FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2001..
    INSIDE INDONESIA
Di dalam Hutan Pada Malam Hari

Januari-Maret 2001

Hidup bersama Harimau di Aceh Selatan

John McCarthy

Pada bulan Januari 1999, sebuah koran lokal menggambarkan rasa ketakutan yang mencengkram di desa-desa sekitar Labuhan Haji, sebuah kota pelabuhan yang terletak di pantai barat dari selatan Aceh. Seekor harimau telah menyerang seorang anak sekolah yang sedang memungut buah pala di hutan dekat desa Hulu Pisang, berdekatan dengan Gunung Leuser. Dia diterkam, dilukai, dan akhirnya dibunuh. Beberapa hari setelah itu, harimau itu berlari di daerah itu, meninggalkan jejak di sekitarnya. Petani mengabaikan kebunnya untuk beberapa hari. Penduduk desa ingin meracun harimau itu, tetapi penguasa daerah dan kepala desa meminta pertolongan dari ahli harimau tradisional, seorang pawang.

Selama tahun 1996-1999, sebelum konflik terbaru di Aceh terjadi, penulis menghabiskan waktu selama 12 bulan didesa-desa sekitar Tapaktuan, ibukota Aceh selatan. Orang-orang sering membicarakan harimau. Hewan yang berbahaya tersebut sangat menarik perhatian penduduk desa. Orang-orang tua desa menceritakan bahwa dulu harimau terlihat dimana-mana. Orang-orang yang berjalan di perkampungan pada malam hari kadang-kadang bertemu dengan harimau yang duduk di sudut desa. Walaupun serangan harimau merupakan kejadian yang luar biasa, kadang-kadang terjadi juga. Petani kebun pala di lereng bukit merasa takut akan harimau, jadi mereka pergi ke bukit dengan ditemani oleh tiga orang atau lebih.

Di Aceh Selatan, penduduk desa yang berkebun tergabung dalam suatu perkumpulan pekerja kebun di daerah lereng bukit. Ini disebut seuneubok. Setiap seuneubok memilih seseorang yang dihormati karena ahli dalam bidang kehutanan dan diangkat sebagai kepala adat. Jika memungkinkan, petani menunjuk seorang pawang sebagai ketua seueubok karena dia memiliki pengetahuan yang hanya dipahami oleh sedikit orang. Adat di desa menganggap pawang dapat berhubungan dengan roh penjaga hutan, aulia, yang muncul di dalam mimpi. Dengan pertolongan aulia, pawang dapat memanggil harimau.

Dalam bukunya, Indonesian Eden: Aceh’s Rainforest, Mike Griffiths menggambarkan bagaimana penduduk desa percaya bahwa mimpi-mimpi dapat menjadi media komunikasi. “Beberapa tahun yang lalu, seorang perempuan telah bermimpi melihat dua anak kucing yatim piatu mendekatinya dan meminta makanan. Dia memberikan makanan dan anak kucing itu menunjukkan rasa terima kasihnya. Keesokan harinya pada saat bekerja di ladangnya, dia melihat dua ekor harimau pada pinggir hutan. Mengetahui tanda dari mimpinya, dia mempersiapkan makanan dan meninggalkannya pada tempat dimana dia melihat harimau itu, bersiul pada saat dia pergi. Setelah itu dia meninggalkan makanan di luar, dan secara berkala harimau datang untuk makan dan kemungkinan lama-lama mengenal panggilan dan siulan perempuan itu sebagai tanda bahwa ia akan mendapatkan makanan dengan mudah.”

Kesepakatan

Berdasarkan tradisi, setiap seuneubok mempunyai pengertian dengan satu atau lebih harimau yang dikenal sebagai harimau seuneubok, yaitu harimau yang menghabiskan sebagian besar waktu di seuneubok. Orang-orang tua desa mengingatkan bahwa dulu ada sampai tiga ekor harimau di setiap seuneubok. Sekarang belum tentu bahwa setiap seuneubok mempunyai satupun harimau. Berdasarkan kesepakatan antara anggota seuneubok dengan harimau-harimau itu, para harimau hanya memburu babi dan hewan lainnya dan membiarkan manusia tetap hidup. Penduduk desa menceritakan bahwa harimau tersebut juga akan memberitahukan keberadaan harimau asing dari daerah luar dengan meninggalkan tanda-tanda cakaran khusus ditempat-tempat umum. Ketika penduduk desa melihat tanda-tanda ini, mereka paham bahwa disana ada harimau liar di seuneubok, dan mereka tidak akan pergi ke kebunnya pada hari itu.

Sebagai balasan terhadap kebaikan harimau, penduduk desa akan memberikan sesuatu untuk itu. Sebagai contoh, bahkan sampai sekarang ini, adat mengharuskan bahwa selama musim panen durian para petani meninggalkan lima buah durian dari setiap pohon bagi harimau seuneubok. Sekali setiap tahun, pada saat hutan berbunga, di seuneubok diadakan kenduri, dan penduduk desa selalu memikirkan harimau yang tinggal di desa. Pada saat itu, kepala-kepala seuneubok yang bertindak sebagai pawang memanggil harimau dan menyediakan nasi, daging dan sayuran. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala seuneubok yang bertindak sebagai pawang menjadi dikenal dan menjadi kawan dengan harimau seuneubok,kadang-kadang mengadakan pertemuan dengan harimau itu di dalam hutan. Menjelang kenduri tahunan, harimau terkadang mencari pawang dan mengingatkannya tentang kenduri itu, meninggalkan tanda di tanah, memanggil, atau bahkan tidur dibawah pondok kebun sang pawang.

