|
No.
81, Januari-Maret 2005
Mempertanyakan mitos-mitos tentang Gerakan
Pembebasan Nasional di Aceh
William Nessen
Saat itu adalah akhir tahun 2002, saya berada di hotel
termewah di Banda Aceh berbicara dengan seorang
pejabat dari Kedutaan Amerika. Dia sedang
mempersiapkan untuk gencatan senjata di antara Gerakan
Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia. Ia
adalah salah satu dari sedemikian banyak orang di
dunia yang mengatakan bahwa apa yang sebenarnya
diinginkan oleh masyarakat Aceh adalah perdamaian.
Ketika saya mengungkapkan bahwa mereka juga
menginginkan kemerdekaan, dengan tidak sabar ia
menjawab: mungkin mereka memang menginginkannya,
tetapi mereka tidak mempunyai alasan yang baik untuk
itu.
Karena merasa tertantang, saya membeberkan
alasan-alasan sebagai berikut: beberapa ratus tahun
sampai ke abad 20 sebagai negara berdaulat; daerah
yang paling memberontak terhadap kekuasaan kolonial
Belanda di seluruh nusantara; janji-janji gombal dari
pemerintah Indonesia mengenai otonomi; perampasan
hasil bumi; dikuasai militer secara de facto;
penindasan terhadap bentuk perlawanan yang damai;
pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan terhadap ribuan
orang dan tiadanya hukuman terhadap pelaku kejahatan
tersebut. Kemudian saya tambah bahwa semua hal
tersebut mengarah kepada hilangnya kepercayaan
terhadap Indonesia.
Pejabat kedutaan itu mengangkat bahu. “Yang mereka
butuhkan adalah sekadar keadilan, kesetaraan ekonomi
dan perdamaian. Keberatan-keberatan mereka masih
kurang besar”.
Dukungan Berat Sebelah dari Pihak Asing
Kata-kata dari pejabat kedutaan tersebut menunjukkan
sikap meremehkan terhadap Aceh secara internasional.
Salah satu tragedi terbesar dari konflik Aceh adalah
sangat sedikitnya masyarakat luar memahami apa yang
diinginkan masyarakat Aceh serta mengapa mereka
menginginkannya.
Ketika masyarakat Timor Timur berjuang untuk
kemerdekaan, mereka akhirnya memperoleh dukungan dan
perhatian dari seluruh dunia. Dukungan tersebut
membantu masyarakat Timor Timur untuk mempertahankan
harapan selama puluhan tahun dikuasai Indonesia.
Di Aceh, walaupun ada keinginan yang sangat besar
untuk memerdekakan diri dan laporan yang tidak ada
habisnya soal brutalisme Indonesia, pemerintahan asing,
LSM, pengamat kebijakan dan pihak lain menyarankan
masyarakat Aceh untuk menerima kepemimpinan Indonesia.
Tidak seorangpun – kecuali masyarakat Aceh sendiri –
mengusulkan kemerdekaan sebagai upaya penyelesaian.
Ketakutan atas hancurnya negara dengan jumlah penduduk
terbanyak keempat di dunia, disertai wawasan terhadap
hukum internasional yang kurang mendalam, dan
kurangnya reportase langsung dan analisa komparatif
dengan perjuangan kemerdekaan nasional lainnya membuat
masyarakat internasional yang memiliki itikad baikpun
tidak dapat berpikir dengan jelas mengenai konflik
yang terjadi. Dengan demikian, dukungan yang
sebenarnya berat sebelah pada penguasaan Indonesia
yang terus menerus menjadi kelihatan netral.
Antara tahun 2001 sampai 2003, secara keseluruhan saya
berada di Aceh selama satu tahun termasuk kesempatan
menghabiskan waktu dengan kelompok gerilya GAM,
kalangan militer Indonesia dan di penjara, dan saya
temukan bahwa apa yang sebenarnya dianggap sebagai
pengkajian seimbang dan komentar yang adil tentang
konflik yang ada sebenarnya hanya semakin menciptakan
mitos.
Terperangkap?
Saat itu adalah sore hari di pertengahan Juni 2003,
satu bulan sebelum serangan terbesar yang pernah
dilakukan oleh pemerintah dan saya mengunjungi
beberapa tempat dengan pasukan gerilya GAM.
