FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2003..
    INSIDE INDONESIA
Catatan dari Sel Penjara ‘Bintang Lima

April – Juni 2003

Kehidupan di sebuah penjara Aceh

Lesley McCulloch

Pada tanggal 10 September 2002, Lesley McCulloch ditahan di Aceh dengan kawannya Joy Lee Sadler dan juga penerjemah bahasa Indonesia, Fitrah, dan dengan tuduhan penyalahgunaan visa, yang kemudian dibantahnya. Dia ditahan di penjara selama lebih dari dua bulan sebelum dia disidangkan, dan kemudian pada tanggal 30 Desember pengadilan memutuskan bahwa dia dihukum kurungan selama 5 bulan. McCulloch dilepaskan pada tanggal 9 Februari 2003. Kasus McCulloch menarik karena tidak biasanya untuk warga negara asing yang dituduh menyalahgunakan visa ditahan begitu lama, tetapi langsung dideportasi. Diduga bahwa McCulloch, seorang akademisi yang mengkritik kegiatan TNI di Aceh, dijadikan contoh oleh militer Indonesia, Dalam cerita berikut ini, yang ditulis setelah kawan selnya dilepaskan, McCulloch menceritakan tentang kehidupannya di penjara.

Ditahan di pelosok wilayah Aceh Selatan pada tanggal 10 September, saya dan Joy dicurigai menyalahgunakan visa turis. Bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah pos Indonesia. Perwira yang agresif dan kurang terlatih meminta agar kami membuka tas-tas yang kami bawa. Dengan rasa curiga terhadap maksud mereka, kami meminta dengan tegas untuk menghubungi kedutaan besar Amerika Serikat ataupun Inggris untuk memberitahukan tentang keadaan kami yang sangat bahaya.

Dengan cara yang sama seperti yang dilakukan terhadap penduduk setempat – karena tidak memiliki pendidikan tentang bagaimana menangani keadaan seperti ini – komandan pasukan tersebut mulai menggunakan fisik untuk merampas tas kami. Joy langsung bertindak untuk membela saya; dimana menimbulkan sedikit kegaduhan. Luka di mulut Joy, yang disebabkan oleh komandan itu, belum lagi sembuh saat dia dibebaskan pada pertengahan bulan Januari.

Selama 4 hari kami ditahan di markas polisi Aceh Selatan. Disana tidak ada pemukulan lebih lanjut , tetapi interogasi dan intimidasi berlangsung tanpa henti. Saya dan Joy menolak untuk menandatangani pernyataan yang mereka buat sebagai hasil dari proses interogasi. Kawan kami seorang Aceh, Fitrah menandatangani pernyataan tersebut. Dia takut dan kami memahami ketakutan yang dirasakannya. Sementara sebagai warga negara asing saya dan Joy merasa sedikit terlindungi.

Kami kemudian dipindahkan, dengan konvoi 10 truk ke Medan, Sumatra Utara.

Ketika kami tiba di Medan, kami difoto dan sidik jari diambil. Pihak inteligens Indonesia juga telah menunggu untuk menginterogasi kami. Kami begitu lelah, dan Fitrah dan Joy jatuh sakit. Tetapi permintaan kami agar interogasi ini diakhiri ditolak.

Pada jam 2 dini hari, tiba-tiba saya benar-benar sadar bahwa kejernihan pikiran saya mungkin saja tidak bagus. Saya takut jika saya mengatakan sesuatu akan menjadi masalah di kemudian hari. Kemudian, saya berbaring di lantai dan menutup mata saya seakan-akan saya tertidur. Kedua teman saya menangkap isyarat dan melakukan hal yang sama. Kami tidak bergerak meskipun kemarahan dari pihak interogasi yang terjadi kemudian. Dan interogasi berakhir.