Peraturan adat yang berhubungan dengan seuneubok memiliki unsur sakral, yang mengikat baik manusia maupun harimau. Penduduk desa paham bahwa harimau-harimau, berada di bawah perintah aulia penjaga agama, menjalankan hukum-hukum adat. Setiap penduduk desa yang diserang oleh harimau dianggap sebagai orang yang berdosa yang telah melanggar hukum-hukum Islam. Kepala seuneubok menjelaskan kepada penulis bahwa harimau desa ‘menjalankan tugas. Jika ada seseorang yang mencuri dari desa dan membawanya ke gunung, dia akan diganggu oleh harimau itu’. Tetapi, pawang akan memburu seekor harimau yang melanggar perjanjian seuneubok itu. Jika seekor harimau menyerang dan membunuh seseorang, pawang akan memerangkapnya.

Seorang dinas kehutanan setempat memberitahu penulis bahwa harimau-harimau cenderung untuk turun ke desa selama musim hujan barat. Para betinanya membawa anak-anak mereka turun untuk mencegah jantan yang telah dewasa yang dapat menyerang anak-anak itu, ketika telah tua, harimau yang telah kepayahan juga akan turun dari bukit pada saat itu.

Untuk mencegah serangan harimau, dinas kehutanan secara terus menerus menggunakan jasa pawang. “kami dulu mempunyai seorang pawang sebagai karyawan kami,” ujar pegawai tersebut. Tetapi sebagian besar pawang berumur di atas 50 tahun, dan orang-orang muda tidak ada lagi yang dilatih untuk menjadi pawang. Seperti harimau juga, pawang juga semakin lama semakin jarang. Sejak pawang di dinas meninggal, dinas kehutanan harus menyewa jasa pawang untuk membantu dalam mecalak harimau. Menurut pegawai itu, pawang ‘mengatakan bahwa harimau tidak akan mau masuk ke dalam perangkap jika dia tidak bersalah’.

Pemburu Gelap

Harimau Sumatera sekarang ini sangat terancam. Menurut suatu perkiraan, kurang dari 400 ekor yang masih bertahan di dalam hutan Sumatera yang semakin menyusut. Namun demikian, di beberapa hutan di Aceh Selatan para penduduk sering melihat harimau itu. “Orang-orang berkata harimau akan punah,” seorang laki-laki tua berkata kepada saya, “tetapi orang-orang tidak pernah datang kesini.” Seorang pegawai kehutanan menyetujui hal ini: “Kita tidak tahu jumlah harimau yang sebenarnya,” dia berkata, “tetapi ada banyak harimau di beberapa desa, dan disini harimau sering mengganggu desa.”

Karena dinas kehutanan ingin untuk melindungi jumlah harimau itu, mereka sering mencoba menjadi pelindung bagi harimau pemangsa. Ketika penduduk ingin menangkap harimau pemangsa, jika memungkinkan para pegawai kehutanan akan membawanya kembali ke hutan. “Kami harus sangat sensitif dalam menangani kasus-kasus seperti ini,” katanya.

Pada tahun 1998-1999, WWF menemukan 66 harimau Sumatra telah siap untuk diperjualbelikan secara tidaksah di beberapa pasar di Sumatra. Pedagang menjual produk dari harimau seperti kulit, gigi, cakar dan kumisnya, sebagian besarnya sebagai obat tradisional Cina. Jakarta Post juga baru melaporkan bahwa pedagang dapat menghasilkan antara Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per gigi. Pemburu gelap yang menangkap harimau menggunakan racun atau jerat, tetapi mereka ini bukan pawang. “Kami tidak pernah melihat sendiri hal ini (maksudnya pawang yang memburu harimau)”, kata pegawai lapangan dari dinas kehutanan, “walaupun ada beberapa cerita tentang ini. Seorang pawang biasanya akan marah jika orang-orang menangkap harimau. Hal ini karena dia menganggap harimau sebagai bagian dari kebahagiaannya.”

Ketika seorang penduduk terbunuh di dekat Tapaktuan pada pertengahan tahun 1990-an, seorang pawang menangkap harimau nakal itu. Sebelum dinas kehutanan mengambilnya, kantor kehutanan setempat membuat kandang dan memamerkan harimau tersebut selama seminggu. Setelah itu, para pegawai kehutanan melepaskannya karena merupakan salah satu hewan yang dilindungi di dekat pusat daerah Tapaktuan. Tetapi penduduk desa merasa kecewa. Harimau telah membunuh seseorang, dan mereka merasa adalah tidak benar untuk mengembalikan kebebasannya.



John McCarthy adalah seorang peneliti di Pusat Penelitian Asia, Murdoch University, Perth, Australia Barat.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org