Kita berhenti untuk melakukan temu wicara dengan
kelompok pejuang lainnya di sebuah desa, sekitar dua
belas kilometer dari jalan utama. Para pejuang tengah
mencuci, minum kopi dan bersantai dengan para penduduk
desa, yang sebagian besar adalah kerabat atau teman
lama.
Tiba-tiba terdengar suara rentetan senjata ditembakkan.
Tanpa mengetahui adanya kelompok gerilya di sana,
tentara Indonesia menyeruak dari hutan.
Karena merasa terlalu yakin bahwa kondisi aman,
pemimpin kelompok gerilya tidak menempatkan pasukan
penjaga.
Para penduduk laki-laki, puluhan pasukan gerilya dan
saya sendiri mundur dengan panik. Namun kami segera
bergerak dalam dua barisan panjang masing-masing
seratus orang. Komandan mulai mengorganisir kelompok
penembak untuk melindungi kita semua. Tetapi untuk
pertama kalinya sejak saya bergabung dengan mereka,
saya melihat para pejuang ini ketakutan; salah satu
wakil komandan membuat sebuah garis dengan ujung
jarinya melintasi lehernya. Kita telah terkepung. Saat
matahari terbenam, kita merayap di sepanjang jalan
berlumpur, melewati rumah-rumah kayu kecil dimana kami
mendengar beberapa wanita menangis dan terisak-isak
memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan kami dan
memenangkan perjuangan Aceh.
Sebelum matahari terbit, sekelompok pria-pria berusia
lanjut muncul. Mereka adalah para tokoh masyarakat
tempat para pejuang muda ini bertanya jika mereka
telah kehilangan akal. Para tetua ini telah
mengorganisir suatu taktik zigzag berbahaya melalui
lingkaran pasukan Indonesia yang semakin diperketat.
Kami mulai berjalan dalam kelompok yang masing-masing
berjumlah 20 orang setiap sepuluh menit. Setiap
kelompok dipimpin seorang pemimpin yang menjadi
penunjuk jalan, memberi komando untuk berhenti,
mendengarkan dan mengirim seorang anak kecil untuk
maju terlebih dahulu, meyakinkan bahwa rute yang akan
ditempuh tetap aman.
Isyu yang paling sering beredar tentang Aceh adalah
bahwa sebagian besar masyarakat Aceh, termasuk mereka
yang mendukung kemerdekaan, tidak mendukung GAM. Para
korban yang tidak berdaya menolak kekerasan dari kedua
belah pihak, mereka ‘terperangkap’ dalam perselisihan.
Melewatkan waktu dengan kelompok gerilya dan memasuki
desa-desa akan memberikan perspektif yang lebih jelas.
Cerita diatas bukanlah untuk pertama kalinya saya
bertemu dengan mayarakat Aceh ‘biasa’ yang
mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan
pejuang GAM. Kemanapun saya mengikuti kelompok gerilya,
mereka yang ‘terjebak’ di tengah perselisihan
seringkali memihak dan menyediakan makanan, informasi
dan memberi semangat. Saya juga mengalami hal yang
sama di Timor Timur pada tahun 1998.
Dalam kurun waktu beberapa minggu pertama dari
perseteruan baru, kita seringkali dibawa ke sebuah
rumah di tengah malam dimana seorang wanita tua akan
membuatkan sambal, menggorengkan ikan asin dan memasak
sekuali besar nasi untuk ‘putra-putranya’. Bahkan
ketika mengkritik GAM, para penduduk desa di Aceh
sering menyebut pasukan gerilya sebagai tentara mereka,
terkadang menyimpulkan: ‘Mereka adalah warga kita,
mereka adalah kita’.
Di daerah perkotaan, dukungan serupa berada di bawah
permukaan. Pada siang hari, para komandan militer
Indonesia semakin memperkuat pengawasan. Pada malam
hari, saya berkeliaran, sampai akhirnya singgah di
sebuah restoran kecil, dimana seringkali terdapat
kumpulan pelanggan setia yang mengaku, “Tentu saja,
semua orang mendukung pasukan gerilya. Sekarang kita
hanya perlu sedikit berhati-hati’.
