|
No.
81, Januari-Maret 2005
Oleh Marcus Mietzner
Kematian Munir, seorang aktivis pembela hak azasi
manusia ternama dalam perjalanan menuju Amsterdam
dengan pesawat Garuda pada tanggal 7 September 2004
tidak hanya mengejutkan keluarga dan rekan-rekannya
saja.
Ramainya orang yang datang ke pemakamam setelah
beberapa hari kematiannya menandakan bahwa Indonesia
telah kehilangan salah seorang dari tokoh sosial dan
politik yang paling penting.
Pada usia 38 tahun, Munir telah menjadi kusuma pada
bangsa yang selama empat dekade berada dibawah
pemerintahan yang otoriter dan kala itu sedang
berharap suatu masa depan tanpa penindasan, kekejaman
dan pengawasan yang di lakukan oleh negara.
Perkembangan potensi diri Munir melampaui keahlian dan
komitmennya dalam persoalan hak azasi manusia. Selama
beberapa tahun belakangan ini, Munir menjadi tokoh
yang terkenal dalam permasalahan pertahanan dan
keamanan, dimana dia mengerti dan mengkritik struktur
yang mengakibatkan terjadinya kekerasan yang telah
berlawanan dengannya semenjak awal dari karirnya
sebagai seorang pengacara di lembaga bantuan hukum (LBH).
Berangkat ke negeri Belanda pada malam hari tanggal 6
September, Munir merencanakan untuk melanjutkan
pendidikannya di bidang hukum internasional hak azasi
manusia dan implikasi konflik bersenjata terhadap
konsolidasi demokrasi dan kebebasan individu. Dia
telah memilih Aceh sebagai topik untuk tesis S-2
[master] nya di University of Utrecth, dan juga telah
memutuskan untuk memulai S-3 [doktoral] nya setelah
itu.
Harapan akan kepulangan Munir pada tahun 2008 atau
2009 yang membuat kematiannya menjadi tragedi yang
luar biasa. Perkembangan dari kemampuan analisanya
yang memang sudah luar biasa akan memungkinkan dia
untuk bekerja lebih intensif dalam bidang pembuatan
kebijakan dan institusi yang diperlukan untuk sebuah
sistem politik yang lebih demokratis.
Munir dilahirkan pada tahun 1965, tahun dimana Suharto
mulai berkuasa, ia dibesarkan di keluarga kelas
menengah berketurunan Arab. Setelah masuk ke Fakultas
Hukum di Univesitas Brawijaya - Malang, dia mulai
meneliti
masalah-masalah perburuhan.
Penelitian itu memberikannya pengalaman langsung
tentang kesulitan ekonomi dan pembungkaman politik
yang dialami oleh para buruh dan petani dibawah rezim
orde baru, Suharto. Dia lulus pada tahun 1989 dan
mulai bekerja di sebuah lembaga bantuan hukum – YLBHI,
yang mengantarkannya dari Surabaya, Semarang sampai ke
kantor pusat organisasi di Jakarta.
Setelah berkali-kali melakukan pembelaan terhadap para
penentang dari perangkat hukum rezim orde baru, Munir
mendirikan Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS)
pada awal tahun 1998, dimasa ketika puncak ketegangan
politik yang pada akhirnya membawa jatuhnya Suharto.
Organisasinya telah mampu memberikan titik terang
terhadap sejumlah penculikan yang dilakukan oleh
militer pada hari-hari akhir rezim itu. Organisasi
tersebut melanjutkan pemantaun secara seksama terhadap
aparat keamanan dan institusi-institusi pemerintahan
lainnya dalam masa transisi dari pemerintahan otoriter.
Tidak terelakkan, sejumlah kegiatan tersebut
melahirkan banyak musuh. Sejumlah perwira militer
merasa disudutkan oleh kritikan tajam Munir yang tiada
henti, lebih tepat karena mereka merasa bahwa
pengetahuan Munir yang tiada duanya tentang doktrin
dan prosedur internal mereka. Beberapa tahun
belakangan ini, Munir telah mempelajari istilah dan
bahasa sandi militer, yang membuatnya lebih unggul
dari sejumlah perwira senior dikalangan mereka sendiri.
Sejumlah pimpinan militer mengagumi untuk
intelektualnya, dan sebagian yang lain tidak.
Kegiatan yang begitu padat dan ancaman tanpa henti
terhadap pekerjaan dan kehidupan mulai menggangu
kesehatan Munir. Pada bulan Agustus 2001, sebuah bom
dilemparkan ke rumahnya di Malang, diikuti dengan
sejumlah serangan ke kantornya yang merusak file di
komputer dan melukai pegawainya. Walaupun begitu dan
tetap berdiri tegar dan bahkan membentuk sebuah
organisasi baru, IMPARSIAL, pada bulan Agustus 2002,
dia mulai menyadari bahwa dia berhutang terhadap
istrinya Suciwati dan dua orang anak untuk kehidupan
yang tidak begitu susah dan berisiko.
Keinginan untuk sedikit beristirahat dan melanjutkan
kemampuan akademiknya, Munir menerima tawaran
scholarship yang sementara waktu bisa memindahkan dia
dari jadwal yang padat sementara mempersiapkan untuk
lebih mendalami keterlibatan nya dalam bidang social
dan politik setelah kembali. Dia akhirnya memilih
untuk menerima tawaran dari pemerintah Belanda untuk
melanjutkan pembelajarannya di Utrecht.
Dalam pesta perpisahan pada tanggal 3 September, saya
memperoleh kesempatan yang terakhir untuk berbicara
dengan teman saya yang menahun. Pikirannya terfokus
terhadap tugas di masa yang akan datang. Ia hanya
memikirkan tentang hubungan dengan koleganya di tanah
air dan geliat persepak bolaan Eropa yang mungkin akan
mengalihkannya dari kuliah.
Hanya tiga hari kemudian, berita kematian Munir telah
merampas Indonesia tidak hanya karena intelektualitas
dan aktifitas yang unik, tetapi juga harapan yang
cerah di masa yang akan datang.

Marcus
Mietzer tinggal di Jakarta dan sedang menyelesaikan
PhD nya tentang politik militer setelah periode
Suharto.
Catatan editor. Sejak Inside Indonesia diterbitkan,
hasil otopsi yang dilakukan oleh Institute Forensik
Belanda terhadap mayat Munir ditemukan konsentrasi
arsen yang tinggi di dalam darahnya. Kementerian Luar
Negeri Belanda menyimpulkan bahwa penyelidikan
kriminal harus dilakukan dan mengemukakan pandangan
tersebut kepada pemerintah Indonesia. |