saya teruskan dan daerahnya makin lama makin sepi.
Pantai Iboih. Hutan wisata. Pohon-pohon tinggi. Ada
pakis-pakisan, kuping gajah, bunga hutan warna merah,
dan daun-daun kering menutupi badan jalan. Sempat juga
bertemu serombongan monyet bermalas-malasan di pinggir
jalan hutan. Mereka kaget melihat saya. Sebaliknya
bulu kuduk saya merinding. Habis sepi sekali! Monyet
terbesar duduk mengangkang sehingga penisnya kelihatan.
Menjelang puncak, saya melewati pos militer. Dua
tentara dari Pasukan Khas Angkatan Udara menghentikan
saya dan sopan minta kartu identitas. Saya jelaskan
bahwa saya seorang wartawan dengan surat izin lengkap.
Semua dokumen beres. Kami pun mengobrol. "Apa tidak
bosan tiap hari hanya berdua di tempat terpencil
begini?"
"Waktu kita ya jaga saja. Ya gini-gini saja. Baca
koran," kata Prajurit Satu Wahyu Hanes. Rekannya,
Prajurit Satu Sutrisno, mengatakan mereka tiba dari
Malang, Jawa Timur, dan ditempatkan di Pulau Weh sejak
Desember 2002. Belum pernah ada kontak senjata. Mereka
bahkan jarang bertemu orang. Pengunjung hanya datang
pada hari libur. Seorang turis Jerman bahkan
mengunjungi mereka beberapa hari sebelumnya dengan
bersepeda.
"Waktu baca koran tentang orang Jerman yang tertembak,
saya pikir jangan-jangan dia," kata Sutrisno, mengacu
pada Luther Hendrick Albert Engel, seorang pengembara
Jerman, yang tertembak mati oleh sembilan tentara
Indonesia ketika berkemah di sebuah pantai di Aceh
bagian barat seminggu sebelumnya. Engel hendak tidur
di pantai bersama istrinya. Mereka dikira gerilyawan
dan langsung ditembak. Pemerintah Jerman maupun
Indonesia menyimpulkan peristiwa tersebut kecelakaan.
Empat kilometer kemudian tampak sebuah papan berbunyi,
"Anda memasuki kawasan KM Nol Negara Republik
Indonesia." Saya terpesona. Pemandangan cantik sekali.
Sejauh mata memandang hanya laut biru, ombak tenang,
tak ada pulau satu pun, dan di kejauhan terlibat
sebuah kapal kayu mungil. Suara angin laut
menderu-deru. Tempatnya sepi dan indah, terletak di
balik sebuah bukit, dalam sebuah kawasan hutan lindung
di ujung Pulau Weh. Ibaratnya, selembar surga
ditanamkan di muka bumi. Saya jatuh cinta dengannya.
Ada perasaan tenang, sendu, dan teduh.
Tempat ini modelnya melingkar dengan diameter sekitar
satu kilometer. Di tengah ada monumen berwarna putih.
Di puncaknya terdapat angka "0" (nol). Ada prasasti
marmer hitam yang menunjukkan posisi geografis tempat
ini: Lintang Utara 05 54' 21,99'' Bujur Timur 95 12'
59,02.''
Inilah kilometer pertama Republik Indonesia.
Saya duduk dan berpikir. Apa makna Indonesia di tempat
sesepi ini? Nasionalisme macam apa yang diinginkannya?
Apa makna simbol ini ketika begitu banyak warga
Indonesia, dari Aceh hingga Papua, dari petani hingga
gerilyawan, dari aktivis hingga pengusaha, melawan apa
yang mereka anggap sebagai ketidakadilan dari Jakarta?
Di Sabang, saya lihat banyak tempat diberi nama
keindonesiaan-indonesiaan. Ada "Stadion Sabang Merauke"
atau "Yayasan Sabang Merauke" yang mengelola "Taman
Kanak-kanak Malahayati" bahkan warung telekomunikasi "Sabang
Merauke" –pemberian nama yang seakan-akan
menggambarkan ada ikatan emosional antara semua warga
"Sabang" dan semua warga "Merauke" nun jauh di Papua,
ujung timur Indonesia.
Tapi jika hubungan itu ada, mengapa ada pemberontakan
besar di seluruh Aceh? Mengapa banyak orang Aceh,
setidaknya menginginkan "otonomi khusus" atau bahkan "kemerdekaan"
dari Jakarta? Mengapa banyak warga Sabang macam Liyan
Ramli, atau pedagang perabot rumah Nyik Siti Absyah,
atau penjual roti Su Sien Jin, merasa getir dengan
keputusan Jakarta mencabut status pelabuhan bebas
Sabang pada 1985?
Dalam buku klasiknya, Imagined Communities:
Reflections on the Origin and Spread of Nationalism,
ilmuwan politik Benedict Anderson mengatakan bahwa "negara-bangsa"
adalah sebuah pemahaman tentang komunitas maya. Sebuah
komunitas yang sebenarnya adalah sebuah tempat di mana
warganya tahu sebagian besar warga lain. Dalam "negara-bangsa,"
bahkan seumur hidup pun, seorang warga negara tak tahu
sejumlah besar warga lainnya.
Tapi justru itulah letak daya gaib nasionalisme. Liyan
Ramli mengatakan dia tak pernah membayangkan kota
Merauke. "Saya cuma pernah Jakarta, Jambi, Banda Aceh,
dan Sabang," katanya. Namun lewat media, termasuk lagu
"Dari Sabang Sampai Merauke," orang-orang macam Liyan
ini mendapatkan semacam perasaan saling memiliki. "Bangsa"
adalah sebuah proses, bukan sebuah produk. Proses
inilah yang tampaknya kurang kita perhatikan.
Kesibukan melakukan "pembangunan" dan mengatur
semuanya dari Jakarta, membuat proses ini terbengkalai,
sehingga nasionalisme lama yang ada bukannya membesar
tapi mengecil. Hujan pun turun rintik-rintik.
Entah kebetulan, dalam kesendirian di tempat terpencil
ini, saya berjalan-jalan sekitar monumen dan menemukan
bahwa sebuah patung Garuda Pancasila sudah terlempar
jatuh dari lambang tanduk angka "0." Tak ada lambang
keindonesiaan lagi di sana. Apa ini sebuah pertanda
gaib keruntuhan Republik Indonesia? Ketika turun ke
Sabang, saya juga sadar bahwa nama "Sabang-Merauke"
buat Liyan Ramli hanyalah berarti pangkalan becak
mesin depan Losmen Sabang Merauke. Hanya itu. "Bapak
bisa mencari saya di sana," kata Liyan. Praktis. Tidak
lebih tidak kurang. Daya gaib nasionalisme terkadang
bisa menyusup hingga jauh ke dalam ruang bawah sadar
manusia. Nasionalisme adalah sebuah proses menjadi "bangsa"
yang justru jadi gamang ketika merasa tujuannya sudah
tercapai.
KALAU Anda mau meliuk-liuk di jalanan lintas Aceh yang
mulus, Anda dengan mudah menghabiskan waktu hampir
tiga jam untuk menempuh jarak 160 km dari Banda Aceh
ke kampung Tiro di daerah Pidie. Kampung ini adalah
jantung perlawanan Gerakan Aceh Merdeka. Tempatnya
tenang, pemandangannya dipenuhi rumah-rumah kecil,
pagar bambu, pohon kelapa, tapi juga beberapa lubang
besar menganga di tengah jalan akibat ledakan bom.
Karung pasir dan tentara Indonesia terlihat
berjaga-jaga di banyak tempat.
Saya datang ke sana suatu pagi Juni lalu, bersama
seorang sopir dan Murizal Hamzah, seorang wartawan
Aceh yang bekerja sebagai fotografer Associated Press.
Murizal putra Aceh. Orangnya suka bicara. Dia praktis
memberi saya kuliah sepanjang perjalanan tentang
bagaimana caranya masuk ke daerah operasi militer:
Selalu lapor ke pos militer terdekat; Buka kaca mobil
lebar-lebar; Jangan pernah pakai mobil dengan kaca
gelap.
"Dan jangan pernah pakai Toyota Kijang tua. Kita bisa
dikira SGI," kata Murizal, mengacu pada sebuah unit
intelijen militer yang anggota-anggotanya biasa
bekerja dengan Toyota Kijang tua.
Ketika saya mulai mewawancarai orang di Sakti, sebuah
kota dekat Tiro, dia mengingatkan saya agar tak
menyapa warga setempat dengan "Mas." Kita sebaiknya
memanggil mereka "Bang" atau "Abang." Agak kaget tapi
saya menangkap maksudnya. Ada sentimen terhadap Jawa –sebuah
kelompok etnik yang dominan di Indonesia—di antara
para pendukung GAM. "Mas" dianggap sebagai lambang
kejawaan. Saya tentu saja tak setuju karena "Mas"
cukup lazim dipakai oleh etnik lain. Ternyata beberapa
penduduk desa memang menolak menjawab ketika saya
memakai kata tersebut atau menjawab dalam bahasa Aceh!
