|
Jan –
Mar 2005
Suara dari gerakan masyarakat sipil Aceh
mengatakan inilah saatnya untuk refleksi diri.
Anonymous
Setelah kejatuhan Suharto pada tahun 1998, suatu
gerakan masyarakat sipil muncul bertaburan di Aceh.
Kelompok pejuang hak azasi manusia (HAM), sejumlah
organisasi perempuan, koalisi aktifis mahasiswa dan
banyak lainnya. Ini adalah masa yang menggairahkan dan
penuh semangat. Kebanyakan kelompok mengutuk militer
Indonesia secara terbuka, banyak diantaranya yang
mengangkat isu penentuan nasib sendiri. Yang lainnya
bekerja pada tingkatan masyarakat bawah, menggerakkan
tenaga sukarela untuk mengumpulan informasi tentang
pelanggaran HAM dan penguatan kesadaran masyarakat.
Saya adalah salah seorang aktivis dalam pergerakan
pada saat itu. Tetapi, sekarang saya melihat begitu
banyak masalah dan merasa inilah saatnya untuk
berbicara. Saya tidak bermaksud untuk mempermalukan
teman-teman aktifis Aceh, tetapi saya pikir kita harus
memulai perdebatan di antara kita. Keadaan semakin
sulit sekarang ini di Aceh, dan kita perlu untuk
mengkritisi dan merefleksi diri.
Elitisme dan Demokrasi
Salah satu masalahnya adalah elitisme dikalangan
pimpinan organisasi masyarakat sipil. Satu hal yang
penting, sebagian besar anggota dari kelompok
masyarakat sipil Aceh berasal dari kelas menengah.
Sebagian besar mereka merupakan mahasiswa yang tinggal
di Banda Aceh, ibukota propinsi, ataupun kota besar
lainnya. Yang semakin runyam adalah, dari sejumlah
anggota kelompok tersebut telah menjadi ‘elit
dikalangan elit’.
Sebagian besar pimpinan masyarakat sipil memperoleh
jabatan mereka antara dua ataupun lima tahun yang
silam, ketika itu kelompok masyarakat sipil menjamur.
Sebagian besar (walaupun bukan seluruhnya) tidak
pernah dipilih melalui proses yang demokratik.
Sekarang ini, mereka masih mendominasi pengambilan
keputusan dan masih menduduki sebagai figur publik
dari aktifitas masyarakat sipil. Kebanyakan anggota
biasa menjadi ‘mayoritas yang tak bersuara’. Mereka
kurang keahlian dan kurang percaya diri untuk
mempertanyakan pimpinan mereka.
Jadi sekarang ini, bukan hanya kaum elit masyarakat
sipil tidak lagi mewakili masyarakat Aceh secara umum,
mereka bahkan tidak lagi mewakili anggota kelompoknya
sendiri. Malah, pengambilan keputusan tanpa didasari
pada konsultasi yang luas. Demokrasi internal
kelihatannya menjadi isu yang tabu untuk dibicarakan.
Tetapi bagaimana kita dapat mengkampanyekan demokrasi
sedangkan di dalam kelompok kita sendiri tidak
berlakunya sistem yang demokrasi?
Persoalan ini diperparah lagi karena kebanyakan
kelompok menjadi semakin kecil. Bahkan juga kelompok
yang terkenal seperti SIRA, Sentral Informasi
Referendum Aceh, yang mengorganisir pawai referendum
yang besar pada tahun 1999, jumlah anggota mereka
sekarang malah tidak jelas dan bisa dihitung dengan
jari. Hal yang sama terjadi pada banyak kelompok yang
lainnya, seperti LNDRA, KARMA, Farmidia, PDRM, ORPAD,
Perempuan Merdeka dan Forum Kutaraja. Tetapi, sebagai
orang Aceh, kami kurang percaya diri untuk mengatakan
bahwa semua kelompok itu tidaklah mewakili keseluruhan
rakyat Aceh.
