FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2005..
    INSIDE INDONESIA
Setelah Tsunami

April-Juni 2005

Jurnal Seorang Relawan Aceh

Edward Aspinall

Rangkuman berikut ini dipetik dari buku harian Ed Aspinall saat berada di Aceh setelah tsunami.

4-6 Januari 2005

Setelah mencoba memperoleh tiket di Jakarta selama tiga hari, saya tiba di Medan pada jam 3 pagi, dengan penerbangan yang sebenarnya dijadwalkan tiba jam 8 malam. Saya sudah berulang kali menempuh route ini, tetapi belum pernah pesawatnya sedemikian penuh. Pesawat itu dipadati oleh orang-orang Indonesia dan para pekerja LSM internasional serta relawan dari berbagai badan sosial. Di samping saya duduk sebuah tim Ananda Marga yang mengenakan jaket oranye, di depan saya ada beberapa insinyur yang mengenakan rompi dengan gambar logo perusahaan dan slogan ‘Tim Relawan Aceh’. Di hotel, saya melihat pilot dari Singapura bersapaan dengan tim SAR Meksiko, jurnalis dari Amerika dan relawan dari Jepang yang membawa tas besar.

Saya bepergian dengan sebuah tim dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Jakarta. Kantor mereka berada di wilayah yang terkena bencana, meskipun kami tidak tahu seberapa parah kerusakannya. Sebagian besar staf dapat dilacak, kecuali direkturnya, Syarifah, seorang pengacara Aceh ternama yang rumahnya terletak di tepi pantai di Banda Aceh. Kami akhirnya berhasil menemui ayah Syarifah. Ia sangat yakin bahwa anak dan cucu-cucunya tidak selamat. Di usianya yang ke 70, ia kehilangan 11 orang anggota keluarganya dan sekarang sebatang kara. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya sekarang.

Jalan dari Medan dipenuhi oleh truk dan kendaraan yang mengangkut bantuan kemanusiaan, relawan dan peralatan berat lainnya. Kami melewati sebuah konvoi yang terdiri dari tiga buah truk dan sekitar enam mobil van dan jeep menggunakan logo PKS, Partai Keadilan Sejahtera. Banyak orang mengatakan bahwa partai tersebut adalah partai politik terbaik dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Banyak sekali kendaraan militer yang juga turut bergerak dan masih ada pos-pos sepanjang jalan, paling tidak di malam hari. Di sebuah hotel di Lhokseumawe, kami melihat dari televisi Colin Powell melihat Aceh dari helikopter. Tiba-tiba Aceh menjadi pusat perhatian dunia.

Ketika kami melewati Lhokseumawe, tanda-tanda kerusakan akibat tsunami mulai terlihat jelas. Di beberapa daerah, kalangan militer telah mendirikan tenda dan kelihatannya mulai memberikan bantuan pangan dari dapur umum. Di daerah lainnya, tempat penampungan sementara terbuat dari potongan plastik yang tergantung pada seutas tali dan sekelompok pria melambaikan tangan kepada mereka yang lewat sambil membawa ember, mengharapkan bantuan. Tidak ada tanda yang signifikan atas kehadiran orang asing.

Kami tiba di Banda Aceh sekitar jam 9 malam. Kami mengendarai mobil ke pusat kota, melewati mesjid Baitturahman dan pusat perbelanjaan yang telah rata, menuju arah pasar. Pemandangannya benar-benar tidak dapat dipercaya. Jalannya basah dan berlumpur, kami melewati sekelompok tentara Indonesia dan Australia dengan peralatan alat berat bekerja dibawah penerangan lampu sorot. Bagian kota ini benar-benar hancur. Tidak ada mayat di jalan, tetapi baunya sangat menusuk. Arie, teman saya yang baru kembali ke Banda Aceh setelah dua tahun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

7 Januari 2005

Pada pagi hari, kami pergi ke Pusat Krisis Masyarakat (PCC) yang menjadi pusat informasi orang hilang, dimana telah didirikan sebuah posko di deretan ruko di Simpang Surabaya, sekitar 20 meter dari sungai dimana mayat masih dijaring setiap hari. Orang-orang menempelkan data anggota keluarga mereka yang hilang; baik orang dewasa, anak-anak, remaja dan seringkali dilengkapi dengan foto yang diambil dari foto KTP atau potret keluarga beserta nomor atau alamat yang bisa dihubungi. Semua ini ditempelkan pada deretan toko yang sudah tutup, dan jumlahnya mencapai ratusan.