Kami langsung menuju dusun Tanjung Bungoeng di
Malichot untuk mengunjungi Aisyah Muhammad, saudara
tiri dan satu-satunya saudara Hasan di Tiro, pendiri
Gerakan Aceh Merdeka. Aisyah tinggal di sebuah rumah
besar bergaya tradisional Aceh. Halamannya luas. Ada
antena parabola menyembul dari atap rumah.
Tapi Aisyah tak ada di rumah. "Beliau sedang pergi.
Mungkin beliau akan menginap semalam," kata Muhammad
Abubakar, seorang petani, yang kelihatan tampil
sebagai tokoh di kampung itu. Abubakar menambahkan
bahwa Aisyah seorang janda dan membiarkan rumahnya
terbuka bagi warga desa. Ada belasan anak bermain
dalam rumah. Aisyah seorang guru mengaji, mengajarkan
Islam kepada anak muda dan bagaimana membaca Al Qur'an.
Ketika saya bertanya padanya tentang Hasan di Tiro,
Abubakar mengatakan bahwa Hasan memang lahir di
Malichot tapi belajar mengaji di Tiro. Hasan adalah
cucu Teuku Chik di Tiro—seorang pemimpin Aceh yang
dulunya berjuang melawan Belanda. Teuku Chik di Tiro
diakui sebagai "pahlawan nasional" Indonesia tapi
cucunya dianggap seorang "pengkhianat" Indonesia.
"Saya sekarang umur 55 tahun dan Wali (hampir) 80
tahun sekarang. Belum sekali pun saya bertemu
dengannya," kata Abubakar, mengacu pada Hasan di Tiro
yang disebut "Walinegara" di kalangan pejuang GAM.
Saya tak terlalu kaget melihat besarnya rasa hormat
warga Malichot terhadap Hasan di Tiro walau pemerintah
Indonesia sering mendiskreditkannya. Hasan lahir pada
1930 dan tumbuh sebagai di Tiro —keluarga berdarah
biru di Aceh. Hasan menulis bahwa tak kurang dari 10
orang kerabatnya —enam di antaranya bergelar Sultan—
gugur di medan perang melawan Belanda. Sultan terakhir
adalah pamannya, Tengku Tjhik Maat di Tiro, yang
berusia 16 tahun ketika ia memilih berperang dan mati
ketimbang bersepakat dengan Belanda.
Kisah kepahlawanan keluarga ini dimulai seabad
sebelumnya. Ironisnya, bukan dari Aceh tapi dari
London, ketika Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda
menandatangani Traktat London pada 1824. Perjanjian
itu antara lain membagi wilayah kolonialisme mereka:
Semenanjung Malaya untuk Inggris dan Pulau Sumatra
untuk Belanda. Namun masalah perdagangan di Sumatra
jadi bahan debat karena Inggris curiga Belanda punya
niat menghalangi kegiatan dagang Inggris di Sumatra.
Akhirnya, mereka sepakat mengakui kedaulatan
Kesultanan Aceh.
Waktu itu Aceh menguasai sebagian besar pasaran
rempah-rempah. Belanda belakangan khawatir dengan
upaya diplomasi Kesultanan Aceh dengan negara-negara
Barat lain. Sebuah perjanjian baru Inggris-Belanda
ditandatangani pada 1871 yang memberi Belanda
kekuasaan lebih banyak atas Sumatra, termasuk Aceh.
Dua tahun kemudian, adanya pembicaraan antara konsul
Amerika Serikat di Singapura dan diplomat-diplomat
Aceh memberi alasan bagi Belanda untuk menyerang Aceh.
Kapal-kapal perang Belanda mengebom ibukota kesultanan,
Banda Aceh, dan pasukan Belanda menduduki tanah itu.
Istana dirampas dan Sultan gugur. Belanda membuat
perjanjian dengan sultan baru, yang mau mengakui
kedaulatan Belanda atas wilayah tersebut. Namun ia tak
bisa meredakan kegusaran rakyatnya dan Belanda pun
mulai terlibat dalam perang gerilya di seluruh negeri.
Perang ini menguras uang dan menimbulkan protes di
negeri Belanda.
Pemerintah Belanda sadar bahwa ketidaktahuan mereka
terhadap Aceh menimbulkan masalah serius bagi mereka
sendiri. C. Snouck Hurgronje, seorang profesor kajian
Islam di Universitas Leyden, lalu diundang khusus
untuk memberikan masukan bagi pemerintah Belanda.
Hurgronje bikin penelitian dan belakangan menerbitkan
sebuah buku tentang Aceh pada 1894. Sebuah "strategi
benteng," yang dibuat untuk memperlemah para
gerilyawan, kemudian dipakai di Aceh.
Di bawah kepemimpinan J.B. van Heutsz, yang jadi
gubernur militer Aceh sejak 1899, strategi ini membuat
posisi kesultanan melemah. Tuanku Muhamat Dawot
menyerahkan Aceh ke pemerintah Belanda pada Januari
1903. Van Heutsz menaklukkan seluruh wilayah Aceh pada
1904.
Namun, perang gerilya dalam skala kecil masih sering
terjadi. Hasballah Saad, seorang tokoh Aceh yang
pernah jadi menteri pada kabinet Presiden Abdurrahman
Wahid, berujar pada saya bahwa pada 1930-an masih
sering terjadi pertempuran di Aceh. "Saya seumur hidup
hampir tidak pernah melihat ada masa damai di Aceh,"
kata Hasballah.
Setelah Perang Dunia II, Belanda menyerah dan
mengembalikan wilayah jajahan kepada Republik
Indonesia, negara baru yang berpusat di Pulau Jawa.
Kaum nasionalis Aceh mengatakan tindakan tersebut
ilegal: Belanda tak punya hak menyerahkan wilayah yang
bukan milik mereka. Tapi Daud Beureueh, salah seorang
tokoh ulama Aceh, memutuskan untuk mendukung republik
baru ini. Ia menggerakkan warga Aceh untuk
menyumbangkan uang dan perhiasan mereka untuk membeli
dua pesawat terbang pertama Indonesia. Sebagai
gantinya Presiden Soekarno menjanjikan akan memberikan
status otonomi kepada Aceh. Soekarno tak menepati
janjinya. Pada 1953, Beureueh mengambil langkah
melawan Jakarta dan berlanjut sampai 1961 ketika Aceh
diberi otonomi khusus dan Beureueh menghentikan
perlawanannya. Beureueh meninggal pada 1987.
Hasan tak mengalami pergolakan tersebut. Pada 1951,
sebagai seorang anak muda, ia meninggalkan Aceh dan
pergi ke New York. Ia konon membantu membeli senjata
untuk Beureueh. Setelah lulus dari Columbia
University, ia berbisnis dengan mewakili
perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang terlibat
perdagangan minyak, ternak, dan perkapalan.
Pada 1974, Hasan meninggalkan istrinya, seorang
Amerika, dan anak mereka di New York, serta kembali ke
tanah kelahirannya. Ia menemui Gubernur Aceh Muzakkir
Walad di Banda Aceh dan menawarkan kemungkinan ia
terlibat dalam pengelolaan hutan atau kontrak dengan
Exxon Mobil, perusahaan Amerika yang mengelola lahan
gas alam di Aceh—salah satu yang terbesar di dunia.
Hasballah Saad hadir pada pertemuan itu. "Muzakkir
mengatakan ia tak bisa berbuat apa-apa karena
keputusan dibuat dari Jakarta," kata Hasballah.
Sejak masuk ke panggung kekuasaan pada 1965, Presiden
Soeharto memang menjalankan Indonesia dengan
sentralistis. Semua hal diputuskan dari Jakarta. Ia
merekrut para ekonom lulusan Amerika yang menerapkan
sistem ekonomi bebas tapi terencana. Soeharto juga
menguasai militer untuk melakukan represi terhadap
apapun yang dianggapnya mengganggu "stabilitas
nasional." Rezim Orde Baru mengontrol hampir semua
sudut kepulauan Indonesia. Ada lelucon yang mengatakan
bahwa hampir semuanya menunggu persetujuan Jakarta
bahkan untuk membeli selembar buku tulis!
Hasan di Tiro berpikir bahwa tak ada gunanya berunding
dengan Jakarta. Ia menemui orang-orang yang seide
dengannya. Mereka mulai membangun organisasi
pemberontakan dan masuk ke hutan. Hasan juga
memperkenalkan konsep "bangsa Aceh" sebagai lawan dari
"bangsa Indonesia." Ia memandang orang Jawa sebagai
mus uh historis orang Aceh. Untuk telinga orang
Indonesia, mungkin janggal mendengar frase "bangsa
Aceh" karena konsep Indonesia sebagai sebuah bangsa,
bukannya Aceh, sudah dianggap sesuatu yang final
setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17
Agustus 1945. Hasan di Tiro tidak sepakat dan
mendeklarasikan kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976.
