FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2005..
    INSIDE INDONESIA
Membangun Solidaritas

No. 81, Januari-Maret 2005

Kenapa Solidaritas untuk Aceh lebih lemah dibandingkan Timor?

Lesley McCulloch

Ketika redaksi meminta saya untuk menulis sebuah artikel untuk Inside Indonesia, saya menyanggapinya dengan penuh antusias. Namun rasa antusias itu meredup ketika ia menentukan topiknya: ‘Aktivisme dan Solidaritas Internasional untuk Aceh, dibandingkan Timor Timur’. Tidak ada hal apapun yang langsung terpikirkan. Saya membutuhkan sedikit waktu untuk berpikir.

Kenyataannya sangat sederhana bahwa solidaritas internasional untuk Aceh jauh lebih rendah dibandingkan untuk Timor Timur. Titik balik Timor Timur jatuh pada saat pembantaian Santa Cruz pada bulan November 1991. Setelah kejadian tersebut, barulah isu Timor Timur ditanggapi secara serius oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan tiba-tiba terdapat berbagai konferensi internasional menanggapi isu tersebut. Radar perhatian internasional telah diaktifkan dan jaringan aktivis dan demonstrator muncul entah dari mana.

Sebenarnya para aktivis Timor Timur telah lama mengangkat masalah Timor dengan wakil pemerintah Indonesia di seluruh penjuru dunia. Mereka juga telah mempersiapkan fondasi jaringan solidaritas dan menunggu waktu yang paling tepat untuk secara efektif menggerakkan jaringan tersebut, dan Santa Cruz adalah waktunya. Namun, jaringan semacam ini tidak ada bagi Aceh. Memang ada beberapa aktivis solidaritas internasional yang berjuang untuk meningkatkan kesadaran soal Aceh, tetapi tidak ada satupun yang memiliki skala seperti waktu Timor Timur dahulu.

Ada tiga alasan utama mengapa pergerakan solidaritas di Aceh relatif lemah. Yang pertama adalah kegagalan masyarakat Aceh sendiri untuk melihat pentingnya memperkuat jaringan internasional. Yang kedua adalah bagaimana menerapkan kaidah hukuman internasional terhadap gerakan di Aceh, dan yang terakhir adalah kenyataan bahwa kondisi politik internasional sekarang tidak terlalu mendukung untuk perjuangan dengan kekerasan.

Lingkaran Setan

Barangkali kendala terbesar untuk membangun kampanye internasional di Aceh adalah kurangnya kesadaran secara umum. Sebagian besar orang tidak tahu banyak soal Aceh. Dengan demikian, sangatlah sulit untuk memobilisasi orang mengenai isu yang belum termasuk dalam ‘daftar prioritas’ mereka, apalagi karena begitu banyak isu lain yang dijadikan prioritas.

Tetapi tentu saja hal tersebut melingkar juga, karena begitu orang mulai terlibat dalam suatu isu, perdebatan di media akan mengikuti dan selanjutnya minat masyarakat umum akan meningkat.

Dengan kata lain, salah satu alasan kenapa Aceh tidak tercakup dalam ‘daftar prioritas’ adalah karena tingkat solidaritas dalam berkampayne belum memadai.

Namun tidak semuanya bersifat negatif karena sebenarnya ada beberapa kelompok solidaritas. Yang pertama adalah Komite Pendukung Hak Asasi Manusia di Aceh (SCHRA) yang didirikan oleh mendiang Jafar Siddiq Hamzah. Jafar adalah seorang pengacara Aceh yang belajar di Amerika Serikat. Jafar dibunuh di Medan, Sumatera Utara pada tahun 2000, menurut dugaan pelaku adalah pihak keamanan Indonesia. SCHRA adalah kelompok koalisi lepas, dimana sebagian besar anggotanya cukup aktif, namun mereka tidak mengidentifikasikan diri sebagai anggota koalisi yang lebih luas. Hal ini memberi kesan bahwa SCHRA tidaklah efektif dan hanya ada sebatas nama.

