|
No 76, Okt-Des, 2003
Kebijakan Militer untuk Memisahkan Penduduk
Sipil dari Pasukan Gerilya Semakin Memicu Perlawanan
Edward Aspinall
Salah satu ciri yang paling menyolok dari ‘siaga
militer’ di Aceh sekarang ini adalah kampanye ideologi
yang menyertainya.
Dalam periode beberapa minggu pertama setelah operasi
keamanan yang dimulai pada tanggal 19 Mei, koran lokal
seperti Serambi Indonesia dan Waspada (yang dapat
diakses melalui internet) dipenuhi oleh laporan
mengenai ‘ikrar kesetiaan’ yang dilakukan di berbagai
lokasi dalam propinsi Aceh. Acara tersebut melibatkan
sejumlah besar pegawai negeri sipil, pelajar atau
warga desa yang berkumpul di kota-kota kecil untuk
mengikrarkan janji setia mereka kepada negara kesatuan
Indonesia.
Pada pertemuan tersebut, pejabat pemerintahan dan
militer membacakan pidato panjang yang mengutuk
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai kriminal dan
berjanji untuk mempertahankan persatuan di Indonesia
‘sampai titik darah penghabisan’
Acara-acara semacam ini tentu saja sangat terorganisir
dan jelas mengandung berbagai unsur paksaan. Sebuah
koran yang berbasis di Jakarta bahkan berhasil
mewawancarai beberapa peserta acara yang mengatakan
bahwa mereka menghadiri acara tersebut hanya untuk
menghindari tuduhan mendukung GAM.
Suatu aspek menarik dari acara-acara tersebut adalah,
bahwa para pembicaranya berulang kali mengisyaratkan
bahwa mereka tidak yakin dengan loyalitas orang-orang
yang mendengarkan. Bahkan mereka membujuk, atau lebih
sering mengintimidasi mereka. Contohnya komentar Mayor
Yani, Kepala Staf Distrik Militer di Tapaktuan, Aceh
Selatan: ‘Sudah tidak pada tempatnya bagi masyarakat
untuk bersikap netral dalam masalah GAM, untuk di satu
pihak mengatakan ya kepada GAM dan di lain pihak juga
mengatakan ya kepada pemerintah Indonesia. Mulai
sekarang haruslah jelas: Kalau anda adalah warga NKRI
(Negara Kesatuan Republik Indonesia), maka anda harus
selalu menjadi warga NKRI’.
Seorang petinggi lainnya berbicara panjang lebar
mengenai bagaimana seorang pegawai pemerintahan sudah
tidak bisa lagi bekerja untuk pemerintah Indonesa
tetapi ‘di dalam hatinya’ menjadi GAM. Beberapa
petinggi juga menjelaskan bahwa warga negara Indonesia
harus menghilangkan perasaan ‘kasihan’ dan melaporkan
kerabat mereka yang terlibat dalam GAM.
Seringkali, ajakan ini mengandung ancaman. Propaganda
yang sering digemakan menyatakan bahwa yang paling
bertanggung jawab untuk operasi militer adalah GAM,
dan bahwa kekerasan tidak akan berhenti sampai
masyarakat dapat membangun rasa ‘keberanian’ untuk
melawan GAM. Seperti yang dikatan oleh komandan
militer Endang Suwarya dalam pidato terbukanya di Aceh
Barat: ‘Konflik ini tidak akan berakhir jika masih ada
orang yang memberi tempat kepada mereka. Penderitaan
akan terus berlanjut’.
Pidato-pidato semacam ini menggambarkan bagaimana
pejabat militer memandang tugas mereka di Aceh, dan
rasa ketidak senangan mereka yang mendalam terhadap
simpati masyarakat. Pemikiran yang terkandung di
dalamnya juga masih sejalan dengan tujuan resmi dari
tahap pertama operasi militer secara keseluruhan,
yaitu untuk ‘memisahkan GAM dari masyarakat lokal’.
Meskipun terdapat cukup banyak pemberitaan lokal
mengenai ‘ikrar kesetiaan’, pembatasan terhadap media
membuat kita sulit untuk mengetahui secara pasti
bagaimana sebenarnya operasi militer dijalankan di
pedesaan Aceh. Para petinggi beranggapan bahwa dirinya
telah belajar dari pengalaman, dan standar hukum yang
ketat sedang dipatuhi (yang mana juga menjadi salah
satu tema umum dalam pidato para petinggi pada acara
ikrar kesetiaan). Beberapa tentara telah dihukum
karena melakukan pemukulan dan perkosaan.
