FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2005..
    INSIDE INDONESIA
Seorang Warga Aceh di New York

No 81, Januari-Maret 2005

Dituliskan sebelum Tsunami

Perjalanan Saya: Dari Desa Ke Pengasingan

Eddy L. Suheri

Panga adalah sebuah desa kecil di Aceh Barat yang dikelilingi oleh pegunungan dan hutan rimba. Pada malam hari, anda dapat mendengar gemuruh ombak dari Samudera Hindia. Ini adalah desa tempat saya dilahirkan pada tahun 1975, di rumah kakek dan nenek saya.

Kala itu, tiada fasilitas kesehatan moderen yang berdekatan, bahkan aliran listrik pun belum ada. Sebagian besar warga desa adalah petani tradisional dan ada juga bekerja sebagai penebang kayu kecil-kecilan. Listrik masuk ke desa saya pada tahun 1990-an.

Beberapa tahun setelah saya lahir, keluarga saya membangun sebuah rumah di desa bapak saya di Lamno, suatu kecamatan dengan sebuah kota kecil di Aceh Barat, sekitar 150 kilometer dari Panga. Lamno lebih dekat dengan Banda Aceh, ibukota dari Aceh.

Sekitar dua jam dengan perjalanan darat, atau berjarak sekitar 80 kilometer.

Ketika saya di Sekolah Dasar [SD] dan Sekolah Menengah Pertama [SMP], saya sering tinggal di kedua desa tersebut karena sangat menyukai keduanya. Saya menetap di Panga bersama kakek dan nenek selama satu tahun, dan kemudian pindah ke Lamno selama tahun berikutnya. Pada saat itu, jalan-jalan di Aceh sangat jelek dan kelima sungai di Aceh Barat tidak mempunyai jembatan, sehingga saya harus menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai.

Saya pindah ke Banda Aceh untuk tahun terakhir di SMP. Di Banda Aceh, pertama kalinya saya merasakan ketidak-adilan yang sekarang saya sadari merupakan hasil dari kebijakan Indonesia. Sebagai seorang anak laki-laki dari desa, saya kadang-kadang merasakan bahwa saya diperlakukan dengan tidak hormat. Sebagian besar orang di Banda Aceh merasa bahwa mereka adalah hebat karena mereka lebih ‘Indonesia’ dari kami. Ini khususnya terlihat dikalangan putra dan putri dari tentara dan polisi.

Di Banda Aceh juga ada ‘perbedaan kelas’ dikalangan masyarakat Aceh perkotaan. Kekuasaan politik terpusat di kota dan masyarakat perkotaan lebih materialis dibandingkan dengan penduduk desa. Sebagian besar penduduk kota memiliki rasa terima kasih kepada Indonesia.

Menjadi seorang wartawan

Pada tahun 1996, saya sudah menjadi seorang wartawan. Saya menjadi saksi langsung dampak dari pemerintahan Suharto dan keluarganya. Saya juga melihat brutalitas dan arogansi militer terhadap tanah tumpah darah saya dan rakyatnya. Penindasan tersebut tidak hanya mengakibatkan kematian begitu banyak rakyat Aceh selama bertahun-tahun, bahkan kerusakan lingkungan alam kami. Hutan-hutan, dan juga Taman Nasional Leuser dengan segala keunikan ekosistemnya (yang dibiayai oleh masyarakat internasional), telah dirusak oleh tangan-tangan militer dan pihak yang berwenang untuk memperoleh keuntungan. Pihak tersebut berada dibalik penebangan besar-besaran di Aceh, khususnya di barat, selatan dan barat daya, dimana saya melihat sendiri besarnya kehancuran.

Dari tahun 1998 hingga 2000, saya bekerja di Jakarta sebagai koresponden di MPR untuk sebuah surat kabar Aceh yang bernama Aceh Ekspres. Pada saat itu, saya percaya bahwa sistem pemerintahan federal adalah pilihan yang terbaik yang akan membawa kemakmuran dan kesamaan di seluruh negeri. Pemikiran ini, merupakan bagian dari semangat untuk perubahan dan reformasi yang diikuti dengan kejatuhan Suharto pada bulan Mei 1998 - yang didukung oleh banyak anggota di luar golongan elit suku Jawa.

