FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2005..
    INSIDE INDONESIA
Simpang Siur menyusul Tsunami

Juli-September, 2005

Badan International perlu meluangkan waktu untuk memahami kelompok lokal

Linda Mylle

Balai pertemuan itu dipenuhi wakil-wakil dari organisasi kemanusiaan internasional terkemuka serta berbagai organisasi lain, dikesempatan itu kesabaran saya mencapai batasnya. Sepertinya setiap pembicara di hadapan perkumpulan tenaga asing yang berkeringat tersebut menekankan pentingnya masukan LSM lokal.

Saat itu, minggu kelima dalam upaya pemulihan bencana tsunami, saya sedang menghadiri rapat koordinasi utama untuk PBB dan badan internasional lain di Banda Aceh. Tetapi tidak ada satupun LSM lokal atau wakil pemerintah yang nampak hadir.

Akhirnya, setelah mendengar laporan dari bagian pangan, pendidikan, kesehatan dan sektor lainnya, koordinator PBB meminta masukan dari peserta. Saya angkat tangan walaupun belum tahu apa yang hendak saya sampaikan. Rasa putus asa dan frustrasi yang dialami oleh teman-teman LSM Aceh - yang mana mereka terlalu sibuk untuk hadir dan terlalu bangga untuk tampil pada pertemuan dalam bahasa Inggris yang kurang menguntungkan mereka itu - telah merasuk pada saya .

Pun, akhirnya keluarlah juga kalimat. Saya mengatakan bahwa LSM lokal selain sangat terluka, mereka juga bekerja mati matian seperti halnya dengan permasalahan yang dihadapi semua peserta pertemuan itu. Selanjutnya saya mengusulkan: barangkali badan-badan internasional dapat menyediakan beberapa staf untuk membantu kelompok lokal, karena hal tersebut akan mendukung proses pemulihan serta menciptakan hubungan yang lebih baik diantara mereka. Kira-kira di antara peserta yang hadir adakah yang bersedia meminjamkan sejumlah staf Indonesia untuk bekerja dengan LSM lokal selama satu atau dua minggu?

Permintaan yang menurut saya sebenarnya sangat sederhana itu tidak ada tanggapan selain pandangan kosong dari muka dengan hidung mendongak. Setelah berpikir sejenak, koordinator PBB menjawab bahwa permintaan itu seharusnya diajukan pada pertemuan bidang ‘administrasi dan sumber daya manusia’ pada hari Rabu jam 11 siang.

Cerita tentang pertemuan pertama kali saya dengan industri lembaga kemanusiaan internasional tersebut ditanggapi dengan gemuruh gelak tawa di suatu pertemuan Forum LSM Aceh yang dihadiri oleh para pimpinan organisasi. Ternyata mereka juga menjadi bulan bulanan selama minggu-minggu terakhir ini, menepuk punggung kesadaran saya, menyambut kehadiran saya bergabung dengan orang orang kecewa.

Saya memutuskan untuk menghadiri pertemuan sektoral PBB pada hari rabu seperti yang disarankan, disana seorang perempuan yang mewakili satu organisasi kelas sedang dari Australia memberi ucapan selamat atas upaya saya memperoleh dukungan dari kontingen bantuan kemanusiaan asing, apalagi meminta bantuan tenaga manusia. Saya menyadari bahwa saat itu sekitar 200an LSM internasional yang ada di Banda Aceh dihadapkan pada satu tekanan yang cukup besar untuk menyalurkan makanan, pakaian serta pemukiman kepada kurang lebih 200 000 jiwa yang tinggal di kamp sementara di seluruh provinsi. Lagipula bahwa para pekerja dari LSM asing tersebut telah bertugas selama berminggu-minggu tanpa hari libur dan tidak sempat menyelesaikan tugas mereka sendiri - apalagi turut membantu LSM lokal. Akhirnya tidak ada satupun dari seluruh peserta rapat sektoral tersebut yang menawarkan staf mereka untuk membantu LSM lokal.