Namun masih banyak laporan yang menunjukkan bahwa para
petinggi memiliki alasan yang kuat untuk merasa
frustrasi terhadap masyarakat lokal. Berbagai artikel
di media, terutama yang ditulis oleh reporter-reporter
Indonesia yang ‘melekat’ dan mendampingi pasukan,
menggambarkan rasa takut, enggan dan tidak kooperatif
dalam populasi di sebagian besar pedesaan Aceh, dan
populasi inilah yang sulit dijangkau oleh orang luar.
Seperti dinyatakan oleh salah seorang reporter Kompas,
‘Jangankan mengobrol dengan mereka, menanyakan arah
saja bukan hal yang mudah untuk dilakukan di pedesaan
Aceh. Hal ini bukan saja karena kebanyakan dari mereka
tidak dapat berbahasa Indonesia, tetapi terutama
karena mereka takut jika yang bertanya adalah orang
asing, apalagi jika pertanyaannya diajukan dalam
bahasa Indonesia. Karena itulah respon umum yang
keluar dari mulut mereka hanyalah ‘hanna tepu’ yang
artinya ‘tidak tahu’.
Banyak jurnalis Indonesia yang akhirnya mengambil
kesimpulan dari pengalaman semacam ini bahwa
masyarakat setempat terlalu takut kepada anggota GAM
untuk mengkhianati dan melaporkan anggota GAM kepada
pihak keamanan yang berwenang. Masalah ini jelas
terlihat di beberapa daerah; GAM secara terbuka
mengakui bahwa mereka membunuh ‘informan.’ Barangkali
sikap tidak kooperatif tersebut juga karena yang
bersangkutan memiliki simpati aktif kepada GAM.
Ada bukti-bukti anekdot yang sudah lama berkibar bahwa
TNI dan Brimob yang bertugas di Aceh telah
mengembangkan semacam sikap siaga tempur. Mereka
sering merasa dirinya beroperasi di wilayah yang rawan,
dimana mereka dapat diserang setiap saat dan tidaklah
memungkinkan untuk membedakan musuh dari masyarakat
umum.
Selama masa operasi militer, hampir seluruh
pelanggaran yang terdokumentasi terjadi ketika pasukan
tentara memasuki suatu desa untuk menanyakan identitas
atau lokasi anggota GAM kepada masyarakat setempat.
Sikap acuh akan langsung mengacu kepada pemukulan.
Karena melakukan hal seperti itu sejumlah tujuh orang
tentara disidangkan dalam pengadilan militer terbuka
pada tahap awal kampanye.
Maka, kemungkinan untuk memperoleh dukungan hati dan
jiwa rakyat selama jangka panjang kurang baik. Hampir
semua pengamat setuju bahwa kekuatan bersenjata GAM
sangatlah kecil dan kemenangan militer TNI atau
sejenisnya dapatlah dipastikan. Namun pelajaran
penting dari masa lalu adalah, bahwa GAM dapat bangkit
kembali setelah mengalami kekalahan militer.
Sekitar satu dekade setelah GAM dihancurkan untuk
pertama kalinya pada tahun 1977, GAM bangkit kembali
dan pada akhir 1980-an berhasil melakukan upaya
logistik yang sungguh luar biasa, yaitu beberapa ratus
pemuda Aceh direkrut dan diselundupkan ke Libya,
dimana mereka memperoleh pelatihan militer dan politik.
Pertumbuhan GAM yang pesat di tahun 1999, yang terjadi
segera setelah kekalahan Soeharto, muncul setelah
kekalahan militer lainnya pada awal tahun 1990-an.
Salah satu kunci kebangkitan tersebut karena GAM dapat
memperbarui gerakannya dengan penggantian generasi tua
kepada generasi muda. Banyak jurnalis dan orang lain
yang mewawancarai anggota GAM yang baru direkrut di
pedesaan Aceh pada tahun 1999 menyatakan bahwa banyak
diantaranya terdorong oleh keinginan untuk melakukan
balas dendam atas anggota keluarga mereka yang
terbunuh, disiksa atau mengalami pelecehan seksual
oleh anggota keamanan pada periode awal 1990-an. Media
lokal di Aceh mulai mengungkapkan munculnya generasi
pendendam. Jauh waktu sebelumnya, anggota GAM pertama
yang muncul pada tahun 1970an kebanyakan adalah
anak-anak dari generasi pemberontak Darul Islam.
