|
Jan – Mar 2001
Sidney Jones
Banyak orang mengenal Jafar sebagai seorang mahasiswa
jurusan ilmu politik di New School University, New
York, atau sebagai pemimpin kelompok kecil masyarakat
Aceh di Woodside, Queens, tempatnya tinggal sejak
1996. Sebagian masyarakat New York mungkin mengenalnya
sebagai salah satu supir taksi paling lembut yang
pernah bekerja di kota ini. Sebagian dari kita
mengenalnya sebagai seorang pembela hak asasi manusia
yang paling berdedikasi, seorang pengacara pendamping
korban-korban yang tidak berani bersuara sendiri. Ia
adalah seorang pencetus dialog dan perdamaian dalam
suatu konflik yang sekarang semakin tidak terkendali.
Dia juga seorang anak, seorang kakak, seorang suami
dan seorang teman.
Dalam waktu dua minggu lagi adalah ulang tahun Jafar
yang ketiga puluh lima. Ia adalah seorang bertubuh
halus, tenang, sederhana, sangat cerdas, sedikit
pelupa dan memiliki selera humor yang baik. Ia
bukanlah seorang penghasut, bukan seorang pembicara
yang berapi-api, dia bukan seseorang yang dapat
memobilisasi masyarakat dan jelas bukan anggota
pasukan gerilya. Ia hanyalah seorang Aceh dan bangga
dengan kenyataan tersebut. Ia ingin dunia mengetahui
dan menghargai riwayat Aceh, dan ia berpegang keras
bahwa Aceh dapat menentukan masa depannya sendiri.
Jafar sudah lama sangat marah, yaitu sejak awal 1990
saat ia menjadi pengacara hak asasi manusia dan ketika
tentara Indonesia mencanangkan Aceh sebagai daerah
operasi militer dan mulai melakukan kampanye militer
melawan kekuatan yang saat itu hanyalah sebuah
kelompok gerilya kecil Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Jafar mempertaruhkan nyawanya untuk mengungkapkan
kekejaman yang terjadi. Ia membantu LSM-LSM berbasis
di Jakarta dan jurnalis asing untuk masuk ke Aceh dan
menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Ketika Suharto
terpaksa turun pada bulan Mei 1998, Jafar tidak
menginginkan balas dendam, tetapi ia menginginkan
keadilan. Saya pikir ia telah sampai kepada kesimpulan
bahwa dalam konteks hubungan dengan Jakarta, sangatlah
tidak mungkin untuk melindungi hak asasi manusia tanpa
adanya perubahan politik berskala besar.
Beberapa bulan setelah lengsernya Soeharto, Jafar
membantu mendirikan Forum Internasional untuk Aceh
yang menyelenggarakan konferensi pertamanya di New
York University pada bulan Desember 1998. Konferensi
tersebut adalah ajang tatap muka tingkat internasional
pertama untuk mendiskusikan dinamisme politik di Aceh
sekarang ini. Saat diselenggarakan konferensi IFA
kedua pada musim semi tahun lalu, sebuah gerakan
mendukung referendum untuk status politik Aceh digelar
oleh mahasiswa, LSM dan cendikiawan Muslim. Konferensi
kedua tersebut dihadiri oleh lebih banyak lagi
tokoh-tokoh terkemuka Aceh, anggota parlemen dari
Jakarta, dan faksi-faksi tandingan dari gerakan
gerilya. Saat itu, sekali lagi seluruh pandangan
dikemukakan, semua pihak diberi kesempatan untuk
mengemukakan pendapat dan saya ingat para mahasiswa
Indonesia yang menjadi penonton meminta kepada gerakan
pro kemerdekaan bagi masyarakat Aceh untuk memberi
kesempatan yang kedua setelah jatuhnya Soeharto. Jafar
bukanlah anggota GAM dan tidak mendukung gerakan
gerilya atau cara kepemimpinan mereka. Saat itu ia
hanya menjalin hubungan dengan beberapa orang yang
terlibat dalam gerakan pro kemerdekaan, sama halnya ia
juga menjalin hubungan dengan kalangan masyarakat Aceh
di pusat kekuasaan di Jakarta. Namun para petinggi
Indonesia tidak membedakan antara IFA dan GAM.
Saya hampir tidak percaya ketika Jafar menghilang pada
tanggal 5 Agustus. Dia pergi untuk menghadiri
pertemuan pada suatu siang di sebuah jalan yang sangat
sibuk di kota ketiga terbesar di Indonesia. Ia tidak
pernah terlihat dalam keadaan hidup lagi setelah itu.
Sebagian tubuhnya diketemukan tiga minggu kemudian dan
empat bagian tubuh lainnya diketemukan dalam jarak 83
kilometer, meskipun hingga kini tetap tidak dapat
diindikasikan apakah keempat bagian tubuh yang
ditemukan terpisah itu memang miliknya. Sampai hari
ini polisi di Medan juga tidak memiliki petunjuk
mengenai siapa pembunuh Jafar. Tak lama setelah Jafar
menghilang, seorang aktivis menerima telepon yang
mengatakan, “Kita telah mengurus Jafar, sekarang
giliranmu.” Penelepon ini mengeluhkan bahwa para
aktivis tidak pernah mengangkat isu kekerasan yang
dilakukan oleh GAM, dan hanya mengangkat isu kekerasan
oleh TNI. Hal ini bukanlah alasan untuk mengancam,
apalagi membunuh. Bukti-bukti di tempat kejadian
perkara dan pola pembunuhan ini mengarah kepada
keterlibatan militer dalam kematian Jafar, namun tidak
ada bukti yang solid dan kita tidak akan pernah tahu
apa yang sebenarnya telah terjadi. Kesalahan utama
Jafar adalah bahwa ia mempercayai semua orang. Ia
tidak percaya bahwa orang lain mungkin memiliki itikad
buruk, sedangkan dia sangat blak-blakan. Kita tahu
bahwa ia menerima ancaman sebelum menghilang, kita
tahu bahwa ia cukup kuatir sehingga selalu menelepon
ke rumah secara teratur untuk memberitahukan bahwa dia
selamat. Kita juga tahu bahwa dia tidak membiarkan
perasaan takut menghalanginya untuk memperjuangkan
suatu penyelesaian politik di Aceh.
Penghargaan terbaik yang dapat kita berikan kepada
Jafar adalah sebagai berikut: 1. Tetap menekan untuk
menemukan dan menghakimi pembunuhnya; 2. Terus cari
keadilan untuk korban pelanggaran hak asasi manusia
dan keluarga mereka; 3. Promosikan profil Aceh
sehingga akan semakin banyak orang di seluruh penjuru
dunia yang menghargai budaya dan sejarah wilayah yang
kompleks ini; 4. Berjuang untuk mengakhiri konflik
melalui dialog tak terbatas; 5. Melanjutkan adanya
simposium seperti ini. Kita semua ingin Jafar kembali,
tetapi barangkali acara pertemuan semacam ini
merupakan tempat mengenang yang paling memadai.

Sidney Jones adalah Direktur Asia dari Human Rights
Watch. Ia membacakan obituari tersebut pada upacara
mengenang yang diselenggarakan di New York pada 24
October 2000. |