Hubungan yang bergeronjal

Tertawaan teman-teman pada hari itu adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita demi mereka. Disini, di Aceh, gelak tawa terdengar dimana-mana. Suatu hal yang membuktikan sifat masyarakat akan kekuatan dan ketabahan yang mendalam untuk menghadapi nasib yang telah ditakdirkan Allah SWT. Allah telah mengirimkan tsunami dan sejumlah orang asing yang bermaksud tulus. Jika anda menanyakan orang-orang disini, mereka akan menjawab bahwa segala sesuatu pasti ada alasannya. Barangkali hal ini dapat menjelaskan kenapa organisasi lokal dan internasional menghadapi kesulitan untuk berhubungan dengan baik.

Dalam upaya untuk menjelaskan mengapa hal itu terjadi, tidak dapat terlepas dari kenyataan bahwa hampir semua hal sehubungan dengan kejadian tersebut - dan dalam beberapa hal masih berlangsung - sangat mengejutkan semua pihak.

Sebagai seorang penerjemah yang bekerja sebagai sukarelawan dengan LSM lokal, pekerjaan saya melintas dari dunia kelompok lokal ke lingkaran internasional dan kemudian kembali lagi. Dari pandangan saya, sepertinya kedua dunia tersebut memiliki banyak persamaan, yaitu: hampir semua organisasi kekurangan sarana transportasi dan telekomunikasi, semua organisasi menyediakan logistik dan pelayanan kesehatan, semua tidak sanggup untuk menilai dan memenuhi kebutuhan komunitas yang terlantar, dan semua melaksanakan tugas dengan kecepatan yang luar biasa.

Selama bulan pertama, baik koordinator LSM lokal maupun internasional menerima sekitar 60 sms dan 50 panggilan telepon setiap hari - dan mengirimkan keluar juga sebanyak itu. Setiap orang menekankan akan pentingnya koordinasi usaha pemulihan yang lebih baik, tetapi sebagian besar bergerak berdasarkan kemampuan sendiri dengan informasi apa saja yang ada.

Namun persamaan-persamaan tersebut hanyalah sebatas kulit. Sepintas “seolah-olah bencana tsunami menimpa PBB dan bukan LSM Aceh,” ujar seorang sukarelawan setelah bekerja satu hari penuh menyaksikan kegiatan yang dilakukan oleh LSM lokal dan internasional. Memang betul bahwa kelompok internasional berjuang untuk mendapatkan staf, ruang dan peralatan kantor, tetapi kantor-kantor LSM lokal tergerus dari permukaan bumi dalam waktu setengah jam, bersamaan dengan orang orang tercinta, teman dan kolega.

LSM internasional juga melupakan satu kenyataan penting; yaitu sehubungan dengan kegiatan kemanusiaan, pekerja LSM lokal tidak merasa dirinya adalah korban tsunami tetapi mereka merasa sebagai orang yang selamat yang ditempah oleh pengalaman hidup di bawah peraturan militer selama hampir 20 tahun.

Pada umumnya, tenaga internasional berasal dari pekerjaan di kota besar atau terbiasa untuk bekerja di bawah sistim diktator yang mengalami kebobrokan. Tenaga internasional tersebut juga tidak sempat mempertimbangkan bahwa dalam waktu satu atau dua hari setelah tsunami, sebagian LSM lokal sudah melakukan kerjasama dengan teman-teman dari Jakarta dan propinsi lain.

Sayangnya, waktu Badan dan LSM internasional ‘mengambil alih’ usaha pemulihan, sejumlah pemimpin lokal merasa bahwa upaya mereka – walaupun dalam skala kecil – dianggap sangat remeh oleh kelompok internasional tersebut.

Berbicara satu sama lain

Kesalahpahaman sangat menghalangi pembinaan hubungan baik di antara LSM internasional dan lokal, apalagi karena ada kekurangan tenaga juru bahasa yang mahir. Hal tersebut cukup nyata pada minggu yang keenam, waktu jumlah masyarakat yang mengungsi mulai menurun, dan LSM internasional memutuskan bahwa tahap darurat telah berakhir. Selanjutnya, wakil-wakil internasional mulai berkunjung ke LSM lokal dalam rangka mencari mitra kerja, atau setidaknya masukan, mengenai program untuk ‘pemulihan dan rekonstruksi Aceh’.