Bagaimanapun, terbukti bahwa hal tersebut tidak begitu populer dikalangn elit suku Jawa, karena mereka was-was dengan berakhirnya sistem sentralistik maka akan menimbulkan kesukaran bagi mereka, khususnya karena kelebihan penduduk dan kurangnya sumber daya alamnya. Karena itu, elit politik Jawa memobilisasi sentiment ultra-nasionalis untuk mempertahankan Indonesia dalam bentuk yang terpusat ‘negara kesatuan’. Itu merupakan akhir dari pertimbangan mengenai solusi sistem federal.

Dengan alasan di atas saya tidak setuju dengan anggota dewan pusat dari Aceh, seperti Ahmad Farhan Hamid dan Saiful Ahmad. Beberapa jam setelah Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden pada tahun 1999, mereka mulai membicarakan suatu proposal hukum untuk menawarkan ‘otonomi khusus’ bagi Aceh.

Mereka sangat yakin bahwa pemerintah akan menyetujui rancangan mereka. Pemikiran mereka tentang Indonesia yang hanya bertanggung jawab dalam hal pertahanan luar negeri, keuangan dan kebijaksanaan luar negeri, selain daripada itu bisa ditangani oleh pemerintah Aceh.

Sebagaimana dugaan saya sebelumnya, Indonesia hanya menerima sekitar 20 persen dari keseluruhan proposal tersebut ketika otonomi khusus akhirnya diputuskan pada tahun 2001. Sebagian besar dari pemikiran tersebut yang akan membuat Aceh untuk menjadi benar-benar otonomi tidak terjadi.

Saya kembali ke Aceh pada akhir tahun 2000 untuk menerbitkan Seulawah, sebuah surat kabar bebas yang mengangkat kebudayaan Aceh sebagai isinya. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan suatu bentuk ‘jurnalisme budaya’ yang khusus Aceh, sebagai suatu imbangan bagi surat kabar yang telah mapan yang dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa dan menggunakan gaya bahasa Indonesia yang terdiri dari banyak kosa-kata bahasa Jawa.

Saya terinspirasi dari Suara Timor Timur, sebuah surat kabar di Timor Timur, yang telah berhasil dalam menampilkan berita kemerdekaan bagi tanah airnya selama konflik disana. Sayangnya, lain dengan rekan kami dari Timor Timur, kami tidak memiliki ‘jaringan pengaman’ seperti mereka yang disediakan oleh gereja. Kami juga tidak mempunyai banyak dukungan internasional untuk tujuan kami, atau juga kemampuan dana untuk bertahan.

Sedihnya, proyek tersebut bangkrut hanya setelah beberapa bulan.

Tekanan dari tentara juga mulai menimpa saya. Ketika saya bekerja di Aceh Ekspress, pimpinan tentara di Banda Aceh sering memanggil saya ke kantornya ketika saya pulang kerumah. Dia memperingatkan saya sehubungan dengan artikel saya yang dianggap terlalu kritis.

Saya merasa akan terlalu beresiko untuk melanjutkan pekerjaan sebagai jurnalis dengan kondisi tersebut. Tetapi saya tidak meninggalkan Banda Aceh karena saya ingin mengindari masalah dengan tentara. Alasan sebenarnya karena saya merasa kebebasan press di Aceh telah mati setelah tentara mengambil alih. Saya percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menampilkan pemikiran-pemikiran saya tentang Aceh secara bebas adalah dengan cara mengembangkan media alternatif dari luar Aceh.

Mengungsi ke Malaysia

Saya menghabiskan waktu selama dua tahun setengah di Malaysia sambil menunggu untuk pindah ke Amerika Serikat. Tetapi di Malaysia tidak ada tempat yang aman bagi warga Aceh. Di masa lalu, telah terjadi sejumlah insiden berdarah yang melibatkan pengungsi dari Aceh. Salah satunya, kerusuhan di kamp tahanan Semenyih pada tahun 1997, sejumlah pengungsi terbunuh akibat protes mereka terhadap penganiayaan.