Sumber harapan yang lebih besar bagi solidaritas Aceh pada masa mendatang adalah APCET (Konsultasi Asia Pasifik untuk Timor Timur). Pada bulan Mei tahun 2004 diadakan pertemuan APCET 5 di Dili dan diputuskan mandatnya akan diperluas untuk mengikutsertakan Aceh (dan juga beberapa daerah konflik lainnya) dalam kegiatannya. Ternyata APCET adalah media yang sangat efektif untuk mengkonsolidasikan kampanye Timor Timur. Banyak aktivis Aceh berharap agar mekanisme tersebut dapat mendorong solidaritas untuk masalah Aceh.

Selain itu juga terdapat berbagai kelompok di Australia dan Selandia Baru, Amerika, Malaysia, Sri Lanka, Inggris, Swedia dan beberapa negara lainnya tetapi kelompok-kelompok tersebut tidak begitu diperhatikan. Mereka telah mengorganisir lokakarya membahas isu Aceh untuk membangun dan mempertahankan jaringan yang mulai bertumbuh ini.

Jangan sampai dilupakan juga bahwa kampanye Timor Timur dibangun dan ditata selama beberapa tahun sebelum orang benar memperhatikannya. Selama lebih dari dua dekade, masyarakat Timor Timur berjuang sendirian, hanya dengan didukung oleh beberapa rekan dari kalangan internasional. Pembantaian Santa Cruz pada bulan November 1991, difilmkan oleh seorang jurnalis asing dan diputar di layar televisi di seluruh penjuru dunia, melontarkan isu Timor Timur serta menjadikannya perhatian jutaan orang. Dari kesadaran tersebut, kelompok solidaritas bermunculan.

Peran Masyarakat Aceh

Diskusi mengenai gerakan solidaritas internasional untuk Aceh tidaklah terlepas dari masyarakat Aceh itu sendiri. Masyarakat Aceh harus bertanggung jawab atas kekurangannya baik dalam garis besar strategi maupun jaringan yang tidak lemah. Dukungan untuk Timor Timur tidak datang begitu saja. Masyarakat Timor Timur sendiri sangatlah terlatih untuk membangun dan mempertahankan hubungan dengan calon simpatisan di Indonesia dan dunia internasional. Sebaliknya, masyarakat Aceh cenderung tertutup dan kekeluargaan. Masyarakat Aceh di luar negeri seringkali tidak menyediakan waktu dan tenaga untuk menjalin hubungan dengan aktivis lokal.

Kampanye masyarakat Timor Timur sangat diuntungkan oleh dukungan dari aktivis Indonesia lainnya, misalnya sebuah kelompok di Jakarta, Solidamor (Solidaritas Timor) didirikan atas hasil dukungan moril dari masyarakat Timor Timur. Ketika masyarakat Indonesia seperti yang tergabung dalam Solidamor mengutuk tindakan pemerintah mereka sendiri, kritikan tersebut jauh lebih kuat dibandingkan kritik yang dilontarkan oleh ‘orang asing’.

Di Jakarta dan berbagai tempat lainnya, masyarakat Timor Timur bekerja dengan aktivis Indonesia untuk menangani masalah yang tidak berhubungan dengan Timor, seperti isu buruh, korupsi dan ekonomi sehingga menunjukkan rasa solidaritas dan kesadaran politis, bukan hanya untuk perjuangan ‘Timor Merdeka’. Dengan cara demikian, mereka mempromosikan diri dan isu mereka kepada jumlah orang yang lebih luas. Banyak masyarakat Aceh tidak dapat melihat Aceh dalam gambaran yang lebih luas. Mereka mempertanyakan keuntungan dari menangani isu yang ‘tidak secara langsung’ berhubungan dengan Aceh.

Kesetiakawanan internal adalah tantangan berikutnya. Seperti diungkapkan oleh salah satu juru kampanye terkemuka Timor Timur dalam suatu diskusi pribadi baru-baru ini: ‘Dari pengamatan saya atas kampanye Aceh, salah satu kelemahan terbesar adalah bahwa kelihatannya hampir tidak ada solidaritas di antara masyarakat Aceh itu sendiri. Sedangkan dalam kasus kami, kami sangat yakin dengan adanya rasa solidaritas tersebut dan saudara-saudara kami di luar negeri juga sangat mendukung kampanye kami dalam bentuk uang dan waktu.’