Jumlah tenaga kerja dari LSM internasional yang lancar berbahasa Indonesia sangat sedikit dan terdapat jauh lebih banyak penggemar malapetaka serta tenaga yang baru diangkat dan sangat bersemangat, tetapi kebanyakan datang tanpa persiapan untuk menjembatani halangan bahasa.

Tidak apa apa. Sukarelawan lokal yang tidak mampu berbahasa Inggris cepat membiasakan diri dengan berbagai istilah yang diungkapkan terus dengan keseringan yang sangat menjengkelkan, seperti ‘civil society enpowerment’ (pemberdayaan masyarakat madani), ‘similar programs in Kosovo/Sierra Leone/Afghanistan (program serupa di….)’, ‘rapid assesment (penilaian kilat)’,’we’re looking for implementing partners (kami mencari mitra pelaksanaan)’ dan ‘organisational capacity building (pendayagunaan organisasional)’.

Saya teringat kembali bahwa suatu malam ada kunjungan dari seorang lelaki dari sebuah organisasi internasional yang namanya saya belum pernah dengar. Laki-laki tersebut duduk bersila di lantai sebuah kantor LSM lokal sambil menyebut setiap istilah di atas sementara puluhan sukarelawan sibuk bekerja di sekitarnya. Pada ketiga kalinya lelaki tersebut menyebut istilah ‘capacity building’ saya mengamuk: seorang teman baik dari teman-teman LSM saya baru meninggal dunia akibat serangan pneumonia disebabkan terhirupnya lumpur hitam dari air tsunami.

Kejadian tersebut bukanlah terakhir kali saya meminta kepada seorang pekerja internasional untuk datang kembali pada waktu yang lebih sesuai. Sementara suatu kelompok lain yang diketuai oleh seorang lelaki yang kelihatan kuno dan berkeringat tiba pada akhir bulan Januari tepatnya hari raya Idul Adha, hari libur keagamaan yang nomor dua bagi orang Islam, yang sangat dinantikan oleh pekerja LSM sebagai kesempatan untuk istirahat dari suasana kekacauan.

Selama kedua kejadian tersebut dan banyak lagi, anggota LSM lokal duduk, tersenyum dan menawarkan apa saja informasi ataupun pengetahuan yang dianggap penting. “Jangan khawatir tentang itu”, kata salah satu anggota LSM menanggapi kemarahan saya pada hari raya Idul Adha. “Mereka semua mengalami tekanan keras untuk menghabiskan jutaan dolar yang disumbangkan ke Aceh.”

Memang itikad baik tidak berkurang. Kebaikan tersebut sangat mengesankan seperti bencana tsunami itu sendiri, dan akan membantu orang Aceh sepanjang masa dukacita. Berbagai kesalahpahaman dari masa lalu sekarang dibenahi karena upaya pemulihan sangat berhasil. Masih ada kemauan besar untuk menciptakan kehidupan baru bagi Aceh.

Tetapi apabila LSM-LSM internasional benar mewakili masyarakat umum yang menyumbang dana dan hasil pajak untuk kegiatan LSM, aspek manusiawi daripada upaya kemanusiaan perlu ditingkatkan.

Beberapa bulan telah berlalu, sekarang kalau lembaga dan LSM internasional menanyakan kepada saya tentang pengembangan hubungan yang lebih baik dengan kelompok lokal, saya beritahu mereka bahwa sebaiknya beberapa staf diajak duduk bersama-sama di warung dan minum kopi yang sudah menjadi kebanggaan Aceh. Saya sering melakukan hal tersebut di tengah-tengah kekacauan dan merasakan bahwa saya belajar lebih banyak dari teman-teman Aceh dibandingkan apa yang dapat saya berikan.



Linda Mylle (bukan nama sebenarnya) adalah seorang relawan internasional yang berusaha sebaik-baiknya untuk bekerja dengan LSM-LSM Aceh di Banda Aceh.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org