Target utama PCC adalah masyarakat pengungsi yang telah mengungsi ke rumah teman atau kerabat di daerah yang tidak terkena tsunami, karena lokasi pengungsian mulai didatangi oleh tim dari pemerintah, klinik keliling dari berbagai LSM internasional, sedangkan masyarakat pengungsi di rumah-rumah tersebut tidak menerima bantuan apapun.

Di tengah segala kerusakan yang terjadi, ada aktivitas dimulai di berbagai tempat. Di hampir setiap sudut didirikan posko. Sebagian didirikan oleh organisasi Islam, dan yang paling kasat mata adalah dari PKS. Sebagian lainnya didirikan oleh kelompok binaan pemerintah seperti Pemuda Pancasila, perusahaan, kelompok mahasiswa dari Sumatera Utara atau dari daerah lain seperti kelompok Sulawesi Selatan Peduli Aceh. Badan internasional tidak langsung tampak terlihat di tepi jalan, tetapi mereka juga tersebar ke berbagai penjuru, dimana jalan-jalan dipenuhi oleh truk yang membawa bantuan kemanusiaan dan mobil-mobil four-wheel drive yang membawa dokter, ahli sanitasi dan sebagainya.

Para koordinator mahasiswa di lokasi pengungsian (berjumlah sekitar 1000 orang) yang didirikan oleh Palang Merah Indonesia dan para mahasiswa di Universitas Syiah Kuala mengatakan bahwa lembaga internasional besar memang cepat bergerak, tetapi koordinasi diantara mereka sangat kurang. Misalnya suatu hari kelompok dari LSM seperti World Vision datang dan membagikan makanan, tetapi suplai obat-obatan yang dibawa mungkin kurang. Hari berikutnya datang suplai obat-obatan, tetapi mereka kekurangan bantuan makanan. Kamp pengungsian ini sangat mengandalkan para relawan dari Jakarta karena sebagian besar mahasiswa lokal juga menjadi korban atau sibuk berusaha menemukan atau membantu kerabat mereka sendiri.

Kemanapun saya pergi, saya melihat reuni antar teman, terkadang penuh emosi, terkadang hampa. Selanjutnya mereka menanyakan mengenai teman senasib. Terkadang beritanya baik, tetapi banyak juga cerita mengharukan tentang keluarga yang hanyut, kehilangan pasangan dan anak. Kemudian pembicaraan bergeser pada gempa dan tsunami itu sendiri. Mereka akan membicarakan dimana mereka berada, bagaimana mereka melarikan diri dan apa yang mereka lihat. Ada berbagai cerita mengenai orang yang berlari menghindar dari air bah yang menggulung, dimana kapal-kapal nelayan yang berukuran besar terombang-ambing seperti mainan di atas gelombang, mobil yang terbalik-balik dan rumah-rumah yang tercabik dari pondasinya. Banyak orang yang sempat melarikan diri, kecuali di wilayah yang paling dekat dengan laut, meskipun banyak yang terjebak karena panik dan gagal menyalakan mobil, salah berbelok atau digulung gelombang. Di beberapa tempat, air datang dari dua arah yang berbeda pada saat yang bersamaan.

8 Januari 2005

Tanpa sengaja punggung saya bagian bawah terpelecok kemarin dan saya tidak dapat bergerak sama sekali. Lihatlah aku seorang sukarelawan yang hebat! Saya jelas tidak dapat membonceng sepeda motor berkeliling kota. Kami tinggal di rumah seorang pengacara Aceh ternama, yang juga menjadi posko badan keluarga berencana nasional. Saat itu ada 32 dari 150 staf di Aceh hilang atau tewas. Sepanjang hari banyak staf yang datang dan pergi untuk bertukar berita dan menerima bantuan darurat. Sebuah daftar tengah disusun untuk mencatat nasib para anggota staf dan keluarga mereka.