Pola regenerasi tersebut menunjukkan bahwa GAM sedikit
banyak menggantungkan keberadaannya pada hubungan
kekerabatan dan jalinan hubungan lainnya yang meresap
dalam masyarakat Aceh. Keluarga, lokalitas,
persahabatan dan keterikatan lain sangatlah penting.
Walaupun GAM telah mengembangkan bentuk organisasi
formal yang cukup besar selama tahun-tahun belakangan
ini, di daerah pedesaan keberadaannya juga menyatu
dengan struktur tradisional masyarakat desa.
Misalnya, pada tahun 1999 ketika GAM dengan cepat
berkembang di pedesaan Aceh, ratusan kepala desa yang
dipilih secara turun temurun (keuchik) turut
menggantikan kesetiaan mereka dari negara kesatuan
Indonesia kepada GAM. Selama masa operasi militer
sekarang ini, komandan TNI telah mengungkapkan
kekecewaan besar mengenai loyalitas para keuchik ini,
terutama setelah sebuah kelompok yang berjumlah 76
orang mengundurkan diri secara bersamaan di Bireuen
pada awal Juni, menyatakan bahwa mereka tidak lagi
dapat menunaikan tugas karena intimidasi yang mereka
alami.
Di beberapa tempat, terutama di daerah tradisional
kekuatan GAM di sepanjang pantai timur, oleh karena
faktor-faktor tersebut sulit membedakan GAM dari
masyarakat pedesaan secara keseluruhan. Suatu jaringan
maya terdiri dari simpatisan, pendukung dan pejuang
paruh waktu merupakan suatu matriks kompleks di
sekitar inti pasukan pemberontak, dan menyediakan
kebutuhan logistik, informasi dan bantuan lainnya.
Maka, tidaklah mengherankan jika pasukan TNI menjadi
frustrasi. Paling tidak, dapat dikatakan bahwa di
dibeberapa daerah posisi GAM juga bertumpang tindih
dengan suatu jaringan tradisional lain, yaitu kelompok
kriminal dan semi kriminal yang melakukan tindakan
pemerasan, perampokan dan tindakan kekerasan lainnya.
Sangatlah sulit untuk mengetahui kapan para pelaku
kriminal biasa hanya menyalahgunakan nama GAM demi
kepentingan kegiatan kriminal dan kapan kegiatan
kriminal itu benar-benar dilakukan oleh pihak yang
berafiliasi dengan GAM. Memang sudah ada indikasi,
terutama di Aceh Tengah dan Selatan bahwa kalangan
militer telah dapat memanfaatkan rasa permusuhan
kepada GAM yang umumnya disebabkan oleh perilaku
kriminal pada masa lalu.
Namun, ada suatu pelajaran penting lain yang dapat
diambil dari riwayat regenerasi GAM: metode militer
sangat merugikan (counter productive). Beberapa tahun
yang lalu, para pemimpin TNI pun mengakui hal ini.
Segera setelah jatuhnya Presiden Soeharto,
ditengah-tengah pengakuan umum atas kekejaman militer
terdahulu di Aceh, sejumlah pejabat mengakui bahwa
rasa permusuhan masyarakat terhadap negara Indonesia
paling tidak disebabkan oleh ‘tindakan-tindakan’
tersebut. Komandan Komando Militer Lilawangsa (Korem)
saat itu, Kolonel Syarifudin Tippe menjelaskan dalam
dalam buku yang dikarangnya membahas topik tersebut,
bahwa adalah ‘wajar’ jika TNI mengalami makian,
kebencian yang mendalam dan perlawanan dari masyarakat
Aceh’.
Namun waktu telah berubah. Penerus Tippe yang sekarang
sebagai Komandan Lilawangsa, Kolonel AY Nasution
adalah salah satu pembicara yang paling berapi-api
dalam ‘ikrar kesetiaan’ belakangan ini. Dia dengan
tegas menekankan bahwa yang diharapkan dari masyarakat
sekarang adalah kesetiaan total, tidak kurang dari itu.
Seperti yang diungkapkannya kepada sekelompok pekerja
pabrik di Aceh Utara: ‘Jika masyarakat tidak mendukung
tindakan penyatuan [kampanye militer dan tindakan
sejenisnya] artinya mereka sama seperti pemberontak
GAM’.
Dengan pola pikir semacam ini, sangatlah sulit untuk
membayangkan Aceh dapat memecahkan siklus panjang dari
penindasan dan pemberontakan.

Ed Aspinall, adalah dosen di departemen Studi Asia
Tenggara di Sydney University dan ketua Badan IRIP. |