|
Januari-Maret 2002
Suatu lawatan ke kelompok Gerakan Aceh Merdeka
yang jarang terjadi memberi kesan bahwa mereka sangat
terorganisir dan meyakinkan.
Damien Kingsbury
Fajar merekah di punggung gunung, ditandai dengan
suara burung dan monyet dalam rindangnya pepohonan.
Para ‘jejaka’ bangkit perlahan, menyandangkan senjata
mereka di pundak dan berjalan ke mata air untuk
membasuh diri. Kami kemudian menyusun barisan dan
meniti jalan setapak yang ditumbuhi semak semak,
melewati selokan, meloncati pagar dan menyeberangi
sungai, kemudian muncul di sebuah jalan tanah,
berpapasan dengan sekitar selusin gadis-gadis sekolah
yang rapi berpakaian seragam. Para gadis ini
kelihatannya sering bertemu dengan kelompok gerilya
berambut panjang yang memikul senjata otomatis.
Seluruh kejadian ini bertempat di pegunungan di luar
Lhokseumawe, sebuah wilayah yang sangat mendukung
kemerdekaan. Saya berada disana sebagai seorang tamu
dari kelompok gerakan kemerdekaan, untuk mendapatkan
cerita dari sudut pandang mereka.
Malam telah berlalu dengan selamat, karena patroli
Brigade Mobil Polisi Paramiliter tidak dapat menemukan
kami. Di dalam propinsi Aceh yang terletak di ujung
barat laut Indonesia, sejumlah 10.000 tentara
Indonesia dan sekitar 20.000 polisi paramiliter telah
menghantui masyarakat setempat dengan ketakutan,
kemarahan dan keinginan yang terus memuncak agar
referendum diadakan. Saya sangat terkejut atas
kemiripan masalah Aceh ini dengan Timor Timur
menjelang referendum di sana pada tahun 1999. Di Aceh,
TNI dan Brimob bertindak seperti tentara penyerbu,
membunuh penduduk sipil dan terus menyalahkan kaum
separatis, membakar rumah dan sekolah serta
menggunakan perkosaan sebagai senjata. Sama seperti di
Timor Timur, keinginan untuk merdeka sangatlah kuat
terasa dalam berbagai kelompok dan organisasi. Menurut
para pemimpin pro kemerdekaan, ada alasan historis
untuk memisahkan diri (yang sudah sedikit diakui
dengan pemberian status kepada Aceh sebagai ‘daerah
istimewa’) dan sejarah panjang mengenai perjuangan
melawan kekuatan asing. Semua dimulai pada tahun 1873
sampai pada tahun 1949, dan kemudian dimulai lagi
antara tahun 1963 dan 1976.
Pergerakan yang dimulai pada tahun 1976 ini dikenal
dengan nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tetapi lebih
memilih untuk disebut Front Pembebasan Nasional
Sumatera Aceh (ASNLF). Keberadaan TNI dan Brimob
memang jelas terlihat di Banda Aceh dan di kota
industri terkemuka di Lhokseumawe, tetapi keberadaan
militer Indonesia yang sesungguhnya terlihat di jalan
raya dari Banda Aceh ke perbatasan dekat Sumatera
Utara. Brimob, Divisi Siliwangi, Angkatan Laut dan
pasukan teritorial mendirikan berbagai pos dan
penghalang jalan. Di bagian selatan Lhokseumawe, pos
dan penghalang jalan tersebut dipasang disetiap
beberapa ratus meter di jalanan sepanjang beberapa
puluh kilometer. Diantara pos-pos tersebut dapat
ditemui reruntuhan rumah yang terbakar. Tidak jauh
dari jalan raya tersebut sudah merupakan wilayah ASNLF.
Para pengamat yang memiliki hubungan dekat dengan TNI
memperkirakan bahwa ASNLF berkekuatan 3-5 ribu
personil, dan juga dibantu pendukung aktif lainnya
yang sangat banyak. Apa yang saya lihat disana juga
mendukung laporan tersebut – basis pendukungnya
sendiri dipersenjatai lengkap dan dapat mencapai
10.000 personil.