Kerja sama dengan GAM
Masalah internal ini terimbas kemasalah yang kedua:
sejumlah pimpinan masyarakat sipil telah mengambil
kebijaksanaan untuk bekerjasama lebih rapat dengan GAM.
Sekarang ini ada suatu usaha untuk membawa semua
aktivis Aceh untuk berada di bawah naungan GAM. Dengan
cara yang baru ini, saya melihatnya sangat berbahaya.
Bekerjasama sangat rapat dengan GAM akan menghancurkan
kampanye kita untuk kebebasan mengeluarkan pendapat
dan berkumpul di Aceh.
Sejumlah aktivis kelihatannya sekarang ini tidak mampu
melihat nilai dari masyarakat sipil berdiri sendiri
sebagai gerakan terpisah. Dalam beberapa bulan
kebelakangan ini, sejumlah pertemuan telah berlangsung
antara aktifis elit masyarakat sipil dengan anggota
GAM. Sejumlah bentuk kerjasama juga telah disetujui.
Salah satunya adalah untuk menerbitkan buletin
informasi (Duta Acheh).
Saya tidak menyalahkan GAM dari kesalahan langkah ini.
Mereka hanya mencoba untuk mempromosikan langkah
politik mereka. Saya menyalahkan para elit masyarakat
sipil yang menyetujui untuk sejumlah masalah tanpa ada
suatu mandat. Lebih dari itu, saya menyalahkan
mayoritas yang tidak bersuara karena tidak menunjukkan
rasa keberatan.
Kenapa sebagian besarnya diam? Sebagai suatu contoh
yang jelas terjadi pada akhir Agustus 2004, Perdana
Menteri GAM, Malik Mahmud, mengeluarkan pernyataan
yang berbunyi ‘Monyet-monyet melihat apa yang monyet
lakukan’ untuk menyalahkan pemindahan tahanan Aceh ke
sejumlah penjara di Jawa. Dalam hal ini, dia
menyatakan secara tidak langsung Pemerintah penjajah
Indonesia adalah seperti seekor monyet, dan secara
membabi buta melaksanakan penjajah Belanda dulu.
Seorang aktivis yang tinggal di luar negeri
mengirimkan sebuah kritik ke sebuah mailing list Aceh
yang menyatakan penggunaan kata ‘monyet’ itu adalah
tidak tepat. Beberapa aktifis biasa menyetujuinya, dan
menambahkan bahwa GAM perlu untuk menggunakan bahasa
yang lebih moderat dalam setiap pernyataannya. Mereka
khawatir bahwa perkataan monyet menimbulkan kesan
kesukuan dan anti Jawa. Bagaimanapun, sebagian besar
elit masyarakat sipil diam saja.
Sejumlah anggota GAM menanggapinya. Mereka menggunakan
cara yang agresif. Salah seorangnya menulis bahwa GAM
tidak memerlukan kritik dari orang-orang yang tidak
menghasilkan apa-apa buat mereka. Lebih jauh, dia
menambahkan, ‘kapanpun Perdana Menteri mengeluarkan
suatu pernyataan, dia pasti telah memikirkannya lebih
dari 300 kali.’ Ketika hal ini terjadi, semua anggota
masyarakat sipil yang menjadi anggota maling list ini
diam saja.
Kita cenderung menyatakan bahwa semua masalah yang
dihadapi oleh gerakan masyarakat sipil di Aceh
disebabkan oleh penindasan negara, mungkin bisa
dikatakan benar. Sejumlah lainnya disebabkan oleh kami
sendiri. Kita perlu untuk berbicara lebih berani untuk
suatu demokrasi internal dan melawan sebagian dari
pemimpin kita yang tidak lagi sebagai perwakilan
organisasi. Kita juga perlu untuk belajar untuk
melawan tekanan dari GAM. Dengan harapan tersebut saya
menulis artikel ini. Saya berharap kawan-kawan aktifis
Aceh dapat membicarakan ini secara positif dan juga
dalam suatu nilai solidaritas.

Penulis
adalah seorang aktifis masyarakat sipil Aceh yang
tinggal di luar Aceh. |