Meskipun pada kenyataannya memang banyak masyarakat miskin Aceh tewas di desa-desa nelayan dan daerah miskin di Banda Aceh seperti Gampong Jawa, sebagian kawasan menengah atas terletak dekat pantai. Banyak diantara korban adalah dokter, pengacara, pelaku bisnis dan kalangan profesional lainnya. Universitas sendiri kehilangan banyak sekali staf pengajar mereka. Disini saya juga berusaha mencari Isa Sulaiman, salah satu sejarahwan Aceh yang terbaik, mewakili teman-teman dan rekan-rekannya di luar negeri. Tidak seorangpun tahu dimana ia berada.

Hari ini ada gempa susulan kecil, tetapi saya tidak merasakannya.

9 Januari 2005

Tujuan pertama hari ini adalah bandar udara, karena seorang aktivis LBH harus mengejar pesawat Herkules untuk kembali ke Jakarta. Lalu lalangnya helikopter pasukan angkatan laut AS adalah suatu pemandangan yang luar biasa: pasti ada sekitar dua puluh yang terbang dan mendarat, datang dan pergi, terkadang membawa korban yang terluka dengan tandu, tetapi terutama mengangkut pengiriman makanan dan air ke pesisir barat. Daerah tersebut merupakan suatu daerah di Banda Aceh dimana kehadiran relawan asing sangat jelas terlihat.

Para aktivis LSM mulai khawatir bahwa kalangan militer akan berupaya untuk menutup Aceh kembali. Setiap orang berpikir bahwa pasti ada pembagian besar-besaran atas uang rekonstruksi antara para pelaku bisnis yang memiliki koneksi politik dan para pelaku bisnis yang memiliki koneksi militer. Semakin sedikit kehadiran kalangan asing untuk memonitor jumlah uang yang dikeluarkan, akan semakin mudah untuk mengkorupsi uang tersebut. Tadi malam, ada tembakan dekat komplek PBB, di rumah wakil komandan polisi. Tidak ada seorangpun yang percaya pada pernyataan angkatan bersenjata yang mengatakan bahwa itu adalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

10 Januari 2005

Kami pergi untuk mencari rumah Isa Sulaiman yang terletak jauh dari laut dan banyak rumah di kecamatan tersebut yang tampaknya tetap utuh meskipun air saat tsunami pasti mencapai setinggi dua lantai. Ada beberapa kapal yang terdampar di beberapa rumah, demikian halnya dengan mobil dan sejumlah besar puing. Jalan-jalan belum sepenuhnya dibersihkan dan tenggelam di dalam lumpur. Kelihatannya kelompok evakuasi jenasah berhasil mengeluarkan banyak mayat dari reruntuhan di jalan rumah Isa.

Para aktivis LSM semakin khawatir bahwa pemerintah akan membatasi akses masyarakat asing, karena Jusuf Kalla mengatakan pada siaran televisi nasional bahwa masyarakat asing hanya diperbolehkan berada di Banda Aceh dan Meulaboh.

11 Januari 2005

Akhirnya hari ini saya dapat mulai bekerja. Para koordinator logistik dan medis pada forum LSM sudah mulai kehabisan suplai, seperti pembalut wanita, makan bayi dan obat-obatan tertentu. Koordinasi juga kelihatannya sangat rawan. Pimpinan tim medis mengatakan bahwa mereka terkadang mengunjungi dan mengobati para pengungsi yang menerima perawatan dari tim medis yang berbeda di hari sebelumnya. Sanitasi juga menjadi masalah besar dimana-mana. Salah satu pengungsi (Internally Displaced Person - IDP) mengatakan bahwa di tempat pengungsiannya tidak tersedia toilet sehingga masyarakat menggunakan hutan di sekitarnya. Ketika hujan, kotoran terbawa oleh air ke tenda-tenda tempat mereka mengungsi.

Ardi, koordinator Forum LSM merasa frustrasi. Banyak agen internasional besar yang datang dan mengunjungi mereka serta menanyakan data IDP dan kegiatan mereka, tetapi kemudian tidak kelihatan lagi. Banyak karyawan LSM lokal yang terampil direkrut oleh LSM internasional besar yang dapat menawarkan gaji tinggi sehingga forum tersebut mulai kekurangan relawan yang memiliki kemampuan dan pengetahuan lokal yang baik. Pada saat yang sama, harga sarana transportasi dan sewa bangunan terus meroket. Sewa rumah meningkat dari 12 juta rupiah (A$ 1700) setahun menjadi 10 juta rupiah (A$1400) sebulan (beberapa hari kemudian bahwa beberapa LSM internasional membayar 1 juta rupiah (A$ 140) per hari). Mulai terjadi sistem ekonomi ganda.