Apa yang Anda perjuangkan?
Argumentasi umum lainnya tentang kelompok gerilya
Gerakan Aceh Merdeka adalah bahwa mereka tidak
benar-benar memperjuangkan kemerdekaan. Mereka
termotivasi oleh faktor-faktor lain seperti kekuasaan,
kebosanan, uang, martabat lokal dan kebencian etnis.
Pandangan tersebut juga terdapat di kalangan angkatan
bersenjata Indonesia sendiri. Saya ingat sebuah
pertemuan pada bulan Januari 2003 dengan Jenderal
Djali Yusuf, seorang pimpinan tentara di Aceh yang
juga berasal dari Aceh. Dengan mengangkat sebuah
pemantik api, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok
dan akhirnya sebuah pipa cangklong, Jenderal Djali
menggambarkan komposisi GAM: sebagian nasionalis murni,
sebagian menebus darah dan sebagian kriminal.
Saya sudah pernah mendengar hal ini sebelumnya dan itu
hanya separuh benar. Banyak pejuang GAM yang saya
kenal telah kehilangan ayah atau kakak mereka karena
terkena senjata tentara Indonesia. Saya telah
mendengar keinginan mereka untuk menyerang balik. Saya
pernah bertemu dengan komandan GAM yang telah menjadi
preman kecil-kecilan. Mereka mencari kesenangan dan
uang ke Malaysia, kemudian menjalani pelatihan gerilya
di Libia pada akhir tahun 1980an.
Namun keterlibatan politik telah mengubah para mantan
preman yang sudah melanglang buana tersebut serta para
pembalas-dendam-dari-pedesaan menjadi orang-orang yang
memiliki wawasan lebih luas dengan komitmen kuat
terhadap tanah leluhur mereka.
Semua ini seharusnya tidak membuat kita heran. Apapun
yang dikatakan para ahli, Aceh tidak berbeda dengan
tempat-tempat lain di seluruh dunia. Para sosiolog,
pakar politik dan sejarah telah sejak dulu mengenali
bahwa selain tujuan yang telah ditetapkan, orang
tertarik dengan pergerakan karena berbagai alasan.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia antara tahun
1945-1949 juga demikian. Robert Cribb dalam bukunya
Gangsters and Revolutionaries menunjukkan bahwa
kelompok kriminal memegang peranan penting dalam
perjuangan melawan kekuasaan Belanda. Pakar sejarah
Geoffrey Robinson dalam bukunya tentang Bali yang
berjudul The Dark Side of Paradise mengungkapkan bahwa
perjuangan kaum nasionalis disana awalnya adalah
‘penyamaran untuk perjuangan lainnya’, dimana kaum
ningrat dan petani berbaris (dan bertukar pihak)
tergantung pada persaingan politik yang ada.
Tidak ada yang menyanggah bahwa perjuangan kemerdekaan
Indonesia tidaklah sah karena para pendukungnya
memiliki berbagai motivasi atau karena sebagian orang
bekerja sama dengan musuh, atau karena opium menjadi
komoditas paling penting dalam negara republik yang
akan lahir itu. Namun sebagian komentator berusaha
menolak seluruh pejuangan kemerdekaan Aceh karena
sebagian pendukungnya tidak memiliki motivasi yang
‘murni’ dan karena memang sebagian dari mereka
melakukan tindak kejahatan.
GAM seburuk apa?
Selama beberapa tahun, organisasi-organisasi hak asasi
manusia telah mengkritik tindak kekerasan yang
dilakukan oleh kaum pemberontak yang bukan pemerintah,
dan juga yang berasal dari dalam pasukan pemerintah,
dengan alasan yang baik.
Selama dua dekade terakhir ini, berbagai kelompok
pemberontak gerilya melakukan dua dosa bersamaan yaitu:
mereka menggunakan kekerasan untuk mencapai
tujuan-tujuan egois.
Di Aceh, kelompok hak asasi manusia dan jurnalis
mengemukakan terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh
kedua belah pihak.
Namun hal yang mengejutkan adalah sedikitnya
pelanggaran yang benar-benar dilakukan oleh GAM,
sehingga beberapa lawan GAM yang kecewa mengatakan
bahwa ada kecenderungan untuk ‘meromantisasi’ mereka.