Banda Aceh

Tiba di Banda Aceh di hari berikutnya dengan pesawat, kami dibawa ke markas besar polisi daerah (Polda). Tempat tinggal kami untuk tiga bulan selanjutnya adalah sebuah kantor tanpa jendela. Interogasi lebih lanjut tidak menghasilkan bukti yang memadai untuk menghukum kami sebagai mata-mata – sesuai tuduhan yang diminta oleh militer dan polisi di Jakarta, tetapi selama beberapa bulan selanjutnya berbagai tekanan, ketidakpastian dan intimidasi mengisi hari-hari kami.

Ketibaan kami di penjara sungguh luar biasa. Serombongan kawan-kawan dan aktifis, 4 pembela dan pegawai kedutaan besar mengunjungi kami. Joy dengan tegas meminta agar seekor induk kucing dan empat anaknya yang membagi tempat kami di Polda diperbolehkan untuk dibawa. Semuanya diterima dengan ramah oleh petugas di penjara. Dengan demikian kami menjadi dua di antara 117 tahanan lainnya, hanya 7 di antaranya merupakan perempuan.

Kegiatan rutin harian

Sel perempuan di penjara ini adalah sebuah ruangan kecil di luar dengan hanya dua sel. Setiap sel berukuran sekitar 3x5 meter. Kami bertiga berkongsi ruangan itu, setengah ruangan dipenuhi dengan tempat tidur dari kongkrit bertingkat dengan alas tikar. Disudut ruangan terletak sebuah toilet jongkok dengan sebuah bak air untuk menyiramnya. Air berasal dari kran umum di luar. Tidak ada alat mandi ataupun kamar mandi, dan bahkan pada saat saya menulis ini, tujuh minggu setelah ketibaan kami, saya belum terbiasa untuk menyikat gigi saya di atas toilet jongkok itu.

Jendela dan pintu yang terbuka membuat cahaya dapat masuk. Dan satu bola lampu yang temaram tergantung pada kabel listrik yang sangat berbahaya. Untuk memberikan cahaya kami memutar bola lampu, tetapi seringkali juga kena setrum keras. Jari saya beberapa kali sempat tersengat dan menggetarkan sikuku akibat listrik itu. Tetapi kebanyakan waktu tidak ada listrik, dan pada malam hari kami duduk dengan hanya bercahaya lilin.

Temperatur di dalam sel kadang-kadang terlalu panas, dan nyamuknya luar biasa. Juga ada serangga, kecoa dan tikus berbagi tempat yang sempit ini. Kadang-kadang ruangan ini menjadi begitu sesak!

Di penjara ada sebuah warung kopi yang kecil, dijalankan oleh salah seorang tahanan. Kopi Aceh adalah sangat sedap: keras, hitam dan menurut selera saya, kopi pahit. Hal inilah yang menguatkan saya untuk menghadapi hari berikutnya. Ketika teman yang lain masih di sini, kami duduk di luar untuk diskusi yang mengawali hari kami, minum kopi dan kadang-kadang makan tahu goreng untuk sarapan pagi. Pembicaraan seputar bagaimana tidur semalam, dan apakah hari ini sehat atau tidak.

Jika ada air kami akan minum kopi kami cepat-cepat dan kemudian ada kesibukan untuk kegiatan menampung air. Kami bergantian mengambil air di dalam ember dan mandi. Yang lainnya duduk di luar, memberikan sedikit kebebasan pribadi.