Sama seperti kelompok gerilya lainnya, ASNLF sangat
menggantungkan dirinya pada dukungan penduduk. Saat
berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lainnya dekat
kota-kota industri terkemuka di Lhokseumawe, saya
tidak pernah bertemu seorangpun yang tidak bekerja
sama dengan ASNLF. Seorang pemimpin ASNLF di wilayah
setempat mengatakan bahwa ASNLF tidak dapat dipisahkan
dari masyarakat, dan mereka tidak dapat berfungsi
tanpa masyarakat. Dalam kondisi yang penuh kekerasan,
segelintir orang akan melawan mereka dengan senjata,
dan tukang becak yang mengantar saya keluar kota
terlihat sangat ketakutan ketika menyadari bahwa dia
dikelilingi sejumlah anggota ASNLF. ASNLF memang
memiliki reputasi kerap membunuh orang yang dianggap
musuh. Namun, mereka yang melakukan kooperasi dengan
kalangan ini kelihatannya melakukannya dengan senang
hati dan dilakukan berdasarkan keinginannya sendiri,
tidak seperti sikap voluntir terpaksa yang sering
dilakukan dengan kalangan TNI. Pemerintah Indonesia
sendiri mengidentifikasikan ASNLF sebagai organisasi
Islam fanatik. Dua orang jenderal TNI juga menegaskan
kembali hal ini kepada saya, beberapa hari sebelum
saya bertemu dengan perwakilan dari ASNLF. ASNLF dan
para pendukungnya dapat diidentifikasikan oleh
ketaatan mereka terhadap agama Islam, dan suatu
penanda budaya lain yang membedakan mereka dari
kelompok sejenis di negara kepulauan Indonesia adalah
bahasa Aceh yang mereka gunakan.
Bahasa, agama, wilayah dan kesamaan latar belakang
sejarah, terutama dalam masa rawan adalah tanda- tanda
klasik suatu ‘negara’. Tidak diragukan lagi bahwa Aceh
memiliki semua tanda tersebut, yang berbeda daripada
bagian Indonesia lainnya. Penanda serupa juga dapat
diterapkan ke berbagai kelompok ‘nasional’ lainnya di
Indonesia. Seorang pemimpin ASNLF sambil bergurau
tidak hanya menyebutkan Bangsa Aceh, tetapi juga
Bangsa Minang, Bangsa Sunda dan Bangsa Bali. Namun ia
juga mengungkapkan bahwa tidak semua yang memiliki
potensi sebagai ‘bangsa’ ingin memiliki status
tersebut. Aceh memiliki konsep Islam yang sangat taat
dan umumnya toleran. Masyarakat etnis Cina dan Batak
Kristen hidup berdampingan secara damai dengan
tetangga Muslim sejak tahun 1980an. Namun, hampir
tidak tampak toleransi untuk para transmigran Jawa,
yang terus menerus diserang oleh ASNLF.
ASNLF mengaku bahwa mereka hanya menyerang masyarakat
Jawa dari kalangan militia, meskipun masalah siapa
yang termasuk kaum militer agak kurang jelas di Aceh.
Salah satu petinggi ASNLF yang saya tanyai di Banda
Aceh menyatakan bahwa organisasinya tidak ingin
memaksakan dirinya kepada masyarakat Aceh. Menurutnya,
yang mereka inginkan adalah suatu referendum umum
untuk menentukan apakah Aceh akan tetap menjadi bagian
dari Indonesia atau tidak. Kata ‘Referendum’ ini
banyak berkobar di sekitar Banda Aceh dan Lhokseumawe.
Berbagai organisasi masyarakat Aceh yang saya hubungi
semuanya menghendaki referendum. Gerakan populer untuk
melakukan referendum ini merefleksikan tekanan yang
muncul di kalangan masyarakat menengah karena situasi
yang terus memanas sejak 1999. Memang ASNLF sendiri
baru menyetujui untuk referendum sejak tahun 1999 yang
dipicu oleh jajak pendapat di Timor Timur. Para
pemimpin ASNLF menekankan bahwa Aceh memiliki ikatan
historis dan keagamaan dengan komunitas Muslim lainnya,
tetapi tidak didanai oleh mereka. Ia sangat sedih saat
mengungkapkan bahwa ASNLF sangatlah terkejut akibat
serangan teroris di Amerika pada tanggal 11 September
2001, yang dinyatakan dilakukan oleh kalangan
ekstrimis Islam. Ia mengatakan bahwa ASNLF mencari
dukungan ke masyarakat internasional, termasuk ke
Inggris dan Amerika yang pernah menjalin hubungan
diplomatik dengan Aceh. Petinggi ASNLF tersebut memang
mengakui bahwa pasukan gerilya mereka pernah menjalani
pelatihan di Libia sampai tahun 1999, jauh lebih lama
dari yang diketahui sebelumnya. Namun hubungan semacam
ini tidak lagi diperlukan karena sekarang ASNLF telah
memiliki basis pelatihan mereka sendiri, dan posisi
Libia sendiri dapat memperburuk citra ASNLF di mata
internasional. ASNLF memang menerima berbagai dukungan
dari simpatisan dan imigran Aceh di luar negeri,
terutama dari Malaysia. Namun, dukungan finansial
tersebut tidaklah berarti dibandingkan dengan
kemampuan untuk mengumpulkan dana di dalam negeri.