Kalangan internasional mulai khawatir atas potensi pemerintah untuk membatasi akses, meskipun mereka tidak mengatakannya secara terbuka. Katanya, pemerintah telah mengatakan bahwa mereka hanya akan memberi akses ke 12 dari 24 kamp dimana pemerintah berencana untuk merelokasi para pengungsi. Ketakutan yang sama juga terlihat pada pertemuan koordinasi PBB yang saya hadiri. Ruang pertemuan tersebut penuh sesah, tetapi sangat sedikit diantara yang hadir tersebut adalah orang Indonesia. Kelihatannya agak seperti budaya koboi, dipenuhi oleh semangat dan tekad, meskipun saya juga terkejut dengan beberapa aspek pada pertemuan tersebut. Rupanya sebagian diantaranya tidak memiliki pengetahuan yang luas atas latar belakang politik dan situasi keamanan. Sebagian orang masih berpikir bahwa GAM yang bertanggung jawab atas serangan atas deputi komandan polisi, meskipun di salah satu koran lokal yaitu Serambi Indonesia, para petinggi Indonesia sendiri mengakui bahwa pelakunya adalah tentara Indonesia yang stres.

12 Januari 2005

Saya menghabiskan waktu hampir seharian di Forum LSM. Kami berhasil mendapatkan perangkat klinik medis untuk 1000 orang dari WHO. Ini adalah hal yang sangat menggembirakan karena para dokter yang diorganisir oleh forum tersebut mulai kehabisan suplai. Forum mengirimkan tim bersama dengan pemberian bantuan logistik ke sekitar 40 kamp dan mengobati sekitar 200 orang setiap hari. Begitu sistem koordinasi kamp mulai dibenahi, Forum merencanakan untuk mendirikan klinik permanen di dalam kamp. Saat itu, kami dapat meminta lebih banyak suplai kepada WHO.

Sementara itu, beberapa aktivis LSM mulai membentuk kelompok kerja masyarakat sipil untuk mempersiapkan pandangan mereka sendiri atas proses rekonstruksi. Mereka khawatir bahwa jika mereka tidak segera bertindak, maka pemerintah dan organisasi internasional akan mengontrol proses tanpa masukan yang bermakna dari masyarakat. Besok akan diadakan pertemuan untuk membahas hal ini dan sementara itu kekhawatiran bahwa Aceh akan ditutup kembali terus meningkat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pada harian Serambi bahwa kalangan militer dan relawan asing harus meninggalkan Aceh pada akhir Maret. Kalangan LSM lokal merasa bahwa ruang demokratis akan tertutup kembali jika hal ini terjadi, sehingga mereka ingin bergerak cepat.

Malam itu kembali terjadi gempa susulan.

14 Januari 2005

Saya menjadi relawan sebagai penerjemah pada salah satu rumah sakit dimana tim dokter asing bekerja. Disana ada tim dari Estonia dan Jepang di bagian emergensi pada bagian depan rumah sakit dan sebuah kelompok besar dokter Australia yang melakukan operasi dan berkeliling memeriksa pasien. Kebanyakan pasien merasa sangat gembira karena mendapatkan perawatan medis yang baik, namun merasa frustrasi karena tidak dapat berkomunikasi dengan para dokter. Salah seorang pria berusia tujuh puluh tahunan terbaring di tempat tidur dengan luka pada kaki dan batuk yang parah. Saya mengobrol dengan anaknya yang pada saat tsunami telah berhasil membongkar atap rumahnya dan menarik ayahnya naik. Ia juga berhasil menyelamatkan ibunya, namun tewas beberapa hari kemudian. Istri dan kedua anaknya hilang, dan ia tidak mengerti mengapa ia selamat.



Edward Aspinall mengajar di Sydney University dan merupakan ketua dewan IRIP.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org