|
Jan – Mar 2005
Di Aceh, kenyataan tidak selalu seperti apa yang
nampak
Michelle Ann Miller
Di Aceh, seperti halnya di daerah konflik yang lain,
sulit menemukan kebenaran. Ruang utama untuk
mengungkapkan keluhan politik adalah medan tempur.
Perang propaganda supaya menarik dukungan jiwa dan
pikiran orang Aceh, antara Tentara Nasional Indonesia
(TNI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saling
menyalahkan satu sama lain atas pelanggaran hak asasi
manusia yang dilakukan terhadap masyarakat sipil,
penyerangan fasilitas pemerintah dan kejahatan lainnya.
Kedua belah pihak merekayasa semaunya atas jumlah
korban penduduk sipil, jumlah peserta dalam aksi demo,
serta jumlah pasukan TNI dan GAM, di antara lain. Bagi
pihak luar kedua tantangan yang paling dasar adalah
menemukan siapakah yang bertanggung jawab untuk
kekerasan, serta akibatnya.
Sejak darurat militer mulai berlaku pada bulan Mei
2003, TNI telah memegang monopoli atas ‘kebenaran’ di
provinsi Aceh melalui penyensoran yang ketat terhadap
media massa, pembubaran LSM-LSM lokal secara terpaksa
dan larangan terhadap pengamat internasional. Penguasa
Darurat Militer Daerah (PDMD), Mayor Jendral Endang
Suwarya, mengatakan bahwa peliputan secara ‘terbatas’
terhadap konflik turut menyongsong ‘semangat
nasionalisme Indonesia’. Kampanye media dari pihak
militer menampilkan pertahanan kedaulatan negara
melawan kaum ‘teroris’, proyek pembangunan masyarakat
dan perlakuan ‘manusiawi’ terhadap para tahanan GAM.
Sementara itu, GAM mengatakan bahwa pihak TNI tidak
pernah mengungkapkan kebenaran. Menurut GAM,
pendudukan Aceh oleh militer asing telah mengakibatkan
‘pemusnahan’ bangsa Aceh, yang kemudian disembunyikan
karena TNI mengendalikan seluruh informasi. GAM juga
membantah tuduhan dari pihak TNI bahwa GAM yang
membakar ratusan sekolah. GAM mengatakan bahwa hal
tersebut justru dilakukan oleh militer Indonesia dan
kelompok militia yang didukung olehnya.
Sebenarnya sulit untuk mengetahui ‘kebenaran’ tentang
perkembangan di Aceh mengingat masyarakat Aceh
terjebak secara politik oleh kedua belah pihak yang
bertikai. Daerah pekotaan, yang diduduki oleh hampir
25% dari seluruh penduduk, telah dikendalikan oleh
militer selama lebih dari satu tahun. Gerakan
pendukung referendum, LSM kemanusiaan dan pers bebas
yang mulai berkembang mekar setelah pelengseran
Suharto sekarang sudah tidak kelihatan lagi dan
demikian juga pimpinannya. Sementara di daerah
pedesaan, yang mengalami pelanggaran hak asasi manusia
yang paling buruk, dukungan terhadap GAM umumnya kuat.
Bagi pihak yang tidak ada di lapangan, sangatlah sulit
untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di daerah
pedesaan dalam pertempuran antara GAM dan TNI.
Apalagi sangat sulit bagi orang luar untuk mengartikan
ketidakjelasan yang muncul akibat suasana ketakutan.
Orang yang menyuarakan suatu pendapat yang memihak
dapat menjadi sasaran kekerasan. Maka dapat dimaklumi
kalau banyak orang Aceh mencurigai tujuan ‘sebenarnya’
dari orang luar. Orang Aceh sering tidak tahu kalau
nanti bakal dikhianati oleh orang luar atau informasi
yang disampaikan akan jatuh ke tangan orang jahat.
Orang Aceh sering menyampaikan keterangan berdasarkan
apa yang sudah mereka ketahui tentang orang luar
tersebut atau siapa yang mengantar orang tersebut.
Suasana yang penuh ketakutan tidak menghasilkan
pembicaraan yang jujur, lagipula mengingat keadaan di
Aceh sangat rawan, orang tidak mudah percaya dan
setiap ungkapan dipertimbangkan dengan hati-hati.
Orang luar juga sering menjadi sasaran dalam
propaganda perang dan perlu sangat waspada terhadap
berita yang diberikan kepadanya. TNI menyatakan bahwa
operasi keamanan hanya dilakukan terhadap GAM. Tetapi
di daerah pedesaaan Aceh terdapat begitu banyak cerita
tentang kekejaman yang dilakukan oleh TNI terhadap
rakyat sipil. Cerita tersebut sering didukung oleh
bukti fisik, seperti kampung janda dan pasar yang
terbakar habis.
Pemimpin GAM di Swedia mengaku hanya melalukan
penyerangan terhadap TNI. Tetapi penulis diberitahukan
pada bulan Desember 2000 oleh seorang panglima GAM
wilayah Aceh Besar bahwa dia pernah ‘menghapus’
transmigran non Aceh dari jalan-jalan tertentu.
Panglima GAM tersebut menerima penulis dengan sangat
ramah dan suka berbicara walaupun dia sedang menderita
malaria, juga mengatakan bahwa rumah yang dia duduki,
sebelumnya dihuni oleh seorang ‘pengkhianat’ yang
telah mengungsi ke Jakarta. Setelah kejadian tersebut,
penulis baru ketahui, bahwa ternyata rumah panglima
tersebut adalah bekas rumah keluarga dari seorang
kawan dari Aceh dan bapaknya, bukan anggota GAM, telah
dibunuh oleh saudaranya anggota GAM setelah dia
menolak untuk memberikan mereka uang.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa TNI telah
mengakibatkan kebanyakan penderitaan yang dialami oleh
rakyat Aceh. Kekejaman militer telah menciptakan
kondisi subur yang mendukung regenerasi GAM. Tetapi,
ketika orang Aceh berkata bahwa mereka lebih takut
kepada TNI dibandingkan GAM, tidak berarti bahwa
perjuangan GAM telah berlangsung secara manusiawi.
Dari pandangan seorang luar, ketakutan masih
mengaburkan ‘kebenaran’ di Aceh.

Michelle Ann Miller (Michelle.Miller@cdu.edu.au)
sedang menulis disertasi PhD tentang konflik di Aceh
di Universitas Charles Darwin. |