Dalam buku hariannya, The Price of Freedom, yang
ditulis selama masa dua tahun yang ia habiskan di
hutan-hutan Aceh, Hasan di Tiro mengingat
pengalamannya tinggal di antara kera, lari dari
kejaran "tentara Jawa," menghindari ular, dan
laba-laba sembari memutar lagu-lagu kesukaannya:
Johann Sebastian Bach dan Antonio Vivaldi.
Ketika tentara menyerang kampnya, kakinya terserempet
peluru. Ketika kiriman makanan tertahan, ia melewatkan
beberapa hari hidup di hutan tanpa makan. Tapi
sebagian besar waktunya adalah untuk memimpin revolusi
dari dalam hutan dan menyiapkan materi propaganda
nasionalisme Aceh melalui tulisan-tulisannya. "Kita
tidak dilahirkan untuk menjadi budak siapa pun,"
tulisnya. "Kita hidup sebagai manusia bebas atau lebih
baik mati."
Pada 1979, Hasan sudah berhasil membentuk sebuah
organisasi kebangsaan, mendirikan pemerintahan
bayangan, dan menunjuk pejabat-pejabat di cukup banyak
daerah Aceh. Namun tak mudah baginya untuk mendapat
senjata. Pemberontakannya juga tak mendapat dukungan
internasional.
Hasan lalu pindah ke Swedia, negara yang menawarkan
suaka bagi sekelompok kecil pengungsi Aceh, dan
menjadi warga Swedia pada 1985. Ia memutuskan mencari
bantuan dari Libya untuk melatih gerilyawannya. Namun
tindakan itu tetap tak membuat gerakannya didukung
negara-negara lain. Pada 1989, keberhasilan alumni
Libya membuat Soeharto memerintahkan operasi militer.
Operasi ini baru berhenti ketika Soeharto tumbang dari
kekuasaan pada Mei 1998 dan lebih dari 10.000 orang
Aceh terbunuh.
Operasi ini meliputi pengintaian, kegiatan mata-mata,
pos pemeriksaan, jam malam, penggeledahan rumah, dan
penangkapan secara besar-besaran. Antara 1989 dan
1990, beberapa organisasi hak asasi manusia sudah
melaporkan penahanan banyak warga sipil, penyiksaan,
penangkapan, dan pembunuhan.
Rumah-rumah Aceh banyak digeledah, dibakar, dan wanita
dijadikan sandera atau dilecehkan secara seksual. Pada
pertengahan 1990-an, tindakan tentara Indonesia makin
menjadi-jadi. Disiplin rendah, biaya kurang, serta
kebijakan yang kabur membuat pelanggaran hak asasi
manusia makin meningkat. Akibatnya, banyak terjadi
pengungsian di Aceh, baik secara internal maupun
mereka yang melarikan diri ke Malaysia.
Setelah Soeharto jatuh, banyak warga Aceh berharap
Indonesia bakal kocar-kacir dan provinsi mereka
memperoleh kemerdekaan, namun Jakarta bersikeras bahwa
Republik Indonesia ini tak boleh pecah apalagi setelah
Indonesia kehilangan Timor Timur. Dukungan kepada para
gerilyawan Aceh terutama terasa di daerah pedesaan, di
mana ada keluarga-keluarga yang sudah terlibat dengan
gerakan perlawanan dari generasi ke generasi. "Kami
merindukan Wali. Kami ingin melihat Wali kembali ke
tanah airnya," kata Muhammad Abubakar.
Ibrahim Alfian, seorang ilmuwan Aceh dan dosen
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan Aceh
adalah bagian sah dari Indonesia. Dia pernah terlibat
dalam debat dengan tokoh-tokoh GAM di Washington DC
pada 1999. "Saya tegaskan, berdasar Maklumat Ulama
Seluruh Aceh tertanggal 15 Oktober 1945, wilayah Aceh
sejak itu telah dinyatakan menyatu ke dalam negara
kesatuan Republik Indonesia. Kalau sekarang ini ada
yang ingin merdeka dan mencoba memisahkan diri,
seperti yang dia lakukan, mereka jelas tidak tahu
sejarah. Menurut masyarakat Aceh, mereka yang
mengabaikan seruan para ulama diberi istilah
pengkhianat, tidak bisa lain," katanya kepada harian
Kompas.
Ibrahim juga mempertanyakan integritas Hasan di Tiro.
"Bagaimana mungkin orang Aceh percaya kepada the so
called Walinegara kepada Hasan Tiro yang telah menikah
dengan perempuan asing? Yang benar saja, masa Ratu
Aceh orang asing dan pewaris takhtanya keturunan asing?"
Beberapa kilometer dari Malichot, saya mengunjungi
sebuah pos militer Indonesia di kecamatan Tiro, di
mana lima dasawarsa sebelumnya, Hasan di Tiro setiap
sore kemungkinan besar melewati jalan itu untuk
belajar mengaji. Karung pasir menutupi hampir seluruh
pos tersebut yang dibangun di atas reruntuhan sebuah
bangunan.
Komandannya, Letnan Dua Eka Andang, duduk dengan
belasan anak buahnya. Sebagian memakai seragam loreng,
lainnya hanya dengan kaos warna hitam. Sembari
bercanda dan bercakap-cakap dengan saya, jejari mereka
tetap menempel di pelatuk senapan atau pistol.
Selemparan batu dari pos penjagaan ini terdapat sebuah
kedai kopi di mana warga desa bicara dengan suara
berbisik dan menghirup kopi. Dekat pos terdapat sebuah
sekolah –satu-satunya yang tak dibakar dalam
serangkaian pembakaran sekolah setelah Megawati
mendeklarasikan darurat militer 19 Mei lalu.
Eka mengatakan mereka tiba dari barak mereka di Bogor,
Jawa Barat, dan menjaga pos ini pada 8 Mei. Seminggu
kemudian mereka diserang. "Itu terjadi setelah shalat
magrib. Mereka menyerang kami dari tiga arah yang
berbeda." Pertempuran terjadi dari pukul 9 malam
hingga pukul 11.30. Para penyerang menggunakan grenade
launching machine dan melemparkan 20 granat ke pos.
Hanya tiga granat yang meledak. Beruntung tak ada yang
terbunuh.
"Kami hitung. Kami tidak takut. Tapi kami tidak bisa
hanya dor dor dor …," kata Eka. Rekan-rekannya setuju.
"Satu granat meledak dekat gerbang ini," ujar Sersan
Dua Asep Setiaman, "yang satunya di sungai dan yang
lainnya di gedung sekolah." Asep menambahkan bahwa
serangan itu dipimpin oleh tokoh GAM yang dikenal
sebagai "Achmad Provost."
"Ia ketinggalan handy talkie Kenwood-nya. Saya khan
biasa bicara dengan mereka lewat radio. Saya maki-maki
untuk bikin mereka bicara," kata Asep.
Eka mengatakan hambatan terbesarnya adalah membujuk
warga setempat cerita siapa para gerilyawan itu. "Kadang-kadang
mereka juga diancam GAM. Kami berusaha untuk akrab
dulu. Ini butuh waktu. Benar ini butuh waktu. Menurut
saya, perang ini seharusnya tidak terjadi. Kita ini
khan saudara. Coba lihat (warna) kulit kita."
Setelah mengobrol dengan para tentara itu, Murizal
Hamzah dan saya pergi ke kedai kopi tempat dimana
sopir kami menunggu. Keheningan merebak ketika kami
masuk kedai. Semua orang memperhatikan kami. Murizal
memecahkan kebekuan dengan bercakap dalam bahasa Aceh.
Murizal menerangkan kami wartawan dan ingin minta
pendapat mereka.
Beberapa warga mengatakan mereka trauma dengan suara
tembakan. "Ini sudah terjadi bertahun-tahun. Dulu kita
bisa pergi ke mana pun kita mau," kata seorang petani,
Muhammad Husin, sambil menambahkan bahwa suatu malam
ia harus memeluk anak bungsunya ketika para gerilyawan
menyerang pos yang dijaga Eka. "Anak saya menangis
keras. Kami ketakutan."
Sapari, petani lain yang juga duduk di sana,
mengatakan mereka sekarang tak berani pergi ke sawah.
"Tak ada orang yang melarang kami pergi ke sawah.
Hanya menakutkan," katanya.
Beberapa anak muda bergabung dengan kami dan Murizal
memberi isyarat kepada saya. Belakangan di dalam mobil,
Murizal mengatakan beberapa dari mereka yang ada di
kedai kopi itu kemungkinan anggota GAM.
Ketika kami meninggalkan Tiro, dengan hati masih
berdebar dan dengan jendela kaca yang masih harus
terbuka, saya menyadari bahwa perang ini, antara
Jakarta dan Aceh, akan jadi perang gerilya yang
berkepanjangan –perang yang sama yang dihadapi J.B.
van Heutsz seabad lalu.
Ini adalah perang tanpa medan pertempuran. Semuanya
terlihat begitu tenang dan kehidupan berjalan begitu
wajar. Tapi setiap desa, setiap sekolah, setiap kedai,
dengan cepat dapat berubah menjadi medan tempur.