Yang Menguntungan bagi Timor Timur

Kebanyakan kalangan internasional mengakui bahwa penguasaan Indonesia atas Timor Timur tidak dilakukan berdasarkan hukum. Hak masyarakat Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri diakui dalam hukum internasional. Mengingat pemerintah biasanya mengacu kepada hukum internasional untuk menghindari kewajiban moral, status hukum tersebut menjadi tiang penopang para juru kampanye Timor Timur. Sebaliknya, masyarakat Aceh yang mengatakan bahwa Aceh tidak pernah menjadi bagian dari Indonesia sehingga harus didekolonisasikan, telah gagal meyakinkan rekan mereka di luar negeri. Gerakan solidaritas internasional tidak mengangkat pendirian tersebut.

Selain itu, masyarakat Timor Timur juga menerima dukungan yang kuat dari komunitas gereja katolik, dan gereja menggunakan jaringan global mereka untuk menyebarkan berita dan dukungan masyarakat untuk masyarakat Timor Timur. Masyarakat Aceh tidak memperoleh solidaritas serupa dari kelompok Muslim internasional. Bahkan kelompok besar seperti organinsasi bantuan Inggris Islamic Relief tidak berani bekerja di Aceh dan menanggapi permintaan bantuan dengan: ‘Maaf, kita tidak dapat membantu Aceh sekarang. Kasusnya terlalu politis. Kami harus melindungi kegiatan kami di wilayah lain di Indonesia.

Dan tentunya, sebagai mantan penguasa kolonial, Portugal pada akhirnya menunjukkan rasa tanggung jawab dan menanggapi perjuangan Timor Timur. Sikap dari sebuah negara yang simpatik secara terbuka terhadap perjuangan Timor sangat membangkitkan semangat bukan hanya bagi masyarakat Timor, namun juga pada kelompok internasional yang mendukung perjuangan mereka.

Geopolitik

Sekarang ini, alam politik internasional kurang mendukung dilakukannya kampanye berdasarkan isu seputar hak asasi manuia, keadilan, demokrasi dan perdamaian dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Ketakutan and kecurigaan pada ancaman yang sebenarnya tidak diketahui, atau bahkan tidak ada, telah membayangi baik pikiran maupun analisa sebagian besar di negara-negara barat. Sejak kejadian 11 September, banyak pemerintah negara-negara barat hanya melihat Indonesia secara eksklusif dalam konteks ‘perang melawan teror’. Pemerintah Indonesia sendiri memanfaatkan hal tersebut dengan menggambarkan masyarakat Aceh sebagai golongan ekstrimis yang menggunakan kekerasan. Masyarakat Aceh sendiri harus mengatasi kekhilafan tersebut dan mempromosikan visi perdamaian mereka sendiri.

Di Timor Timur, kampanye militer dibayangi oleh politik dan diplomasi, sedangkan yang terjadi di Aceh justru sebaliknya. GAM digambarkan jauh lebih brutal dibandingkan Falintil. Fretilin tampil di komunitas internasional dengan menggunakan bahasa diplomasi dan politik yang benar, sedangkan GAM sangatlah lambat untuk menggunakan diplomasi demi mencapai tujuan politiknya. GAM tidak memisahkan bagian politik dan militernya supaya dapat menarik dunia seperti yang dilakukan oleh masyarakat Timor Timur.

Solidaritas internasional untuk Aceh harus dilakukan berdasarkan agenda dan strategi yang disusun dan dimotori oleh masyarakat Aceh sendiri. Kalangan internasional tidak dapat (dan memang seharusnya tidak) bertindak atas nama suatu perjuangan yang sebenarnya tidak ada. Pada tahun 1977, informasi mengenai Timor Timur sangat lambat, dan ini membuat solidaritas internasional mulai melemah. Hal ini juga terjadi di Aceh sekarang. Kita yang bergabung dalam pergerakan solidaritas mengharapkan masyarakat Aceh akan menyediakan perangkat dan informasi yang dibutuhkan untuk memperkuat pergerakan kita.



Lesley McCulloch adalah seorang peneliti lepas.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org