Solidaritas

Ketika Joy masih disini, kebanyakan hari diisi dengan diskusi tentang kesehatannya dan mogok makan yang dia lakukan. Kami begitu takut, karena kesehatan Joy semakin memburuk dengan keadaan yang tidak bersih dan cuaca yang panas. Pada hari ke 37 dari mogok makan itu dia begitu menderita dan memerlukan tambahan makanan melalui pembuluh darah. Tetapi rumah sakit setempat tidak bersedia untuk menolongnya karena dia pengidap HIV positif. Pada hari ke 38 (3 Januari), Joy memberitahu saya: ‘Saya merasa sangat lemah, saya ingin tidur dan tidak akan bangun lagi.’ Hal ini menakutkan kami berdua dan Joy memutuskan untuk mencoba memulai infus sendiri. Dia seorang perawat. Dalam catatan harian saya pada hari itu saya menulis : ‘Saya merasa begitu prihatin dengan keadaan Joy. Saya begitu sedih melihat usahanya gagal untuk menemukan pembuluh darah dari uratnya. Hal ini menyebabkan kesusahan bagi kami semua. Hanya Dewi yang menangis, sedangkan yang lainnya duduk membisu.’

Panas membuat keadaan Joy semakin memburuk. Dewi duduk dan mengipasi joy selama beberapa jam. Mereka duduk diam-diam. Joy tidak bisa berbahasa Indonesia dan Dewi tidak bisa berbahasa Inggris. Dan Irawati memijat badan Joy yang sakit juga dalam diam. Hal ini begitu mengharukan melihat rasa kebersamaan dan simpati yang senyap ini.

Lambat

Tidak seperti laki-laki, wanita ditempatkan disini untuk menunggu persidangan, tetapi apabila telah diputuskan hukumannya, akan dikirim ke penjara Lho’ Nga, kira-kira 17 km dari sini. Hanya saya dan Joy yang tidak dipindahkan ke Lho’Nga setelah persidangan. Pembela kami meminta kami diizinkan untuk menjalankan masa penahanan kami di Banda Aceh. Semua merasa takut dengan keselamatan saya jika dipindahkan ke Lho’Nga. Ada begitu banyak tentara yang ditempatkan disana, dan katanya kemarahan mereka yang menjadi dalil tuduhan awal sebagai mata-mata masih belum menurun. Lebih baik kalau saya berada di tempat jauh dari mereka.

Proses pengadilan sangat lambat dan semua wanita telah berada di penjara ini untuk beberapa bulan. Biasanya hanya satu persidangan kecil dalam satu minggu, panjangnya proses ini menyebabkan lebih banyak lagi stres. Bahkan kebanyakan kasus kecil memakan waktu selama lebih dua bulan. Dari ketujuh wanita yang ditahan, tiga di antaranya – saya, Reihan, dan Joy – adalah kasus politik; kasus Mar adalah masalah pertikaian; dan tiga yang lainnya adalah masalah judi dan penipuan. Reihan dituduh menghina Presiden Megawati dalam sebuah demonstrasi yang dia lakukan. Ketika dia dijatuhi hukuman selama 6 bulan penjara, dia hanya tinggal menjalani dua minggu lagi.

Pada hari-hari salah seorang dari kami ada persidangan selalu ada rasa solidaritas dan optimis. Kami akan berangkulan bersama dan mengucapkan selamat bagi siapa saja yang akan pergi ke pengadilan. Kepulangan mereka sangat dinantikan. Jika berita yang dibawa bagus, ini akan menaikkan semangat hidup kami.

Sakit dan depresi


Rasa sakit dan depresi dialami oleh kebanyakan orang karena kehidupan di penjara. Seorang dokter kadang-kadang datang, tetapi tidak setiap minggu, untuk memberikan beberapa obat biasa dan menulis resep untuk obat yang lebih keras. Tetapi kebanyakan tahanan tidak mempunyai uang untuk membeli obat yang diperlukan. Air yang digunakan oleh tahanan laki-laki untuk mandi berasal dari sumur tua dan berbau. Kebanyakan dari mereka menderita luka-luka karena jamur di air itu. Lesu dan demam adalah penyakit yang biasa.