PADA suatu pagi yang cerah akhir Juni lalu, saya
berkunjung ke kampus Universitas Syiah Kuala di
Darussalam, pinggiran Banda Aceh, mengunjungi Hakim
Nyak Pha, direktur Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan
Budaya Universitas Syiah Kuala yang didirikan awal
1970-an dengan dukungan Ford Foundation. Hakim orang
terpelajar. Dia menyelesaikan pendidikan hukum di
Prancis dan memperoleh gelar Ph.D dari l' Ecole des
Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) di
Sorbonne, Prancis, pada 1985. Ia pernah diundang
bersama lima cendekiawan Aceh lainnya oleh Henri
Dunant Center untuk bertemu dengan Hasan di Tiro di
Geneva. Mereka mendorong para pemberontak dan
pemerintah Indonesia untuk berunding. Kantor Hakim
berada di sebuah gedung dua lantai. Perawakannya gemuk
pendek. Sebagian kepalanya sudah tak ditumbuhi rambut
lagi. Ia lelaki riang dan suka bercanda, tapi sebagai
peneliti ilmu sosial, ia memberikan kesan sebagai
seseorang yang berdedikasi.
Tapi hati saya jadi kecut melihat gedung ini. Sebagian
catnya sudah terkelupas. Saluran air di lantai dua tak
bekerja. Retak dan lubang terlihat jelas di dinding.
Di lantai dua, ada sebuah perpustakaan kecil yang
dilengkapi dengan hasil penelitian dengan berbagai
teks klasik tentang Aceh seperti buku Snouck Hurgronje
The Achenese (terbitan 1906 Leyden) atau buku Henri
Carel Zentgraaf Aceh (1938). Tapi hampir tak ada
koleksi baru. Rak-rak buku pun juga tua dan sudah tak
sanggup lagi menyimpan berbagai dokumen dan kertas
yang ada.
"Kekurangan dana," kata Hakim getir. Dia mengatakan
sumber dana pusat pelatihan ilmu sosial ini mulanya
dari Ford Foundation tapi sekarang semuanya dari
Universitas Syiah Kuala yang kemampuan dana dan
manajemennya terbatas. "Kami tak sanggup lagi
mengundang ahli dari luar. Kami bekerja dengan apa
yang mungkin saja, dengan apa yang kami punya." Dana
rutin mereka setahun kini hanya Rp 80 juta.
Jika tak punya uang kenapa tak ditutup saja? Hakim
mengatakan tempat itu masih dibutuhkan untuk melatih
dosen muda dari berbagai perguruan tinggi atau
birokrasi pemerintahan di Aceh. Mereka berusaha
berlatih walau hasilnya "tidak sempurna."
Ide mendirikan lembaga ini berawal ketika John J.
Bresnan, wakil Ford Foundation di Jakarta pada awal
1970-an, menyimpulkan bahwa Indonesia membutuhkan
lebih banyak ilmuwan sosial. Ini ada latar belakangnya.
Ford Foundation sejak 1950-an membantu melatih para
ekonom Indonesia belajar ilmu ekonomi di Amerika
Serikat. Mereka belakangan punya pengaruh besar dalam
mengatur kebijakan ekonomi Indonesia. Para kritikus
menyebut mereka "Mafia Berkeley"—merujuk pada fakta
bahwa banyak dari mereka, termasuk Widjojo Nitisastro,
orang yang mengepalai Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional, belajar di University of California di
Berkeley.
Pada awal 1970-an, kritisi menilai faktor ekonomi tak
cukup untuk pembangunan nasional di Indonesia. Faktor
"non ekonomi" harus diperhatikan dan lahirlah ide
perlunya lembaga pelatihan ilmu-ilmu sosial.
Pada 1971, ketika mengunjungi Chicago, Bresnan bertemu
dengan antropolog Clifford Geertz dari Princeton
University. Bresnan minta Geertz membuat proposal
tentang bagaimana mengembangkan ilmu sosial di
Indonesia. Geertz saat itu baru saja selesai menulis
bukunya The Religion of Java. Geertz setuju datang ke
Indonesia untuk melakukan penelitian. Geertz hanya
minta biaya perjalanannya ditanggung. "Geertz saya
minta karena saya menganggapnya ilmuwan sosial terbaik
dari semua kenalan yang saya punya. Ia menghabiskan
waktu selama dua bulan di Indonesia dan kemudian pada
bulan Agustus ia menulis di daerah pengunungan New
England," kata Bresnan kepada saya.
Geertz menyerahkan proposal 30 halaman. Dia
menggambarkan kurangnya dana dan pelatihan di bidang
ilmu sosial di Indonesia. Ia menyarankan Ford
Foundation mendirikan sebuah pusat penelitian untuk
ilmuwan sosial di Indonesia. Geertz menyarankan
lembaga pertama didirikan di luar Jawa. Geertz juga
menyarankan proyek tersebut dipimpin oleh dua orang:
satu dosen internasional dan lainnya ilmuwan sosial
Indonesia.
Proposal itu didiskusikan di kalangan ilmuwan sosial,
Indonesia maupun internasional. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan mendukung saran Geertz dan sebuah
yayasan dibentuk untuk proyek ini. Tiga univesitas
lokal melamar jadi tuan rumah: Syiah Kuala di Aceh,
Padang di Sumatra Barat, dan Makassar di Sulawesi
Selatan. Madjid Ibrahim, saat itu rektor Univeritas
Syiah Kuala, berjanji akan menyediakan asrama dan
gedung kantor jika proyek tersebut diberikan padanya.
Gubernur Aceh Muzakkir Walad juga menunjukkan
dukungannya pada proyek ini.
"Pada waktu itu Aceh lagi bagus-bagusnya. Syiah Kuala
sangat berpengaruh di Aceh. Gubernur dan beberapa
bupati direkrut dari dosen," ujar Taufik Abdullah,
ketua Yayasan Ilmu-ilmu Sosial di Jakarta, yang
membantu Ford Foundation menjalankan program ini. Aceh
singkatnya terpilih menjadi pelaksana program ini.
Pada 1974, pusat penelitian ini dimulai di Universitas
Syiah Kuala. Koordinator pertama adalah Dr. Alfian,
sejarahwan Indonesia yang belajar di Belanda, dan
Stuart Schlegel, antropolog budaya Amerika yang
menguasai grounded theory serta menaruh perhatian pada
Filipina dan Indonesia.
Duabelas peserta pertama direkrut dari seluruh
Indonesia. Mereka datang dari berbagai tempat, seperti
Makassar dan Surabaya, untuk tinggal selama 10 bulan
di Aceh. Mereka diberikan pengetahuan dasar teori dan
sesudahnya dikirim untuk melakukan penelitian sosial
di seluruh Aceh.
Program ini berkembang jadi prestisius. Ford
Foundation membiayai program serupa di Makassar,
Surabaya, dan Jakarta. Tapi Universitas Syiah Kuala
tetap dianggap sebagai tempat terbaik pembelajaran
ilmu-ilmu sosial. Banyak dari aluminya kini jadi
ilmuwan sosial di lembaga penelitian yang mereka
tangani. Taufik Abdullah memperkirakan program ini
menghasilkan lebih dari 400 lulusan.
Para direkturnya juga menjadi orang terkemuka seperti
Ibrahim Alfian (Universitas Gadjah Mada), Syamsuddin
Mahmud, Ali Basyah Amin, dan Dayan Dawod (ketiganya
pernah jadi rektor Syiah Kuala, Syamsuddin bahkan jadi
gubernur Aceh), Lance Castle (co-editor buku Indonesia
Political Thinking 1945-1965 dengan akademikus
Australia Herbert Feith), Bill Liddle (profesor Ohio
State University and dikenal luas sebagai ilmuwan yang
berpengaruh dalam melatih ilmuwan sosial Indonesia).
Geertz dan Bresnan belakangan juga menerima Bintang
Jasa Pratama dari pemerintah Indonesia. Bintang ini
adalah penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah
Indonesia kepada orang asing yang dinilai berjasa
terhadap Republik Indonesia. Hanya tiga orang Amerika
yang pernah menerima Bintang Jasa Pratama. Geertz,
Bresnan, dan almarhum George McTurnan Kahin dari
Cornell University, seorang penentang Perang Vietnam,
yang menulis buku soal nasionalisme di Indonesia.
Hakim Nyak Pha jadi peserta program ini pada 1978. Ia
ditunjuk mengelola pusat penelitian ini sejak 1998
ketika keadaannya sudah memburuk. Ford Foundation tak
memberi bantuan sejak akhir 1980-an. Pada 1998
Indonesia juga memasuki perubahan besar dengan
kejatuhan Presiden Soeharto. Aceh makin terjerumus
dalam kebingungan plus makin maraknya kegiatan
gerilyawan GAM dalam menguasai pedesaan Aceh. Aktivis
mahasiswa jadi makin radikal. Mereka minta
Perserikatan Bangsa-bangsa mengadakan referendum di
Aceh.