Berbeda dengan puluhan kelompok gerilya lainnya, GAM
tidak pernah melakukan pembantaian, atau membunuh
banyak warga sipil. Mereka tidak memperkosa atau
menyiksa tahanan atau melakukan bom bunuh diri. Mereka
juga tidak memaksa orang untuk menjadi tentara,
seperti kebanyakan kasus pemberontak lainnya. Teror
bukanlah senjata GAM. GAM memiliki tujuan yang cukup
jelas dan memperjuangkan tujuan tersebut dengan cara
sebersih mungkin sebagaimana pejuang lain.
Daftar kekerasan yang dilakukan tentara Indonesia
sangatlah banyak dan terperinci. Berbagai laporan dari
organisasi-organisasi hak asasi manusia menyebutkan
waktu dan tempat kejadian, dan seringkali rangkaian
peristiwanya. Tuduhan terhadap GAM sangatlah sedikit
dan seringkali meragukan.
Bahkan, kalangan militer Indonesia memilih untuk tidak
mendata kejahatan GAM, mungkin khawatir adanya
pembandingan. GAM menuntut tidak adanya pembatasan
akses para jurnalis ke wilayah Aceh serta dilakukannya
penyelidikan yang komprihensif atas pelanggaran yang
dilakukan oleh kedua belah pihak. Indonesia sejak
dahulu selalu menolak pengaturan semacam ini.
Indonesia menutup propinsi tersebut dari kalangan
jurnalis pada periode 1990an dan menutupnya kembali
pada bulan Juni 2003.
Ada beberapa hal yang tidak disangkal GAM. Dengan
menyatakan bahwa mereka adalah pemerintahan yang lebih
sah dibandingkan Jakarta, GAM menuntut hak untuk
menarik pajak atas semua orang yang memiliki bisnis di
Aceh. Para pemborong seharusnya dikenakan pajak
sebesar 10% dari keuntungan mereka; toko kecil 2,5%.
Hal tersebut dianggap pemerasan oleh para kritik.
Tentu saja sebagaimana halnya dengan pajak apapun,
masyarakat lebih senang kalau tidak diwajibkan
membayar. Namun GAM sepenuhnya bergantung pada sesama
masyarakat Aceh, dan sampai saat ini, menurut bukti
sebagian besar masyarakat dengan sukarela memberikan
apa yang dapat mereka berikan.
Tuduhan lainnya yang dijatuhkan pada GAM? Seperti
pembunuhan guru-guru karena mengajar dengan kurikulum
Indonesia? Masih tidak atau belum terbukti.
Saat menyelidiki dua tuduhan, saya menemukan bahwa
polisi keliling telah menembak guru-guru tersebut
karena mereka adalah pendukung kuat GAM dan secara
berkala menyumbangkan uang. Dalam kasus lainnya,
menurut seorang komandan GAM, GAM membunuh seorang
guru karena ia tetap memberikan informasi mengenai
personil GAM kepada TNI meskipun sudah berulang kali
diperingatkan.
Semasa perjuangannya mempertahankan wilayah, GAM telah
membunuh banyak informan dan agen mata-mata militer.
Namun, beberapa informan hanya ditahan selama beberapa
bulan. Di Aceh bagian barat, saya bertemu dengan
beberapa pengendara sepeda yang ditangkap oleh GAM.
Mereka mengakui bahwa mereka membantu tentara
Indonesia. Salah satu diantaranya menginformasikan
pada pihak Indonesia lokasi beberapa pejuang GAM yang
tidak bersenjata. Pasukan polisi keliling telah
membunuh dua orang diantaranya. Para pejuang GAM yang
marah ini kemudian memukuli pria ini ketika mereka
menangkapnya.
Setelah itu, ia mengatakan kepada saya bahwa para
pejuang tidak melukainya.
Meskipun mereka tidak pernah mengatakannya, GAM
mungkin juga telah membunuh seorang akademisi yang
terkemuka. Alasan yang beredar: komando pusat GAM
tidak mengetahui dan tidak akan menyetujui apa yang
dilakukan oleh pimpinan unit distrik.