Saya ditangkap dan dipenjara sebanyak dua kali di Malaysia. Pertama karena polisi mencurigai saya sebagai salah satu anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Kedua, karena masalah yang sederhana yaitu status saya pengungsi, walau diberikan oleh United Nations High Commission on Refugee, tetapi tidak akui oleh pemerintah Malaysia.

Walaupun menghadapi berbagai kesulitan di Malaysia saya berusaha untuk menerbitkan suatu bulletin yang bernama Acheh Report yang secara luas disebarkan dikalangan masyarakat Aceh di Malaysia. Melalui Acheh Independent Refugee Service (AIRES), yang saya dirikan bersama sejumlah kawan di Kuala Lumpur, saya mengatur dan membantu pengungsi-pengungsi asal Aceh.

Hidup di Amerika Serikat

Akhirnya, saya pindah ke Amerika Serikat pada bulan Agustus 2003. Di Amerika Serikat saya merasa akhirnya kembali memperoleh kemerdekaan. Setelah empat bulan tinggal di Houston, Texas, saya memutuskan untuk pindah ke New York. Bukan suatu hal yang mudah untuk menyesuaikan diri di sini.

Lamaran kerja selalu membutuhkan pengalaman kerja di Amerika Serikat. Untuk menyewa sebuah apartemen memerlukan sejarah kredit. Untuk memperoleh sejarah kredit, diperlukan sebuah kartu kredit. Tetapi untuk memperoleh kartu kredit kita perlu membuktikan alamat tinggal, yang tidak bisa didapatkan tanpa sejarah kredit. Sejumlah masalah administrasi yang harus saya hadapi di sini kelihatannya seperti tidak masuk akal.

Di Amerika Serikat, dan kota New York pada khususnya, saya kembali berhadapan dengan bentuk-bentuk diskriminasi. Hal yang lucu di sini adalah bahwa saya paling merasakan perlakuan diskriminasi sesama para imigran, khususnya mereka baru saja mendapatkan status kewarganegaraan Amerika dan sekarang bekerja sebagai pegawai negeri.

Kadang-kadang perlakuan mereka terhadap imigran yang bukan warga negara sangat tidak sopan dan tidak adil.

Saya merasa kelakuan tersebut sangat sulit untuk dimengerti. Barangkali karena karena mereka pikir bahwa kami tidak mengerti hak-hak kami sehingga mereka dapat melakukan apa yang mereka inginkan.

Walaupun demikian tidak semuanya merupakan pengalaman yang buruk. Pada khususnya saya berterima kasih karena sekarang saya telah mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Saya tidak mempersoalkan kenyataan bahwa pelajaran harus dimulai dari tingkat yang paling bawah. Sekarang ini saya sedang berusaha untuk mendapatkan gelar dalam bidang penelitian media dan berharap akan kembali ke dunia kewartawanan setelah saya lulus nanti. Saya juga berharap kemampuan bahasa Inggris saya meningkat, dan saya akan dapat melanjutkan untuk mengkampanyekan masalah Aceh ke tingkat yang lebih tinggi.

Dengan sejumlah teman-teman dari Aceh di bagian utara Amerika Serikat, saya membantu untuk menerbitkan sebuah bulletin dalam tiga bahasa yang dinamakan The Achehnese. Peredarannya terbatas hanya untuk masyarakat Aceh dan orang yang lain dalam jaringan kami. Mudah-mudahan dimasa yang akan datang kami mempunyai website dan media yang lain supaya kami dapat melaporkan apa yang terjadi di Aceh kepada masyarakat internasional.

Saya berharap lebih banyak lagi aktivis Aceh akan datang dan tinggal di kota New York, sehingga lebih banyak lagi kegiatan yang dapat dilakukan di sini untuk membentuk suatu organisasi yang dapat mempublikasikan perjuangan kita. Keadaan dunia sekarang ini, khususnya “perang melawan terror” tidak membantu dalam memperoleh dukungan internasional untuk perdamaian dan keadilan di Aceh. Bagaimanapun, saya sangat yakin bahwa kesempatan akan selalu ada asal kita terus berjuang.



Eddy L. Suheri adalah seorang jurnalis Aceh di New York.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org