Saya sedih melihat melorotnya mutu pusat penelitian
ini. Hakim mengatakan pendidikan takkan bisa
berkembang dalam situasi peperangan macam Aceh. Saya
kira secara proporsional, ia juga mencerminkan
merosotnya sistem pendidikan di Aceh.
"Sistem pendidikan di Aceh itu menurun pada semua
tingkatan. Sekolah masih ada di Banda Aceh dan
Lhokseumawe tapi murid dan para gurunya mengalami
gangguan psikologis. Di daerah macam Banda Aceh, Aceh
Timur, Bireuen, inftrastruktur sekolah hampir hancur
total dan guru-guru melarikan diri," kata Abdi A.
Wahid, rektor Universitas Syiah Kuala.
Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sejak
diberlakukannya darurat militer pada 19 Mei hingga 10
Juni, ada 504 sekolah dibakar di Aceh, 259 di
antaranya terdapat di Pidie dan 138 di Bireuen. Guru
sekolah sering diganggu. Banyak guru non-Aceh
meninggalkan sekolah karena tak tahan dengan gangguan
dari GAM. Gerilyawan GAM memandang kurikulum Indonesia
sebagai "propaganda Jawa."
Pendidikan tentu saja adalah isu politik, bukan saja
di Aceh, tapi di berbagai tempat di Indonesia. Di
gedung Parlemen misalnya, baru-baru ini ada pertikaian
yang dahsyat tentang pendidikan agama di
sekolah-sekolah. Politisi Islamis ingin
sekolah-sekolah Katholik dan Kristen Protestan
menyediakan guru agama Islam. Guru sekolah dan
politisi nasionalis keberatan karena tidak praktis dan
mahal. Sejumlah orang Aceh nasionalis juga melawan
Jakarta dengan mengganggu proses belajar mengajar.
Sersan Dua Asep Setiaman, tentara asal Sunda yang
ditempatkan di daerah Tiro, mengatakan pada saya bahwa
peletonnya pernah suatu saat "diundang" datang ke
sebuah sekolah di mana orang-orang GAM bersiap
membakar gedung sekolah. Mereka menantang Asep
Setiaman.
"Kami tidak mau mati. Mereka ada sekitar 500 sedang di
sini cuma ada belasan. Sekolah itu akhirnya dibakar.
Ibu-ibu guru datang kesini dan minta bantuan tapi kami
khan tidak bisa berbuat apa-apa," kata Asep.
Zaini Abdullah, menteri luar negeri GAM, dari
markasnya di Stockholm, Swedia, membantah
orang-orangnya membakar sekolah. Dia mengatakan pada
saya, "Apapun yang terjadi, mereka selalu salahkan GAM.
Militer Indonesia hendak menciptakan kesan bahwa
mereka jujur membantu warga sipil. Sebenarnya
merekalah yang membakar sekolah-sekolah itu."
Keadaan ekonomi yang memburuk juga membebani orang tua
untuk tetap membiayai anak mereka ke sekolah. Abdi
Wahab mengatakan di Universitas Syiah Kuala, tingkat
mahasiswa drop out meningkat dari satu persen jadi
tiga persen dalam dua tahun terakhir. Syiah Kuala
punya 19.000 mahasiswa atau rata-rata 500 mahasiswa
mengundurkan diri tiap semester. Abdi berusaha menekan
biaya kuliah serendah mungkin. Kantornya sendiri cukup
spartan. Mati listrik, sesuatu yang lazim di Aceh,
juga mengganggu kinerja sekolah. Abdi berkeringat
deras ketika bertemu saya. Pendingin ruangannya mati.
Mahasiswa sering mengeluh karena kesulitan fotokopi.
Para pendidik yang mencoba bersikap independen, baik
dari GAM maupun militer Indonesia, seringkali
menemukan diri mereka dalam kesulitan. Hakim Nyak Pha
mengatakan bahwa ia sering merasa ketakutan. Dia
jarang keluar malam dan mengunci rapat-rapat pintu
pagarnya saat magrib.
Dayan Dawood, pendahulu Abdi Wahab sebagai rektor,
bernasib jelek. Dayan ditembak mati pada September
2001 oleh seorang penembak gelap dari sebuah sepeda
motor dekat pusat kota Banda Aceh. Dayan naik mobil
bersama sopirnya ketika dua orang yang naik sepeda
motor berboncengan mendekati dan menembaknya.
Pada 16 September 2000, Safwan Idris, rektor IAIN
Ar-Raniry, juga ditembak mati di rumahnya oleh orang
yang menaiki sepeda motor. Si pembunuh datang ke rumah
Safwan seakan-akan untuk bertamu. Mereka dipersilahkan
masuk dan ketika Safwan muncul ditembak mati.
Kedua pembunuhan itu hingga hari ini tak diketahui
siapa pelakunya. Baik GAM maupun militer Indonesia
menuduh satu sama lain sebagai pelakunya. Sidney Jones
dari Human Rights Watch/Asia, organisasi hak asasi
manusia dari New York, mengatakan, "Pembunuhan itu
bukan saja berarti hilangnya cendekiawan yang
terhormat namun ia juga menghantam kebebasan
berpendapat di Aceh. Orang sudah ketakutan untuk
bicara tentang isu yang bisa ditanggapi secara tak
bersahabat oleh GAM maupun militer Indonesia;
pembunuhan ini membuat mereka makin ketakutan."
Januari lalu saya bertemu John Bresnan di Jakarta
ketika ia menerima Bintang Jasa Pratama dari Presiden
Megawati. Saya minta komentarnya tentang keadaan pusat
pelatihan di Universitas Syiah Kuala. Bresnan
kelihatan sudah berdamai dengan kekurangannya sendiri.
Dia bilang bahwa Clifford Geertz sendiri "sangat
curiga pada apa-apa yang berlangsung terlalu lama."
"Ada orang Ford Foundation yang sering bicara soal
institution building. Saya selalu curiga dengan
institution building. Well, karena dalam rangka
membangun institusi, seringkali kita harus melakukan
investasi pada orang-orang kelas tiga yang tertarik ke
institusi tersebut atau diajak oleh para pemimpinnya.
Padahal kalau kita memperhatikan individu, dan mencari
mereka yang paling cerdas, di mana pun mereka berada,
kelak mereka sendiri yang akan membangun institusi."
"Mereka akan membangun sesuatu dalam karir mereka. Dan
tidak setiap institusi punya peranan di masa depan.
Banyak dari mereka harus hilang, terutama dalam
masyarakat yang berubah dengan cepat," kata Bresnan,
seraya menambahkan bahwa pusat penelitian macam itu
sangat mahal dan Ford Foundation mengalami pengetatan
dana.
Dia sendiri sibuk di tempat lain. Dari Jakarta, dia
naik pangkat jadi kepala Ford Foundation untuk urusan
Asia dan Pasifik dari kantor mereka di New York. Dia
tak ingin penggantinya di Jakarta merasa bahwa dia
sering mengawasi kerja mereka. "Saya kira pusat
penelitian itu berjalan beberapa tahun lebih lama dari
perkiraan karena mendapat dana dari lembaga donor
lain."
Tapi uang dan keamanan bukan satu-satunya persoalan.
Abdi Wahad mengatakan bahwa kemunduran itu bisa juga
dihubungkan dengan kenyataan bahwa Hakim Nyak Pha
sibuk dengan pekerjaan sampingan. Hakim juga mendapat
posisi penting ketika ia ditunjuk sebagai hakim
Mahkamah Agung di Jakarta Maret lalu.
Hakim tertawa ketika saya minta komentar. "Negeri ini
sangat tidak menghormati intelektualnya. Berapa gaji
orang macam saya? Apa cukup kalau saya tidak mempunyai
pekerjaan lain?" tanyanya.
Sedih memang mengetahui bahwa Aceh bukan saja
kehilangan sekolah tapi juga putra-putra terbaiknya.
Bagaimana orang Aceh bisa membangun tanpa sekolah dan
tanpa putra-putri terbaik mereka? Saya keluar dari
kantor Hakim dengan hati makin gelisah. Masa depan
buram ada pada negeri yang tak memiliki
sekolah-sekolahnya, yang guru-gurunya merasa tertekan,
dan lambat laun meninggalkan negeri itu.
YULI SURIANI seorang mahasiswi Universitas Syiah Kuala
yang juga bekerja sebagai penyiar radio di Banda Aceh.
Orangnya cantik, mungil, serta biasa memakai blue
jeans dan jaket kanvas. Tapi layaknya kebanyakan
perempuan di Banda Aceh, Yuli memakai jilbab buat
menutupi kepalanya. Warna jilbab biasanya disesuaikan
dengan warna pakaiannya. "Tanpa jilbab saya merasa
tidak sempurna. Jilbab adalah simbol perempuan
bermartabat," katanya pada saya.
Perempuan 27 tahun ini memilih memakai selendang katun
sejak 1999 untuk melindungi apa yang disebutnya
sebagai "aurat"—kata bahasa Arab yang secara harfiah
berarti "bekas luka" atau "lubang."