Salah seorang tahanan yang masih muda sangat perlu untuk dioperasi. Dia ditembak di kakinya empat bulan yang lalu dan sekarang ini kakinya telah begitu parah terinfeksi dan dia susah untuk berjalan, rasa sakit terlihat dari wajahnya. Tetapi semua penuntut yang berkuasa tidak memberikan izin agar dia bisa dirawat sampai adanya keputusan, lebih kurang sebulan lagi. Alasannya? Dia begitu miskin untuk membayar sogokan. Penyogokan dalam sistem peradilan serta dampaknya terhadap lama atau tidaknya masa tahanan, rasa sakit dan stres adalah topik pembicaraan yang menarik.

Sendirian

Sekarang saya tinggal sendiri. Tiga tahanan wanita, termasuk Joy, telah dibebaskan. Yang lainnya telah dikirimkan ke penjara yang lain. Hari-hari saya hampir serupa tetapi lebih sunyi, sepi, dan nampaknya menjadi lebih panjang. Ketika Dewi, kawan satu sel, dan Joy ada disini, saya harus berhati-hati agar tidak membangunkan mereka. Bagi kami, tidur adalah sesuatu yang sangat berharga. Sekarang saya mempunyai tempat yang lebih luas untuk saya sendiri. Beberapa orang tahanan pria mengatakan bahwa saya memiliki penjara bintang lima. Mereka bersesakan empat sampai tujuh orang dalam satu sel.

Saya menghibur diri dengan menulis dalam buku harian. Kadang-kadang saya kewalahan mendengar kisah-kisah kesengsaraan dan tragedi kemanusiaan yang, diperburuk lagi dengan korupsi dan sistem peradilan yang tidak berperikemanusiaan. Sebagai salah satu upaya untuk menghilangkan stres, saya memusatkan perhatian dalam buku harian.

Sekarang, dalam kesendirian siang dan malam, saya lebih banyak menulis. Tentu saja, saya mempunyai tamu dan tahanan pria masih datang untuk mengobrol. Tetapi kadang-kadang, hari-hari terasa panjang. Saya menulis lebih banyak, bukan hanya karena saya merasa sendirian tetapi juga karena saya merasa suatu kepentingan dalam tulisan saya. Saya tidak ingin melupakan sedikit pun semasa saya berada disini.

Saya hampir tidak percaya bahwa saya berhasil menyembunyikan telepon genggamku sejak saya ditahan. Saya hanya berusaha untuk mengecasnya sekali disini. Letupan kuat membangunkan Joy dan Dewi. Dan aliran listrik yang menimpa badan saya hampir membunuh. Jadi telepon genggam saya diselundupkan masuk dan keluar oleh kawan-kawan saya yang begitu berani itu. Pada malam hari saya dapat menghubungi keluarga dan teman-teman saya. Sebelumnya saya memberikan informasi tentang perkembangan kasus kami kepada mereka yang memperjuangkan kami di luar sana. Sekarang saya membuat rencana untuk masa kebebasan saya, minggu depan.

Saya tidak akan mau lagi masuk penjara di Indonesia, tetapi saya membayangkan pengalaman di tempat lain mungkin lebih buruk lagi. Keadaan lingkungan yang tidak bagus, makanan yang tidak sehat, kekurangan olahraga dan sekarang sendirian telah mencapai batasnya. Tetapi dari semua itu saya mencoba untuk berpikir positif. Salah satu kata favorit saya disini adalah simpan. Ini berarti simpan untuk kemudian, dan saya sudah sangat bagus untuk itu. Secara mental saya menghitung hari pembebasan saya, tetapi setiap hari adalah sama dengan hari yang lain selama tujuh minggu sebelumnya. Saya juga terlalu sering tentang tanggal sembilan. Waktu kelihatannya berhenti dan setiap menit, setiap jam menjadi panjang. Jadi, saya meneruskan untuk mengobrol, menulis dan meminum kopi Aceh yang sedap. Pembebasan saya adalah semakin dekat, tetapi saya tidak mempercayainya. Dan ketika saya berjalan melalui pintu gerbang penjara, saya dapat membayangkan bahwa sebagian kecil hati dan pikiran saya akan tertinggal disini dengan semua teman saya.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org