Memiliki Sumber Dana yang Memadai
ASNLF melakukan pemungutan ‘pajak’ yang disebut
sebagai pemerasan oleh pemerintah Indonesia dan
sebagian LSM, karena seringkali dilakukan melalui
ancaman kekerasan. ASNLF berpendirian bahwa sudah
menjadi hak mereka sebagai pemerintah yang sah untuk
menerapkan pajak. TNI dan Brimob sendiri juga meminta
penyetoran ‘uang keamanan’ meskipun sebagai suatu
institusi dari pemerintah yang telah menerapkan pajak,
aktivitas keuangan ekstra seperti ini tidak dapat
dikategorikan sebagai ‘pajak’. Seluruh bisnis lokal
membayar pajak kepada ASNLF, yang dihitung sebagai
persen dari keuntungannya menurut peraturan ASNLF,
termasuk perusahaan raksaksa yang dimiliki oleh Exxon
dan kilang gas alam Arun di Lhokseumawe. Hal ini
membuat ASNLF memiliki sumber dana dan perlengkapan
yang memadai. Keunggulan koordinasi di kalangan ASNLF
juga terlihat ketika menyelenggarakan pertemuan bagi
saya dengan seorang komandan daerah ASNLF. Yang mana
jaringan antara pihak yang mengantar dan menjemput
sangat luar biasa dan rumit dan berjalan sesuai jadwal
waktu yang sangat tepat. Seluruh pihak sepanjang rute
yang dilalui telah mengetahui apa yang sedang terjadi,
dan banyak yang memegang radio selurer dua arah.
Saya akhirnya ditempatkan di sebuah desa kecil
terpencil dan diminta untuk menunggu di sebuah ruang
terbuka beratapkan daun rumbia. Saya baru saja selesai
membongkar ransel ketika datanglah seseorang melewati
pintu yang terbuat dari bambu, mengenakan topi dan
baju kaos putih yang masih bersih. Di balik kaos
tersebut ia mengenakan pakaian militer berwarna hitam
dengan berbagai perlengkapan amunisi. Dia membawa
pistol di sabuknya dan senjata AK-47 di tangan kirinya.
Ia mengulurkan tangan kanannya kepada saya dan berkata,
“halo, saya Jamaika,” menyebutkan nama sandi. Dari
semak-semak muncullah sekitar 20 orang pemuda dengan
pakaian yang serupa, menenteng AK-47 dan M-16. Jamaika
menginginkan Hasan di Tiro untuk kembali menjadi
Sultan Aceh, namun dalam suatu sistem politik yang
melibatkan partai-partai yang terpilih. Kami
mendiskusikan sistem monarki konstitusional Inggris
dan Thailand yang menurutnya merupakan model yang
cocok. Beberapa orang yang saya ajak bicara
menginginkan pemilihan umum gaya Amerika untuk memilih
presiden dan badan legislatif yang terpisah, namun
menggunakan etika Islam dan dalam sistem federal lokal.
Ide untuk melakukan referendum untuk menentukan nasib
sendiri secara logika mengarah kepada pemilihan
pemerintahan yang representatif dan kebijakan yang
akan muncul. Jamaika yang menjadi pemimpin gerilya
lokal tidak menginginkan adanya suatu sistem represif
yang digantikan oleh sistem represif lainnya. Dalam
hal ini, memang terdapat banyak kesamaan dengan Timor
Timur.
Saya diperkenalkan dengan ‘kakek’ yang telah berusia
70 tahun. Kakek ini telah berjuang sejak awal tahun
1950an, demikian juga ayahnya dan ia masih penuh
semangat sampai sekarang. Ia kemudian memimpin saya,
Jamaika dan sekelompok ‘anak-anak muda’ untuk
bersembunyi semalaman menghindari patroli Brimob. Saya
kemudian bertemu dengan orang tua lainnya, tengah
meminum teh manis di depan warung remang-remang dekat
perempatan suatu kota kecil. Kota tersebut sangat sepi,
hampir benar-benar ditinggalkan penduduknya. Beberapa
pria muda dari kelompok tersebut minum kopi kental dan
es teh, suara radio berbunyi sewaktu-waktu, sambil
bercanda dangan para orang tua. Wilayah ini dijaga
oleh tentara di beberapa tempat dan bom dipasang di
tiga atau empat jalan di sekitar wilayah tetapi tempat
ini sama amannya dengan tempat lain di Aceh. Memang
tentara dan Brimob pernah datang kemari, namun
serangan mereka selalu dapat dipatahkan. Inilah
mengapa tidak ada satupun gedung yang terbakar disini.
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bangkit
berdiri, bangga menjadi bagian dari pria-pria berwatak
keras ini. Ayahnya ditembak mati oleh Brimob beberapa
hari yang lalu, dan ia telah menjadi generasi penerus
perjuangan, menanti gilirannya untuk berjuang.
Mudah-mudahan masyarakat Aceh memperoleh kesempatan
untuk menentukan masa depannya sendiri melalui
referendum yang diawasi oleh dunia internasional
sebelum anak tersebut harus mulai memanggul senjata.

Dr. Damien Kingsbury adalah dosen senior di jurusan
International Development di Deakin University,
Geelong, Australia. Bukunya yang terkini adalah “The
Politics of Indonesia’ (Oxford) jilid dua. |