Menurut sebuah tafsir umum Al Qur'an, "bekas luka"
adalah sesuatu yang memalukan dan harus ditutupi.
Aurat laki-laki adalah daerah antara pusar hingga
lutut, artinya seorang lelaki muslim tidak boleh
bercelana pendek. Aurat perempuan adalah daerah dari
rambut hingga kakinya. Tapi penafsiran yang lebih
ketat mengatakan bahwa wajah juga termasuk aurat
perempuan, sehingga perempuan disarankan mengenakan
jalabiya (jubah hitam) dan cadar (penutup wajah).
Karen Amstrong, penulis buku A History of God, menulis
bahwa Al Qur'an sebenarnya tak mewajibkan jilbab untuk
semua perempuan. Jilbab awalnya hanya bagi istri-istri
Nabi Muhammad, sebagai tanda status mereka. Ia menulis
bahwa Muhammad mendorong kaum perempuan untuk berperan
dalam kehidupan sosial dan mereka bisa mengemukakan
pandangannya dengan bebas. Mereka juga percaya mereka
didengarkan oleh Nabi.
Meski ada beragam penafsiran dan cara berpakaiannya
sendiri, Yuli Suriani tak setuju dengan peraturan
pemerintah Aceh yang mengharuskan semua perempuan
memakai jilbab. Ia percaya bahwa iman adalah masalah
pribadi. Ada orang yang penampilannya terlihat
seenaknya, tapi siapa tahu apa yang ada dalam hatinya?
"Islam itu fleksibel. Islam itu tidak memaksa orang.
Memakai jilbab atau tidak, adalah urusan kita sendiri
dengan Tuhan," kata Yuli.
Aceh adalah salah satu provinsi berpenduduk Muslim
terbesar di Indonesia. Sekitar 98 persen dari 4,4 juta
penduduknya adalah Muslim. Kota-kota dan desa-desanya
dipenuhi oleh ribuan masjid yang terpelihara baik.
Para pedagang Arab memperkenalkan Islam ke wilayah ini
900 tahun lalu dan sejak itu Islam menyebar ke seluruh
daerah yang sekarang disebut Indonesia.
Pada Januari 2002, sebuah undang-undang yang disahkan
oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Aceh mendapatkan
keistimewaan untuk menerapkan syariah Islam.
Pemerintah daerah Aceh segera menunjuk 27 anggota
Dewan Permusyawaratan Ulama (MPU), yang tugas utamanya
adalah membuat fatwa dan membuat dirinya sebagai pilar
keempat pemerintahan di Aceh —guna menambah pilar
yudikatif, legislatif, dan eksekutif.
Muslim Ibrahim, ketua MPU, mengatakan kepada saya
bahwa para anggota dipilih mulanya dari tingkat
kecamatan. Tiap kecamatan mencalonkan 10 ulama yang
dianggap memahami syariah dan menguasai bahasa Arab.
Di tingkat kabupaten, calon dari semua kecamatan ini
dipilih lagi menjadi 10 ulama. Sepuluh ulama inilah
yang akan mewakili kabupaten pada seleksi di tingkat
propinsi. Aceh punya 13 kabupaten, artinya ada 130
ulama dari kabupaten-kabupaten ditambah 20 wakil dari
perguruan tinggi yang akan mengikuti seleksi 27 kursi
MPU. Pemungutan suara dilakukan oleh mereka sendiri.
Tempo hari Muslim terpilih sebagai ketua pertama MPU.
Muslim Ibrahim mewakili dunia akademis. Pada 1984 ia
mendapatkan PhD dalam bidang syariah dari Universitas
al-Azhar di Kairo. Ia mengajar "fiqih modern" di IAIN
Ar-Raniry Banda Aceh. Ia juga satu dari banyak ulama
Aceh yang mendukung keputusan pemerintah untuk
menerapkan syariah di Aceh, dengan alasan bahwa
kesultanan Aceh, yang kini tiada, telah menggunakan
syariah untuk menjalankan negara selama berabad-abad.
"Islam bisa diterapkan dalam sembarang tempat dan
waktu," kata Muslim Ibrahim, sambil menambahkan bahwa
MPU sekarang ini sibuk menyiapkan aturan yang akan
mengatur hampir semua hal berdasarkan Islam. Ia
mengatakan bahwa sumber aturan-aturan itu adalah Al
Qur'an, hadist (ucapan), sunnah (tindakan) Muhammad
dan para sahabatnya, serta iqtihad (penafsiran).
Tak ada yang baru dalam pernyataan Muslim Ibrahim. Pro
dan kontra tentang tafsir Islam adalah sebuah debat
lama. Pada masa-masa awal Islam, hal ini membawa
akibat pada formulasi hukum syariah, yang dibuat
berdasarkan Al Qur'an serta cara hidup dan
petuah-petuah Nabi Muhammad. Kata demi kata ini
dikumpulkan selama abad VIII dan IX oleh beberapa
pencatat, yang paling terkenal di antaranya adalah
Muhammad ibn Ismail al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hijjah
al-Qushayri. Hari ini Muslim Ibrahim dan
kawan-kawannya berusaha mewujudkan petuah-petuah itu.
Namun hingga Juni lalu belum jelas benar bagaimana
hukum Islam secara praktis akan diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari di Aceh. Banyak orang masih
bingung bagaimana pengadilan harus mengadili kejahatan
atau perbuatan illegal lain? Bagaimana syariah
memandang perang gerilya dan begitu banyak kekejaman
di Aceh? Juga belum jelas bagaimana syariah akan
diterapkan kepada non-Muslim? Bagaimana syariah yang
dipahami secara ortodoks akan menjawab
persoalan-persoalan modernitas seperti demokrasi,
kebebasan sipil, ketidakberagamaan dan sebagainya.
Tapi di antara keputusan pertama dewan pimpinan Muslim
Ibrahim adalah menetapkan aturan berpakaian. Perempuan
diharuskan memakai jilbab. "Itu sudah tertulis dalam
teks," kata Muslim.
Sebaliknya, Gerakan Aceh Merdeka dan
organisasi-organisasi hak asasi manusia berpendapat
orang Aceh tak memerlukan penerapan syariah untuk
membuktikan Islam hidup di Aceh. Mereka berpendapat
orang Aceh telah mempraktikkan Islam dalam semua hal
yang mereka kerjakan. Orang Aceh mempraktikkan syariah
secara formal dalam kehidupan sehari-hari selama
berabad-abad, seperti perkawinan, perceraian, dan
pelarangan alkohol. Tapi mereka juga menentang banyak
hukuman yang keras, seperti pemotongan tangan bagi
pencuri, yang secara teoritis dibolehkan dalam syariah.
"Hukum syariah bukan tujuan perjuangan orang Aceh, ia
juga bukan sebab terjadinya konflik antara Aceh dan
Jakarta. Indonesia berupaya memunculkan isu ini hanya
untuk alasan politik —tepatnya sebuah cara baru,
sebuah trik untuk mengalihkan perhatian Anda dan dunia
dari isu yang sebenar-benarnya, yaitu hak rakyat Aceh
untuk menentukan nasibnya sendiri," kata pemimpin GAM
Eropah Husaini Hassan dalam sebuah surat kepada para
dutabesar negara-negara Islam di Indonesia pada
Desember 2000.
"Menurut saya, jika syariah diterapkan, mereka yang
akan paling menderita adalah perempuan. Semua
penafsiran dan keputusan toh dibuat laki-laki," kata
Lily Zakiah Munir, direktur Center for Pesantren and
Democracy Studies, yang membuat survei tentang syariah
di Aceh, sembari menambahkan bahwa tak satu pun dari
27 ulama itu berjenis kelamin perempuan.
Di provinsi-provinsi lain Indonesia,
organisasi-organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama
dan Muhammadiyah, secara terbuka tak mendukung
kampanye syariah. Mereka mengatakan bahwa kampanye itu
melulu retorika. Dua organisasi itu percaya bahwa
gagasan Islam tentang keadilan sosial dan martabat
manusia secara teoritis bisa diterapkan di Indonesia
tanpa mengusung bendera syariah.
Syariah di Aceh juga banyak bikin cerita tentang
perempuan tanpa "pakaian pantas" dihentikan di tengah
jalan dan diminta menutup kepala mereka oleh polisi
syariah. Ketika saya berkunjung ke Banda Aceh Juni
lalu, tampaknya setiap perempuan di tempat publik
memakai jilbab walau banyak juga yang pakaiannya "modis"
dengan memperlihatkan garis-garis tubuh mereka. Saya
juga melihat banyak gadis muda menutup kepalanya tapi
memperlihatkan belahan buah dada mereka. Canda yang
juga sering saya dengar adalah pelacur pun memakai
jilbab di Aceh. Saya belum pernah membuktikannya tapi
suatu malam saya datang ke sebuah bar karaoke.
Ternyata para gadis penerima tamu di sana tak memakai
jilbab.