Sekali lagi, kita dapat membandingkan Aceh dengan
pergerakan kemerdekaan Indonesia, meskipun terdapat
perbedaan waktu dan isyu standar moral. Antara tahun
1945-49, terjadi penyerangan acak terhadap mereka yang
bekerja untuk Belanda, tidak hanya terhadap para
informan. Seluruh desa habis dibantai dimana kelompok
pejuang membunuh orang karena mengenakan pakaian gaya
Belanda atau membawa barang yang menggunakan warna
bendera Belanda. Perampasan, perampokan, penculikan,
penyerangan dan teror terhadap etnis tertentu selalu
terjadi dalam perjuangan nasionalis Indonesia.
Pembersihan etnis?
Tuduhan paling keras terhadap GAM adalah bahwa mereka
terlibat dalam pembersihan etnis. Istilah tersebut
menimbulkan bayangan tentang tumpukan mayat keluarga
yang mati terbantai, dan dimaksud sebagai ‘pukulan
kentongan.’ Di sini tuduhan tersebut tidak berbunyi.
Dari sedemikian banyak kelompok etnis di Aceh, GAM
hanya memiliki konflik dengan satu etnis, etnis Jawa.
Masyarakat Jawa yang berjumlah beberapa ratus ribu
orang berbeda dengan kelompok minoritas lainnya dalam
tiga hal. Pertama, mereka bukanlah suku asli di
wilayah tersebut yang sudah berdiam disana sejak
seratus tahun yang lalu. Kebanyakan masyarakat Jawa
adalah bagian dari program transmigrasi di era Suharto,
dan sebagian berasal dari masa kolonialisasi Belanda.
Kedua, mereka berasal dari etnis yang dominan. Ketiga
dan yang terpenting, selama beberapa tahun, kaum pria
etnis Jawa telah bekerja sama dengan pasukan tentara
pemerintah sebagai kekuatan militer desa dan pejuang
anti GAM.
Sebagai bukti dari kebencian yang mendalam terhadap
etnis Jawa, para kritik mengangkat sudut pandang GAM
(yang juga dianut oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia) bahwa etnis Jawa menggantikan Belanda
sebagai penguasa negara kepulauan Indonesia, serta
cercaan anti etnis Jawa dari pendiri GAM Hasan di Tiro,
dan gambaran GAM mengenai kedaulatan Aceh yang
dianggap picik dan rasis oleh kritik tersebut.
Nasionalisme GAM memang mengacu kepada sejarah –
tetapi hanya sebatas kedaulatan di masa lalu.
Sementara melihat ke depan, bukan dalam hal membentuk
negara etnis murni, tetapi pada suatu negara multi
etnis. GAM menerima anggota dari berbagai kelompok
minoritas, bahkan pada tingkat tertinggi. Komandan
tertinggi di Aceh Tengah adalah seorang Gayo dan di
Tamiang, dua dari empat pimpinan distrik GAM adalah
orang Jawa yang membawahi sejumlah pejuang etnis Jawa
Meskipun demikian, mendengarkan kritik akan tetap ada
gunanya. Laporan dari Kelompok Krisis Internasional
pada tahun 2002 menyebutkan bahwa di Aceh Tengah,
dimana sejumlah transmigran etnis Jawa telah lama
menetap diserang oleh kelompok gerilya GAM dan
simpatisannya, dimana penduduk setempat dibunuh,
rumahnya dirampok dan dibakar. Sebenarnya masalahnya
jauh lebih kompleks.
Melalui koordinasi dengan TNI, kelompok pesilat etnis
Jawa yang bersenjata mengumpulkan informasi tentang
GAM, mengawaki titik-titik pemeriksaan, berpatroli di
jalan dan berpartisipasi dalam aksi-aksi kekerasan di
desa-desa masyarakat Aceh. Tentara dan militisi etnis
Jawa dilaporkan membunuh paling sedikit beberapa ratus
masyarakat sipil Aceh pada awal tahun 2001. Puluhan
ribu masyarakat Aceh mengungsi ke utara, dan harta
benda mereka dijarah dan rumah mereka dibakar.
