|
Kenyataan perjanjian terakhir di Aceh nampaknya
terlalu bagus untuk dipercaya pun merupakan kesempatan
yang terbaik sepanjang upaya perdamaian di Aceh.
Edward Aspinall
Pada tanggal 15 Agustus, wakil-wakil dari pemerintahan
Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM),
menandatangani suatu Nota Kesepakatan untuk
menyelesaikan permasalahan Aceh. Tidak seorangpun akan
menyepelekan pentingnya pencapaian tersebut. Yang mana
merupakan suatu langkah yang berarti menuju
berakhirnya konflik yang telah menyebabkan penderitaan
yang berkepanjangan selama 29 tahun terakhir ini.
Sebenarnya penyelesaian tersebut berhasil karena pada
akhir bulan Februari lalu pimpinan GAM telah
mengumumkan bahwa mereka bersedia untuk
mengesampingkan tujuan kemerdekaan Aceh dan akan
menerima pemerintahan otonomi di dalam kerangka negara
Indonesia. Sebelumnya, GAM tidak bersedia menerima
penyelesaian apapun selain kemerdekaan, maka kompromi
tersebut selain tidak disangka-sangka juga sangat
penting. Yang mendorong GAM adalah banyaknya kekalahan
di medan pertempuran akhir-akhir ini. GAM juga merasa
takut bahwa perhatian internasional terhadap upaya
perdamaian yang kembali akibat tsunami pada bulan
Desember yang lalu dapat cepat menguap. Apapun
alasannya, kompromi GAM telah memungkinkan kemajuan
selanjutnya.
Pemerintah Indonesia juga patut dipuji. Yang turut
mengambil peranan terpenting adalah Wakil Presiden
Jusuf Kalla, pria yang pernah dijuluki ‘Super Mario’
dalam politik Indonesia oleh majalah Tempo (suatu
watak dalam permainan komputer) untuk usahanya yang
nampaknya tidak terbatas dan keinginannya untuk
melibatkan diri dalam sebanyak mungkin masalah
kebijaksanaan.
Kalla kadang-kadang tampak sebagai seorang tokoh yang
humoris, tetapi dia telah membuktikan diri sebagai
salah seorang pendukung penting dari negosiasi ini. Di
masa lalu, perunding pemerintah kurang didukung oleh
pejabat tinggi dan mudah terdorong oleh
pendapat-pendapat dari kalangan politik yang bersikap
keras. Saat ini, Kalla bersedia menjelaskan kepada
publik mengapa proses perdamaian memerlukan kompromi.
Bahkan dia pernah menegur anggota keamanan yang
berpendapat bahwa peperangan adalah satu-satunya
penyelesaian.
Dengan dukungan dari Kalla (dan tentu saja Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY), perunding dari
pemerintah membuat sejumlah kompromi penting. Yang
paling penting mereka setuju untuk mengizinkan (dalam
waktu 18 bulan) pendirian partai politik lokal di Aceh.
Para pengamat telah lama mengatakan bahwa langkah ini
sangatlah penting, karena tanpa hal tersebut, GAM
tidak mungkin menyetujui perdamaian karena ibarat
menandatangani surat kematiannya sendiri.
Sejumlah pengamat telah mengingatkan bahwa perjanjian
perdamaian sebelumnya di Aceh telah gagal. Tetapi
sebenarnya perjanjian sebelumnya, termasuk perjanjian
‘Jeda Kemanusiaan’ pada pertengahan tahun 2000 dan
‘Perjanjian Penghentian Permusuhan (CoH)’ pada akhir
tahun 2002, pada dasarnya merupakan gencatan senjata
yang disertai rencana untuk negoisasi mengenai
pemecahan secara politik. Kedua belah pihak tidak
pernah mencapai kesepakatan mengenai status Aceh pada
masa yang akan datang.
Pada masa sekarang, prospek seharusnya lebih baik.
Penyelesaian politik sudah ada, paling tidak garis
besarnya. Tetapi masih ada juga sejumlah bahaya.
Perincian dari perjanjian tersebut kurang jelas dan
akan diartikan dengan makna yang berbeda oleh GAM dan
pemerintah.
Selain itu, terdapat biang kecurigaan yang amat besar
di kedua belah pihak. Menurut GAM hampir pasti bahwa
pemerintah Indonesia akan melanggar janjinya. GAM
mengacu pada sebuah pemberontokan tahun 1950-an yang
mana Aceh diberikan status sebagai ‘daerah istimewa’
tetapi kemudian penyelenggaraannya sama saja dengan
propinsi lain. Pimpinan GAM dan pendukungnya akan
memperhatikan dengan cermat setiap langkah yang
diambil pemerintah, dan akan menanggapi setiap hal
yang tidak sesuai dengan isi perjanjiannya. Barangkali
pihak GAM akan kembali menuntut kemerdekaan apabila
dianggap bahwa pemerintah mengkhianati bangsa Aceh
sekali lagi.
Sementara itu, pihak pemerintah dan militer akan
mengawasi GAM atas penyelewengan dalam komitmen
terhadap kedaulatan Indonesia yang baru disepakati.
Banyak kalangan di aparat keamanan masih tidak setuju
untuk berkompromi dengan kaum separatis tersebut.
Sehingga akan menghimbau dengan keras dan terus
menerus pada GAM untuk diadakan pelucutan senjata,
pembubaran dan menghilangkan berbagai sikap permintaan
kemerdekaan.
Walaupun begitu, kecil kemungkinan akan terjadi
kegagalan mutlak walaupun kemungkinan untuk berhasil
secara mutlak juga sangat kecil. Pengalaman dari
penyelesaian perdamaian di tempat lain, mulai dari
Irlandia Utara sampai dengan Srilanka, menunjukkan
bahwa setelah mencapai suatu pemecahan yang dramatis,
terjadilah kemandegan, kemerosotan dan faksionalisme,
walaupun secara keseluruhan proses tersebut tidak
runtuh. Kadang-kala perlawanan lama juga menghilang
apabila ada pemecahan dan penggolongan kembali di
kedua belah pihak. Kadang-kadang mantan pemberontak
merasa tujuan perjuangan tidak terwujud dan ingin
kembali berjuang dengan senjata. Di antara angkatan
bersenjata dan sekutunya, selalu saja ada sebagian
yang ingin melanjutkan peperangan yang kotor itu.
Tentunya proses perdamaian tidak akan berlangsung
dengan sempurna. Tetapi perkembangan dapat dicapai
secara pelan-pelan jika kedua pihak tetap memandang
tujuan akhir. Setidaknya sekarang ini telah ada titik
awal bagi perdamaian.

Edward Aspinall adalah seorang peneliti di Australian
National University dan Ketua Badan IRIP. |