Di Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, tak sulit
menemukan mahasiswi cantik yang memakai jilbab sekedar
sebagai formalitas atau kebanyakan sebagai sebuah
model. "Lehernya masih terlihat. Jilbab hanya sebagai
formalitas," kata Yuli.
Saya menjumpai lebih banyak perempuan tak berjilbab di
daerah pedesaan atau di kota pelabuhan bebas Sabang di
mana perempuan bebas berjalan-jalan ke luar rumah
dengan celana jeans, celana pendek, tanpa kerudung.
Bagi Muslim Ibrahim, para perempuan ini dinilainya
kurang saleh, kurang Islami. Tapi bagi banyak
perempuan seperti Yuli Suriani, Islam adalah sebuah
keberadaan, sebuah kehadiran, ia bukan sebuah tuntutan.
Saya mengunjungi Imam Syuja', ketua Muhammadiyah Aceh,
salah satu kelompok Muslim terbesar di Indonesia,
untuk mengetahui pandangannya tentang syariah. Saya
bertanya padanya relevansi banyaknya pembunuhan yang
terjadi di Aceh padahal sedang terjadi kampanye sariah?
Menurut Syuja', "Para ulama kita terlalu sibuk
berbicara tentang syariah ketimbang berbicara tentang
keadilan. Ulama-ulama kita terlalu sibuk mendekati
kekuasaan ketimbang mengembangkan sebuah mekanisme
kerja yang independen terhadap pemerintah.
Bukankah ini sebuah ironi?" Dia menjelaskan keruwetan
masalah Aceh adalah sebuah campuran antara tumbuhnya
nasionalisme di kalangan orang Aceh, sentimen melawan
Jakarta, dan kampanye syariah di tengah-tengah
peperangan.
Ketika saya mengingatkannya bahwa dia sendiri adalah
seorang dari 27 anggota MPU yang sangat berpengaruh
itu, Imam terdiam dan menarik nafas panjang. Ia
tersenyum pahit dan tidak menjawab pertanyaan saya.
Memberikan syariah seolah-olah memberi permen kepada
anak kecil memperlihatkan bagaimana cara pandang orang
Jakarta terhadap pandangan hidup orang Aceh dan juga
kebutuhan mereka. Orang Aceh sebenarnya butuh
seperangkat hukum, apapun namanya, yang tidak
memberikan kekebalan, yang bisa mengadili tentara,
pejabat, koruptor, atas berbagai kejahatan atau
pelanggaran hak asasi yang mereka lakukan —sesuai
dengan ajaran Al Qur'an yang sangat menekankan
keadilan.
ADA sebuah kedai kopi di seberang masjid Baiturrahman
di Banda Aceh di mana banyak orang, kebanyakan lelaki,
biasanya datang membaca harian Serambi, berbicara
dengan teman, merokok, dan minum kopi hitamnya.
Harganya tak terlalu mahal. Dari sana kita bisa
memandang sungai Krueng Aceh, masjid, dan satu dari
beberapa gereja Katolik di kota itu. Pada pagi hari
tersedia nasi gurih --nasi yang dimasak dengan uap
santan—plus berbagai macam lauk yang bisa kita pilih
sendiri. Sorenya kita bisa memesan mie Aceh, yang
dimasak dengan banyak rempah dan rasanya pedas.
Pagi hari 12 Juni lalu, ketika menyantap nasi gurih,
saya perhatikan bahwa lalu lintas di luar makin lama
makin sangat macet. Sedan, minivan, truk tentara, jip,
sepeda motor, dan pejalan kaki berdesakan melewati
kedai ini menuju lapangan Blang Padang, yang
berdekatan dengan Baiturrahman, di mana lebih dari
5.000 pegawai negeri dijadwalkan menghadiri upacara
bendera menyatakan "kesetiaan pada Negara Kesatuan
Republik Indonesia."
Saya ikut berjalan dengan mereka. Di lapangan mereka
diminta berbaris sesuai dengan kantor masing-masing.
Para petugas militer, kebanyakan membawa senjata,
mengeluarkan perintah dan minta para pegawai melakukan
ini dan itu. Mereka disuruh berbaris mengelilingi
tiang bendera utama yang berdiri tegak di tengah
lapangan. Mereka mengenakan pita di lengan: merah dan
putih. "Kami bekerja semalaman untuk menjahit
pita-pita ini," kata seorang karyawan Perusahaan
Listrik Negara.
"Bete," keluh seorang karyawati TVRI. Bete adalah
bahasa gaul "bad tempered." Maksudnya, siapa sih tak
jengkel pada kemacetan lalu lintas dan berbagai
hambatan hanya untuk menghadiri upacara gaya militer.
Dia hanya mengikuti apa yang diperintahkan atasannya.
Ikut upacara atau masalah dengan pekerjaan!
Beberapa hari sebelumnya Gubernur Aceh Abdullah Puteh
mengatakan pemerintah akan melakukan "screening"
pegawai negeri atas sikap mereka terhadap GAM.
Bentuknya berupa daftar pertanyaan. Misalnya, apa yang
Anda lakukan kalau punya anggota keluarga yang
mendukung GAM? Apakah akan lapor atau diam saja? Apa
pendapat mereka tentang kesatuan Republik Indonesia?
Puteh mengatakan mereka yang "bermuka dua" akan
menghadapi konsekuensi, sembari menambahkan ada
sejumlah pegawai negeri yang simpatik terhadap GAM.
Puteh menekankan bahwa ia tak bisa menerima dualisme.
Pegawai negeri seharusnya setia dengan siapa yang
membayar gaji mereka!
Para pegawai negeri itu berbaris menghadap tiang
bendera. Di sisi lain Blang Padang terdapat sebuah
panggung dan tenda di mana para VIP duduk di kursi
mereka yang teduh. Bendera dan spanduk raksasa
mengelilingi lapangan itu dengan pesan-pesan anti-GAM
dan cinta Indonesia.
Sambil menunggu kedatangan Mayor Jendral Endang
Suwarna, komandan militer Aceh, setiap koordinator
barisan membagikan daftar hadir. Para pegawai negeri
ini harus tanda tangan. Ketika Puteh dan Suwarna tiba,
pembawa acara pun mulai. Para pegawai bersumpah setia
pada Indonesia. Mereka menyanyikan lagu "Indonesia
Raya," meneriakkan ayat-ayat Al Qur'an, dan
pidato-pidato pun mengalir. Puteh tersenyum puas.
Upacara pagi itu ternyata menjadi pembuka dari banyak
upacara bendera yang digerakkan di seluruh Aceh. Para
pejabat militer dan sipil menggerakkan acara serupa di
setiap kabupaten, kecamatan, kelurahan, dan sekolah.
Mereka seakan-akan hendak menunjukkan bahwa GAM sudah
tamat dan semua orang Aceh cinta Indonesia. Murid
sekolah, penduduk desa, petani, nelayan, pegawai
negeri, dan sebagainya diminta hadir di lapangan,
menggunakan warna merah-putih.
Inilah nasionalisme yang dikobarkan Jakarta untuk
merangkul hati orang Aceh. Mereka mencoba
memperlihatkan pada orang Aceh bahwa otonomi khusus
Aceh adalah pilihan yang lebih baik ketimbang
kemerdekaan yang dicari Hasan di Tiro dari Stockholm.
Mungkin ini pilihan yang realistis tapi apakah akan
berhasil? Banyak orang mempertanyakan keberhasilan
penggalangan massa macam ini.
Sidney Jones, orang Amerika yang bekerja untuk
Indonesia sejak 1970-an, yang pernah memimpin Human
Rights Watch/Asia, dan sekarang bekerja untuk
International Crisis Group, menulis bahwa apa saja
yang dilakukan penguasa darurat militer counter
productive. "Tidaklah mungkin memaksa orang untuk
setia pada negara Indonesia dengan mengadakan upacara
bendera dan menaikkan bendera merah putih."
Jones mengatakan, "Saya ada di Timor Timur sebelum
referendum 1999 ketika para milisi memaksa orang
menaikkan bendera atau menyaksikan rumahnya dibakar.
Kebanyakan ya memasang bendera ketimbang kehilangan
harta benda mereka. Tapi akhirnya, mereka justru
membenci bendera. Bendera merah putih bahkan menjadi
simbol penindasan."
Contoh lain: Jakarta mungkin mengira mereka mendapat
simpati orang desa dengan memindahkan penduduk dari
desa-desa di mana operasi militer terhadap GAM
direncanakan. Logikanya, jangan sampai ada korban
sipil. Mereka diberi tempat penampungan sementara.
Namun banyak dari puluhan ribu pengungsi ini
dipindahkan begitu saja tanpa pemberitahuan memadai.
Sering tak ada persediaan air dan makanan di tempat
penampungan. Ternak, barang elektronik, dan barang
berharga lain seringkali hilang ketika mereka kembali.
Pencurinya bisa siapa saja tapi mereka jelas
menyalahkan pemerintah, apalagi setelah Puteh dan
Suwarna memberikan janji bahwa rumah-rumah yang
dikosongkan itu akan dijaga dan takkan ada penjarahan.