Tidak seorangpun telah menuduh GAM melakukan tindak
kejahatan terhadap perempuan, anak dan manula etnis
Jawa. Meskipun tidak diketahui apakah mereka jujur
atau tidak, GAM telah mengatakan bahwa masyarakat Jawa
akan diterima kembali setelah kemerdekaan.
Hak untuk berpisah?
Banyak orang berpikir bahwa Aceh tidak memiliki hak
untuk memisahkan diri dari Indonesia karena masyarakat
Aceh menjadi bagian dari perang kemerdekaan Indonesia
melawan Belanda antara tahun 1945-49. Sekali setuju
untuk bergabung, mereka tidak dapat mundur. Pemerintah
asing dan para pengamat menekankan bahwa ini adalah
prinsip dasar dalam hukum internasional.
Namun ada sisi lain dari hukum internasional yang
didukung dalam berbagai tulisan oleh para cendekiawan.
Menurut konsep ini, masyarakat memang mempunyai hak
untuk mundur dari negara yang ada, asal mereka tetap
bersikukuh, kejahatan yang dilakukan terhadap mereka
adalah berat dan masyarakatnya memenuhi kriteria
tertentu.
Kriteria tersebut dapat disimpulkan ke dalam dua poin.
Pertama, pemisahan tidak akan membuat negara tersebut
lebih rentan terhadap serangan pihak luar, menjadi
suatu bagian yang terpisah, kehilangan akses ke laut
atau kehilangan basis ekonominya. Tidak satu poinpun
mengacu pada Aceh.
Kedua, negara yang akan dibentuk harus nyata, dimana
mayoritas penduduknya adalah pendukung pemisahan.
Mereka harus memiliki rasa kesamaan identitas yang
kuat (berdasarkan bahasa, agama, tradisi atau sejarah)
dan telah mengusahakan berbagai jalan lain untuk
mengatasi masalah mereka. Pengakuan internasional
terhadap pemisahan keempat negara Yugoslavia adalah
berdasarkan kriteria tambahan yaitu: pemerintah yang
demokratis dan perlindungan terhadap suku minoritas.
Selain bekas negara-negara republik Yugoslavia, ada
beberapa contoh pemisahan yang dapat diangkat,
termasuk Bangladesh dan Eritrea. Contoh yang paling
sesuai adalah pemerintah Papua Nugini dan masyarakat
Bougainville yang pada tahun 2001 setuju untuk
memberikan otonomi yang lebih besar pada propinsi
tersebut selama periode sepuluh tahun, yang berakhir
dengan referendum kemerdekaan.
Kemerdekaan adalah solusi satu-satunya bagi masyarakat
yang menderita di bawah dominasi kolonial Eropa.
Mengapa hal ini tidak dapat diberikan kepada
masyarakat Aceh yang juga tidak mempunyai kontrol
politik, dan mengalami eksploitasi ekonomi dan
pelanggaran hak asasi manusia yang sangat biadab?
Saya meramalkan bahwa setelah jangka waktu beberapa
tahun, tidak akan ada bedanya bagi siapapun kecuali
bagi masyarakat Aceh bahwa Aceh memang merdeka.
Dibalik Kerjasama
Kalangan asing sebaiknya tidak begitu saja menerima
hak Indonesia untuk memerintah di Aceh. Namun kita
harus secara lebih mendalam melihat bukti-bukti dan
mencari solusi yang lebih memungkinkan.
Secara historis, bahkan dalam sejarah Indonesia
terlihat bahwa perjuangan kemerdekaan seringkali
menyakitkan dan meninggalkan bekas. Namun dalam
menulis tentang Aceh, banyak orang asing yang memakai
model mitos yang tidak mungkin dilawan oleh masyarakat
Aceh. Namun sebenarnya para penulis ini ingin
melebih-lebihkan kendala yang dihadapi oleh masyarakat
Aceh yang sebenarnya sudah berlebihan.
Lalu efek yang muncul? Dan tragedi terbesar yang
terjadi? Nasib Aceh harus diserahkan ke tangan
kalangan militer Indonesia.

William Nessen adalah seorang fotojurnalis lepas yang
ditahan selama 39 hari pada tahun 2003 karena meliput
serangan militer terakhir dalam kelompok gerilya Aceh.
Dia saat ini tengah membuat sebuah film dan buku
mengenai konflik di Ace |