Suwarna memang berusaha menjaga janjinya. Beberapa
bulan lalu ada dua tentara Indonesia yang dihukum
karena mengambil uang senilai Rp 2 juta dan perhiasan
emas seberat 2,6 mg ketika mereka menggeledah sebuah
rumah di Aceh Utara. Ada juga tiga tentara yang
dihukum penjara karena memperkosa empat perempuan Aceh
walau hukuman terberat yang mereka terima cuma 3,5
tahun. Ada juga enam tentara Indonesia yang dipenjara,
antara empat hingga lima bulan, karena memukul warga
sipil di desa Lawang, Bireuen.
Jendral Endriartono Sutarto beberapa kali juga
menekankan bahwa operasi militer ini dilakukan untuk
merangkul rakyat Aceh. Dia terbuka minta maaf,
terutama kepada penduduk desa, karena
perbuatan-perbuatan prajuritnya di lapangan.
Mungkin hukuman-hukuman terhadap para tentara ini bisa
dianggap kemajuan di Indonesia. Bukankah banyak
tentara, terutama yang pangkatnya tinggi, yang kebal
hukum? Namun hukuman maupun permintaan maaf itu tak
cukup untuk merangkul hati dan pikiran rakyat Aceh.
Tentara-tentara Indonesia di Aceh terkenal karena
pelanggaran hak asasi manusianya. Pemahaman soal
nasionalisme juga sangat sempit sekali. Banyak
wartawan di sana sering ditanyai tentara, "Merah putih
atau bukan?" Orang macam Suwarna, yang gemar
melontarkan isu ini, lupa bahwa sama dengan dokter,
yang harus merawat pasien tanpa membedakan garis
politik pasiennya, seorang wartawan harus bekerja juga
tanpa membedakan garis politik sumber-sumber mereka.
Dokter tak mungkin hanya mengobati tentara Indonesia.
Wartawan juga tak mungkin hanya mengutip sumber-sumber
yang mendukung Indonesia. Justru dengan mengobati atau
mewawancarai semua orang, si dokter atau si wartawan
menunjukkan kemampuannya sebagai warga yang baik –dan
ini artinya nasionalisme.
Juni lalu, Jakarta juga mengeluarkan satu kebijakan
baru tentang KTP warga Aceh. Tujuannya, membedakan
anggota GAM dan warga biasa. Semua warga wajib
mengganti KTP lama dengan KTP baru. Disain kartu ini
beda dengan KTP lain di seluruh Indonesia. Namun
tidakkah perbedaan ini justru memperkuat alasan GAM
bahwa orang Aceh memang beda dengan orang Indonesia
lainnya? Apalagi pejabat-pejabat Indonesia di kota
besar macam Jakarta dan Medan juga mengeluarkan surat
edaran ke kelurahan agar mengawasi semua orang Aceh
yang tinggal di wilayahnya.
Jones menulis bahwa perang ini punya cacat karena tak
ada kriteria yang jelas untuk mengukur keberhasilannya.
Perang ini juga tak punya exit policy. Kapan darurat
militer dianggap berhasil? Hasballah Saad
mempertanyakan apabila kabinet Presiden Megawati
benar-benar sudah maksimal dalam mengupayakan solusi
lewat meja perundingan yang dulu dibantu oleh Henri
Dunant Center.
Penyaringan pegawai negeri juga akan membuat Jakarta
kehilangan simpati. Kebijakan ini langkah mundur
karena ia meniru persis praktek-praktek rezim Soeharto
–screening atas Partai Komunis Indonesia. Rasa curiga
akan dibangkitkan dan informasi busuk bakal
berkeliaran. Orang Aceh dipaksa untuk tak menghargai
kesetiakawanan. Mereka bakal dipaksa untuk jadi
manusia rendah. Persaingan dagang, tetangga yang
cemburu, dan lainnya bisa saja memberikan informasi
busuk. Dan tanpa verifikasi, si tertuduh bisa
diasingkan, dipecat, bahkan ditangkap.
Nasionalisme macam apa ini? Saya kuatir ini hanya
nasionalisme sempit: Anda di pihak saya atau di pihak
mereka? Nasionalisme macam ini sering menutup mata
terhadap ketidakadilan. Ia buta terhadap pilihan bahwa
manusia, pada galibnya hidup dengan banyak identitas.
Saya bisa jadi warga Indonesia tapi juga orang Aceh,
yang tak suka dengan kesewenang-wenangan upacara
bendera, tapi bukan berarti saya harus mendukung GAM.
Saya bisa kritis terhadap tentara Indonesia tapi saya
tak berarti membenci Jakarta.
Wartawan BBC Michael Ignatieff menulis dalam bukunya,
Blood and Belonging: Journeys Into the New
Nationalism, bahwa secara kultural nasionalisme
sesungguhnya bisa memberi sebuah "bentuk kepemilikan"
atau "primary form of belonging" kepada orang-orang
yang tinggal di satu negara, baik laki-laki maupun
perempuan. Rasa memiliki dan rasa kebersamaan ini
memberikan landasan moral "bagi pengorbanan yang
heroik, penggunaan kekerasan dalam rangka membela
negara dari musuh, baik dari luar maupun dalam."
Ignatieff membedakan dua macam nasionalisme: (1)
nasionalisme kewarganegaraan (civic nationalism) di
mana kepercayaan utama orang-orang yang ada dalam
sebuah "bangsa," yang percaya pada kredo politik "bangsa"
itu, adalah para warganegaranya. Basis nasionalisme
ini adalah warga negara; (2) nasionalisme etnik
(ethnic nationalism) di mana orang-orang yang ada
dalam suatu "bangsa" percaya bahwa mereka mewarisi
kebangsaannya karena keturunannya, bukan karena
pilihannya. Basis nasionalisme ini adalah etnik. "Pada
dasarnya, komunitas nasional itulah yang
mendefinisikan individu, bukan individu yang
mendefinisikan komunitas nasional. (It is the national
community which defines the individual, not the
individuals who define the national community)," jelas
Ignatieff.
Hasan di Tiro cenderung memakai nasionalisme jenis
kedua. Dia percaya "bangsa Aceh" dijajah "bangsa Jawa"
--yang memakai nama samaran "bangsa Indonesia." Pada
sisi lain, pemerintah Indonesia, teoritis
mengembangkan nasionalisme kewarganegaraan untuk
menyatukan berbagai macam kelompok etnik dan agama
yang tersebar di kepulauan ini sejak kemerdekaan 1945.
Tapi terjadi inkonsistensi baik pada zaman Soekarno
maupun Soeharto. Banyak kelompok merasa tidak didengar
dan sakit hati karena dibedakan, yang buntutnya
memunculkan ketidakpuasan pada orang Aceh, orang
Papua, orang Dayak, kelompok minoritas Cina, pendatang
Madura di Kalimantan, orang Muslim di Maluku, dan
sebagainya.
Rezim Soeharto menciptakan istilah "pribumi" sebagai
antitesa dari warga Indonesia keturunan Cina. Ada
diskriminasi pada KTP dan dokumen-dokumen orang Cina.
Soeharto juga tidak mencegah pembunuhan besar-besaran
yang terjadi pada 1960-an terhadap aktivis kiri maupun
pendukung Soekarno. KTP mereka lalu diberi label "ET"
untuk "eks tahanan politik." Kini kebijakan sama
dilakukan atas Aceh.
Darah banyak tumpah dalam sejarah kepulauan ini. Dan
kini darah juga tertumpah atas nama nasionalisme tanah
Aceh, di ujung Pulau Sumatra. Kaum kebangsaan Aceh
mungkin kalah dalam pertempuran kali ini, tapi mereka
belum kehilangan kebenciannya pada ketidakadilan yang
mereka anggap datangnya dari Jakarta. Proyek nation
building yang dibangun generasi Soekarno sejak 1945
itu mungkin juga makin kehilangan relevansinya. Satu
lapis generasi GAM akan disapu habis tapi bagaimana
generasi anak-anak mereka? Tidakkah dendam dan masa
lalu akan senantiasa membayangi tanah yang seabad lalu
diremukkan J.B. van Heutsz? Tidakkah upacara-upacara
bendera yang digagas Puteh dan Suwarna justru akan
menggerogoti simpati orang Aceh terhadap Jakarta?
Pada hari saya meninggalkan Aceh untuk pulang ke
Jakarta, saya naik kelas ekonomi Garuda Indonesia dan
tak sengaja bersua dengan Sofyan Haroen, walikota
Sabang yang bersemangat itu. Dia kelihatan banyak diam,
mungkin lelah, namun tetap sopan terhadap sesama
penumpang. Saya suka melihat pejabat yang sederhana,
mau naik kelas ekonomi, dan bersikap ramah pada
orang-orang yang tak mengenalnya. Saya ingat ketika
ada di Sabang, ia berujar, "Mari kita bangun Indonesia
dari Kilometer Nol."
Diterjemahkan dari naskah aslinya dalam bahasa Inggris
ke bahasa Indonesia oleh Helena E. Rea. |